Devosi

Kehidupan Yang Berharga

Bagaimana kita bisa membangun persaudaraan Kristen ? 

Kita harus hidup saling menghargai satu sama lainnya. Setiap orang di gereja kita harus dihargai. Kalau orang dunia, biasanya yang dihargai adalah mereka yang kaya, mereka yang pintar, mereka yang bertitel, mereka yang berpangkat, mereka yang berpengalaman dlsnya. Itu orang dunia,tetapi dimata Tuhan setiap orang entah dia itu miskin atau kaya, pintar atau bodoh, berpendidikan atau tidak berpendidikan, semuanya dihargai oleh Tuhan. Bahkan firman Tuhan di dalam I Korintus 12:23 berkata demikian : “ Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.” (1 Korintus 12:23 TB). Murid-murid Tuhan Yesus, adalah para nelayan, orang sederhana, tidak berpendidikan tinggi, tetapi justru dipilih jadi murid-murid Yesus. Dimata Tuhan setiap orang sungguh berharga. Bahkan puncaknya Tuhan Yesus rela mati bagi kita manusia berdosa ini, sungguh satu penghargaan yang amat besar atas hidup kita. 

Bila Tuhan begitu besar menghargai kita,maka mari kita juga hidup saling menghargai satu sama lainnya. 

Bagaimana cara kita menghargai orang lain ?

Berikanlah pujian seimbang dengan kritikan yang berikan 

Seseorang akan merasa dirinya dihargai bila dia tidak hanya dikritik tetapi juga dipuji atas kelebihannya. Ada seorang ibu, ketika anaknya pulang dari sekolah, dia tanya berapa nilai ulanganmu ? Sang anak menjawab dengan perasaan takut, dapat 80. Mengapa sang anak merasa takut, padahal nilainya 80 karena sang ibu akan melihat dimana letak kesalahannya, dan sang ibu akan memarahi si anak atas kesalahan itu. Nilai 80 tidak dipuji tetapi salah 20nya yang dipermasalahkan terus. Kamu khan sudah ibu ajari, kok lupa, kok nggak teliti sih dll. Itulah kecenderungan kita manusia, kesalahan sedikit lebih kita pandang dibandingkan dengan keberhasilan yang jauh lebih besar. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata:” “ Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3 TB) Bila itu terjadi maka penghargaan terhadap anak itu tidak ada. 

Hal yang sama bisa terjadi didalam kehidupan kita bergereja. Kelemahan atau kesalahan dari saudara kita seiman dalam pelayanan, lebih kita pandang dibandingkan kelebihannya. Kelemahan Hamba Tuhan lebih kita pandang, kelemahan majelis lebih kita pandang, kelemahan panitia pembangunan lebih kita pandang, kelemahan panitia peresmian lebih kita pandang, kelemahan jemaat lebih kita pandang, dibandingkan dengan kelebihannya. Kritik mengkritik itu sudah biasa di dalam gereja, tetapi yang tidak biasa adalah puji memuji. Apresiasi /penghargaan seringkali lupa diberikan. 

Mari kita menghargai segala jerih payah Majelis dalam pelayanan, mari kita hargai jerih payah panitia pembangunan, panitia peresmian, panitia hari besar, aktivis gereja, jemaat dalam pelayanan, memang kekurangan ada tetapi kelebihan mereka harus kita pandang juga. Disinilah kita belajar menghargai orang apa adanya. 

Seseorang merasa dirinya dihargai bila pendapatnya di dengar dan diperhatikan. 

Abraham sangat menghargai Lot keponakannya, Abraham lebih mendahulukan Lot untuk berpendapat sebelum dia sendiri berpendapat, padahal Lot itu keponakannya, mestinya paman dulu yang harus didengar, tetapi malah keponakan. Silahkan Lot kamu berpendapat dulu, pilih mana tanah yang kamu suka. Akhirnya Lot pilih lembah Yordan yang subur,sementara Abraham mendapatkan tanah yang kering. Tetapi akhirnya justru Tuhan memberkati Abraham dibandingkan Lot. Tuhan memberkati orang yang bisa mendahulukan orang lain. 

Dalam organisasi, seringkali kita condong mengutamakan pendapat kita sendiri, sementara pendapat orang lain kita abaikan. Firman Tuhan berkata :” “ Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19 TB)

Seseorang merasa dirinya dihargai bila dia dipercaya. 

Kepercayaan orang lain akan membangkitkan kepercayaan kepada diri sendiri, sebaliknya bila orang lain tidak percaya sama kita, maka kita pasti tidak punya percaya diri lagi. Memang saya nggak mampu, memang saya nggak bisa, makanya tidak dipakai dstnya. 

Ketika Tuhan Yesus mau menumpang di rumah Zakheus, wah Zakheus merasa sangat tersanjung, dia merasa sangat dihargai. Orang lain tidak mau ke rumahnya, tetapi Tuhan Yesus mau menumpang di rumahnya. Bagi Zakheus ini satu kepercayaan yang amat besar, sampai sebagai wujud sukacitanya, maka Zakheus mau membagikan hartanya kepada orang miskin. Orang yang dipercaya bisa melakukan perkara besar terhadap orang lain. 

Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, kamu sekarang bukan penjala ikan tetapi kamu kujadikan penjala manusia, satu kepercayaan yang amat besar yaitu menjadi kawan sekerja Tuhan. 

Bukan berarti kita gila hormat tetapi pujian itu penting, apresiasi itu penting, misalnya : suami-suami ketika istri masak ke asinan, langsung dikritik nggak enak ke asinan, tetapi kalau enak nggak ada pujian sama sekali, dianggap wajar, istri harus bisa masak. 

Demikian juga ketika suami bisa menafkahi dengan baik,istri tidak memuji memandang itu hal biasa, karena tugasmu memang harus cari nafkah, tetapi kalau uang belanja terlambat mulai ngomel. 

Firman Tuhan berkata: jangan engkau hanya melihat selumbar dimata saudaramu …tetapi balok dimatamu tidak engkau singkirkan. Artinya kita lebih cepat melihat kesalahan, tetapi tidak fer mengakui kelebihan. Inilah yang seringkali menghancurkan persekutuan. 

Leave a comment