Ilmu Filsafat

Sejarah Filsafat

IKHTISAR SEJARAH PEMIKIRAN FILSAFAT (1):

AKAL-BUDI DAN IMAN

Yang dibahas disini terutama filsafat Barat, karena misalnya filsafat India dan filsafat Cina lebih bersifat mengajar bagaimana manusia mencapai “keselamatan” (“moksa”), atau bagaimana manusia harus bertindak supaya diperoleh keseimbangan antara dunia dan akhirat.  Tak dapat diungkiri didalamnya juga ada unsur akal, tetapi bukan produk dari refleksi yang sifatnya kritis rasional. 

Ada empat periode besar dalam filsafat Barat:

(A). Zaman Yunani (600 sM – 400 M)

(B).  Zaman Patristik dan Skolastik (300 M – 1500 M)

(C).  Zaman Modern (1500 M – 1800 M)

(D).  Zaman sekarang (setelah 1800 M).

Patut dicatat bahwa tiap zaman memiliki ciri dan nuansa refleksi yang berbeda. Dalam zaman Yunani diletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat. Zaman Patristik dan Skolastik ditandai oleh usaha yang gigih untuk mencari keselarasan antara iman dan akal, karena iman di hati, dan akal ada di otak. Tidak cukuplah sikap credo quia  absurdum = “aku percaya justru karena tidak masuk akal” Tertulianus, 160-223 M. Dalam Zaman Modern  direfleksikan berbagai hal tentang rasio, manusia dan dunia.  Jejak pergumulan itu terdapat dalam aliran-aliran filsafat dewasa ini.

1   Zaman Yunani

Is not the good good because it contains the idea of the good?

Plato

1.1 Filsafat pra-sokrates ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu (“arche” = ).  Tidakkah di balik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu azas? Thales mengusulkan: air, Anaximandros: yang tak terbatas, Empedokles: api-udara-tanah-air.  Herakleitos mengajar bahwa segala sesuatu mengalir (“panta rei” = selalu berubah), sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan: bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu?  Pythagoras (580-500 sM) dikenal oleh sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Democritus (460-370 sM) dikenal oleh konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkannya juga.  Zeno (lahir 490 sM) berhasil mengembangkan metode  reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar.

1.2  Puncak zaman Yunani  dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates (470-399 sM), Plato (428-348 sM) dan Aristoteles (384-322 sM). 

1.2.1  Sokrates  menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat.  Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk “melahirkan” pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu.  Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. — Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya.

Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai “sophis” (“yang bijaksana dan berapengetahuan”), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Seperti diungkapkan oleh Cicero kemudian, Sokrates “menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah”. Karena itu dia didakwa “memperkenalkan dewa-dewi baru, dan merusak kaum muda” dan dibawa ke pengadilan kota Athena.  Dengan mayoritas tipis, juri 500 orang menyatakan ia bersalah. Ia sesungguhnya dapat menyelamatkan nyawanya dengan meninggalkan kota Athena, namun setia pada hati nuraninya ia memilih meminum racun cemara di hadapan banyak orang untuk mengakhiri hidupnya.

1.2.2  Plato menyumbangkan ajaran tentang “idea”.  Menurut Plato, hanya idea-lah realitas sejati. Semua fenomena alam hanya bayang-bayang dari bentuknya (idea) yang kekal. Dalam wawasan Plato, pada awal mula ada idea-kuda, nun disana di dunia idea. Dunia idea mengatasi realitas yang tampak, bersifat matematis, dan keberadaannya terlepas dari dunia inderawi. Dari idea-kuda itu muncul semua kuda yang kasat-mata. Karena itu keberadaan bunga, pohon, burung, … bisa berubah dan berakhir, tetapi idea bunga, pohon, burung,  … kekal adanya. Itulah sebabnya yang Satu dapat menjadi yang Banyak. 

Plato ada pada pendapat, bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif, bawaan, dalam diri) seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya dari dunia idea, — konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini. Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.

Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika. Problem filsafati yang digarap oleh Plato adalah keterlemparan jiwa manusia kedalam penjara dunia inderawi, yaitu tubuh.  Itu persoalan  ada (“being”) dan mengada (menjadi, “becoming”).

1.2.3  Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya.  Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu “berubah” (menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah  melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam benda-benda.

Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya  oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan.

Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif  dan metode empiris-induktif.  Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir.  Logika dibentuk dari kata λογικοζ, dan λογοζ berarti sesuatu yang diutarakan.  Daripadanya logika berarti pertimbangan pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. 

Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.

Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna.  Itu berbeda dari Plato.  Berbeda dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan memilih “hylemorfisme”:  apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu merupakan pengejawantahan material (“hyle”) sana-sini dari bentuk (“morphe”) yang sama.  Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi kemungkinan (“dynamis”, Latin: “potentia”) untuk pengejawantahan (aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda.   Maka ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama.  Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala yang “tetap” dan yang “berubah”.

Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan bahwa wanita adalah “pria yang belum lengkap”.  Dalam reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma pria. Wanita adalah “ladang”, yang menerima dan menumbuhkan benih, sementara pria adalah “yang menanam”.  Dalam bahasa filsafat Aristoteles, pria menyediakan “bentuk”, sedang wanita menyumbangkan “substansi”.

Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama “jiwa” (“psyche”, Latin: anima).  Tetapi jiwa pada manusia memiliki sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat “mengamati” dunia secara inderawi, tetapi juga sanggup “mengerti” dunia dalam dirinya.  Jiwa manusia dilengkapi dengan “nous” (Latin: “ratio” atau “intellectus”) yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima “logoz”.  Itu membuat manusia memiliki bahasa.

Pemikiran Aristoteles merupakan hartakarun umat manusia yang berbudaya.  Pengaruhnya terasa sampai kini, — itu berkat kekuatan sintesis dan konsistensi argumentasi filsafatinya, dan cara kerjanya yang berpangkal pada pengamatan dan pengumpulan data.  Singkatnya, ia berhasil dengan gemilang menggabungkan (melakukan sintesis) metode empiris-induktif dan rasional-deduktif tersebut diatas.

Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke India-Himalaya.  Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan di wilayah Timur Tengah juga.  — (Catatan kecil saja dari FSP: Maka jangan terkejut jika pandangan berat-sebelah tentang pria-wanita sangat dominan sampai kini. Legitimasi filsafati agaknya telah diberikan oleh Arsitoteles atas praktek yanh umum di dalam masyarakat Timur Tengah, Eropa abad pertengahan dan dimana saja. Gereja Katolik pun selama berabad-abad mengikuti pendirian yang sama, sekalipun landasan biblisnya sama sekali tidak ada. Yesus, sebagaimana tampak dalam Injil, memiliki pandangan yang sama sekali tidak berat-sebelah tentang gender.)

Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang penalaran, berperan sebagai organon (“alat”) untuk sampai kepada pengetahuan yang lebih mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria yang membawa kepada praxis. Aristoteles  mengawali, atau sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong, kelahiran banyak ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan tentu saja fisika.  Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran dalam Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia dan  Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh Franklin), Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan The Origin of Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan produk refleksi para pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang tersedia dalam zamannya masing-masing.

1.3  Zaman Yunani pasca-aristoteles ditandai oleh tiga aliran pemikiran filsafat, yaitu Stoisisme, Epikurisme dan Neo-platonisme.  Stoisisme (Zeno, 333-262 sM) terkenal karena etikanya: manusia berbahagia jika ia bertindak rasional.  Epikurisme (Epikuros, 341-270 sM) juga terkenal dalam etika: “kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita”.

Neo-platonisme (Plotinos, 205-270 M).  Idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato) disebut oleh Plotinos το εν = “to hen”, yang esa, “the one”.  Yang esa adalah awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal.  Yang esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga.  Yang esa adalah pusat daya, — seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya.  Kendati proses emanasi, yang esa tak berkurang atau terpengaruh sama sekali.

Dari το εν mengalir νουζ = “nous”, budi, akal, bahkan roh (?).  “Nous” merupakan “bayang-bayang” dari “to hen”.  Dari “nous” mengalir ψνχη = “psykhe”, jiwa, yang merupakan perbatasan “nous” dengan μη ου = “me on”, materi, yang merupakan kemungkinan atau potensi bagi keberadaan suatu bentuk, yang pada manusia adalah tubuh.  “Psykhe” merupakan penghubung antara “nous” yang terang, yang berlawanan dengan materi yang gelap, yang rohani berlawanan dengan yang jasmani.  — Menurut neo-platonisme, perlawanan itu merupakan penyimpangan dari kebenaran.  Untuk mencapai kebenaran, manusia harus kembali kepada “to hen”, dan itulah tujuan hidup manusia.  “To hen” kiranya identik dengan konsep “Sang Sangkan Paraning Dumadi” dalam tradisi Jawa.

Kesatuan mistis dengan “to hen” merupakan kebenaran sejati. Manusia harus berkontemplasi untuk mengatasi hal-hal yang inderawi, yang merupakan penghambat besar bagi pembebasannya dari hidup dalam dimensi materi yang bersifat gelap (dan berakhir kepada kematian) menuju kepada hidup dalam dimensi roh yang membawa kepada terang (serta awal dari kekekalan).

Jejak pemikiran neoplatonisme dapat diamati dalam pengalaman mistik, yaitu pengalaman menyatu dengan Tuhan atau “jiwa kosmik”.  Banyak agama menekankan keterpisahan antara Tuhan dan Ciptaan, tetapi para ahli mistik tidak menemui pemisahan seperti itu.  Mereka jutru mengalami rasa “penyatuan dengan Tuhan”. Ketika penyatuan itu terjadi, ahli mistik merasa dia “kehilangan dirinya”, dia lenyap ke dalam diri Tuhan atau hilang dalam diri Tuhan, sebagaimana setitik atau sepercik air kehilangan dirinya ketika telah menyatu dalam samudera raya.

Tetapi pengalaman mistik itu  tidak selalu datang sendiri. Ahli mistik harus mencari jalan “pencucian dan pencerahan” untuk bisa bertemu dengan Tuhan, melalui hidup sederhana dan berbagai teknik meditasi. Kecenderungan mistik tu diketemukan dalam semua agama besar di dunia. Dalam “agama” Jawa dikenallah konsep “manunggaling kawula lan Gusti”, yang jejaknya dalam sastra suluk Jawa digali dan diungkapkan bagi generasi masa kini dalam konteks filsafat dan pandangan keagamaan oleh Zoetmulder. (Zoetmulder SJ almarhum adalah Guru Besar di Fakultas Sastra UGM).

2   Zaman Patristik (Para Bapa Gereja)

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat

untuk mengajar,

untuk menyatakan kesalahan,

untuk memperbaiki kelakuan, dan

untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaaan Allah

diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

2 Tim 3:16-17

Pemikiran filsafati para Bapa Gereja Katolik mengandung unsur neo-platonisme.  Para Bapa Gereja berusaha keras untuk menyoroti pokok-pokok iman kristiani dari sudut pengertian dan akalbudi, memberinya infrastruktur rasional, dan dengan cara itu membuat pembelaan yang nalar atas aneka serangan. Pada dasarnya Allah menjadi pokok bahasan utama. Hakekat manusia Yesus Kristus dan manusia pada umumnya dijelaskan berdasarkan pembahasan tentang Allah. Ditegaskan, terutama oleh Agustinus (354-430 M) bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang (“lumens”) dari Allah.  Meskipun demikian dalam diri manusia sudah tertanam benih kebenaran (yang adalah pantulan Allah sendiri). Benih itu memungkinkannya menguak kebenaran. Sebagai  ciptaan, manusia merupakan jejak Allah yang istimewa = “imago Dei” (citra Allah), dalam arti itu manusia sungguh memantulkan siapa Allah itu dengan cara lebih jelas dari pada segala ciptaan lainnya.

“Tuhan, engkau lebih tinggi daripada yang paling tinggi dalam diriku, dan lebih dalam daripada yang paling dalam dalam batinku”  — itu ungkapan Agustinus tentang pengalaman manusia mengenai transendensi dan imanensi Allah dalam satu rumusan.  Dalam zaman ini pokok-pokok iman Kristiani dinyatakan dalam syahadat iman rasuli (teks “Aku Percaya” yang panjang). Didalamnya dituangkan rumusan ketat pokok-pokok iman, termasuk tentang trinitas — tentu saja dalam katagori pemikiran filsafati pada waktu itu dan dengan bahan dari Alkitab.

Agustinus menerima penafsiran metaforis atau figuratif atas kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa alam semesta dicipta creatio ex nihilo dalam 6 hari, dan pada hari ketujuh Allah beristirahat, sesudah melihat semua itu baik adanya. “Allah tidak ingin mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak relevan bagi keselamatan mereka”.  Penciptaan bukanlah suatu peristiwa dalam waktu, namun waktu diciptakan bersama dengan dunia. Penciptaan adalah tindakan tanpa-dimensi-waktu yang melaluinya waktu menjadi ada, dan tindakan kontinu yang melaluinya Allah memelihara dunia.  Istilah ex nihilo tidak berarti bahwa tiada itu merupakan semacam materi, seperti patung dibuat dari perunggu, namun hanya berarti “tidak terjadi dari sesuatu yang sudah ada”.  Hakikat alam ciptaan ialah menerima seluruh Adanya dari yang lain, yaitu Sang Khalik. Alam ciptaan adalah ketergantungan dunia kepada Tuhan.

Disini tidak disinggung persoalan, apakah penciptaan itu terjadi dalam waktu, atau terjadi pada suatu ketika atau sudah ada sejak zaman kelanggengan.  Para ahli filsafat pada umumnya sependapat bahwa a priori kita tidak dapat memastikan mana yang terjadi. — Menciptakan, sebagai tindakan aktif, dipandang dari sudut Tuhan, merupakan cetusan kehendakNya yang bersifat langgeng, karena segala sesuatu dalam Tuhan adalah langgeng.  Tetapi dipandang dari sudut ciptaan, secara pasif, ketergantungan dari Tuhan, terciptanya itu dapat terjadi dalam arus waktu, atau di luarnya, sejak zaman kelanggengan.  Jadi kelirulah jika dibayangkan bahwa Tuhan suatu ketika menciptakan alam dunia lalu mengundurkan Diri.  Andaikata Tuhan seolah-olah beristirahat, maka buah ciptaan runtuh kembali ke nihilum, ke ketiadaan.  Dunia terus menerus tergantung pada Tuhan (creatio dan sekaligus conservatio).

Ketika ditanya mengenai apa yang dilakukan Allah sebelum menciptakan dunia, Agustinus menjawab tidak ada artinya bertanya mengenai itu, karena tidak ada waktu sebelum penciptaan tersebut.

3  Zaman Skolastik

Egoo eimi ho oon.

Sum qui sum.

I am who I am.

Aku adalah Aku.

    (Keluaran 3:14)

Saya membagi zaman skolastik dalam 2 tahapan (1) zaman skolastik timur, yang diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M, dan (2) zaman skolastik barat, abad 12 s/d 15 M, yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol).

Secara sederhana, dalam zaman Patristik, “filsafat teologi”, dengan tanda dapat dibaca sebagai “identik dengan”, “sama sebangun dengan”, “praktis tidak berbeda dengan”.  Sementara dalam periode skolastik timur, terdapat berbagai interpretasi atas simbul dalam rumusan “filsafat teologi”, dalam periode skolastik barat tidak ada keraguan tentang makna simbul dalam rumusan “filsafat teologi”.

3.1.  Periode skolastik timur

Abad ke-5 s/d abad ke-9 Eropa penuh kericuhan oleh perpindahan suku-suku bangsa dari utara. Pemikiran filsafati praktis tidak ada.  Sebaliknya di Timur Tengah.  Sejak hadirnya agama Islam dan munculnya peradaban baru yang bercorak Islam, ada perhatian besar kepada karya-karya filsuf Yunani. Itu bukan tanpa alasan. Pada awal abad 8 krisis kepemimpinan melanda Timur Tengah; amanat Nabi seperti terancam untuk menjadi pudar dan dalam situasi tak menentu itu dikalangan pada mukmin muncullah deretan panjang ahli pikir yang ingin berbuat sesuatu, berpangkal pada penggunaan akal dan azas-azas rasional, dan menyelamatkan Islam.

(1)  Mashab Mu’tazila (725 – 850 – 1025 M)  meminjam konsep-konsep pemikiran Yunani dan melihat akal sebagai pendukung iman.  Pengakuan akal sebagai sumber pengetahuan (selain sumber wahyu) mendorong penelitian tentang manusia (kodrat, martabat dan tabiatnya). Mengikuti etika Aristoteles, karena akal membuat manusia mampu membedakan baik dan buruk, maka berbuat baik adalah wajib. Pemimpin harus mewajibkan umatnya berbuat baik, masing-masing warga menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Daripadanya dijabarkan hubungan antar-manusia dan antar-bangsa, dan hak azasi (kemauan bebas) manusia.  Pandangan ini cocok dengan Al Qur’an (Surah 3 ayat 110): “amr bil-a’ruf wa’l nahy an’al-munkar”. 

Mashab Mu’tazila ada pada pendapat bahwa Al Qur’an tercipta, artinya “dirumuskan oleh manusia, dengan latar belakang tempat dan zaman yang khusus”.  Maka para Mu’tazila membaca Al Qur’an dengan kacamata rasionalis.

(2)  Mashab falsafah pertama (830 – 1037 M), berhaluan neoplatonis dan aristoteles.  Kata “falsafah” dipakai untuk mengartikan filsafat hellenis dalam kosakata bahasa Arab, ahli fikirnya disebut “faylasuf” (“falasifa – jamak).  Empat tokol besar : al-Kindi (800-870 M), al-Razi (865 – 925 M), al-Farabi (872 – 950 M)  dan Ibn-Sina (980 – 1037 M). Menggumuli masalah klasik “perbedaan antara dhat dan wujud” (“distinctio realis inter essentiam et existentiam”).  Mereka ada pada  pendapat, bahwa akal adalah pendamping iman. Al-Razi menolak ijazu’l Qur’an. Tulis al-Razi:  “Tuhan memberi kepada manusia akal sebagai anugerah terbesar.  Dengan akal kita mengetahui segala apa yang bermanfaat bagi kita dan yang dapat memperbaiki hidup kita.  Berkat akal itu kita mengetahui hal yang tersembunyi dan apa yang akan terjadi. Dengan akal kita mengenal Tuhan, ilmu tertinggi bagi manusia.  Akal itu menghakimi segala-galanya, dan tidak boleh dihakimi oleh sesuatu yang lain.  Kelakuan kita harus ditentukan oleh akal semata-mata”.

(3)  Mashab pemikiran ketiga disebut pula Kalam Ashari, berpusat di Bagdad, dan bercorak atomisme (yang dicetuskan pertama kali oleh Democritus, 370 sM), dan bergumul dengan soal sebab-musabab, kebebasan manusia, dan keesaan Tuhan.  Para tokohnya: al-Ash’ari (873-935 M), al-Baqillani (?-1035), dan al-Ghazali (1065-1111 M).

Pandangan yang bercorak atomistis berpangkal pada pendapat bahwa peristiwa alam dan perbuatan manusia tidak lain daripada kesempatan atau tanda penciptaan langsung dari Tuhan.  Daya alami serta hubungan wajib sebab-akibat dalam penciptaan itu tidak ada. Segala sesuatu terjadi oleh campur tangan al-Khaliq, “tiada yang tersembunyi daripadaNya seberat dharahpun” (Al-Qur’an Surat 34 ayat 3). Tiap kejadian terdiri atas deretan terputus-putus atom-atom, tanpa ada hubungan kausal. “Kami menyangkal bahwa makan dan minum menyebabkan kenyang”. Yang ada hanya monokausalitas mutlak illahi.  Apabila tampak sesuatu akibat dari suatu tindakan, maka itu hanya semu, karena Allah menghendaki hal itu.  Tuhan mahakuasa dan mendalangi setiap kegiatan insani. Manusia tidak memiliki kehendak bebas, yang bebas itu hanya semua saja. Manusia hanya boneka atau wayang dalam pergelaran semalam suntuk. “Bila manusia bertindak baik, itulah ditentukan Allah sesuai rahmatNya; bila dia berbuat jahat itu dikehendaki Allah sesuai keadilanNya”.

Dalam “Al-Tahafut al-filasifah” al-Ghazali membuat sistematisasi atas filsafat dalam 20 dalil dan membuat kajian  dan bantahan yang keras atas tiap-tiap dalil itu. Empat dari 20 dalil diberi nilai kufurat.  Ilmu sebagai pengetahuan sesuatu melalui sebab-sebabnya dimungkiri; seluruh pengetahuan ilmiah adalah sia-sia. Secara singkat “al-aql laysa lahu fi’l-shar’ majal” — untuk akal tiada tempat dalam agama.

(4)  Jauh dari pusat khilafat Abbasiyah di Timur Tengah, di kawasan yang dikenal sebagi Maghrib al-Aqsa (Barat jauh: Afrika barat laut, jazirah Andalusia, yaitu Spanyol sekarang) berkembanglah pusat Islam dalam kesenian, ilmu pengetahuan dan filsafat.  Ibn Bajjah (1100-1138 M), Ibn Tufail (? – 1185), dan Ibn Rushd (“Averroes”) (1126-1198 M) merupakan 3 filsuf utama dalam perioda Filsafat Kedua (1100 – 1195 M) ini.

Ciri para filsuf ini pada umumnya menolak haluan anti-rasional Al Ghazali. Ibn Bajjah menegaskan adalah tugas seorang filsuf untuk meningkatkan martabat hidupnya dengan merenungkan kenyataan rohani sampai akhir hayat.  Akal adalah hal yang paling berharga yang dikaruniakan Tuhan kepada abdiNya yang setia.

Ibn Tufayl terkenal oleh buku roman filsafi yang berjudul Risalat HAYY IBN YAQZAN fi asrar al -himah al-mashiriyyah.

Ibn Rushd dikenal oleh 3 kelompok karyanya: tafsir atas Aristoteles, karangan polemis (tentang karya-karya filsafat di kawasan timur) dan karangan apologetis (yang membela Islam dari ancaman dari dalam).  Tahafut al-tahafut  merupakan serangan frontal atas al-Tahafut al-filasifah al-Ghazali.  Menolak pandangan al-Ghazali, ditegaskannya bahwa ilmu secara esensial adalah pengetahuan sesuatu berdasarkan sebabnya.  Kita menanggapi hubungan sebab-akibat dengan pancaindera, dan memahaminya sebagai nyata dengan akal.  Dengan akibat atau setiap perubahan diciptakan secara langsung oleh iradat ilahi tanpa pengantaraan sebab tercipta (wasa’ith), seluruh dunia dimerosotkan menjadi kaos dan irasional, tanpa tata-tertib, tanpa nizam atau inayah.  Itu bertentangan dengan akal sehat dan menentang wahyu Qur’an, yang melukiskan dunia sebagai karya teratur Allah yang maha bijaksana.

Karya apologetisnya (2 buku yang ditulis pada tahun 1179 M) juga membela hak hidup filsafat dalam Islam, baik sebagai ilmu otonom, maupun sebagai ilmu bantu dalam teologi.  Rushd melihat filsafat sebagai “sahabat al-shari’at w’ahat al-ruzdat”, teman teologi ibarat saudari sesusuan.  Filsafat diwajibkan oleh al-Qur’an, agar manusia dapat memuji karya Tuhan di dunia ini (antara lain Surah 3 ayat 188, Surah 6 ayat 78, Surah 7 ayat 184, Surah 59 ayat 2, dan Surah 88 ayat 17) .  Bila studi hukum (fiqh) tidak disertai studi filsafat, fiqh membuat budi sempit dan memalsukan agama.

Pengaruh Ibn Rushd sang filsuf dari Cordova itu terhadap alam pikiran Islam selanjutnya mungkin tidak seberapa, dia bahkan dikatakan hanya mewariskan “sekeranjang buku seberat sosok mayatnya”.  Tetapi naskahnya populer di Eropa, khususnya di lingkungan kampus Universitas Paris, dan menyebar dari sana.  Dengan karyanya,  Aristoteles yang dijuluki “Sang Filsuf” diperkenalkan mutiara pemikirannya oleh Ibn Rushd yang oleh karena itu mendapat julukan “Sang Komentator”.  Sebagai akibatnya, obor perenungan filsafati Yunani, seperti diarak melalui Timur Tengah ke Barat Jauh oleh para filsuf muslim (yang sering hidup menderita), dan dengan itu diestafetkan kepada para filsuf Eropa (Barat) dan ke seluruh dunia.  Itulah sumbangan berharga para filsuf muslim dalam khazanah perenungan tak kunjung henti manusia dalam menemukan jati diri dan realitas di sekelilingnya.

3.2  Perioda skolastik Barat

Awal abad 13 ditandai dengan 3 hal penting: (1) berdirinya universitas-universitas, (2) munculnya ordo-ordo kebiaraan baru (Fransiskan dan Dominikan), dan (3) diketemukannya filsafat Yunani, melalui komentar Ibn Rushd, yang dipelajari dan dikritik dan diteliti dengan cermat oleh Thomas Aquinas (1225 – 1274 M).  Tema filsafat perioda ini adalah hubungan akal budi dan iman, adanya dan hakekat Tuhan, antropologi, etika dan politik.

Otonomi filsafat yang bertumpu pada akal, yang merupakan salah satu kodrat manusia, dipertahankan.  Menurut Thomas Aquinas, akal memampukan manusia mengenali kebenaran dalam kawasannya yang alamiah.  Sebaliknya teologi memerlukan wahyu adikodrati.  Berkat wahyu adikodrati itu teologi dapat mencapai kebenaran yang bersifat misteri dalam arti ketat (misalnya misteri tentang trinitas, inkarnasi, sakramen).  Karena itu teologi memerlukan iman, karena hanya dapat dijelaskan dan diterima dalam iman.  Dengan iman yang merupakan sikap penerimaan total manusia atas wibawa Allah, manusia mampu mencapai pengetahuan yang mengatasi akal.  Meski misteri ini mengatasi akal, ia tidak bertentangan dengan akal.  Meski akal tidak dapat menemukan (menguak) misteri, akal dapat meratakan jalan menuju misteri (“prae-ambulum fidei”).  

Dengan ini Thomas Aquinas menegaskan adanya dua pengetahuan yang tidak perlu bertentangan, atau dipertentangkan, tetapi berdiri sendiri berdampingan: pengetahuan alamiah (yang berpangkal pada akal budi) dan pengetahuan iman (yang bersumber pada kitab suci dan tradisi keagamaan). Adalah Wihelm Dilthey (1839-1911) yang akhirnya membedakan dengan tegas “Geisteswissenschaften” = “human sciences” dari “Naturwisensshaften” = “natural sciences”, sementara Max Weber membedakan “erklaeren” sebagai ciri-ciri ilmu alam dari “verstehen” yang merupakan ciri khas ilmu-ilmu kemanusiaan.

Filsafat Metafisika

PANDANGAN WHITEAD TENTANG TUHAN DAN KREATIVITAS

Bab V

BAB V

PANDANGAN WHITEAD TENTANG TUHAN DAN KREATIVITAS

  1. Argumen Pendukung

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah darimana subject aim  dapat berbcara tentang Tuhan? Jawaban Dari pertanyaan ini adalah

  • Untuk melengkapi skema metafisika dari interpretasi utuh
  • Peranan Tuhan dibuthkan untuk menjelaskan secara utuh makna dari proses becaming.
  1. KONSEP WHITEHEAD TTNG TUHAN

Konsep Tuhan dalam pandangananya tidak terlepas dari tiga buku yang terkenal yaitu:

  1. Buku Science and the modern world (SMW)

Konteks buku ini adalah Whitehead berada dalam situasi matrerialisme ilmiah. Dalam buku I ini, Tuhan dimengerti sebagai prinsip limitasi. Ia adalah prinsip pembatas terhadap nilai. Bagaimana proses limitasi itu? Dalam satu bagian buku ini ia berbicara tentang TUhan sebagai prinsip limitasi. Titik tolaknya adalah aktivitas dasariah dilihat terlepas dari fakta proses realisasi yang mempunyai tiga jenis anvisagment, yaitu: 

1. Objek abadi. 

2) posibilitas nilai-nilai yang berkatian dengan sintesis objek2 abadi. 

3) materi actual yang terlibat dalam situasi total pecapaian di masa di masa depan. 

Dengan demikian ada dua kunci penting dalamn penegasan ini, antara lain:

  • Aktivitas dasariah ialah realitas metafisik terakhir yang dimegerti sepadan dengan substansi tunggal yang tak berhingga.
  • Nilai adalah apa yang terkandung dalam peristiwa aktualisasi atau selalu dalam hubungan dengan proses menjadi

Kita bertanya dimana posisi Tuhan? Dalam pengertian tiga jenis anvisagement di atas dimana TUhan? Whithead katakana Tuhan dapat dimengerti dalam posibilitas nilai. Dari mana posibilitas nilai itu berasal? TUhan adalah sumber nilai dari satuan actual yang berproses sekaligus sebagai pembatas nilai-nilai.

    SA hanya dapat mengambil satu nilai karena selalu berproses  meneguhkan identitas maka Tuhan tidak lain adalah hasil pembatas nilai. Dengan demikian SA adalah sintesis yang dibatasi, karena itu tidak ada yang tidak terbatas. 

    Kalau begitu bagaimana prinsip limitasi  dapat efektif? Atau dari mana datanganya proses limitasi itu? Ia menjawab Tuhan. Tuhan adalah prinsip limitasiKarena TUhan adalah prinsip Limitasi terakhir mak, a eksistensiNya adalah irasional terakhir (Segala sesuatu adalah rasional dan dasar terdalamnya adalah irasional Tuhan). Sehngga tanpa Tuhan tidak ada pembatasan dan dunia akan kacau. Nilai ada karena ada ketertiban dari Tuhan. Ia menjelaskan:

Tuhan adalah prinsip limitasi terakhir. Eksistensinya merupakan irasional terkahir. Karena todak ada penjelasan yang dapat diberikan tentang litiasi tersebut yang bersumber dari hakikatnya. TUhan bukanlah realitas kongkrit, tetapi dia menjadi dasar bagi setiap aktualitas konkret, hakekatnya tidak dapat dijelaskan karena hakikat itu justru menjadi dsar rasionalitas. (SMW 221).

  1. Buku Religion in the making (RM) Tuhan sebagai satuan actual non temporal

Konteksnya adalah agama sebagai unsure budaya atau usaha menerapkan relaitas yang dilihat sebagai kesatuan jaringan prehensi; tidak ada satu unsure realitas yang berdiri sendiri; majemuk tapi saling melengkapi.

Konteks ini diaplikasikan dalam buku II bahwa agama dihubungkan dengan budaya. Agama adalah realitas cultural. Maka kekhususan agama adalah menyangkut soal batin yang tidak dapat dimasuki oleh orang lain (religiositas).

Dengan begitu terjadi pergesaran yang besar. Juga perspektifnya adalah SA yang dalam proses menjadi mempunyai 3 elemen transformative.

  1. Kreativitas

SA punya elan vital yang hidup dalam dirinya. Ciptaan tidak dapat dilepas dari kreativtas. Kalau begitu bagaimana SA dapat menciptakan dirinya? Yaitu lewat prinsip kreativitas. Maka prinsip kreativtas adala prinsip yang menjelaskan dan membantu kita untuk mengerti, bukan suatu aktualitas karena satu2nya actual adalh SA. Tapi kreativats menjadi nyata dalam SA. Tanya SA kreativitas adalah suatu konsep yang abstrak.

  1. Objek ideal

Sebagai potensial murni yang belum diaktualisas namun potensialitas itu bukan suatu yang tergantung pada aktivitas dasariah tapi tergantung pada SA. Karena setiap SA bercorak kreatif maka dihubungkan dengan porese menjadi sampai pada relevansi tertentu. Sehingga proses menajdi dari setiap satuan peristiwa melibatkan entitas ideal tertentu.

  1. Tuhan

Tuhan sudah dihubungkan dengan atribut ke II (posibiltas nilai-nilai) maka dalam buku II ini, Tuhan dihubungkan dengan 3 elemen (kreativitas, objek ideal dan TUhan). Tuhan sebagai SA, punya dua aspek:

  • Aktual: terlibat dalam waktu karena actual
  • Non temporal: melampaui waktu dan hanya diriNya-lah sebagai SA yang non temporal.

Ia menulis sehubungan dengan TUhan: satuan actual tetapi non temppral berperan sebagai jalan yang melaluinya kreativitas yang tak dibataasi diubah mejadi suatu kebebasan yang terbatas. Satuan actual itulah yang oleh kaum  beragama disebut TUhan (RM 88)

            Tuhan sebagai sumber keteraturan dank arena dunia itu teratur maka adanya TUhan itu perlu. Karena TUhan adalah sumber keteraturan maka Whitehad menyebut itu sebagai “prinsip harmoni/prinsip tata nilai”. Maka peran Tuhan adalah DIa memberikan dan mempertahankan nilai-nilai dalam dunia temporal.  

    Kita bertanya bagaimana hubungan tiga prinsip di atas? Tampa TUhan objek abadi tidak terealisasi. Kreativtas penting tapi membutuhkan objek ideal yang tak terbatas dan perlu adalnya pembatas yaitu Tuhan.

  1. Buku Proses and Reality (PR)

Titik tolaknya adalah Tuhan punya 2 aspek: actual dan non temporal. Dalam buku ini aspek actual dihubungkan sebagai “hakikat akhiri (Consequent nature) dan konsep non temporal dikemabngkan sebagai “hakikat awali” (Primordial nature).

  1. Hakikat awali

Dapat dimengerti bahwa dalam TUhan semua objek ideal ada di dalamNya. Atau Tuhan berprehensi dengan semua objek abadi. Kita bertanya peran apa yang dimainkan oleh hakikat awali dari perspektif SA yang berproses? Dari perspektif SA yang berproses Tuhan menjadi nilai, prinsip limtasi. Proses SA berkembang menuju satisfaction yang artinya yang ideal tertentu mencapai titiknya karena subjectif eim. Dari mana SE berasal? ia muncul dari SA akitvitas awal yang berproses dan pada awal SA hadrilah SA yang punya tahap primordial. Maka bisa dikatakan subjektiv eim datang dari TUhan. Maka Tuhan menjadi Tuhan karaena prehensi dengan objek abadi.

  1. Hakikat akhri

Hakikat akhiri berarti TUhan berprehensi fisik dengan semua satuan actual. Bagaimana dijelaskan? Setiap SA punya kutub ganda: prehensi fisik dan prehensi konseptual. Prehensi fisik adalah sebagai SA maka TUhan punya relasi dengan semua SA di dunia. Maka realitas Tuhan meliputi semua ciptaan.

Ia mengatakan tuhan tidak boleh diperlakukan sebagai satuan suatu kekecualian di hadapan semua prinsip metafisik jika kita tidak menghendaki keruntuhan system prinsip2 itu. Tuhan adalah p erwujudan perdana prinsi2 itu (PR 343)

Kita bertanya mengapa Tuhan berprehensi dengan SA dan manakah konsekwensinya?  Karena sejak awal SA membutuhkan TUhan maka setiap SA perlu berprehensi dengan TUhan. Konsekwesninya  

  • hakikat akhiri Tuhan sebagai SA berprehensi dengan SA lain, maka tidak mungkin kita membayangkan hakikat akhiri TUhan tanpa prehensi dengan SA.
  • Hakikat Tuhan tidak lengkap. Artinya hakukat awali menyatu dengan kesempurnaan hakikat awali maka dalam hakikat awali Tuhan tidak butuh SA, tapi dalam hakikat akhiri TUhan butuh SA.
  • Hakikat akhiri TUhan abadi karena ketercakupan dunia actual dalam TUhan menyatuhkan imortalitas objektif dari dunia dalam TUhan. Semua SA akan hancur karena keterbatasan tapi akan mengalami imortalitas subjektif dalam SA yaitu Tuhan, jadi dunia dan manusia mengalami imortalitas dari TUhan.

II. KONSEP WHITEHEAD TTNG KREATIVITAS

  1. Kreativitas

Buku I SMW:

Berangkat dari konsep bahwa SA sebagai causa sui yang menyebabkan dirinya sendiri dan Istilah kreativitas belum muncul dalam buku SMW,  namun dari pengertiannya jelasn bahwa disana ‘aktivtas dasariah” yang dianggap sebagai :the Ultimate kelak akan diberi nama kreativitas. untuk menciptakan identitas melalui proses konresi sehingga SA bersifat kreatif. Akitivtas dasariah yang kemudian dalam buku RM disebut sebagai kreativtas. 

Buku II RM:

Bersama dnegan Tuhan dan entitas2 ideal, kreativitas disebut sebagai elemen formatif bagi setiap aktulitas. Secara ontologism elemen2 formatif itu diandaikan oleh setiap satuan actual yang sedang dalam proses menjadi. Kita tidak dapat menjelaskan apapun tentang satuan Aktual tanpa merujuk kepada elemen2 tersebut. Kreativtas tidak lain adalah salah satu dari 3 elemen formatif SA. Disinilah kreatifitas dimengerti sebagai prinsip kebaruan: setiap SA selalu berproses menuju SA yaitu menjadi baru.

Buku III PR:

Dalam buku 3 ini ia mengembangkan secara penuh metafisikanya sebagai suatu filsafat organism dengan tesis dasar bahwa : dunia actual adalah suatu proses, dan bahwa prose situ tidak dapat lain dari proses menjadi satua2 aktual. Initsari dari prose situ adalah bnayak data yang berbeda2 bergabung menjadi suatu sintesis baru yang disebut satuak actual particular. 

Ia menyebut kreatifitas adalah prinsip kebaruan, yakni prinsip yang karenanya “yang banyak…’ menjasdi satu satuan peristiwa. Mka peneyebutan ini tidak lain mau menunjuk pada kreativitas sebagai  the ultimate. Sehingga kembali ke konsep awal SMW “aktivtas dasariah”. Maksunya kreativtas sbagai kategori penting sehingga tanpa kreatifitas kita tidak dapat mengerti realitas.

  1. Hubungan kreativtas dengan Tuhan

Kita bertanya apakan dalam pandangan Whutehead kreativitas adalah aktivitas Tuhan saja? Tidak! Kreativitas ada bersama dengan SA. Atau kreativtas identik dengan yang absolute tapi kreativitas bukan TUhan karaena tuhan actual. Kreatifitas bukalah pelaku efesien dari ciptaan. Bagaimana bisa mengerti hal ini? Dari perspektif SA. Kreativitas secara radikal menujuk pada proses menjadi. Artinya SA bisa mencipta dirinya karena bersama dengan kreatifitas.

Realitas bersifat netral dan SA adalah perwujudan-NYa. Dalam artian ini ia menulis kreatiitas merupakan terjemahan lain dari ‘materi’ menurut Aristotels atau bahan netral dalam bahasa moderen. Namun, ia bukanlah sekedar penerima yang pasif, tidak juga firma, yang tidak bereleasi secara ekternal. Tapi kreativtias merupakan gagasan murni tentang aktivitas  yang dikondisikan oleh imortalitas objek dunia actual.

SA bisa menciptakan dirinya karena kreatifitas. Namun ia bukan sekedar penerima aktif tidak juga forma, dan tidak berelasi secara ekternal tapi sebagai gagasan murni tetnang aktivitas yang dikondisikan oleh imortalitas.

  1. Tentang personalitas Tuhan

Sudah dikatan bahwa ia mengembangkan konsepnya tentang Tuhan dalam konteks suatu system mentafisika dimana konsep Aristoteles ditolak mengenai substansi. Baginya di alam secara hakiki ditandai oleh adanya proses menjadi. Tuhan digambarkan satuan actual dengan hakikat ganda, yakni hakikat awali dan akhiri. Ia tidak dapat disamakan dengan rkeativitaspun tidak dapat dipikirkan sebagai aktivitas unik dari Tuhan. Bagi whitehead kreativtas dimengerti sebagai prinsip kebaruan yang merujuk pada karekater megafisika dari satua2 aktual yang terus menerus berproses. Jika kreativtas bukan merupaka aktivtas unik Tuhan, Kalau begitu apakah TUhan Whitehead itu personal? Tergantung dari pengertian person itu. Ada dua aspek untuk mengerti person itu:

  • Ada individualitas
  • Ada kesadaran

Jadi personalitas juga tidak lain sebagai sintesis dari masa lalu. Dengan kata lain personalitas selalu punya sejarah. Apakah konsep person menjadi unsure yang penting dalam konseo Whitehad? TIdak! Karena yang penting adalah unsure relasi/keteraturan harmoni.

Filsafat Metafisika

KONSEP WHITHEAD TENTANG METAFISIKA SPEKULATIF IV

BAB IV

KONSEP WHITHEAD TENTANG METAFISIKA SPEKULATIF

  1. Argumen Pendukung
  2. Hakikat Filsafat metafisika

Ia menggunkan metafisika sebagai filsafat spekulatif karena metafsika salah dimengerti oleh aliran positivism yang sangat menekankan pengalaman indrawi, konsekwensinya bahasa etika tidak berguna. Ia katakana bahwa sebuah konsep tidak di ukur dari konswensi tapi dari relevansi, jadi bukan masalahnya sesuatu logis atau tidak tapi sesuatu konsep dapat diukur secara relevan. Sehingga baginya metafisika tidak lain adalah deskripsi tentang konsep2 universal yang dapat diaplikasi untuk mengerti pengalaman klasik (pengalaman tentang realitas). Sehingga objek studi metafisika adalah pengalaman tentang realitas. 

Maka tujuan studi metafisika adalah untuk menyusun skema sistematis yang akan dipakai sebagai/instrument hermeneutika. Implikasinya metafisika bercorak progresif, dinamis. Kalau begitu apa itu metafisika menurut ia? Upaya untuk merumuskan suatu system dari pemikiran2 umum yang bersifat koheren, logis dan pasti, atas dasar mana setiap unsure pengalaman dapat diterangkan maknanya. Dengan demikian ada dua penegasan dari pengertian di atas: 

A.Filsafat tidak bertujuan memberikan pengalaman mengenai realitas, tapi membantu  memaknai pengalaman tentang  realitas

B.agar dapat menginterpretasi pengalaman particular dibutuhkan system gagasan yang umum atau skema kategorial. 

  • Aristoteles sudah mendefenisikan “kategori” sebagai konsep2 sebagai cara bereksistensi, 
  • Kant mendefensihkan “kategori”dalam arti konsep2 murni pengertian yang menjelaskan cara mengada suatu suatu objek
  • Whitehead”kategori berarti struktur2 rasional yang ditemukan dalam pengalaman mengenai realitas. Dan inilah tugas metafsika 
  1. suatu system dari gagasan umum disebut matang apabila meliputi aspek rasional maupun empiris. Aspek rasional berbarti filsafat spekulatif dicirikan oleh corak “koheren” dan “logis” dan aspek empiris menyatakan bahwa skema kategorial tersebut ‘dapat diterapkan dan ‘adekuat’
  1. Metodologi

Kita bertanya bagaimana cara kerja metafisika? Ia sendiri mengkritik metode deduksi dan deduksi karena seakan-akan ada suatu kebenaran dogmatis; ada kebenaran dasar yang ditarik turun-temurun. Karena filsafat  bukan dogma. Kelemahan induksi juga bahwa dengan mengandalkan data empiris, sehingga kelemahannya ada loncatan dari teori ke konsep, padahal dalam filsafat sangat penting adalah imaginasi. Tapi juga kedua metode ini penting karena pengalaman adalah dasar dari suatu hal dan dari pengalaman berunjuk ke konsep2 umum dan logis dan konsep umum itu dipakai untuk menginterpretasi pengalaman. Juga kelemhan induksi adalah induksi benar-benar secara ketat mengandalkan empirisme dalam arti data2, maka itu mustahil.  

Karena itu juga ia menolak metode kerja filsafat yang meniru gaya matematika seperti pernah dikagumi oleh Descartes dan Spinoza, ia mengatakan: filsafat pernah mencontohi matematika, mengajar premis2 yang secara ketat jelas, terpilah-pilah, dan pasti. Atas dasar premis itu suatu system deduktif dibangun.padahal filsafat sama sekali bukan dogmatic.

Baginya inilah dosa para filsuf yang berusaha berpikir mencapai kebenaran akhir yang akhirnya berpotensi mau menjelaskan eksistensi Tuhan. Klau bagitu apa metode yang digunakannya? Baginya unsure riil terakhir dari realitas adalah satuan actual. terhadap metode baru yang ditawarkan ini Whiterhead menggunakan nama yang berbeda2 yakni “rasionalitas imajinatif” “bangunan imajinatif”, generalisasi imajinatif. Isstilah2 ini berbeda tetapi pada hakekatnya merujuk pada satu hal fundamental yang mengandung dua aspek empirisme dan rasionalisme. Sebagaimana ia katakana: apapun yang dijunpai dalam praksisi harus terletak pula dalam wilyaha deskripsi metafisika. Apabila gagal meliputi prkasisi, maka suatu metafsika dianggap tidak sesuati dan perlu direvisi. Tapi bagimana whitehead mampu membuat persamaan dari realitas ke satuan actual?

  1. Actual Entities dan Nexus

Konteksnya adalah kritik atas Ilmu Pengetahuan yang berkembang sejak abad 17-19 dengan kelemahannya pada konsep dasar tentang realitas. Bahwa konsep dasar saat itu dihubungankan dengan substansi, realitast terdiri dari himpunan substansi primer. Jadi kekeliruannya adalah: Substansi primer dianggap sebagai materi yang paling riil padahal bagi whitehead itu sangat abstrak karena substansi selalu berangkat dari relasi-relasi dan Membuang relasi sabgai unsure primer. 

Dengan demikian titik tolaknya atas apa yang disebut metarialisme ilmiah yang merupakan asumsi filosofis dibalik aktivitas ilmiah. Atau realitas adalah substansi yang bersifat material ada dalam ruang dan waktu tertnetu dan masing-masing substansi berdiri sendiri. jadi yang dikritik bukan I. Pengetahuan tapi asumsi filosofis yang mendasari Ip tersebut. Kalau bagitu kita harus meninggalkan konsep ini dnegan konsep actual entity. 

Ia menulis “satuan2 aktual juga disebut satuan2 peristiwa yang merupakan unsure paling reel terakhir yang membentuk realitas. Tidak ada satuan2 lain yang lebih riil daripada satuan2 aktual. Satuan actual berbeda satu dengan yang lain, namun mereka tetap sama status sebagai fakta terakhir yang paling riil. Apa itu actual entity?

Actual entitiy adalah satuan paling riil. Atau pinjaman dari konsep2 filsuf dengan berbagai cirri khasnya, yaitu:

  • Bersifat otonomis karena unsure  terseleksi dari realitas (Demokritos).
  • Satuan actual tidak bersifat material, padat, mati. Tapi harus sesuatu yang punya energy, inner power (John Locke)
  • Dapat menciptkan dirinya. Dapat mengembangkan dirinya, pertumbuhan perubhannya (Causa Sui yang diambil dari Spinoza) satuan actual adalah causa sui yang berusaha memproses dirinya sendiri.
  • Selalu ada dalam relasi. Relasi adalah faktor konstitutif dari satuan actual. Dan inilah yang membedakan stuan actual dan substansi material (Leibniz).

Konsekwensi satuan actual dalam relasi adalah tidak terasing, selalu berada dalam kebersamaan dengan satuan actual lain. Konsep inilah yang disebut Nexus: the together ness. Setiap satuan actual selalu otonomi tapi selalu berada dalam kebersamaan, tidak terasing. Konsep nexus mengandaikan interelasi dengan diantara satuan actual. Dan satuan actual menjadi satuan actual karena iteraksi tersebut. Dan ia menyebut hal ini sebagai Prehensi: relasi antara satuan-satuan actual. ia menulis: satuan2 aktual saling melibatkan berkat prehensi masing2. Dengan demikian kesatuan atau kebersamaan satuan actual bersifat riil, individual, dan partkular, sama seperti masing2 satuan actual dan prehensi bercorak riil, individual dan particular (PR 20)

Di dalam nexus  dan prehensi setiap satuan actual  mengalami proses menjadi (The process of becoming). Satuan actual selalu identik dengan proses menjadi. Dengan demikian realitas indtik dengan proses menjadi dank arena itu disebut sebagai filsafat proses. Proses menjadi ini bisa dalam arti mempertahankan identitas tapi juga dalam arti mengalami destruksi. Satuan actual mengalami proses menjadi sampai titik tertentu apakah ia sudah berhenti? Tidak tapi ia akan memberikan dirinya(proses memberi diri). Selain itu satuan actual tidak dapat direduksi lagi karena merupakan unsure terkahir tapi dapat dianalisis yaitu dengan prehensi kalau lewat cara prehensi maka satuan actual mengalmi 2 jenis proses:

  1. Proses konresi dan sekaligus ingresi
  2. Proses Makroskopis dan mikroskopis.bagaimana menejlaskan proses2 ini?

Prehensi diambil dari kata apprehension adalah pengertian kognitif suatu subjek mengerti objek. Dalam artian ini hanya subejek yang berakal bisa mengerti suatu objek. Jadi apprehension adalah hubungan tanpa kesadaran yang hanya dapati dibatasi pada subjek kognitif yang sadar. Dengan demikian kelelmahan apprehension adalah subjek dijawab secara terasing. Kalau begitu prehensi dianalisis apa hasilnya?

  • Setiap satuan actual adalah subjeki prehensi
  • Lewat prehensi satuan actual menerima data2 dari satuan actual disekitar. (data awal menerima dari satuan actual.
  • Satuan actual bereaksi terhadap data awal yang diterima (subjective form).

Jadi ada dua faktor yang ada proses menjadi bisa terjadi karena satuan actual punya otonimi dan otonomi  menjadi mungkin karena relasi. Proses satuan actual tidak lain adlah membetuk dirinya. Satua actual menciptakan dirinya tidak lain disebut Konkresi adalah proses dimana data2 diterima guna membentuk dirinya. Atau proses mengolah data awal inilah yang disebtu kongkresi. Dan satuan actual hanya mampu memberi kalau ada satisfaction dalam dirinya kemudian memeberikan kepada satuan actual lain.

Proses SA tidak lain adalah membentuk dirinya, inilah proses konkresi, yaitu: proses dimana data2 yang diterima diproses guna membangun dirinya. Dan semua data yang diolah hasilnya ada data yang ditolak dan ada yang diterima dan ukuran suatu data ditolak atau diterima adalah dari subejekcif eim. Dan inilah yang disebut proses transisi: karena SA menerima data dari SA lain (superject) menuju SA subject. 

Dan proses transisi atau proses menjadi dapat diberdakan lagi menjadi dua tahap proses. 

  1. Proses dimana data-data satuan actual yang telah mencaapai kepenehuan ditranformasikan mejnadi satuan actual yang sedang dalam proses menuju aktualitasnya yang lengkap. Dan proses iniah yang terjadi dalam alam semseta dan inilah yang disbeut proses MAKROSKOPIS yaitu suatu proses yang terjadi secara besar dalam alam semesta. Atau suatu merupakan suatu transisi dari aktualitas tercapai kepada aktualitas yang sedang dalam proses pencapaian.
  2. Sedangan proses kedua ialah proses kongkresi. Pada proses ini sejumlah data dimodifikasi mejadi elemen intrinsic dari suatu satuan actual. inilah yang disebtu MIKROSKOPIS adalah proses dalam jangka kecil Dalam proses konkresi tidak lain membuthkan proses makrospkopis. Atau konversi dari kondisi-kondisi riil menjadi aktuliats tertentu. Proses makroskopis menghasilkan menghasilkan transisi dari ‘yang aktual’ ke ‘yang riil’. Sedangkan mikroskopis menghasilkan pertumbuhan dari ‘yang riil’ menjadi ‘aktual’ proses pertama bersifat efeien dan kedua bersifat teologis.

Kalau begitu apa yang dimaksud dengan proses Ingresi? Iadalah proses pengejawantahan objek2 abadi dalam suatu yang actual. maka ingresi ada dalam proses menjadi yang disebut proses mikroskopis. Proses mikroskopis tidak saja merangkum data-data yang diterima dari SA melalui prehensi fisik, tapi juga objek2 abadi. Apa itu objek abadi? Adalah forma ideal sebagai potensialitas murni yang dapat menjadi fakta konseptual atau potensialitas murni. Dengan kata lain proses ingresi adalah masuknya objek abadi kedalam SA. 

Filsafat Metafisika

PANDANGAN AQUINAS TENTANG TUHAN III

BAB III : 

PANDANGAN AQUINAS TENTANG TUHAN

  1. Pengantar

Dalam bab II dibahas konsep metafisika  Aquinas  terlebih tentang pengada dan substansi dalam hubungan antara Esse dan eksistensi, yang kemudian dibedakan antara substansi ragawi dan susbstansi nirragawi yaitu substansi tanpa tubuh yang terdiri dari struktur esensi dan esksistensi. Namun baik substansi ragawi dan nirragawi esensi tidak sama dengan eksistensi. Esensi adalah prisip limitasi dan eksistensi adalah partisipasi dalam Esse. Kalau begitu kita bertanya apakah substansi/ pengada yang esensinya sama dengan eksistensi yang kemudian oleh Aquinas disebut Tuhan? Kita ketahui bahwa  Esse (actus purus) maka esensinya juga harus tak terbatas. Atau hanya pada Tuhan Esse sama dengan esensi maka eksistensi Tuhan tidak terbatas.

  1. Argumen Pendukung
  2. Tuhan=Essensi=Eksistensi

Bagi Aquinas substansi adalah pengada yang esensinya bereksistensi pada dirinya (mandiri). Kosekwensinya essensi tidak identik dengan eksistensi. Essensi bererti prinsip limitasi yang terbatas, maka semua makluk terbatas dalam partisipasi dalam Esse. Walaupun dalam ciptaan Essensi tidak identik dengan eksistensi tapi pada Tuhan essensi selalu identik dengan eksistensi. Dengan kata lain eksistensi Tuhan itulah Esse. Atau juga eksistensi dari pengada adalah partisipasi dalam Esse. Dan Esse itulah kesmpurnaan dari semua kesempurnaan. 

Karena Esse adalajh kesempurnaan actual, maka esensi juga seharusnya sempurna. Kalau Esse adalah yang tak terbatas maka TUhan juga tak terbatas. Konsekwensinya TUhan adalah EsseNya. Tuhan identik dengan diriNya sendiri, sedangkan pada ciptaan esensi tidak mengandung eksistensi. Karena Tuhan adalah kesempurnaan akhir maka eksistensinya ada. Disinilah perbedaan antara Tuhan dan ciptaannNya.

Kalau begitu kita bertanya apakah prinsip limitasi esensi dapat dianggap sebagai penyebab efesien dari eksistensi? Tidak! Karena essensi tidak menciptkan eksistensi tapi esensi mengkundusikannya.  

Dengan demikian, kita dapat mengerti bahw substansi sebagai ciptaan tidak dijadikan dari dirinya sendiri tapi sesuatu yang bersifat eskternal/ pada dirinya sendiri. (A diciptakan oleh B—-X: peneyebab terakhir yang tidak dapat digerakan yaitu Tuhan). Menciptakan berarti diberikan eksistensi, maka Tuhan menciptakan berarti diberikan eksistensi sehingga Tuhan dianggap sebagai Actus Purus yaitu actualitas tanpa pontesialitas. Jadi Tuhan adalah Esse tantum. 

Untuk  membuktikan bahwa Tuhan Essensi Tuhan itu identik dengan eksistensi, maka Aquinas memberikan tiga arguemnnya, yaitu:

  1. Ia membandingkan TUhan dengan ciptaan. Pada ciptaan essensi tidak sama dengan eksistensi, kosekwensinya essensi tidak menciptakan eksistensi sedangakan pada TUhan yang adalah penyebab efesien dari segala sesuatu maka eksistensi Tuhan identik dangan eksistensiNya, jika tidak Ia tidak menciptakan.
  2. Dalah hubungan dengan prinsip yaitu esensi adalah apa yang memungkinkan esensi menjadi actual. Karena itu dapat dikatakabn bahwa esensi Tuhan harus tidak berbeda dari eksistensiNya, atau eksistensi Tuhan adalah eksistenNya.
  3. Prinsip partisipasi yaitu sesuatu A berpartisipasi dalam B, jika tidak identik dengan B tapi hanya sebatas partisipasi. Maka esksitensi ciptaan berpartisipasi dalam Esse.

Selanjutanya pada Esse  segala sesuatu berpartisipasi dalam Esse yaitu semua ciptaan berpartisipasi dan tidak menciptakan eksistensi mereka sendiri karena diterima dari Tuhan. Jadi eksistensi bukan unsure intrinsitik dari ciptaan tapi diterima dari Esse. Kalau begitu Esse Tuhan dari mana? Esse Tuhan adalah iptium Esse (pada diriNya) tidak disebebkan, tidak menerima dari sesuatu yang lain karena hakekat dari TUhan tidak bereksistensi. Dengan demikian pada TUhan Essensinya sama dengan eksistensiNya.

  1. Bukti Eksistensi Tuhan

Pada Tuhan essensi sama dengan eksistensi menyangkut esensi tak terbatas dan ciptaan tidak dapat menyelami kedalaman essensi TUhan. Namun kita hanya bisa mengerti Tuhan dari eksistensi Tuhan. Tapi dari perspektif ciptaan eksistensi TUhan tidak pasti, tapi bagaimana rasio yang terbatas bisa memahami kedalamanan TUhan?

Menjawab pertanyaan ini kita berangkat dari pendekatan oleh St ANselmus yaiotu:

  1. A priori : mau menunjukan tentang AQM yaitu Tuhan tidak dapat dipikirkan  lagi
  2. A posteriori : kalau pendekatan A priori adalah pendekatan berdasarkan konsep maka pendekatan aposteriori lebih berdasarkan pengalaman . dengan pengalaman seseorang bisa mampu mengerti tentang kedalaaman Tuhan.

Dengan begitu Aquinas menunjukan 5 jalan menuju TUhan dengan 2 prinsip, yaitu:

  1. Ex nihilo nihit fit : dari ketiadaan tidak meungkin terjadi sesuatu. Konsekwensinya sesuatu terjadi karena orang lain.
  2. Prinsip kausalitas: yaitu prinsip sebab akibat. Kalau ada sebab pasti ada akibatnya. Dan bagi Aquinas ada 5 jalan menuju ke Tuhan:
  1. Berdasarkan gerak: dalam dunia ini banyak hal selalu berubah. Apapun yang bergerak atau berubah itu selalu digerekan oleh sesuatu yang lain. Jika ia hanya diam maka secara potensial berada dalam gerak. Gerak terjadi karena ketika suatu yang secara potensial berada dalam gerek, digerakan sehingga secara actual bergerak. A bergerak karena digerakan oleh B, dan B bergerak karena C sampai akhirnya sampai pada penyebab terakhir yang tidak dapat digerakan yaitu Tuhan.
  2. Penyebab efesien: ada berbagai jenis akibat, dan dalam setiap kasus kita dapat menunjukan suatu penyebab efesien bagi setiap efek. Penyebab efesien dari sebuah patung adalah pekerjaan si pemahat. Jika kita menyangkal aktifitas si pemahat maka tidak dak akam memperoleh patung sebagai efesien. Dan orang tua dari si pemahat adalah penyebab efesien dari si pemahat, si penebang kayu adalah penyebab efesien dari si pemahat sendiri. jadi ada satu jaringan rumit dari banyak penyebab yang akhirnya setiap penyebab itu disebabkan oleh satu penyebab efesien yang tidak dapat disebabkan lagi yaituTUhan.
  3. Berdasarkan kontinjensi dan nesesitas: kontinjensi berarti bisa ada dan bisa tidak. Atau tidak selalu harus ada. Pohon itu dilihat hari ini ada, bertumbuh tapi akan lenyap, bararti pohon yang sama dapat tidak ada. Berarti pohon itu bisa ada dan bisa tidak ada. Namun tidak semaua ekssten bersifart kontinjen belaka. Aquinas menyimpulak bahwa pasti adaa sesuatu yang memiliki eksistensi yang bersifat niscaya eksistensinya merupakan suatu keharusan.
  4. Berdasarkan kesempurnaan: kita selalu menemukan bahwa dalam hidup selalu ada ha yang kita sebut kurang baik, kurang benar, kurang mulian dan dan lain disebut lebih baik, lebih benar dan lebih mulia. Namun hal-hal ini selalu menunjuk bahwa sebenarnya ada satu hall yang maksimum yang selalu disebut paling baik, paling benar, dan paling mulia. Atau pasti ada suatu relaitas yang paling sempurna melebihi semua kesempurnaan di dunia yaitu Tuhan.
  5. Berdsarkan ketertiban Alam: kita mengetahui bahwa alam raya bereksistensi sesuai dengan ketertiban alam untuk mencapai tujuan tertentu. Ini berarti alam raya bereksistensi tidak secara kebutulan, melainkan karena ketertiban yang direncakanan. Atau mesti ada suatu eksisten inteligen yang olehnya segala sesuatu yang alamiah diarahkan secara tertib menuju tujuannya. Dengan kata lain juga pasti ada sseorang yang merencanakan ketertiban itu yaitu Tuhan.
  6. Hubungan antara TUhan dan Mahkluk ciptaan

 Aquinas kembali bertanya kalau TUhan adalah pengada pertama dari segala sesuatu yang lain atau semua yang bereksistensi punya esensi yang terbatas, kalau begitu bagaimana menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang esesnsinya terbatas?  Ia menjawabnya dalam beberapa prinsip:

  1. Partisipasi kausalitas dan subjetivitas

Konsep partisipasi ini diambil dari Plato yanbg membedakan dua lapisan realitas: yaitu dunia ide dan dunia indrawi. Baginya manusia menjadi manusia karena  berpartisipasi dalam realitas yang sama. Baginya dunia indrawi adalah bayangan bagi dunia ide. Semua hal individual berpartisipasi dalam ide yang sama. Namu  bagi Plato ini tidak sempurna karena hanya bayangan.

Aquinas melampaui pandangan ini dan mengatakan bahwa semua ciptaan berelasi dengan Tuhan karena berpertisipasi dalam Esse. Artinya hubungan primer antara ciptaan dan TUhan adalah hubungan esksitensial karena eksistensi dari ciptaan adalah partisipasi dalam Esse.

Jadi partisipasi pada eksistensi Tuhan itu artinya Tuhan adalah penyeban efesien, dan TUhan menciptakan berarti memberikan esksitenNya. Jadi hubungan ini adalah hubungan yang subjektif dimana TUhan akrab dengan  apapun dan semua ciptaan ambil bagian dalam eksistensiNya. 

Jadi ciptaan bisa menjadi pinta masuk bertemu dengan TUhan karena dalam ciptaan ada unsure eksistensi TUhan. Kita bisa dekat dengan TUhan lewat ciptaan. Dan partisipasi subjektifitas ini adalah bersifatr eksistensial.

Kalau bagitu bagaiamana ciptaan yang bernama manusia dapat berdiskusi dan berbicara dengan Tuhan? Pertnyaan ini muncul karena sehungan dengna ciptaan yang terbatas dan Tuhan yang Maha sempurna, juga karena bahasa ciptaan yang terbatas sehingga bagaiamana akal manisia yang terbatas itu bisa berbicara dengan TUhan . Aquinas menjawab dalam dua konsep:

  1. Depedensi dan analogi

Dalam prinsip kausalitas dikatakan bahwa penyeban selalu berada dalam efek. Dan ciri khas hubungan ini adalah efek selalu tergantung pada penyebab. Artinya ciptaan selalu tergantung pada pencipta secara eksistensial . kalau begitu apa dasar ketergantungan ciptaan pada penciptaNya?

Dasarnya adalah perbedaan struktur esesnsi dan eksistensi. Yaitu:

  1. Pada ciptaan dan pencipta bahwa ekssitensi ciptaan itu adalah partisipasi dalam eksistensi Tuhan maka ketergantungan ciptaan bersifat eksistensial.
  2. Berbarti bahwa atas salah satu cara TUhan hadir pada ciptaanNya. Dan Aquinas menjelaskan relasi ciptaan itu dalam dua jenis relasi:
  1. Relasi ciptaan ke Tuhan. Inilah relasi dependensi yang tidak lain adalh relasi riil yang sungguh-sungguh dimana ciptaan tergantung pada pencipta.
  2. Relasi dari Tuhan ke ciptaan: ciptaan tergantung pada pencipta namun karena  TUhan memberrikan eksistensi pada ciptaan makah masuk akal Tuhan punya hubungan dengan ciptaan. Dan inilah relasi rationis.

Tapi bagaimana berbicara tentang TUhan? Ada jenis cara mengungkapkan tetnang TUhan:

  1. Bahasa univocal: mislanya kata setia pada TUhan dan pada manusia selalu sama. Sehingga jelas bahwa bahasa univocal tidak bisa digunakan.
  2. Bahasa uquivokal: dasarnya esensi TUhan dan ciptaan berbeda bahasa yang digunakan TUhan berbeda dengan bahasa yang digunakan manusia. Maka pendekatan ini juga tidak dapat dipakai.
  3. Bahasa Analogi: disatu sisi mengakui perbedaan dan dilain pihak mengkaui kesamaan. Kalau begitu dari segi mana kita mengakui ciptaan? Dari segi esensi yaitu Tuhan berbeda dengan manusia. Dan ada kesamaan yaitu dari segi eksistensi yaitu eksistensi ciptaan adalah partisipasi dalam eksistensi Tuhan. Sehingga mengatakan Tuhan setia dan manusia setia bisa dalam arti sama tapi juga berbeda antara kesetian Tuhan dan manisia. Artinya kesetiaan Tuhan setia berarti dapat dijumpai kapanpun  sedangkan kesetian manusa berbeda tidak harus dijumpai kapanpun.
Filsafat Metafisika

HAKEKAT FILSAFAT METAFISIKA II THOMAS AQUINAS

BAB II METAFISIKA THOMAS AQUINAS

  1. Tesis dasar:
  1. Argumen pendukung
  2. Pengantar

Intisari dari metafisika Aquinas berpusat pada satu kata inti yaitu Esse. Dan Esse kemudian dimengerti sebagai Tuhan. Kalau seluruh ciptaan secara individual bereksistensi maka bagi Aquinas eksistensi itu adalah partisipasi dalam Esse, itulah Tuhan yang menciptkan dari ketiadaan. Itulah sebabnya secara eksistensial seluruh ciptaan tergantung pada eksistensi Tuhan. Intinya Esse adalah prinsip metafisik yang paling tinggi dan segala ciptaan tergantung pada Esse tersebut sejauh eksistensi tapi manusia mau menjadi apa tidak tergantung pada Esse. Dengan demikian ada beberapa istilah penting dalam metafisika Aquinas,  yaitu:

  1. Ens : diterjemahkan sebagai apa yang mengada dan mengandung dua unsure penting. Pertama sebagai subjek, kedua sebagai tindakan atau aktivitas mengada. Atau ens adalah sesuatu/apa yang mengada. Dengan demikian apapun yang bereksistensi disebut pengada. Dengan demikian aada dua unsur dari pengada: Pertama pengada berarti segala sesuatu yang bereksistensi dan kedua dapat menjadi objek rasio yang dipikirkan. Konsekwensinya manusia, hewan disebut sebagai pengada. Kalau begitu bagaimana mungkin setiap ens dapat melakukan aktivitas mengada? Karena semua berpartisipasi dalam eksistensi Esse.
  2. Tentang Esse : kata pengada menunjuk pada eksistensi suatu benda sedangkan mengada mau menunjuk bahwa sesuatu yang karenanya dapat disebut pengada. Atau sesuatu dapat disebut pengada karena mengada. Maka isitilah mengada selalu menujuk pada benda tertentu seperti manusia, hewan, sedangkan mengada menjadi syarat bagi sesuatu supaya disebut pengada. Jadi aktivitas yang paling fundamental adalah aktivitas mengada sebagai sumber dan dasar bagi aktivitas yang lain. Karena aktivitas mengada sebagai prasyarat abgi aktivitas lain maka aktivitas mengada adalah aktivitas yang sempurna.

Kalau begitu bagaimana Aquinas mendefenisihkan Esse? Yaitu sebagai Actus purus (aktus murni tanpa potensialitas) pada makhluk ciptaan ada potensialitas tapi dalam eksistensi Tuhan tidak ada potensialitas hanya aktualitas.

  1. Tentang Essentia : punya beberapa arti yaitu: 1) apa yang dimilki sebagai unsure yang sama yang dimiliki satu spesies. 2) adalah apa yang disebut the whatness atau quidity. 3) sebagai forma totius yang menyebabkan sesuatu disebut dengan nama tertentu. Dengan demikian essential adalah prinsip pembatas, atau apa yang karenanya eksistensi dari spesies diperoleh atau prinsip yang menyebabkan partisipasi terbatas.
  2. Hubungan Essentia dan Mengada: Essentia berbeda dari eksistensi karena eksistensi merupakan partisipasi dalam Esse. Esse adalah prinsip aktualitas dan merupakan aktualitas sempurna dari pengada. Kalau begitu bagaimana hubungan Essentia dan eksistensi? Yaitu eksistensi merupakan pertisipasi terbatas dalam Esse dan eksistensi sebagai prinsip pembatas dari partisipasi tersebut. 
  1. Substansi

Bagi Aquinas untuk mengerti tentang substansi kita harus berangkat dari Aristoteles.  bagi Aristoteles ada dua pandangan, antara lain:

  1. Pandangan Aristoteles tentang substansi

Untuk mengerti hal ini kita harus berangkat dari pandangan pengada. Baginya kita hanya dapat mengerti tentang pandangan tersebut atas empat cara:

  1. Sesuatu mengada sebagai atribut. Misalnya mengenai warna, relasi.
  2. Sesuatu mengada pada dirinya atau mengada menurut hakekatnya, itulah yang kelak akan disebut substansi.
  3. Pengada sebagai ide, k onsep dalam pikiran. Dan inilah yang disebut sebagai being as truth. Ide sebagai pengada tidak dapat ditangkap oleh panca indera.
  4. Pengada sebagai potensialitas atau aktualitas.

    Berdasarkan pemahaman ini Aristoteles melanjutkan pandangannya dengan menyebut tentang kategori yang adalah klasifikasi yang riil tentang pengada dan relasi. Dan ia membagi 10 kategori yaitu: substansi, kualitas, kuantitas, relasi, aktivitas, posotivitas, tempat, waktu, posesi dan posisi. Dengan kategori ini kita bisa mendudukan pengada dengan cara mengadanya. Dari 10 kategori ini hanya ada satu kategori y ang primer yaitu substansi karena substansi selalu berperan sebagai subjek yang mengerjakan. Namun susbstansi sebagai kategori primer ia sebut menjelaskannya adalam dua arti, yaitu: substansi primer: substansi yang subjeknya sebagai atribut2 dan substansi sekunder itulah yang dimengerti sebagai esentia spesies. Dan dalam buku metaphysics ia membedakan empat arti substansi yaitu:

  1. Benda-benda alami yang kemudian disebut substansi karena bukan predikat. (inilah substansi primer)
  2. Apa yang dianggap sebagai penyebab eksistensi dalam suatu substanbsi primer.
  3. Substansi dipakai untuyk menyatakan apa saja yabng menjadi bagian fundamental dalam suatu pengada sebagai suatu yang mandiri.
  4. Menyatakan esensia dari benda-benda. (inilah substansi sekunder)

Sesudah menjelaskan tentang susbstansi itu,  baginya hanya ada dua substansi yang menjadi dasar, antara lain: 

  1. Substansi dalam arti subjek: itulah substansi yang substratum artinya sesuatu yang menjadi dasar dan diatasnya ada atribuat, sehingga baginya substansi adalah pengada yang tidak dapat dipredikatkan.
  2. Forma atau esensi bagi pengada individual. Misalnya jiwa adalah esensi bagi manusia.
  1. Substansi menurut Thomas Aquinas

Padangannya tentang substansi ada dua, yaitu:

  1. Komentarnya atas pandangan ARistoteles.

Dalam komentarnya, ia membedakan ada beberapa jenis pengada: 

  1. pengada riil (alamiah) dan pengada konseptual (ide). Kedua pengada ini dapat dibahasakan. 
  2. Dan Aquinas membedakan lagi antara 1) sesuatu yang mengada pada dirinya  menurut hakekatnya dan 2)pengada sebagai aksidental. Pengada pada dirinya adalah sesuatu yang bereksistensi pada dirinya sedangkan pengada aksidental adalah cara mengada secara aksidental
  3. Ia membedakan lagi antara pengada secara potensial dan pengada secara aktualitas (kesempurnaan). Dan dari segi inilah kita dapat berbicara tentang waktu.

Dari ketiga pengada di atas, baginya pengada sejati adalah pengada riil yang punya eksistensi objektif. Atau pengada yang sungguh adalah pengada yang riil, alamiah, dan actual, dan k ombinasi dari pengada riil, alamiah dan actual itulah yang kemudia disebut substansi.

  1. Pandangan otentiknya tentang substansi

Bagi Aristoteles pengada adalah berstatus subjek karena itu tidak dapat dipredikatkan pada sesuatu yang lain. Sedangkan bagi  Aquinas sustansi adalah pengada yang menurut eseinya tidak dapat dipredikatkan atau substansi adalah pengada yang menurut esensinya bereksistensi pada dirinya. Hal yang membedakan antara Aristoteles dan Aquinas adalah:

*tambahan Aquinas pada tentang esensi

*Artistotels tentang cara mengada, eksitensi pada dirinya atau subjek tidak dapat dipredikatkan.

*Aquinas substanti tidak dapat dipredikatkan karena esesnsinya. Mengapa karena sgala sesuatu yang bereksistensi adalah partisipasi dalam Esse. 

  1. Strukutur Esensi dan esksitensi

    Aquinas membedakan lima strukurt substansi yaitu Pertama Malaikat, jiwa manusia, manusia, hewan dan benda mati. Kalau begitu faktor apa y ang memungkinkan kita dapat membedakan unsure-unsur  ini? Yaitu esensi dan eksistensi. Namun Aquinas secara khusus berbicara tentang tentang level atas yaitu malaikat, jiwa manusia dan manusia. Karena itu makna substansi juga dapat dibedakan menjadi dua bagian:  

  1. Substansi susunan: substansi yang memiliki susunan materi dan bentuk.   (substansi ragawi).
  2. Substansi sederhana: tidak memiliki materi tapi hanya memiliki potensialitas dan  aktualitas dan esensi serta aktualitas.(substansi nirragawi). Kalau begitu apa itu substansi ragawi dan substansi nirragawi?
  1. Substansi ragawi

Susunannya adalah materi dan bentuk. Dan kelihatan bahwa Aquinas mengambil pandangan ini dari teorii Aristoteles tentang hilemorfisme, namun sebebarnya ada perbedaan.

Aristoteles:

Membedakan meteri (hile) dan bentuk (morphe). Hile adalah unsure yang dibatasi, penerima bentuk. Sedangkan morphe adalah unusur yang membatasi baik dalam adri bentuk kelihatan maupun esensi yang hanya dapat ditangkap oleh intelek. Ketika saya melihat sesuatu maka saya tahu itu manusia karena punya esensi.Inilah yang kemudian disebut eidos. Dan eidos selalu bersifat universal. Sedangkan moprhe bersifat konseptual. Dan forma adalah esensi yang bersifat universal dan materi adalah prinsip individual.

Aquinas:

Ia setuju dengan Aristoteles bahwa substansi susunan terdiri dari materi dan bentuk. Namun ia tidak setuju bahwa forma adalah esensi substansi. Baginya esensi substansi susunan adalah baik materi maupun forma. Bagaimana menjelaskan hal ini?

Dapat dijelaskan bahwa eksistensi A adalah partisipasi dalan Esse. Dan yang berptisipasi dalam Esse ini adalah tubuh dan jiwanya. Karena eksistensi A adalah tubuh dan jiwa maka keduanya berpartisipasi dalam Esse. Maka esensi adalah prinsip limitasi, dan prisip limitasi itu adalah tubuh dan jiwa. Atau baik tubuh dan jiwa keduanya adalah prinsip limitasi.

  1. Substansi nirragawi

Dalam substansi ini, Aquinas lebih menyebut dua ketegori yaitu malaikat dan jiwa manusia. Karena keduanya punya kesamaan yaitu tidak bertubuh. Baginya jiwa yang terletak dari tubuh adalah substansi nirragawi (tanpa raga). Tapi mengapa jiwa disebut satu substansi? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus membuat perbedaan antara pandangan Plato, Aristotels dan Aquinas.

Plato:

Baginya jiwa adalah substansi indenpenden, kekal dan tidak berubah. Dan jiwa bereksistensi selalu lepas dar tubuh. Sehingga tubuh adalah penjara bagi jiwa, membatasi jiwa.

Aristoteles:

Baginya jiwa adalah forma bagi manusia, esensi manusia, prinsip gerak, prinsip aksi.

Aquinas:

Bagi jiwa maupun tubuh keduanya adala esensi dan aktivitas manusia merupakan hasil kerja sama antara tubuh dan jiwa. Akan tetapi baginya tubuh dan jiwa dapat beraktivitas tapi jiwa secara independen dapat beraktivitas sendiri tanpa kerja sama tubuh. Kalau begitu apakah dalam manusia riil terdapat substansi dalam substansi? Tidak.  Jiwa dan tubuh selalu satu bagian tapi dalam aktivitasnya jiwa dibayangkan di luar tubuh. Baginya jiwa selalu mengkomuniakasikan di dalam tubuh. Maka esksistensi tubuh tidak lain adalah eksistensi jiwa. Jiwa membutuhkan tubuh untuk  berkomunikasi dengan tubuh.

  1. Malaikat

Bagi Aquinas ada kesamaan antara malaikat dan jiwa manusia, yaitu: 

*keduanya tidak terdiri dari materi dan forma tapi keduanya mengandung forma dan esksistensi. 

*Dan juga esensi merupakan potensialitas yang bisa mendapatkan aktualitas pada Esse. 

Sedangkan perbedaannya adalah: Malaikat didudukan pada puncak hirarki ciptaanlebih tinggi dari jiwa manusia dan manusia. Bagaimana menjelaskannya? Ada dua penjelasan:

  • Dari perspektif aktivitas maka malaikat merupakan forma murni. Menurut kodratnya malaikat  memiliki daya aktivitas tanpa kerja sama dengan tubuh. Sehingga ia menyebut malaikat sebagai intelek murni. 
  • Dari perspektif multiplikasi secara kwantitatif, malaikat multiplikasinya berlangsung sesuai dengan kebijaksanaan Ilahi yang menentukan tata substansi immaterial. Pada malaikat multiplikasi terjadi menurut spesies dan bukan menurut individu karena multiplikasi individu membutuhkan tubuh.
  1. Kesimpulan Aquinas

Substansi menurut Aquinas mempunya 3 struktur:

  1. Materi dan bentuk (teori hilemorfisme), teori inilah yang mengkritik Plato yang m emfokuskan pada bentuk.
  2. Substansi mempunyai struktur potensialitas dan aktualitas.
  3. Substansi mempunyai struktur esesnsi dan esksistensi. Eksistensi dari substansi adalah partisipasi di dalan Esse. 
Filsafat Metafisika

HAKEKAT FILSAFAT METAFISIKA I

BAB I HAKEKAT METAFISIKA

  1. Tesis Dasar
  1. Argumen pendukung
  2. Pengantar

Untuk mejelaskan tentang hakekat metafisika kita harus melihat titik tolaknya yang tidak lain adalah paham tetnang filsafat itu sendiri. dimana filsafat selalu berusaha mempertanyakan prinsip asali dari realitas. Dan prinsip asali ini tidak lain mengantar orang pada pemahanan mengenai the many dan the one. The many terletak pada bagian indrawi-empiris sedangkan the one  terletak pada lapisan meta indrawi.

Karena pertayaan sentral menyangkut prinsipo asali maka munculnya pandangan dari para filsug. Dan Aristoteles dianggap sebagai peletak dasar untuk mengerti hakekat metafisika. Baginya setiap ilmu selalu berusaha mencari penjelasan (causa) tetnang suatu permasalahan. Walaupun masing-masing ilmu mencari penyebabnya sendiri tapi bagi Aristoteles pasti ada satu penyebab pertama atau causa prima.  Dan ilmu itu tidak lain adalah metafisika/filsafat pertama. Metafisika adalah penyebab prima dan ilmu lain adalah penyebab particular/filsafat kedua. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa  ternyata dalam sejarah awal filsafat sudah ada perbedaan antara lapisan indrawi dan meta indrawi serta metafisika sebagai cabang filsafat yang bertanya secara radikal tentang filsafat.

  1. Pengertian metafisika

Berangkat dari pengertian yang paling sederhana metafisika adalah ilmu untuk mempelajari penyebab terakhir (ultimate causa). Dengan demikian ada 2 penegasan penting y ang ada, antara lain:

  1. Perlu dibedakan tetnang proximate cause dan ultimate cause. Proximate cause bersifat langsugn, terbatas dan particular. Sedangkan ultimate cause bersifat universal atau menyangkut realitas secara keseluruhan, tidak bersifat empiris dan radikal.
  2. Penjelasan mengenai pandangan bahwa metafisika mempelajari prinsip pertama. Namun harus diingat bahwaprinsip berbeda degnan penyebab. Karena kalau si A adalah penyebab maka si B adalah efek. Artinya penyebab tidak sebagai bagian dari intrinsic dari efek. Prinsip berarti konsep yang karenanya segala sesuatu dapat diulangi atau dimengerti. Dan metafisika bertugas menjelaskan prinsip2 tersebut untuk mengerti realitas secara keseluruhan.
  1. Objek studi dari Metafisika

Kalau setiap ilmu mempunyaiobjek penelitiannya sendiri maka metafisika juga secara spesfik mengemukakan pertnyaan tentang arti “pengada” dan “mengada”. Dan kalau metafisika punya objek penelitainya maka dapat dimengerti sebagai ilmu tentang “pengada” sekadar “pengada” (being as being). Dan untuk mengerti hal ini ada beberapa tahapan:

  1. Tidak ada ilmu yang mempelajari objek yang tidak ada. Namun tidak semua ilmu mampu bertanya tentang apa itu to be atau being, hanya metafisika. Karena itu objek metafisika adalah sebagai ilmu yang mempertanyakan tetnang being atau objek metafisika adalah lapisan terdalam dari realitas secara rasional. Kalau begitu bagaimana kita menjelaskan objek studi metafisika adalah “pengada” sekadar “pengada”? setiap ilmu mempelajari bagian tertentu dari realitas. Artinya setiap ilmu memiliki pandangan tersendiri tetnang suatu sudut pandang tertentu dari objek. Misalnya realitas tetnang manusia dijelaskan oleh setiap ilmu dengan sudut pandangan yang berbeda. Namun masing-masing ilmu tidak pernah bertanya mengapa objek itu ada? Hanya metafisika, maka objek metafisika adalah “ada’ sebagai prinsip riil yang paling universal untuk mengerti segala sesuatu. Dan yang dipelajari metafisika adalah being pada dirinya atau being as being.
  2. Persoalan bahasa. Ada beberapa istilah yang digunakan to be-being. Esse-eus (“ada” yang “mengada”). Namun secara filosofis penalaran ini tidak tepat maka digunakan istilah being yang kemudian diterjemahkan dengan “pengada”. Dan untuk menjelaskan pengada itu aktivitas “pengada’ menunjuk pada aktivitas “mengada”. Jadi suatu aktivitas :”mengada”-“pengada” merupakan suatu yang bereksistensi.
  3. Namun pengada harus dibedakand ari benda. Pengada adalah suatu yang ada atau bahwa sesuatu menyatu dengan aktivitas mengada. Jadi istilah “pengada” menunjuk pada suatu eksistensi dan harus dibedakan dengan benda yang menunjuk pada esensi dari suatu benda/barang. Dengan kata lain jika kita menyebut itu adalah burung maka sebutan itu ditujukan pada esensi dari burung itu. Tapi barang/benda itu punya hakekat yang dimengerti sebagai the whatness atau juga the quality, juga esensi berarti “keapaan”.
  4. Kita bertanya apa maksudnya pengada sekadar pengada? Yaitu objek formal metafisika yaitu being as being. dan objek material dari metafisika adalah realitas sebagai suatu totalitas .
  5. Selain itu metafisika juga mempelajari karakteristik dasar dari pengada seperti pengada dalam hubungan dengan kesatuan, kausalitas atau juga keindahan.
  6. Dalam hubungan dnegan Tuhan dibahas juga dalam metafisika. Dan Tuhan dimengerti sebagai prinsip metafisika dari realitas.
  1. Asal-asul metafisika

Untuk memahami hal ini kita harus melihat kembali pandangan para filsuf pra Socratis yang memusatkan studnya pada dunia empiris/fisik, dan filsafat pertama di Yunani adalah kosmologi. Zaman Aristoteles semua ilmu disebut filsafat yang mempelajari dunia fisik. Tapu harus ada filsafat lain yang mempelajari being dari realitas itu. Atau harus ada filsafat pertama yang menjadi dasar dari filsafat lainnya. Klau begitu apa objek studi dari filsafat pertama itu? Objek studi dari filsafat pertama dimengerti dalam dua arti: sebagai ta hyper ta physika ( yang melampaui dunia fisik) dan  ta meta ta physika (yang melandasi dunia fisik). Sampai disini Aristoteles m sepakat bahwa filsafat sendiri mempelajari dua objek formal di atas, namun ada perbedaan.

Plato:  kedua objek ini sama saja, dan Plato menyebutnya sebagai dunia ide. B erbarti filsafat pertama mempelajari dunia ide. Dan dunia ide adalah dunia yang melatarbelakangi dunia fisik, tanpa dunia ide tidak ada dunia fisik.

Aristoteles:  ia membantah teori Plato dengan teori substansi. Ia katakana substansi teori hilemorfisme yang fisik selalu menyatu dengan dunia ide. Artinya meski di bedakan antara ta hyper ta physika dan ta meta ta physica inamun keduanya harus menjadi satu bagian, tidak pernah ada materi tanpa bentuk, dengan demkian ta hyper  ta physica tidak harus berpisah dari ta meta ta phyica. Dan hal yang mendasari antara kedua hal ini adalah being. Maka wilyaha metafisika memang mempelajari tentang being namun aristotels tidak menggunakan istilah metafisika. Kalau begitu dari mana metafisika digunakan?  pertama tama digunakan oleh Adronikus lewat karangan-karanganya. Dan dalam perkembangan kemudian dibedakan metafisika umum dan khusus. Ada juga yang disebut “ontology” oleh Christian Wolf.  

  1. Metafisika sebagai Human Knowledge

Pertnyanaan sentaralnya bagaimana hubungan antara  metafisika dan pengetahuan manusia entah pengetahuan spontan atau pengetahuan sistematis? 

  1. Pengetahuan spontan berarti pengetahuan yang biusa diperoleh mansuaia tetnagn alam semesta berdasarkan kemampuan kodrati untuk bernalar maka manusia punya kemampuan tentang apa yang benar-salah, perbedaan tentang manusia dan alam semesta tetnang substansi dan aksidental dll. Sehingga pengetahuan spontan adalah pengetahuan yang berada di permukaan. 
  2. Pada level lain ilmu pengetahuan berefleksi secara sistemtis tentang objek particular tentang alam semesta. 
  3. Sedangkan pengetahuan sistematis adalah cabang filsafat yang berbicara tetnang hakekat objkek tertentu (secara particular) seperi filsafat manusia.
  4. Metafisika sebagai ilmu mempelajari being sebagai being yaitu prinsip universal yang mendasari seluruh realitas. Kalau sudah ada pengetahuan pengetahuan sponmtan dan sistematis apakah masih perlu metafisika? Ada beberapa alasan:
  1. Karena pengethuan spontan seringkali tidak lengkap, maka kita membutuhkabn pnegetahuan yang lebih mendalam dan bersifat ilmiah.
  2. Pengetahuan spontan dan ilmiah membutuhkan pertanggungjawaban secara fundamental dan secara metafisis
  3. Pengetahuan spontan dan ilmiah pada umumnya hanya mengandalkan objek2 sebagai pengada tanpa menyelidiki status pengada.  Karena itu metafisika dibutuhkan karena pengethuannanya lengkap dan mendalam tetnang realitas.  
  1. Hubungan Metafisika dan Moral

Punya hubungan erat dengan moral. Dalam pengalaman orang yang kehilangan keyakinan moral lasim pula kehilangan dasar intelektualnya dan terjebak dalam sekptisisme tentang kebanaran. Karen akebenaran moral yang diyakii selalu ada dalam level metafisis. Tanpa keyakinan moral dan metafisis kita akan terjebak adalam beberapa tahap:

  1. Skeptisisme:terhadap kebenaran direlativir.
  2. Agnostisisme: Terhadap kebenaran tentang Tuhan entah ada atau tidak.
  3. Sikap relativisme tetnang hukum moral.
  4. Hubungan metafisika dan Teologi

Teologi adalah refleksi ilmiah tetnang iman. Karena itu filsafat digunakan untuk menjelaskan iman. Kalau bagaimana menjelaskannya?  Ada sejarah panjang yang dimulai dari:

 Agustinus yang membedakan rasio interior (tingkatan pengetahuan ilmiah) dan rasio superior (instrument untuk iman dan teologi). Artinya ia mendudukan teologi di atas filsafat dan metafisika, dan teologi dianggap sebagai puncak dari semua pengetahuan.

Anselmus dari Contebery: ia terkenal dengan perkataannya fides querens inteklectum. Dengan begitu ia mendudukan teologi melampaui pengetahuan rasional.

Th. Aquinas menghargai gungsi filsafat dan metafisika. Karena itu ia membedakan level empiris dan level filosofis. Artinya wilayah teologi tidk dapat dimasukan oleh filsafat tapi juga ada wilayah yang bisa dijelaskan secara rasional.

Agus comte dengan teori tiga zaman: 1.zmaan posotivisme (berbicara tetnang hal-0hal kongkrit) 2 saman filsafcat (lebih maju, rasional tapi abstrak, tidak relevan)3. Saman mitos (level yang tidak rasional dan tidak masuk akal). Karena itu tidak penting sama sekali metafisika, dan bila dibandingkand engan teologi metafisika lebih maju.

Lingkungan Wina: dengan prinsip verifikasi yang melegitimasi posotivisme. Suatu halk bisa diterima jika relecvan dan bisa diukur. Dan teori Language games.

Whithead:  baginya kita harus memebdekan Tuhan teologis dan percakapan fisafat tetnang Tuhan selalu berada dalam konteks percakapan tentang kehidupan dari realitas sebagai seuatu kesatahuan. Jadi metafisika tidak lain dari upaya untuk memehami pengalaman hdiup secara keseluruhan dan dalam pengalaman ini kita berbicara tetnang Tuhan.

Paus Yoh. Paulus II: dalam ensiklik Fides et ratio ia menjelaskan hubungan iman dan rasio.babhwa teologi dogmatis membutuhkan filsafat kerana bahasa yang rasional dan komunikatif dari filsafat. Juga teologi moral membuthkan filsafat kerena teologi membutuyhkan instrument rational untuk moderat. Dalm hal ini metafisika juga dibutuhkan.