BAB I HAKEKAT METAFISIKA
- Tesis Dasar
- Argumen pendukung
- Pengantar
Untuk mejelaskan tentang hakekat metafisika kita harus melihat titik tolaknya yang tidak lain adalah paham tetnang filsafat itu sendiri. dimana filsafat selalu berusaha mempertanyakan prinsip asali dari realitas. Dan prinsip asali ini tidak lain mengantar orang pada pemahanan mengenai the many dan the one. The many terletak pada bagian indrawi-empiris sedangkan the one terletak pada lapisan meta indrawi.
Karena pertayaan sentral menyangkut prinsipo asali maka munculnya pandangan dari para filsug. Dan Aristoteles dianggap sebagai peletak dasar untuk mengerti hakekat metafisika. Baginya setiap ilmu selalu berusaha mencari penjelasan (causa) tetnang suatu permasalahan. Walaupun masing-masing ilmu mencari penyebabnya sendiri tapi bagi Aristoteles pasti ada satu penyebab pertama atau causa prima. Dan ilmu itu tidak lain adalah metafisika/filsafat pertama. Metafisika adalah penyebab prima dan ilmu lain adalah penyebab particular/filsafat kedua. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa ternyata dalam sejarah awal filsafat sudah ada perbedaan antara lapisan indrawi dan meta indrawi serta metafisika sebagai cabang filsafat yang bertanya secara radikal tentang filsafat.
- Pengertian metafisika
Berangkat dari pengertian yang paling sederhana metafisika adalah ilmu untuk mempelajari penyebab terakhir (ultimate causa). Dengan demikian ada 2 penegasan penting y ang ada, antara lain:
- Perlu dibedakan tetnang proximate cause dan ultimate cause. Proximate cause bersifat langsugn, terbatas dan particular. Sedangkan ultimate cause bersifat universal atau menyangkut realitas secara keseluruhan, tidak bersifat empiris dan radikal.
- Penjelasan mengenai pandangan bahwa metafisika mempelajari prinsip pertama. Namun harus diingat bahwaprinsip berbeda degnan penyebab. Karena kalau si A adalah penyebab maka si B adalah efek. Artinya penyebab tidak sebagai bagian dari intrinsic dari efek. Prinsip berarti konsep yang karenanya segala sesuatu dapat diulangi atau dimengerti. Dan metafisika bertugas menjelaskan prinsip2 tersebut untuk mengerti realitas secara keseluruhan.
- Objek studi dari Metafisika
Kalau setiap ilmu mempunyaiobjek penelitiannya sendiri maka metafisika juga secara spesfik mengemukakan pertnyaan tentang arti “pengada” dan “mengada”. Dan kalau metafisika punya objek penelitainya maka dapat dimengerti sebagai ilmu tentang “pengada” sekadar “pengada” (being as being). Dan untuk mengerti hal ini ada beberapa tahapan:
- Tidak ada ilmu yang mempelajari objek yang tidak ada. Namun tidak semua ilmu mampu bertanya tentang apa itu to be atau being, hanya metafisika. Karena itu objek metafisika adalah sebagai ilmu yang mempertanyakan tetnang being atau objek metafisika adalah lapisan terdalam dari realitas secara rasional. Kalau begitu bagaimana kita menjelaskan objek studi metafisika adalah “pengada” sekadar “pengada”? setiap ilmu mempelajari bagian tertentu dari realitas. Artinya setiap ilmu memiliki pandangan tersendiri tetnang suatu sudut pandang tertentu dari objek. Misalnya realitas tetnang manusia dijelaskan oleh setiap ilmu dengan sudut pandangan yang berbeda. Namun masing-masing ilmu tidak pernah bertanya mengapa objek itu ada? Hanya metafisika, maka objek metafisika adalah “ada’ sebagai prinsip riil yang paling universal untuk mengerti segala sesuatu. Dan yang dipelajari metafisika adalah being pada dirinya atau being as being.
- Persoalan bahasa. Ada beberapa istilah yang digunakan to be-being. Esse-eus (“ada” yang “mengada”). Namun secara filosofis penalaran ini tidak tepat maka digunakan istilah being yang kemudian diterjemahkan dengan “pengada”. Dan untuk menjelaskan pengada itu aktivitas “pengada’ menunjuk pada aktivitas “mengada”. Jadi suatu aktivitas :”mengada”-“pengada” merupakan suatu yang bereksistensi.
- Namun pengada harus dibedakand ari benda. Pengada adalah suatu yang ada atau bahwa sesuatu menyatu dengan aktivitas mengada. Jadi istilah “pengada” menunjuk pada suatu eksistensi dan harus dibedakan dengan benda yang menunjuk pada esensi dari suatu benda/barang. Dengan kata lain jika kita menyebut itu adalah burung maka sebutan itu ditujukan pada esensi dari burung itu. Tapi barang/benda itu punya hakekat yang dimengerti sebagai the whatness atau juga the quality, juga esensi berarti “keapaan”.
- Kita bertanya apa maksudnya pengada sekadar pengada? Yaitu objek formal metafisika yaitu being as being. dan objek material dari metafisika adalah realitas sebagai suatu totalitas .
- Selain itu metafisika juga mempelajari karakteristik dasar dari pengada seperti pengada dalam hubungan dengan kesatuan, kausalitas atau juga keindahan.
- Dalam hubungan dnegan Tuhan dibahas juga dalam metafisika. Dan Tuhan dimengerti sebagai prinsip metafisika dari realitas.
- Asal-asul metafisika
Untuk memahami hal ini kita harus melihat kembali pandangan para filsuf pra Socratis yang memusatkan studnya pada dunia empiris/fisik, dan filsafat pertama di Yunani adalah kosmologi. Zaman Aristoteles semua ilmu disebut filsafat yang mempelajari dunia fisik. Tapu harus ada filsafat lain yang mempelajari being dari realitas itu. Atau harus ada filsafat pertama yang menjadi dasar dari filsafat lainnya. Klau begitu apa objek studi dari filsafat pertama itu? Objek studi dari filsafat pertama dimengerti dalam dua arti: sebagai ta hyper ta physika ( yang melampaui dunia fisik) dan ta meta ta physika (yang melandasi dunia fisik). Sampai disini Aristoteles m sepakat bahwa filsafat sendiri mempelajari dua objek formal di atas, namun ada perbedaan.
Plato: kedua objek ini sama saja, dan Plato menyebutnya sebagai dunia ide. B erbarti filsafat pertama mempelajari dunia ide. Dan dunia ide adalah dunia yang melatarbelakangi dunia fisik, tanpa dunia ide tidak ada dunia fisik.
Aristoteles: ia membantah teori Plato dengan teori substansi. Ia katakana substansi teori hilemorfisme yang fisik selalu menyatu dengan dunia ide. Artinya meski di bedakan antara ta hyper ta physika dan ta meta ta physica inamun keduanya harus menjadi satu bagian, tidak pernah ada materi tanpa bentuk, dengan demkian ta hyper ta physica tidak harus berpisah dari ta meta ta phyica. Dan hal yang mendasari antara kedua hal ini adalah being. Maka wilyaha metafisika memang mempelajari tentang being namun aristotels tidak menggunakan istilah metafisika. Kalau begitu dari mana metafisika digunakan? pertama tama digunakan oleh Adronikus lewat karangan-karanganya. Dan dalam perkembangan kemudian dibedakan metafisika umum dan khusus. Ada juga yang disebut “ontology” oleh Christian Wolf.
- Metafisika sebagai Human Knowledge
Pertnyanaan sentaralnya bagaimana hubungan antara metafisika dan pengetahuan manusia entah pengetahuan spontan atau pengetahuan sistematis?
- Pengetahuan spontan berarti pengetahuan yang biusa diperoleh mansuaia tetnagn alam semesta berdasarkan kemampuan kodrati untuk bernalar maka manusia punya kemampuan tentang apa yang benar-salah, perbedaan tentang manusia dan alam semesta tetnang substansi dan aksidental dll. Sehingga pengetahuan spontan adalah pengetahuan yang berada di permukaan.
- Pada level lain ilmu pengetahuan berefleksi secara sistemtis tentang objek particular tentang alam semesta.
- Sedangkan pengetahuan sistematis adalah cabang filsafat yang berbicara tetnang hakekat objkek tertentu (secara particular) seperi filsafat manusia.
- Metafisika sebagai ilmu mempelajari being sebagai being yaitu prinsip universal yang mendasari seluruh realitas. Kalau sudah ada pengetahuan pengetahuan sponmtan dan sistematis apakah masih perlu metafisika? Ada beberapa alasan:
- Karena pengethuan spontan seringkali tidak lengkap, maka kita membutuhkabn pnegetahuan yang lebih mendalam dan bersifat ilmiah.
- Pengetahuan spontan dan ilmiah membutuhkan pertanggungjawaban secara fundamental dan secara metafisis
- Pengetahuan spontan dan ilmiah pada umumnya hanya mengandalkan objek2 sebagai pengada tanpa menyelidiki status pengada. Karena itu metafisika dibutuhkan karena pengethuannanya lengkap dan mendalam tetnang realitas.
- Hubungan Metafisika dan Moral
Punya hubungan erat dengan moral. Dalam pengalaman orang yang kehilangan keyakinan moral lasim pula kehilangan dasar intelektualnya dan terjebak dalam sekptisisme tentang kebanaran. Karen akebenaran moral yang diyakii selalu ada dalam level metafisis. Tanpa keyakinan moral dan metafisis kita akan terjebak adalam beberapa tahap:
- Skeptisisme:terhadap kebenaran direlativir.
- Agnostisisme: Terhadap kebenaran tentang Tuhan entah ada atau tidak.
- Sikap relativisme tetnang hukum moral.
- Hubungan metafisika dan Teologi
Teologi adalah refleksi ilmiah tetnang iman. Karena itu filsafat digunakan untuk menjelaskan iman. Kalau bagaimana menjelaskannya? Ada sejarah panjang yang dimulai dari:
Agustinus yang membedakan rasio interior (tingkatan pengetahuan ilmiah) dan rasio superior (instrument untuk iman dan teologi). Artinya ia mendudukan teologi di atas filsafat dan metafisika, dan teologi dianggap sebagai puncak dari semua pengetahuan.
Anselmus dari Contebery: ia terkenal dengan perkataannya fides querens inteklectum. Dengan begitu ia mendudukan teologi melampaui pengetahuan rasional.
Th. Aquinas menghargai gungsi filsafat dan metafisika. Karena itu ia membedakan level empiris dan level filosofis. Artinya wilayah teologi tidk dapat dimasukan oleh filsafat tapi juga ada wilayah yang bisa dijelaskan secara rasional.
Agus comte dengan teori tiga zaman: 1.zmaan posotivisme (berbicara tetnang hal-0hal kongkrit) 2 saman filsafcat (lebih maju, rasional tapi abstrak, tidak relevan)3. Saman mitos (level yang tidak rasional dan tidak masuk akal). Karena itu tidak penting sama sekali metafisika, dan bila dibandingkand engan teologi metafisika lebih maju.
Lingkungan Wina: dengan prinsip verifikasi yang melegitimasi posotivisme. Suatu halk bisa diterima jika relecvan dan bisa diukur. Dan teori Language games.
Whithead: baginya kita harus memebdekan Tuhan teologis dan percakapan fisafat tetnang Tuhan selalu berada dalam konteks percakapan tentang kehidupan dari realitas sebagai seuatu kesatahuan. Jadi metafisika tidak lain dari upaya untuk memehami pengalaman hdiup secara keseluruhan dan dalam pengalaman ini kita berbicara tetnang Tuhan.
Paus Yoh. Paulus II: dalam ensiklik Fides et ratio ia menjelaskan hubungan iman dan rasio.babhwa teologi dogmatis membutuhkan filsafat kerana bahasa yang rasional dan komunikatif dari filsafat. Juga teologi moral membuthkan filsafat kerena teologi membutuyhkan instrument rational untuk moderat. Dalm hal ini metafisika juga dibutuhkan.