Devosi

KENAIKAN KRISTUS KE SURGA

KISAH PARA RASUL 1:6-11 

Kenaikan ke Surga.

A)  Hal-hal yang terjadi pada waktu Kristus naik ke surga.

1. Perpindahan tempat.

        Tentang ‘ascension’ / ‘kenaikan Kristus ke surga’, Charles Hodge berkata sebagai berikut: Itu merupakan perpindahan tempat dari pribadiNya dari satu tempat ke tempat lain; dari bumi ke surga. Karena itu, surga adalah suatu tempat. … Jika Kristus mempunyai tubuh yang sungguh-sungguh, tubuh itu harus menempati suatu ruangan / tempat tertentu. Dan dimana Kristus ada, di situlah surga orang kristen 

Herman Hoeksema: Kenaikan ini harus dipahami sebagai perubahan tempat. Dalam hakekat manusiaNya, Kristus meninggalkan bumi dan pergi ke surga baik tubuh dan jiwaNya. Setelah kenaikanNya maka menurut hakekat manusiaNya Ia tidak lagi di bumi tetapi hanya di surga. 

Herman Hoeksema: “Heaven is a definite place, and not merely a condition” (Surga adalah tempat yang tertentu, dan bukan semata-mata merupakan suatu kondisi / keadaan) 

2. Perubahan / pemuliaan lebih lanjut pada hakekat manusia Kristus.

        Perubahan / pemuliaan itu dimulai pada saat kebangkitanNya dan disempurnakan pada waktu kenaikanNya ke surga.

Untuk ini perhatikan ayat-ayat di bawah ini: 

  • Yoh 7:39 – “Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”.

Kata ‘dimuliakan’ di sini jelas menunjuk pada kenaikan ke surga (bdk. Yoh 16:7).

  • Kis 9:3-5  Kis 22:6-8  Kis 26:12-15  Wah 1:12-16 menunjukkan bahwa pada waktu Paulus dan Yohanes melihat Yesus (ini terjadi setelah Yesus naik ke surga), Yesusnya jauh lebih mulia dari pada waktu Ia sudah bangkit tetapi belum naik ke surga. 

B)    Tujuan kenaikan Kristus ke surga.

1. Untuk menunjukkan bahwa misiNya untuk menebus dosa kita sudah selesai.

        Yoh 17:4-5 – “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukanNya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada”.

        Jadi, ayat di atas ini menunjukkan bahwa penyelesaian pekerjaan dijadikan dasar oleh Yesus untuk meminta Bapa mempermuliakan diriNya. Bapa, yang mengutus Yesus untuk turun ke dunia dan membereskan dosa manusia, pasti tidak akan mau menerima Yesus kembali di surga, kalau misi Yesus itu belum selesai. Bahwa Bapa menerima Yesus kembali di surga, menunjukkan bahwa misi penebusan dosa manusia itu memang sudah selesai. 

        Jadi, sama seperti kebangkitan, maka kenaikan Yesus ke surga juga merupakan fakta / faktor yang menjamin keselamatan orang percaya. 

2. Untuk mempersiapkan tempat di surga bagi kita yang percaya kepadaNya.

        Yoh 14:2-3: “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada”. 

3. Untuk menunjukkan bahwa kita yang percaya kepada-Nya juga akan naik ke surga (Yoh 14:2-3  Yoh 17:24  Ef 2:6)

        Sama seperti kebangkitanNya, demikian juga kenaikanNya ke surga merupakan pola yang akan diikuti oleh semua orang yang percaya kepadaNya.

Calvin: Tuhan oleh kenaikanNya ke surga membuka jalan ke dalam Kerajaan Surgawi, yang telah ditutup melalui Adam (Yoh 14:3). Karena Ia masuk ke surga dalam daging kita, seakan-akan dalam nama kita, akibatnya, seperti dikatakan oleh sang rasul, bahwa dalam arti tertentu kita sudah ‘duduk dengan Allah dalam tempat-tempat surgawi dalam Dia’ (Ef 2:6), sehingga kita tidak menantikan surga dengan suatu harapan semata-mata, tetapi sudah memilikinya dalam Kepala kita

4. Supaya Roh Kudus turun. 

        Yoh 16:7 – “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”.

Yesus jelas menyatakan bahwa Ia harus naik ke surga, dan barulah Roh Kudus bisa turun. Dengan demikian Kristus tidak lagi menyertai orang percaya secara jasmani, tapi secara rohani / melalui Roh KudusNya (Mat 26:11  Yoh 14:16,18,19). Dengan demikian Ia bisa menggenapi janji-janjiNya dalam ayat-ayat seperti Mat 18:20  Mat 28:20b.

Duduk di Sebelah Kanan Allah.

A)    Arti kalimat ini.

Kata-kata ini tidak boleh diartikan secara hurufiah. Kata-kata ini berarti:

1.    Kristus menduduki / mendapat tempat terhormat / mulia di surga. 

2.    Kristus memerintah atas Gereja dan alam semesta.

Juga kata ‘duduk’ tidak boleh diartikan bahwa Kristus beristirahat / bermalas-malasan di surga. Dan perlu dicamkan bahwa Kitab Suci tidak selalu mengatakan bahwa Kristus duduk di sebelah kanan Allah.

  • Ro 8:34 (NIV): ‘is at the right hand of God’ (= ada di sebelah kanan Allah). 
  • 1Pet 3:22 (NIV): ‘is at God’s right hand’ (= ada di sebelah kanan Allah).
  • Kis 7:56 – ‘berdiri di sebelah kanan Allah’.

B) Pekerjaan yang dilakukan oleh Kristus di surga ialah:

1.    Memerintah sebagai Raja.

        Pada masa sukar dan berbahaya saat ini, dimana segala sesuatu tidak menentu, dan kerusuhan / kekacauan / teror dan bahkan perang bisa terjadi setiap saat, hal ini adalah sesuatu yang harus kita renungkan. Dibalik apapun yang terjadi, yang seolah-olah menunjukkan bahwa Tuhan tidak memerintah / berkuasa, atau yang seolah-olah menunjukkan bahwa nasib kita ada di tangan orang-orang yang mempunyai kuasa, sebetulnya Tuhan tetap memerintah. Karena itu nasib kita ada di tangan-Nya, yang mengasihi kita dan pasti mengarahkan segala sesuatu untuk kebaikan kita. 

2.    Berfungsi sebagai Imam / Pengantara (Ibr 4:14  Ibr 7:24,25  Ibr 8:1-6  1Yoh 2:1).

        Charles Hodge: Suatu bagian yang penting, dan itu adalah sesuatu yang kekal, dari tugas keimamanNya harus dilaksanakan di surga. Di sana Ia melakukan pembelaan terus menerus untuk umat-Nya.

3.   Berfungsi sebagai Nabi melalui Roh Kudus dan hamba-hambaNya (Yoh 16:7-15 Yoh 14:26).

Penutup / kesimpulan:

        Kristus sudah mati, bangkit dan naik ke surga, dan dengan semua itu menyelesaikan pekerjaan penebusan bagi kita. Kalau sampai sekarang saudara belum percaya kepada Yesus, cepatlah percaya kepadaNya, karena itu menjamin bahwa sama seperti Ia naik ke surga demikian juga saudara akan naik ke surga. Kalau saudara sudah percaya dan sudah diselamatkan, berusahalah untuk lebih banyak mengarahkan mata saudara ke surga.

Kol 3:1-4 – “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, dimana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan”.

Devosi

HIDUP KRISTEN YANG BERINTEGRITAS

(GALATIA 2:11-14)

TINDAKAN PETRUS YANG TIDAK BERINTEGRITAS MERUPAKAN ANCAMAN YANG SERIUS BAGI PENYEBARAN INJIL DI ABAD MULA-MULA. KEHIDUPAN ORANG KRISTEN YANG TIDAK MEMPUNYAI INTEGRITAS MERUPAKAN ANCAMAN YANG BESAR EFEKTIVITAS PENYEBARAN INJIL. MEYAKINKAN PARA PENDENGAR BAHWA INTEGRITAS SEORANG KRISTEN MEMEGANG PERANAN PENTING DALAM PEMBERITAAN INJIL. OLEH SEBAB ITU, MEREKA HARUS MENJAGA INTEGRITAS HIDUP MEREKA.

SAUDARA, SAMA SEPERTI TEMBOK BESAR CINA, TANPA INTEGRITAS PARA PENJAGA, KEKUATAN TEMBOK BESAR YANG LUAR BIASA DALAM MELINDUNGI DAN MENYELAMATKAN JIWA-JIWA MANUSIA TIDAK BERARTI APA-APA. SAMA HALNYA DENGAN KEKUATAN INJIL UNTUK MENYELAMATKAN JIWA MANUSIA TIDAK BERARTI APA-APA JIKA  ORANG-ORANG KRISTEN YANG DIPERCAYAKAN INJIL OLEH TUHAN HIDUP TANPA INTEGRITAS. BUKANNYA ITU TELAH SERING KITA LIHAT SEHARI-HARI. PERNAHKAH SAUDARA MENDENGAR KALIMAT-KALIMAT SEPERTI INI?

  • “BUAT APA KE GEREJA? ADA SEORANG KRISTEN, DARI REMAJA SAMPAI TUA HIDUPNYA DI GEREJA TERUS, TETAPI OMONGANNYA TIDAK ADA YANG BISA DIPENGANG.”
  • “SEORANG KRISTEN SUDAH BERSUMPAH BAHWA SEUMUR HIDUP IA TIDAK MAU MASUK GEREJA KARENA WAKTU MUDANYA, IA PERNAH DITIPI OLEH SEORANG MAJELIS GEREJA.”
  • “HAMBA TUHAN KOK SEPERTI ITU? APANYA YANG MAU DITEDANI?”

KALIMAT TADI SUDAH JELAS MENUNJUKKAN  BAHWA KEHIDUPAN ORANG KRISTEN YANG TIDAK MEMPUNYAI INTEGRITAS MERUPAKAN ANCAMAN YANG BESAR BAGI EFEKTIVITAS PENYEBARAN INJIL. ANCAMAN SEPERTI ITU SESUNGGUHNYA SUDAH TERJADI SEJAK AWAL KEHIDUPAN JEMAAT PERTAMA. BAHKAN DILAKUKAN OLEH SEORANG RASUL YANG JUSTRU DIPERCAYAKAN OLEH TUHAN YESUS SEBAGAI PEMIMPIN GEREJA MULA-MULA, RASUL TERSEBUT ADALAH PETRUS.

LATAR BELAKANG PERIKOP INI DIMULAI DENGAN MENGISAHKAN TENTANG PETRUS DAN BARNABAS SERTA ORANG-ORANG KRISTEN YAHUDI YANG SEDANG MENGADAKAN PERJAMUAN MAKAN BERSAMA DENGAN ORANG-ORANG KRISTEN YANG BUKAN KETURUNAN YAHUDI DAN YANG TIDAK BERSUNAT DI ANTIOKHIA. HAL INI MUNGKIN TELAH BIASA DILAKUKAN DALAM JEMAAT ANTIOKHIA DAN JUGA BIASA BAGI PETRUS. PERJAMUAN INI BERJALAN BAIK SAMPAI DATANGNYA ORANG-ORANG KELOMPOK YAKOBUS DARI YERUSALEM. ORANG-ORANG INI MUNGKIN ADALAH ORANG-ORANG KRISTEN YANG MASIH MEMEGANG TRADISI TAURAT DENGAN KETAT DAN MENGHARUSKAN ORANG-ORANG KRISTEN YANG TIDAK BERSUNAT, APALAGI MAKAN SEMEJA DENGAN MEREKA.

MELIHAT KEDATANGAN ORANG-ORANG INI, PETRUS MENJADI TAKUT DAN IA MENGUNDURKAN DIRI DAN MENJAUHI ORANG-ORANG KRISTEN YANG TIDAK BERSUNAT YANG TADINYA SEMEJA DENGANNYA. KATA “MENGUNDURKAN DIRI” YANG DIPAKAI OLEH PAULUS DISINI ADALAH SUATU ISTILAH YANG BIASANYA DIPAKAI DALAM ISTILAH PERANG YANG BERARTI MUNDUR PELAN-PELAN MENCARI POSISI YANG AMAN. PETRUS MELAKUKAN HAL ITU UNTUK MENGAMANKAN DIRINYA.

KALAU YANG MELAKUKAN TINDAKAN INI ORANG LAIN, MUNGKIN ITU MASIH DIMAKLUMI. TETAPI YANG BERBUAT ITU ADALAH PETRUS, RASUL YANG DIANGKAT TUHAN YESUS SEBAGAI PEMIMPIN GEREJA. IA MELAKUKAN TINDAKAN YANG TIDAK SESUAI DENGAN IMANNYA, TIDAK SESUAI DENGAN KEBENARAN INJIL.

SAUDARA-SAUDARA, PETRUS BUKANNYA TIDAK TAHU TENTANG KEBENARAN  INJIL YANG MEMBERIKAN KESELAMATAN KEPADA SELURUH MANUSIA DARI SELURUH BANGSA, BAIK ORANG YAHUDI MAUPUN NON-YAHUDI. IA TAHU BAHKAN LEBIH DARI ITU.

TETAPI SEKARANG APA YANG PETRUS LAKUKAN? ALKITAB BERKATA, “IA MENGUNDURKAN DIRI DAN MENJAUHI MEREKA KARENA TAKUT AKAN SAUDARA-SAUDARA YANG BERSUNAT.” SEBENARNYA APA YANG DITAKUTKAN PETRUS? ADA BERBAGAI KEMUNGKINAN: PERTAMA, IA TAKUT KALAU-KALAU IA AKAN DICAP SEBAGAI PELANGGAR HUKUM TAURAT, ATAU KEDUA, IA TAKUT MENJADI PRIBADI YANG TIDAK MENYENANGKAN KELOMPOK YAKOBUS, ATAU KETIGA, IA TAKUT AKAN “DISERANG” OLEH ORANG-ORANG DARI KELOMPOK YAKOBUS. APAPUN ALASANNYA, INTINYA ADALAH IA TAKUT PADA PANDANGAN ORANG LAIN ATAS DIRINYA. IA LEBIH MEMENTINGKAN IMAGE-NYA DAN MENGABAIKAN INTEGRITASNYA. ITULAH SEBABNYA PAULUS MENGATAKAN “KELAKUANNYA ITU TIDAK SESUAI DENGAN KEBENARAN INJIL.” INILAH KEMUNAFIKAN.

SAUDARA, LAWAN KATA DARI “INTEGRITAS” BUKANLAH “KURANG BERINTEGRITAS,” TETAPI “KEMUNAFIKAN.” KARENA INTEGRITAS ITU SENDIRI BERARTI KEBULATAN, KEUTUHAN, KESAMAAN ANTARA APA YANG ADA DI DALAM HATI DAN APA YANG DIUCAPKAN, ATAU KESAMAAN ANTARA APA YANG DIIMANI DAN YANG DILAKUKAN DALAM PERBUATAN. BILA PETRUS MELAKUKAN TINDAKAN YANG TIDAK SAMA DENGAN APA YANG DIMANINYA, TINDAKAN ITU TIDAK BISA DISEBUT “KURANG BERINTEGRITAS” TETAPI “KEMUNAFIKAN.”

    KATA MUNAFIK DALAM BAHASA YUNANI DISEBUT “HUPOKRITES”, MERUPAKAN UNGKAPAN KHAS YANG SERING DIPAKAI DALAM DUNIA TEATER PADA MASA ITU, DIMANA SEORANG AKTOR MEMAINKAN PERANNYA DENGAN MEMAKAI TOPENG-TOPENG YANG MEWAKILI PERAN YANG MEREKA MAINKAN. HAL INI DENGAN TEPAT MENGGAMBARKAN KEBERADAAN SEORANG MUNAFIK, YANG BERPURA-PURA MENJADI SESEORANG DAN MENYEMBUNYIKAN WAJAH ASLI MEREKA.

BAHAYA KEMUNAFIKAN, DALAM KEKRISTENAN, KEMUNAFIKAN SANGAT PERLU DIWASPADAI. MENGAPA?

PERTAMA, KEMUNAFIKAN AKAN DENGAN CEPAT MENULAR. TINDAKAN KEMUNAFIKAN SANGAT BERBAHAYA. KEMUNAFIKAN SEPERTI VIRUS YANG DENGAN MENYEBAR KEPADA ORANG LAIN. PERHATIKAN, TINDAKAN PETRUS MEMISAHKAN DIRINYA DARI PERJAMUAN MAKAN BERSAMA DENGAN ORANG-ORANG KRISTEN NON-YAHUDI, DENGAN CEPAT DIIKUTI OLEH ORANG-ORANG KRISTEN YAHUDI LAINNYA, BAHKAN DALAM AYAT 13 DIKATAKAN, “BARNABAS SENDIRI TURUT TERSERET OLEH KEMUNAFIKAN MEREKA.” SAUDARA, BARNABAS ADALAH ORANG BAIK, PENUH DENGAN ROH KUDUS DAN IMAN, TETAPI MENGHADAPI KEMUNAFIKAN IA PUN “TURUT TERSERET.” APA SEBABNYA? IALAH PADA DASARNYA MANUSIA ADALAH PEMAIN SANDIWARA YANG ULUNG. JAUH SEBELUM KITA MENGENAL KRISTUS, KITA SUDAH BERTAHUN-TAHUN TERBIASA HIDUP DENGAN MENGENAKAN BERMACAM-MACAM TOPENG. WALAUPUN KEMATIAN KRISTUS TELAH MENYUCIKAN HATI KITA, KITA PERLU WAKTU DAN PERJUANGAN YANG GIGIH UNTUK BERANI MELEPASKAN TOPENG DEMI TOPENG. CELAKANYA, BEGITU KITA TERSUDUT, DENGAN CEPAT KITA AKAN KEMBALI MENGENAKAN TOPENG-TOPENG LAMA KITA.

    KEDUA, KEMUNAFIKAN MENGABURKAN KUASA KEBENARAN INJIL. KEMUNAFIKAN PETRUS TENTU SAJA SANGAT MENYAKITKAN HATI ORANG-ORANG KRISTEN NON-YAHUDI. MEREKA TENTU KECEWA BERAT. WALAUPUN ALKITAB TIDAK MEMBICARAKANNYA, SAYA PIKIR ADA DUA AKIBAT YANG MUNGKIN TERJADI DALAM DIRI MEREKA:

  1. MEREKA AKAN MEMINTA DIRI MEREKA UNTUK DISUNAT AGAR MEREKA DAPAT MENJADI ORANG KRISTEN YANG SAMA DENGAN ORANG-ORANG KRISTEN SEHINGGA MEREKA DAPAT DITERIMA SEUTUHNYA MENJADI ANGGOTA GEREJA TUHAN. JIKA INI TERJADI, MAKA INJIL BUKAN LAGI INJIL YANG SEMPURNA YANG CUKUP UNTUK MENYELAMATKANN MANUSIA, TETAPI INJIL HARUS PLUS SUNAT BARULAH LENGKAP.
  2. MEREKA AKAN MENINGGALKAN KEKRISTENAN MEREKA DAN KEMBALI PADA KEKAFIRAN MEREKA. HAL INI WAJAR TERJADI KARENA MEREKA MERASA KECEWA DAN PESIMIS BAHWA PENEBUSAN YANG DILAKUKAN OLEH KRISTUS DAPAT MEMBUAT DIRI MEREKA MENJADI ANAK-ANAK ALLAH DAN MENJADI SATU TUBUH DENGAN ORANG-ORANG KRISTEN YAHUDI.

SAUDARA, TAK MENGHERANKAN KETIKA PAULUS MELIHAT KEMUNAFIKAN PETRUS, IA MENEGUR PETRUS DENGAN KERAS DI HADAPAN BANYAK ORANG DALAM AYAT 14:

“JIKA ENGKAU, SEORANG YAHUDI, HIDUP SECARA KAFIR DAN BUKAN SECARA YAHUDI, BAGAIMANAKAH ENGKAU DAPAT MEMAKSA SAUDARA-SAUDARA YANG TIDAK BERSUNAT UNTUK HIDUP SECARA YAHUDI?” KEMUNAFIKAN MENGHALANGI ORANG DATANG KEPADA KRISTUS.

PENUTUP, SUNGGUH DASHYAT DAMPAK DARI KEMUNAFIKAN. KETIKA MENYADARI HAL INI HATI KITA MENJADI TAKUT KERENA KITA SADAR BAHWA KITA PUN ADALAH ORANG-ORANG MUNAFIK YANG HIDUP DARI TOPENG KE TOPENG. KITA SELALU INGIN DILIHAT ORANG SEBAGAI ORANG BAIK, TETAPI KITA TAHU KITA TIDAK DEMIKIAN. KITA MENGECAMORANG YANG MELAKUKAN DOSA, TETAPI DIAM-DIAM KITA SENDIRI HIDUP DALAM DOSA YANG SAMA. KITA MEMBENCI ORANG YANG SUKA BERDUSTA, TETAPI HIDUP KITA SENDIRI BERTAHUN-TAHUN DIBANGUN ATAS KEBOHONGAN. KITA SERING MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA KETIKA KITA MENDENGAR KABAR TENTANG SESEORANG YANG ENGGAN PERGI MEMBERITAKAN INJIL, TETAPI SEBENARNYA KITA PUN SUDAH LAMA MERASA TERPAKSA MENJALANKANNYA. HANYA TUHAN YANG TAHU BETAPA KOTORNYA DIRI KITA MASING-MASING. KITA BUKANLAH ORANG-ORANG KRISTEN YANG BERINTEGRITAS. KITA BUKANLAH ORANG YANG JUJUR DI MATA ALLAH DAN MANUSIA. BILA PEMBERITAAN INJIL SANGAT DITENTUKAN OLEH INTEGRITAS KITA, MAKA SIAPAKAH DARI KITA YANG OPTIMIS BAHWA PEKERJAAN YANG TUHAN PERCAYAKAN KEPADA KITA ITU AKAN DAPAT KITA KERJAKAN DENGAN SUKSES.

Devosi

YUNUS: MISIONARIS YANG ENGGAN

Yunus 3:1-4:11

 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang  Kufirmankan kepadamu.” ( Yun 3:1-2.)

Bangsa Israel, yang dipilih Allah untuk menjadi hamba-Nya bagi semua bangsa lainnya, makin lama makin tidak setia. Untuk memanggil kembali dan mengingatkan mereka akan kedudukan mereka yang tiada taranya itu, seringkali Allah harus menghukum mereka melalui tangan musuh, yaitu bangsa asing. Di samping itu, Ia juga memperingatkan mereka melalui nabi-nabi-Nya. Tetapi kadang-kadang, orang yang ditunjuk menjadi jurubicara khusus itupun sulit untuk mengerti bahwa perhatian Allah sebenarnya tercurah untuk seluruh dunia dan bukan hanya untuk bangsa Yahudi saja. Kisah Yunus ini menjadi contoh yang jelas mengenai masalah tersebut.  Bagian depan dari kitab Yunus, dengan kisah ikan besarnya, lebih banyak dikenal orang dari pada bagian belakangnya.  Fakta-faktanya sangat mudah dipahami: Allah memanggil Yunus untuk menyampaikan firman-Nya kepada orang-orang Niniwe, yang bukan merupakan bangsa Yahudi, karena dosa dan kejahatan mereka sangat besar. Tetapi Yunus tidak mentaati perintah Allah dan malah melarikan diri ke arah Tarsis (mungkin di Spanyol) yang berlawanan. Untuk membuat Yunus menjadi taat, Allah menggunakan angin ribut, kepanikan yang amat sangat dan seekor ikan yang sangat besar. 

Catatan Mengenai Ayat-ayat 

 Yun 3:3    Niniwe: Ibukota kerajaan Asyur yang amat besar. Kerajaan ini adalah sebuah kerajaan kafir yang kuat, yang dalam usahanya untuk menguasai, tak henti-hentinya mengganggu Israel secara ganas. 

 Yun 3:6    Kain kabung dan abu: Tanda berduka-cita atas kematian, atau atas bencana yang dialami oleh pribadi maupun seluruh bangsa, atau menunjukkan pertobatan dari dosa-dosa. 

Yun 3:7-8  Perhatikan  Yun 4:11, ternakpun termasuk ciptaan yang disayangi dan dikasihani! 

Yunus dan Musuh-musuhnya Yang Kafir (Yun 3:1-10) 

  1. Bacalah pasal 3 untuk memeriksa dan membandingkan catatan-catatan di atas. Mengingat hubungan antara orang-orang Niniwe dan Israel yang demikian buruk, sejauh manakah kira-kira simpati Yunus terhadap kota itu?  

Jawaban :

Yunus tidak  memiliki simpati sama sekali kepada Niniwe

      Lalu, mengapa ia dapat menyampaikan khotbahnya kepada mereka sedemikian penuh kuasa dan efektif? Hasil apakah yang kira-kira diharapkannya dari Allah? 

Jawaban: 

Motivasi Yunus sebagai nabi yaitu supaya Allah menghukum bangsa Niniwe, karena bangsa niniwe bangsa kafir yang berusaha menguasai bangsa lain dan bangsa ini selalu mengganggu bangsa Israel sehingga Yunus begitu marah. Tetapi disini terlihat sekali motivasi Yunus kurang bagus namun kehendak Tuhanlah yang terjadi. Keinginan Yunus tidak menjadi penghalang bagi kuasa Tuhan untuk mengubah bangsa Niniwe. Ini jelas sekali bahwa Allahlah yang berkuasa yang memiliki peran.   

  1. Pertobatan manusia jarang terjadi pada masa kini, walaupun banyak sekali penginjilan dilakukan. Padahal Yesus Kristus menjadikan hal itu sebagai prioritas utama dalam penginjilan-Nya. 

Apakah yang dapat kita pelajari dari bacaan ini tentang sifat dari pertobatan yang sungguh-sungguh? 

Jawaban: memiliki belas kasihan untuk melihat jiwa-jiwa yang mau binasa.  

      Dan apa pula yang kita pelajari tentang peranan Allah dalam pertobatan itu?

Jawaban : peranan Allah sangat jelas sehingga bangsa Niniwe bertobat. Dan menyadari peranan Allah untuk menyatakan kuasa-Nya. 

Yunus dan Allahnya (Yun 4:1-11*) 

3.  Pasal 4 ini sangat menyenangkan serta mengandung pengajaran, bersifat terus terang, menunjukkan sifat manusiawi yang mengharukan, tetapi juga mengandung kelucuan. Bacalah pasal ini untuk memeriksa dan membandingkan catatan-catatan di atas. Apakah Anda bersimpati terhadap Yunus di sini? Mengapa ya atau mengapa tidak? 

      Apa alasan sesungguhnya kemarahan Yunus? (pikirkanlah pengertian theologi dari ayat-ayat 2-3)

Jawaban : 

Yunus Menyalahkan Tuhan  dan membenarkan diri

Ayat 2  Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

Ayat 3  Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”     

 Apakah kekurang-kekurangannya? 

4.  Buatlah ringkasan tentang sifat-sifat Yunus sebagai seorang misionaris atau utusan Injil. Apakah sifat-sifatnya yang kuat? marah

      Apakah kekurang-kekurangannya? 

      Apakah kelemahannya yang sangat menyolok sebagai seorang Yahudi? Balas dendam 

5.  Bagaimanakah Allah menasehati nabi-Nya yang sedang marah itu?  Ayat 6-11

      Pengajaran pokok apakah yang diberikan-Nya kepada Yunus? 

      Sifat-sifat Allah yang manakah yang menonjol dengan kuat di sini? Panjang sabar

6.  Kitab ini diakhiri secara menarik (atau lucu?). Barangkali juga si pengarang bermaksud mengajukan pertanyaan kepada para pembacanya: Berapa banyakkah belas kasihan yang telah Anda terima dari Allah? Sejauh manakah Anda bersedia untuk mendatangi orang-orang dan menyampaikan pesan-Nya supaya berbuat dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan? 

Renungan/Penerapan 

7.  Renungkanlah bagaimana sifat Allah yang kita layani. Apakah yang diinginkan-Nya agar kita perbuat bagi dunia pada saat ini? Siapakah “musuh yang kafir” yang perlu kita datangi untuk menyampaikan pesan-Nya? 

      Mengapa sulit untuk merasa kasihan terhadap mereka? 

8.  Dalam hal itu, sebenarnya Allah dapat bekerja tanpa pelayanan misi kita. Lalu, mengapa Ia Menuntut bila kita menghindari perintah-Nya? 

9.  Berkhotbah dengan penuh kuasa tanpa rasa kasihan terhadap orang-orang — begitulah Yunus! Karena itu, biarkanlah Allah menyelidiki hati Anda, dan berdoalah kepada-Nya agar pengertian anda tentang isi Alkitab benar-benar tepat seperti yang dimaksudkan-Nya, dan hati Anda juga dipenuhi dengan kasih terhadap sesama manusia.  

Devosi

SIN

“Sin is the transgression of the law.” – 1 John iii. 4. 

He that wishes to attain right views about Christian holiness, must begin by examining the vast and solemn subject of sin. He must dig down very low if he would build high. A mistake here is most mischievous. Wrong views about holiness are generally traceable to wrong views about human corruption. I make no apology for beginning this volume of papers about holiness by making some plain statements about sin. 

The plain truth is that a right knowledge of sin lies at the root of all saving Christianity. Without it such doctrines as justification, conversion, sanctification, are “words and names” which convey no meaning to the mind. The first thing, therefore, that God does when He makes anyone a new creature in Christ, is to send light into his heart, and show him that he is a guilty sinner. The material creation in Genesis began with “light,” and so also does the spiritual creation. God “shines into our hearts” by the work of the Holy Ghost, and then spiritual life begins. (2 Cor. iv. 6.) – Dim or indistinct views of sin are the origin of most of the errors, heresies, and false doctrines of the present day. If a man does not realize the dangerous nature of his soul’s disease, you cannot wonder if he is content with false or imperfect remedies. I believe that one of the chief wants of the Church in the nineteenth century has been, and is, clearer, fuller teaching about sin. 

(1) I shall begin the subject by supplying some definition of sin. We are all of course familiar with the terms “sin” and “sinners.” We talk frequently of “sin” being in the world, and of men committing “sins.” But what do we mean by these terms and phrases? Do we really know? I fear there is much mental confusion and haziness on this point. Let me try, as briefly as possible, to supply an answer. 

I say, then, that “sin,” speaking generally, is, as the Ninth Article of our Church declares, “the fault and corruption of the nature of every man that is naturally engendered of the offspring of Adam; whereby man is very far gone (quam longissime is the Latin) from original righteousness, and is of his own nature inclined to evil, so that the flesh lusteth alway against the spirit; and, therefore, in every person born into the world, it deserveth God’s wrath and damnation.” Sin, in short, is that vast moral disease which affects the whole human race, of every rank, and class, and name, and nation, and people, and tongue; a disease from which there never was but one born of woman that was free. Need I say that One was Christ Jesus the Lord? 

I say, furthermore, that “a sin,” to speak more particularly, consists in doing, saying, thinking, or imagining, anything that is not in perfect conformity with the mind and law of God. “Sin,” in short, as the Scripture saith, is “the transgression of the law.” (1 John iii. 4.) The slightest outward or inward departure from absolute mathematical parallelism with God’s revealed will and character constitutes a sin, and at once makes us guilty in God’s sight. 

Of course I need not tell any one who reads his Bible with attention, that a man may break God’s law in heart and thought, when there is no overt and visible act of wickedness. Our Lord has settled that point beyond dispute in the Sermon on the Mount. (Matt. v. 21-28.) Even a poet of our own has truly said, “A man may smile and smile, and be a villain.” 

Again, I need not tell a careful student of the New Testament, that there are sins of omission as well as commission, and that we sin, as our Prayer-book justly reminds us, by “leaving undone the things we ought to do,” as really as by “doing the things we ought not to do.” The solemn words of our Master in the Gospel of St. Matthew place this point also beyond dispute. It is there written, “Depart, ye cursed, into everlasting fire: – for I was an hungered, and ye gave Me no meat; I was thirsty, and ye gave Me no drink.” (Matt. xxv. 41, 42.) It was a deep and thoughtful saying of holy Archbishop Usher, just before he died – “Lord, forgive me all my sins, and specially my sins of omission.” 

But I do think it necessary in these times to remind my readers that a man may commit sin and yet be ignorant of it, and fancy himself innocent when he is guilty. I fail to see any Scriptural warrant for the modern assertion that “Sin is not sin to us until we discern it and are conscious of it.” On the contrary, in the 4th and 5th chapters of that unduly neglected book, Leviticus, and in the 15th of Numbers, I find Israel distinctly taught that there were sins of ignorance which rendered people unclean, and needed atonement. (Levit. iv. 1-35; v. 14-19; Num. xv. 25-29.) And I find our Lord expressly teaching that “the servant who knew not his master’s will and did it not,” was not excused on account of his ignorance, but was “beaten” or punished. (Luke xii. 48.) We shall do well to remember, that when we make our own miserably imperfect knowledge and consciousness the measure of our sinfulness, we are on very dangerous ground. A deeper study of Leviticus might do us much good. 

(2) Concerning the origin and source of this vast moral disease called “sin” I must say something. I fear the views of many professing Christians on this point are sadly defective and unsound. I dare not pass it by. Let us, then, have it fixed down in our minds that the sinfulness of man does not begin from without, but from within. It is not the result of bad training in early years. It is not picked up from bad companions and bad examples, as some weak Christians are too fond of saying. No! it is a family disease, which we all inherit from our first parents, Adam and Eve, and with which we are born. Created “in the image of God,” innocent and righteous at first, our parents fell from original righteousness and became sinful and corrupt. And from that day to this all men and women are born in the image of fallen Adam and Eve, and inherit a heart and nature inclined to evil. “By one man sin entered into the world.” – “That which is born of the flesh is flesh.” – “We are by nature children of wrath.” – “The carnal mind is enmity against God.” – “Out of the heart (naturally as out of a fountain) proceed evil thoughts, adulteries,” and the like. (John iii. 6; Ephes. ii. 3; Rom. viii. 7; Mark vii. 21.) The fairest babe that has entered life this year, and become the sunbeam of a family, is not, as its mother perhaps fondly calls it, a little “angel,” or a little “innocent,” but a little “sinner.” Alas! as it lies smiling and crowing in its cradle, that little creature carries in its heart the seeds of every kind of wickedness! Only watch it carefully, as it grows in stature and its mind developes, and you will soon detect in it an incessant tendency to that which is bad, and a backwardness to that which is good. You will see in it the buds and germs of deceit, evil temper, selfishness, self-will, obstinacy, greediness, envy, jealousy, passion – which, if indulged and let alone, will shoot up with painful rapidity. Who taught the child these things? Where did he learn them? The Bible alone can answer these questions! – Of all the foolish things that parents say about their children there is none worse than the common saying, “My son has a good heart at the bottom. He is not what he ought to be; but he has fallen into bad hands. Public schools are bad places. The tutors neglect the boys. Yet he has a good heart at the bottom.” – The truth, unhappily, is diametrically the other way. The first cause of all sin lies in the natural corruption of the boy’s own heart, and not in the school. 

(3) Concerning the extent of this vast moral disease of man called sin, let us beware that we make no mistake. The only safe ground is that which is laid for us in Scripture. “Every imagination of the thoughts of his heart” is by nature “evil, and that continually.” – “The heart is deceitful above all things, and desperately wicked,” (Gen. vi. 5; Jer. xvii. 9.) Sin is a disease which pervades and runs through every part of our moral constitution and every faculty of our minds. The understanding, the affections, the reasoning powers, the will, are all more or less infected. Even the conscience is so blinded that it cannot be depended on as a sure guide, and is as likely to lead men wrong as right, unless it is enlightened by the Holy Ghost. In short, “from the sole of the foot even unto the head there is no soundness” about us. (Isa. i. 6.) The disease may be veiled under a thin covering of courtesy, politeness, good manners, and outward decorum; but it lies deep down in the constitution. 

I admit fully that man has many grand and noble faculties left about him, and that in arts and sciences and literature he shows immense capacity. But the fact still remains that in spiritual things he is utterly “dead,” and has no natural knowledge, or love, or fear of God. His best things are so interwoven and intermingled with corruption, that the contrast only brings out into sharper relief the truth and extent of the fall. That one and the same creature should be in some things so high and in others so low – so great and yet so little – so noble and yet so mean – so grand in his conception and execution of material things, and yet so grovelling and debased in his affections – that he should be able to plan and erect buildings like those to Carnac and Luxor in Egypt, and the Parthenon at Athens, and yet worship vile gods and goddesses, and birds, and beasts, and creeping things – that he should be able to produce tragedies like those of Æschylus and Sophocles, and histories like that of Thucydides, and yet be a slave to abominable vices like those described in the first chapter of the Epistle to the Romans – all this is a sore puzzle to those who sneer at “God’s Word written,” and scoff at us as Bibliolaters. But it is a knot that we can untie with the Bible in our hands. We can acknowledge that man has all the marks of a majestic temple about him – a temple in which God once dwelt, but a temple which is now in utter ruins – a temple in which a shattered window here, and a doorway there, and a column there, still give some faint idea of the magnificence of the original design, but a temple which from end to end has lost its glory and fallen from its high estate. And we say that nothing solves the complicated problem of man’s condition but the doctrine of original or birth-sin and the crushing effects of the fall.

Let us remember, besides this, that every part of the world bears testimony to the fact that sin is the universal disease of all mankind. Search the globe from east to west and from pole to pole – search every nation of every clime in the four quarters of the earth – search every rank and class in our own country from the highest to the lowest – and under every circumstance and condition, the report will be always the same. The remotest islands in the Pacific Ocean, completely separate from Europe, Asia, Africa, and America, beyond the reach alike of Oriental luxury and Western arts and literature – islands inhabited by people ignorant of books, money, steam, and gunpowder – uncontaminated by the vices of modern civilization – these very islands have always been found, when first discovered, the abode of the vilest forms of lust, cruelty, deceit, and superstition. If the inhabitants have known nothing else, they have always known how to sin! Everywhere the human heart is naturally “deceitful above all things, and desperately wicked.” (Jer. xvii. 9.) For my part, I know no stronger proof of the inspiration of Genesis and’ the Mosaic account of the origin of man, than the power, extent, and universality of sin. Grant that mankind have all sprung from one pair, and that this pair fell (as Gen. iii. tells us), and the state of human nature everywhere is easily accounted for. Deny it, as many do, and you are at once involved in inexplicable difficulties. In a word, the uniformity and universality of human corruption supply one of the most unanswerable instances of the enormous “difficulties of infidelity.” 

After all, I am convinced that the greatest proof of the extent and power of sin is the pertinacity with which it cleaves to man even after he is converted and has become the subject of the Holy Ghost’s operations. To use the language of the Ninth Article, “this infection of nature doth remain – yea, even in them that are regenerate.” So deeply planted are the roots of human corruption, that even after we are born again, renewed, “washed, sanctified, justified,” and made living members of Christ, these roots remain alive in the bottom of our hearts, and, like the leprosy in the walls of the house, we never get rid of them until the earthly house of this tabernacle is dissolved. Sin, no doubt, in the believer’s heart, has no longer dominion. It is checked, controlled, mortified, and crucified by the expulsive power of the new principle of grace. The life of a believer is a life of victory, and not of failure. But the very struggles which go on within his bosom, the fight that he finds it needful to fight daily, the watchful jealousy which he is obliged to exercise over his inner man, the contest between the flesh and the spirit, the inward “groanings” which no one knows but he who has experienced them – all, all testify to the same great truth, all show the enormous power and vitality of sin. Mighty indeed must that foe be who even when crucified is still alive! Happy is that believer who understands it, and while he rejoices in Christ Jesus has no confidence in the flesh; and while he says, “Thanks be unto God who giveth us the victory,” never forgets to watch and pray lest he fall into temptation! 

(4) Concerning the guilt, vileness, and offensivenesS of sin in the sight of God, my words shall be few. I say “few” advisedly. I do not think, in the nature of things, that mortal man can at all realize the exceeding sinfulness of sin in the sight of that holy and perfect One with whom we have to do. On the one hand, God is that eternal Being who “chargeth His angels with folly,” and in whose sight the very “heavens are not clean.” He is One who reads thoughts and motives as well as actions, and requires “truth in the inward parts.” (Job xv. 18; xv. 15; Psa. li. 6.) We, on the other hand – poor blind creatures, here to-day and gone tomorrow, born in sin, surrounded by sinners, living in a constant atmosphere of weakness, infirmity, and imperfection – can form none but the most inadequate conceptions of the hideousness of evil. We have no line to fathom it, and no measure by which to gauge it. The blind man can see no difference between a masterpiece of Titian or Raphael, and the Queen’s Head on a village signboard. The deaf man cannot distinguish between a penny whistle and a cathedral organ. The very animals whose smell is most offensive to us have no idea that they are offensive, and are not offensive to one another. And man, fallen man, I believe, can have no just idea what a vile thing sin is in the sight of that God whose handiwork is absolutely perfect – perfect whether we look through telescope or microscope – perfect in the formation of a mighty planet like Jupiter, with his satellites, keeping time to a second as he rolls round the sun – perfect in the formation of the smallest insect that crawls over a foot of ground. But let us nevertheless settle it firmly in our minds that sin is “the abominable thing that God hateth” – that God “is of purer eyes than to behold iniquity, and cannot look upon that which is evil” – that the least transgression of God’s law makes us “guilty of all” – that “the soul that sinneth shall die” – that “the wages of sin is death” – that God shall “judge the secrets of men” – that there is a worm that never dies, and a fire that is not quenched – that “the wicked shall be turned into hell” – and “shall go away into everlasting punishment” – and that “nothing that defiles shall in any wise enter heaven.” (Jer. xliv. 4; Hab. i. 13; James ii. 10; Ezek. xviii. 4; Rom. vi. 23; Rom. ii. 16; Mark ix. 44; Ps. ix. 17; Matt. xxv. 46; Rev. xxi. 27.) These are indeed tremendous words, when we consider that they are written in the Book of a most merciful God!

No proof of the fulness of sin, after all, is so overwhelming and unanswerable as the cross and passion of our Lord Jesus Christ, and the whole doctrine of His substitution and atonement. Terribly black must that guilt be for which nothing but the blood of the Son of God could make satisfaction. Heavy must that weight of human sin be which made Jesus groan and sweat drops of blood in agony at Gethsemane, and cry at Golgotha, “My God, my God, why hast Thou forsaken Me?” (Matt. xxvii. 46.) Nothing, I am convinced, will astonish us so much, when we awake in the resurrection day, as the view we shall have of sin, and the retrospect we shall take of our own countless shortcomings and defects. Never till the hour when Christ comes the second time shall we fully realize the “sinfulness of sin.” Well might George Whitfield say, “The anthem in heaven will be, What hath God wrought!” 

(5) One point only remains to be considered on the subject of sin, which I dare not pass over. That point is its deceitfulness. It is a point of most serious importance, and I venture to think it does not receive the attention which it deserves. You may see this deceitfulness in the wonderful proneness of men to regard sin as less sinful and dangerous than it is in the sight of God; and in their readiness to extenuate it, make excuses for it, and minimize its guilt. – “It is but a little one! God is merciful! God is not extreme to mark what is done amiss! We mean well! One cannot be so particular! Where is the mighty harm? We only do as others!” Who is not familiar with this kind of language? – You may see it in the long string of smooth words and phrases which men have coined in order to designate things which God calls downright wicked and ruinous to the soul. What do such expressions as “fast,” “gay,” “wild,” “unsteady,” “thoughtless,” “loose” mean? They show that men try to cheat themselves into the belief that sin is not quite so sinful as God says it is, and that they are not so bad as they really are. – You may see it in the tendency even of believers to indulge their children in questionable practices, and to bind their own eyes to the inevitable result of the love of money, of tampering with temptation, and sanctioning a low standard of family religion. – I fear we do not sufficiently realize the extreme subtlety of our soul’s disease. We are too apt to forget that temptation to sin will rarely present itself to us in its true colours, saying, “I am your deadly enemy, and I want to ruin you for ever in hell.” Oh, no! sin comes to us, like Judas, with a kiss; and like Joab, with an outstretched hand and flattering words. The forbidden fruit seemed good and desirable to Eve; yet it cast her out of Eden. The walking idly on his palace roof seemed harmless enough to David; yet it ended in adultery and murder. Sin rarely seems sin at first beginnings. Let us then watch and pray, lest we fall into temptation. We may give wickedness smooth names, but we cannot alter its nature and character in the sight of God. Let us remember St. Paul’s words: “Exhort one another daily, lest any be hardened through the deceitfulness of sin.” (Heb. iii. 13.) It is a wise prayer in our Litany, “From the deceits of the world, the flesh, and the devil, good Lord, deliver us.” 

And now, before I go further, let me briefly mention two thoughts which appear to me to rise with irresistible force out of the subject. 

On the one hand, I ask my readers to observe what deep reasons we all have for humiliation and selfabasement. Let us sit down before the picture of sin displayed to us in the Bible, and consider what guilty, vile, corrupt creatures we all are in the sight of God. What need we all have of that entire change of heart called regeneration, new birth, or conversion! What a mass of infirmity and imperfection cleaves to the very best of us at our very best! What a solemn thought it is, that “without holiness no man shall see the Lord!” (Heb. xii. 14.) What cause we have to cry with the publican, every night in our lives, when we think of our sins of omission as well as commission, “God be merciful to me a sinner!” (Luke xviii. 13.) How admirably suited are the general and Communion Confessions of the Prayer-book to the actual condition of all professing Christians! How well that language suits God’s children which the Prayer-book puts in the mouth of every Churchman before he goes up to the Communion Table – “The remembrance of our misdoings is grievous unto us; the burden is intolerable. Have mercy upon us, have mercy upon us, most merciful Father; for Thy Son our Lord Jesus Christ’s sake, forgive us all that is past.” How true it is that the holiest saint is in himself a miserable sinner,” and a debtor to mercy and grace to the last moment of his existence! 

With my whole heart I subscribe to that passage in Hooker’s sermon on Justification, which begins, “Let the holiest and best things we do be considered. We are never better affected unto God than when we pray; yet when we pray, how are our affections many times distracted! How little reverence do we show unto the grand majesty of God unto whom we speak I How little remorse of our own miseries! How little taste of the sweet influence of His tender mercies do we feel! Are we not as unwilling many times to begin, and as glad to make an end, as if in saying, ‘Call upon Me,’ He had set us a very burdensome task? It may seem somewhat extreme, which I will speak; therefore, let every one judge of it, even as his own heart shall tell him, and not otherwise; I will but only make a demand! If God should yield unto us, not as unto Abraham – If fifty, forty, thirty, twenty – yea, or if ten good persons could be found in a city, for their sakes this city should not be destroyed; but, and if He should make us an offer thus large, search all the generations of men since the fall of our father Adam, find one man that hath done one action which hath passed from him pure, without any stain or blemish at all; and for that one man’s only action neither man nor angel should feel the torments which are prepared for both. Do you think that this ransom to deliver men and angels could be found to be among the sons of men? The best things which we do have somewhat in them to be pardoned.” [4] 

That witness is true. For my part I am persuaded the more light we have, the more we see our own sinfulness: the nearer we get to heaven, the more we are clothed with humility. In every age of the Church you will find it true, if you will study biographies, that the most eminent saints – men like Bradford, Rutherford, and McCheyne – have always been the humblest men. 

On the other hand, I ask my readers to observe how deeply thankful we ought to be for the glorious Gospel of the grace of God. There is a remedy revealed for man’s need, as wide and broad and deep as man’s disease. We need not be afraid to look at sin, and study its nature, origin, power, extent, and vileness, if we only look at the same time at the Almighty medicine provided for us in the salvation that is in Jesus Christ. Though sin has abounded, grace has much more abounded. Yes: in the everlasting covenant of redemption, to which Father, Son, and Holy Ghost are parties – in the Mediator of that covenant, Jesus Christ the righteous, perfect God and perfect Man in one Person – in the work that He did by dying for our sins and rising again for our justification – in the offices that He fills as our Priest, Substitute, Physician, Shepherd, and Advocate – in the precious blood He shed which can cleanse from all sin – in the everlasting righteousness that He brought in – in the perpetual intercession that He carries on as our Representative at God’s right hand – in His power to save to the uttermost the chief of sinners, His willingness to receive and pardon the vilest, His readiness to bear with the weakest – in the grace of the Holy Spirit which He plants in the hearts of all His people, renewing, sanctifying and causing old things to pass away and all things to become new – in all this – and oh, what a brief sketch it is! – in all this, I say, there is a full, perfect, and complete medicine for the hideous disease of sin. Awful and tremendous as the right view of sin undoubtedly is, no one need faint and despair if he will take a right view of Jesus Christ at the same time. No wonder that old Flavel ends many a chapter of his admirable “Fountain of Life” with the touching words, “Blessed be God for Jesus Christ.” 

In bringing this mighty subject to a close, I feel that I have only touched the surface of it. It is one which cannot be thoroughly handled in a paper like this. He that would see it treated fully and exhaustively must turn to such masters of experimental theology as Owen, and Burgess, and Manton, and Charnock, and the other giants of the Puritan school. On subjects like this there are no writers to be compared to the Puritans. It only remains for me to point out some practical uses to which the whole doctrine of sin may be profitably turned in the present day. 

(a) I say, then, in the first place, that a Scriptural view of ski is one of the best antidotes to that vague, dim, misty, hazy kind of theology which is so painfully current in the present age. It is vain to shut our eyes to the fact that there is a vast quantity of so-called Christianity now-a-days which you cannot declare positively unsound, but which, nevertheless, is not full measure, good weight, and sixteen ounces to the pound. It is a Christianity in which there is undeniably “something about Christ, and something about grace, and something about faith, and something about repentance, and something about holiness”; but it is not the real “thing as it is” in the Bible. Things are out of place, and out of proportion. As old Latimer would have said, it is a kind of “mingle-mangle,” and does no good. It neither exercises influence on daily conduct, nor comforts in life, nor gives peace in death; and those who hold it often awake too late to find that they have got nothing solid under their feet. Now I believe the likeliest way to cure and mend this defective kind of religion is to bring forward more prominently the old Scriptural truth about the sinfulness of sin. People will never set their faces decidedly towards heaven, and live like pilgrims, until they really feel that they are in danger of hell. Let us all try to revive the old teaching about sin, in nurseries, in schools, in training colleges, in Universities. Let us not forget that “the law is good if we use it lawfully,” and that *’ by the law is the knowledge of sin.” (1 Tim. i. 8; Rom. iii. 20; vii. 7.) Let us bring the law to the front and press it on men’s attention. Let us expound and beat out the Ten Commandments, and show the length, and breadth, and depth, and height of their requirements. This is the way of our Lord in the Sermon on the Mount. We cannot do better than follow His plan. We may depend upon it, men will never come to Jesus, and stay with Jesus, and live for Jesus, unless they really know why they are to come, and what is their need. Those whom the Spirit draws to Jesus are those

whom the Spirit has convinced of sin. Without thorough conviction of sin, men may seem to come to Jesus and follow Him for a season, but they will soon fall away and return to the world. 

(b) In the next place, a Scriptural view of sin is one of the best antidotes to the extravagantly broad and liberal theology which is so much in vogue at the present time. The tendency of modern thought is to reject dogmas, creeds, and every kind of bounds in religion. It is thought grand and wise to condemn no opinion whatsoever, and to pronounce all earnest and clever teachers to be trustworthy, however heterogeneous and mutually destructive their opinions may be. – Everything forsooth is true, and nothing is false! Everybody is right, and nobody is wrong! Everybody is likely to be saved, and nobody is to be lost! – The Atonement and Substitution of Christ, the personality of the devil, the miraculous element in Scripture, the reality and eternity of future punishment, all these mighty foundation-stones are coolly tossed overboard, like lumber, in order to lighten the ship of Christianity, and enable it to keep pace with modern science. – Stand up for these great verities, and you are called narrow, illiberal, old-fashioned, and a theological fossil! Quote a text, and you are told that all truth is not confined to the pages of an ancient Jewish Book, and that free inquiry has found out many things since the Book was completed! – Now, I know nothing so likely to counteract this modern plague as constant clear statements about the nature, reality, vileness, power, and guilt of sin. We must charge home into the consciences of these men of broad views, and demand a plain answer to some plain questions. We must ask them to lay their hands on their hearts, and tell us whether their favourite opinions comfort them in the day of sickness, in the hour of death, by the bedside of dying parents, by the grave of beloved wife or child. We must ask them whether a vague earnestness, without definite doctrine, gives them peace at seasons like these. We must challenge them to tell us whether they do not sometimes feel a gnawing “something” within, which all the free inquiry and philosophy and science in the world cannot satisfy. And then we must tell them that this gnawing “something” is the sense of sin, guilt, and corruption, which they are leaving out in their calculations. And, above all, we must tell them that nothing will ever make them feel rest, but submission to the old doctrines of man’s ruin and Christ’s redemption, and simple childlike faith in Jesus. 

(c) In the next place, a right view of sin is the best antidote to that sensuous, ceremonial, formal kind of Christianity, which has swept over England like a flood in the last twenty-five years, and carried away so many before it. I can well believe that there is much that is attractive in this system of religion, to a certain order of minds, so long as the conscience is not fully enlightened. But when that wonderful part of our constitution called conscience is really awake and alive, I find it hard to believe that a sensuous ceremonial Christianity will thoroughly satisfy us. A little child is easily quieted and amused with gaudy toys, and dolls, and rattles, so long as it is not hungry; but once let it feel the cravings of nature within, and we know that nothing will satisfy it but food. Just so it is with man in the matter of his soul. Music, and flowers, and candles, and incense, and banners, and processions, and beautiful vestments, and confessionals, and man-made ceremonies of a semi-Romish character, may do well enough for him under certain conditions. But once let him “awake and arise from the dead,” and he will not rest content with these things. They will seem to him mere solemn triflings, and a waste of time. Once let him see his sin, and he must see his Saviour. He feels stricken with a deadly disease, and nothing will satisfy him but the great Physician. He hungers and thirsts, and he must have nothing less than the bread of life. I may seem bold in what I am about to say; but I fearlessly venture the assertion, that four-fifths of the semiRomanism of the last quarter of a century would never have existed if English people had been taught more fully and clearly the nature, vileness, and sinfulness of sin. 

(d) In the next place, a right view of sin is one of the best antidotes to the overstrained theories of Perfection, of which we hear so much in these times. I shall say but little about this, and in saying it I trust I shall not give offence. If those who press on us perfection mean nothing more than an all-round consistency, and a careful attention to all the graces which make up the Christian character, reason would that we should not only bear with them, but agree with them entirely. By all means let us aim high. – But if men really mean to tell us that here in this world a believer can attain to entire freedom from sin, live for years in unbroken and uninterrupted communion with God, and feel for months together not so much as one evil thought, I must honestly say that such an opinion appears to me very unscriptural. – I go even further. I say that the opinion is very dangerous to him that holds it, and very likely to depress, discourage, and keep back inquirers after salvation. I cannot find the slightest warrant in God’s Word for expecting such perfection as this while we are in the body. I believe the words of our Fifteenth Article are strictly true – that “Christ alone is without sin; and that all we, the rest, though baptized and born again in Christ, offend in many things; and if we say that we have no sin, we deceive ourselves, and the truth is not in us.” – To use the language of our first Homily, “There be imperfections in our best works: we do not love God so much as we are bound to do, with all our hearts, mind, and power; we do not fear God so much as we ought to do; we do not pray to God but with many and great imperfections. We give, forgive, believe, live, and hope imperfectly; we speak, think, and do imperfectly; we fight against the devil, the world, and the flesh imperfectly. Let us, therefore, not be ashamed to confess plainly our state of imperfections.” – Once more I repeat what I have said, the best preservative against this temporary delusion about perfection which clouds some minds – for such I hope I may call it – is a clear, full, distinct understanding of the nature, sinfulness, and deceitfulness of sin. 

(e) In the last place, a Scriptural view of sin will prove an admirable antidote to them low views of personal holiness which are so painfully prevalent in these last days of the Church. This is a very painful and delicate subject, I know; but I dare not turn away from it. It has long been my sorrowful conviction that the standard of daily life among professing Christians in this country has been gradually falling. I am afraid that Christ-like charity, kindness, good-temper, unselfishness, meekness, gentleness, good-nature, self-denial, zeal to do good, and separation from the world, are far less appreciated than they ought to be, and than they used to be in the days of our fathers. 

Into the causes of this state of things I cannot pretend to enter fully, and can only suggest conjectures for consideration. It may be that a certain profession of religion has become so fashionable and comparatively easy in the present age, that the streams which were once narrow and deep have become wide and shallow, and what we have gained in outward show we have lost in quality. It may be that the vast increase of wealth in the last twenty-five years has insensibly introduced a plague of worldliness, and self-indulgence, and love of ease into social life. What were once called luxuries are now comforts and necessaries, and self-denial and “enduring hardness” are consequently little known. It may be that the enormous amount of controversy which marks this age has insensibly dried up our spiritual life. We have too often been content with zeal for orthodoxy, and have neglected the sober realities of daily practical godliness. Be the causes what they may, I must declare my own belief that the result remains. There has been of late years a lower standard of personal holiness among believers than there used to be in the days of our fathers. The whole result is that the spirit is grieved! and the matter calls for much humiliation and searching of heart. 

As to the best remedy for the state of things I have mentioned, I shall venture to give an opinion. Other schools of thought in the Churches must judge for themselves. The cure for Evangelical Churchmen, I am convinced, is to be found in a clearer apprehension of the nature and sinfulness of sin. We need not go back to Egypt, and borrow semi-Romish practices in order to revive our spiritual life. We need not restore the confessional, or return to monasticism or asceticism. Nothing of the kind! We must simply repent and do our first works. We must return to first principles. We must go back to “the old paths.” We must sit down humbly in the presence of God, look the whole subject in the face, examine clearly what the Lord Jesus calls sin, and what the Lord Jesus calls “doing His will.” We must then try to realize that it is terribly possible to live a careless, easy-going, half-worldly life, and yet at the same time to maintain Evangelical principles and call ourselves Evangelical people! Once let us see that sin is far viler, and far nearer to us, and sticks more closely to us than we supposed, and we shall be led, I trust and believe, to get nearer to Christ. Once drawn nearer to Christ, we shall drink more deeply out of His fullness, and learn more thoroughly to “live the life of faith” in Him, as St. Paul did. Once taught to live the life of faith in Jesus, and abiding in Him, we shall bear more fruit, shall find ourselves more strong for duty, more patient in trial, more watchful over our poor weak hearts, and more like our Master in all our little daily ways. Just in proportion as we realize how much Christ has done for us, shall we labour to do much for Christ. Much forgiven, we shall love much. In short, as the Apostle says, “with open face beholding as in a glass the glory of the Lord, we are changed into the same image even as by the Spirit of the Lord.” (2 Cor. iii. 18.) 

Whatever some may please to think or say, there can be no doubt that an increased feeling about holiness is one of the signs of the times. Conferences for the promotion of “spiritual life” are becoming common in the present day. The subject of “spiritual life” finds a place on Congress platforms almost every year. It has awakened an amount of interest and general attention throughout the land, for which we ought to be thankful. An^ movement, based on sound principles, which helps to deepen our spiritual life and increase our personal holiness, will be a real blessing to the Church of England. It will do much to draw us together and heal our unhappy divisions. It may bring down some fresh out-pouring of the grace of the Spirit, and be “life from the dead” in these later times. But sure I am, as I said in the beginning of this paper, we must begin low, if we would build high, I am convinced that the first step towards attaining a higher standard of holiness is to realize more fully the amazing sinfulness of sin.    

Devosi

JADILAH TERANG DIMANA KAU BERADA


(Yohanes 8:12, Matius 5:14-16)

Berbicara tentang thema : Jadilah terang dimana kau berada, itu berarti dimana ada seorang pria Kristen disitu terang Tuhan, kemuliaan Tuhan boleh dinyatakan, kasih Tuhan dapat dirasakan, dan berkat Tuhan dapat dialami oleh setiap orang yang ada disekelilingnya. Memang pria Kristen bukan manusia super, namun sejak awal penciptaan, Tuhan telah meletakkan tanggungjawab terbesar dipundak kaum pria. Kaum pria ditetapkan Tuhan sebagai kepala keluarga, pengambil keputusan, pencari nafkah bahkan imam dalam keluarganya. Untuk itu bila pria Kristen hidup menjadi terang Kristus, maka pengaruhnya pasti sangat baik bagi keluarga, bagi orang di tempat pekerjaan dan dimanapun dia berada. 


Berbicara tentang terang, maka sebenarnya terang itu selalu menang atas kegelapan. Dimana ada terang disitu kegelapan tersingkir/terkalahkan. Kesaksian: Ada seorang pria pegawai sebuah toko buku, suatu hari ketika pulang kerja, ia melewati lorong yang gelap, seorang pria tinggi besar menghadangnya, pria itu menodongkan sebuah pisau ke dadanya dan berkata:”Serahkanlah uangmu kalau mau selamat.” Pria Kristen itu berkata:”Anda menginginkan uang saya ? Ambillah semuanya. Anda tidak takut bila aku membunuh anda disini ? Oh tentu tidak. Pria jahat itu jadi penasaran: Anda tidak takut mati ? Saya tidak memiliki apa-apa dalam dunia ini, saya hanya memiliki Tuhan, jika anda membunuh saya, maka anda mengembalikan saya . Anda orang Kristen ? Ya saya seorang Kristen. Penjahat itu berkata:”Aku preman, aku telah membunuh belasan nyawa. Dulu aku orang Kristen, ayahku dulu sering memukul ibuku dan juga kami anak-anaknya, hingga kami hidup dalam kekerasan. Ia sering mabuk dan akupun hampir pernah dibunuhnya. Baru kali ini aku bertemu dgn kamu yang tidak takut padaku. Kemudian penjahat itu meneteskan air mata, seumur hidupku, baru pertama kali ini aku menangis di hadapanmu. Kasih Tuhan dan terang Tuhan mulai masuk dalam hidup penjahat itu. Orang Kristen itu menawarkan roti yang ada di tasnya untuk dimakan. Makanlah mungkin kamu lapar. Penjahat itu berkata:”Aku merasakan suatu kekuatan yang begitu kuat keluar dari dari dirimu, yang menarik aku kembali pada suatu tempat dimana aku dulu pernah berada..
Namun sayang saudara justru manusia lebih menyukai hidup di dalam kegelapan dibandingkan hidup di dalam terang. Manusia lebih senang melakukan perbuatan tersembunyi dari pada perbuatan yang terbuka dan jujur. Ada 3 jenis dosa yang seringkali menjerumuskan kaum pria kedalam dosa, itulah harta, takhta dan wanita. Untuk mendapatkan harta maka orang bisa lakukan segala cara, termasuk cara-cara haram. Baru-baru ini kita dengar adanya kasus pembobolan bank BNI yang mencapai angka bukan jutaan atau miliaran tetapi trilunan. Siapa yang dicurigai dan diperiksa ? Justru para direktur, para pimpinan, mereka yang berpendidikan tinggi, berkedudukan tinggi, berwawasan luas, berpengalaman. Sungguh sangat menyedihkan semakin manusia pandai, bukan semakin takut Tuhan, justru semakin berani melanggar perintah Tuhan. Banyak orang otaknya besar tetapi hatinya kecil, akal budinya tajam tetapi hati nuraninya tumpul. Berikutnya kalau harta sudah banyak, maka godaan untuk mencari wanita simpanan juga semakin gencar. Perhatikan mereka yang punya istri simpanan atau istri kedua, ketiga dll, biasanya itu bukan orang miskin tetapi orang berduit. 

Bila kita tidak waspada sebagai pria-pria Kristen maka kitapun bisa terjerumus dalam dosa-dosa itu. Tuhan Yesus sendiri pernah dicobai oleh Iblis tetapi Dia tidak jatuh dalam dosa. Sebaliknya Dia menang atas dosa. Iblis selalu menawarkan kekayaan, kemewahan dunia ini, gemerlap dan kecantikan dunia ini kepada kaum pria. Dan fakta membuktikan bahwa banyak juga pria Kristen yang jatuh dalam dunia kegelapan. Memang menurut Alkitab,manusia pertama yang jatuh dalam dosa adalah Hawa (wanita), tetapi dalam kenyataannya kejahatan di dunia ini justru banyak dilakukan kaum pria. Perhatikan narapidana dalam penjara, pasti lebih banyak pria dibanding dengan wanitanya Kejahatan di buser, jejak kasus, sergap dll, kebanyakkan dilakukan kaum pria. 

Nah bagaimana kita bisa mengatasi dunia disekeliling kita ini yang penuh dengan kegelapan ini ? Bahkan bagaimana caranya agar kita bisa menerangi kegelapan itu ? 

Caranya:

  1. Kita harus mengenal siapa diri kita sebenarnya di hadapan Tuhan, apa tabiat kita sesungguhnya. Yesus sendiri berkata:” Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Jadi kalau kita mengaku diri sebagai orang Kristen maka konsekwensinya kita tidak akan berjalan dalam kegelapan. Dalam ayat ini, istilah yang dipakai yaitu istilah “tidak akan” bukan tidak boleh. Kalau dikatakan tidak boleh itu terkesan sebagai larangan, tetapi kalau dikatakan tidak akan: itu lebih mengarah pada pengertian tabiat orang Kristen. Tabiat asli orang Kristen adalah tidak menyukai hidup dalam kegelapan, tidak akan mudah jatuh dalam kegelapan. Godaaan boleh datang kepadanya, pengaruh negatif boleh mempengaruhinya tetapi pria Kristen tidak akan berjalan dalam kegelapan. Kalau dia nekad berjalan dalam kegelapan, maka hidupnya pasti tidak tenang, sebab Roh Kudus yang ada di dalam dirinya senantiasa menggelisahkan hatinya bila tidak keluar dari kegelapan itu. Pria Kristen tidak bisa mematikan hati nurani yang telah disucikan oleh darah Yesus. Bila dia hidup dalam kemunafikan, pasti hidupnya tidak tenang. Sebab tabiat pengikut Kristus adalah tidak akan berjalan dalam kegelapan.    
  2. Miliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, jangan asal-asalan saja. Bila kita ingin menyalakan lampu, biasanya kita harus tekan tombol on, artinya lampu listrik tidak mungkin menyala bila dia tidak dihubungkan ke sumber listrik. Demikian juga seorang pria Kristen tidak mungkin bisa jadi terang bila dia tidak berhubungan dengan sumber terang itu yaitu Yesus Kristus. Yesus berkata: Akulah terang dunia, barangsiapa mengikuti Aku, dia tidak akan berjalan dalam kegelapan. Semakin seorang pria hidup takut akan Tuhan, mengasihi Tuhan, intim dengan Tuhan, menomor satukan Tuhan, maka gairah hidup dalam kegelapan itu akan memudar. Tetapi sebaliknya bila seorang pria Kristen hubungan dengan Tuhan hanya asal-asalan saja, maka dialah orang yang paling mudah kompromi dengan dosa. Untuk itu mari kita jaga waktu doa kita, waktu kita membaca firman Tuhan, waktu ibadah kita dengan Tuhan. Mari kita selalu menyertakan Tuhan dalam setiap aktivitas kita, mulai dari berkeluarga, bekerja, bermasyarakat dll.  
  1. . Bila kita ingin menyalakan lampu, biasanya kita harus tekan tombol on, artinya lampu listrik tidak mungkin menyala bila dia tidak dihubungkan ke sumber listrik. Demikian juga seorang pria Kristen tidak mungkin bisa jadi terang bila dia tidak berhubungan dengan sumber terang itu yaitu Yesus Kristus. Yesus berkata: Akulah terang dunia, barangsiapa mengikuti Aku, dia tidak akan berjalan dalam kegelapan. Semakin seorang pria hidup takut akan Tuhan, mengasihi Tuhan, intim dengan Tuhan, menomor satukan Tuhan, maka gairah hidup dalam kegelapan itu akan memudar. Tetapi sebaliknya bila seorang pria Kristen hubungan dengan Tuhan hanya asal-asalan saja, maka dialah orang yang paling mudah kompromi dengan dosa. Untuk itu mari kita jaga waktu doa kita, waktu kita membaca firman Tuhan, waktu ibadah kita dengan Tuhan. Mari kita selalu menyertakan Tuhan dalam setiap aktivitas kita, mulai dari berkeluarga, bekerja, bermasyarakat dll. 
    Berani tampil beda.Berani tampil beda. Fakta membuktikan terang dan gelap jelas tidak bisa bersatu. Dimana ada terang pasti kegelapan akan terusir, dimana tidak ada terang maka kegelapan akan menguasai. Firman Tuhan berkata:”Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung, tidak mungkin tersembunyi…demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang disorga.” (Matius 5:14,16). Jadi jangan heran bila saudara dan saya berbeda dengan orang dunia. Jangan takut tampil beda secara rohani. Kalau cara berpikir saudara, cara mengambil keputusan, gaya bisnis saudara, berbeda dengan orang dunia jangan merasa minder, sebaliknya bersyukurlah pada Tuhan, itu artinya saudara adalah pengikut Kristus. Tetapi bila yang terjadi sebaliknya, cara berpikir, cara kita mengambil keputusan, dan cara kita berbisnis seperti orang dunia ini, maka perlu kita bertanya pada diri kita sendiri ? Betulkah saya ini orang Kristen ? Pantaskah saya disebut sebagai pengikut Kristus ? Dalam dunia bisnis orang dunia selalu berusaha memikirkan keuntungan dirinya sendiri tetapi sebaliknya orang Kristen hendaknya memikirkan keuntungan orang lain juga, dalam dunia bisnis orang dunia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tetapi orang Kristen harus menggunakan cara-cara yang benar dan fair. Memang ada dua akibat bisa terjadi kalau kita tampil beda: pertama kita malah dibenci, dijauhi, diisolasi, diancam, dll. Kedua bisa sebaliknya, malah orang yang tampil beda, akan mendapat peluang besar dalam usaha. Perhatikan bos-bos perusahaan pasti kalau mencari orang yang memegang keuangan, pasti dicari orang yang terkenal jujur, beribadah dan takut akan Tuhan.

    Kesimpulan:
    Ada 3 cara untuk kita menjadi terang dimana kita berada:
    Sadari bahwa tabiat kita yaitu: tidak akan berjalan dalam kegelapan, kegelapan bisa saja meliputi hidup kita tetapi kita tidak akan berjalan di dalamnya
    Miliki hubungan yang baik dengan Tuhan setiap hari
    Kita harus berani tampil beda demi kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.
Devosi

JADILAH BERKAT DI MANA KITA BERADA

Sebagai orang Kristen, kita harus bisa menjadi berkat dimanapun kita berada. Ketika kita berada di rumah, kita harus menjadi berkat bagi suami, istri dan anak-anak kita di rumah. Ketika kita berada di tempat kerja, kita harus bisa menjadi berkat ditempat kerja kita, ketika kita berada dikampung, maka kita harus bisa menjadi berkat dikampung kita. Bila ada orang Kristen yang hidupnya eksklusif / tertutup utk tetangganya, maka orang Kristen itu tidak berjalan seturut perintah Tuhan. 

Saya bersyukur bila kehadiran Pak Halim dikampung ini bisa diterima dengan baik oleh warga kampung. Ini semua tidak terlepas dari peran Pak Halim sendiri dalam membawa diri di tengah-tengah masyarakat di kampung ini. Benar apa yang dikatakan oleh firman Tuhan: Jikalau engkau ingin dihargai orang,  maka engkau harus lebih dahulu menghargai orang itu, jikalau engkau ingin disapa, maka engkau harus lebih dahulu menyapa, jikalau engkau ingin diterima, maka engkau harus bisa menerima orang lain. Jikalau firman Tuhan ini sungguh kita laksanakan maka pasti kehadiran kita akan menjadi berkat bagi sesama kita. 

Sama seperti Tuhan Yesus, ketika Dia menjelma menjadi manusia, maka Tuhan Yesus dapat menjadi berkat dimanapun Dia berada. Lukas 2:32:”Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya dan makin dikasihi oleh … manusia.”   Dalam bergaul Tuhan Yesus tidak pernah pandang bulu, dengan pemungut cukai dia bergaul, dengan wanita pelacur dia bergaul, dengan rohaniawan Tuhan bergaul, dengan raja Tuhan bergaul, dengan janda miskin Tuhan bergaul dstnya. Tuhan Yesus telah memberikan hidupnya untuk semua orang. 

Jika kita ingin diterima dimasyarakat, maka 3 hal penting yang harus kita lakukan : 

  1. Jagalah Perkataan kita. Jikalau perkataan kita sopan dan menghargai orang lain, maka orang lainpun akan menghargai diri kita. Tetapi bila perkataan kita itu kotor, maka orang lainpun malas bicara dengan kita. Bila perkataan kita lembut dan rendah hati, maka orang lainpun akan mendengarkannya dengan baik, tetapi bila perkataan kita itu kasar dan menusuk hati, maka orang akan menjauhi kita. Usahakan jauhi pertengkaran dgn sesama warga masyarakat, bila saudara sedang emosi, berdoalah pada Tuhan agar emosi saudara dapat redah, dan berbicaralah saat hati saudara sudah mulai dingin. Pertengkaran membuat kita tidak kerasan dimana kita tinggal, apalagi kalau bertengkar dgn tetangga. Ingat tetangga dan orang-orang di sekeliling kita, setiap hari kita lihat, setiap hari kita berhubungan dengan mereka, jadi janganlah kita bertengkar dgn mrk. Gunakanlah perkataan yang baik utk membangun hubungan yang baik. Jauhi gossip yang hanya akan melukai hati orang. 
  2. Jagalah Tingkah laku kita. Tingkah laku dimulai dari wajah kita, bila wajah kita kelihatannya tidak bersahabat, angkuh atau sombong, maka orang malas dekat dengan kita, tetapi bila wajah kita itu ramah, mudah senyum, penuh kasih maka orang suka bergaul dengan kita. Sikap saling berkunjung ke rumah sesama warga kampung, sangatlah baik utk menjalin hubungan. Sekali lagi janganlah eksklusif, menutup diri. Maunya orang datang ke rumah kita, tetapi kita tidak pernah sowan ke rumah tetangga kita itu. 

Buang segala dosa yang bisa menjatuhkan kita, misalnya dosa perzinahan, perjudian, mabuk-mabukkan. Saya yakin dikampung manapun juga, 3 dosa ini pasti dimusuhi. Kalau ada orang yang berzinah dgn istri tetangganya, atau suami tetangganya, maka pasti kampung itu akan geger, dan masyarakat bisa mengusir orang yang berzinah itu. Kalau ada warga masyarakat suka berjudi, kemudian mengajak para suami untuk berjudi, maka pasti istri-istri dikampung itu akan marah dan akhirnya terjadi pertengkaran dalam keluarga dan kampung menjadi tidak damai. Demikian juga bila para pemuda mabuk-mabukkan, tentu akan mengganggu ketentraman kampung. Sekali lagi mari masing-masing kita bisa menjaga tingkah laku kita dimana kita berada, agar bisa menjadi berkat bagi sesama. 

  1. Bersikaplah ringan tangan membantu sesama kita.   Manusia adalah makhluk social, dia tidak bisa berdiri sendiri. Dia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Untuk itu betapa penting bila kita dapat saling membantu satu sama lain. Jika kita membantu sesama kita, lakukanlah tanpa pamrih, lakukan dengan hati tulus, agar sesama kita senang menerima bantuan kita. Bantuan tidak harus berupa harta, kita bisa membantu tenaga, pikiran, ide-ide utk kemajuan kampung kita. Di dalam Alkitab dikisahkan tentang kehidupan jemaat mula-mula. Mereka hidup saling membantu, yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah, sampai dikatakan seluruh jemaat tidak ada yang kekurangan, melainkan semua berkecukupan. Kehidupan saling membantu adalah kehidupan yang paling menyenangkan, kita akan semakin akrab, kita akan semakin menyatu satu sama lainnya. Bila ada kerja bakti dikampung kita, mari kita turut serta di dalamnya, bila semuanya ringan tangan maka kampung menjadi bersih dan enak dipandang mata, demikian bila ada siskamling dikampung kita, mari kita turut serta menjaga kampung ini. Jikalau kita dapat hidup saling membantu, maka kehadiran kita pasti menjadi berkat tetapi sebaliknya bila kita berat tangan /tidak ringan tangan maka kita pasti tidak akan menjadi berkat. 

Kesimpulan:

Jika ingin jadi berkat maka kita harus:

  1. Jaga perkataan kita
  2. Jaga tingkah laku kita
  3. Hidup saling membantu satu sama lain 
Devosi

JADIKAN HIDUPKU BERARTI

Yesaya 43:4,5: 


Manusia berharga di mata Tuhan: Kaum pria juga begitu berharga di mata Tuhan
Suatu ketika saat seorang pendeta sedang mengajar anak-anak kecil, ada seorang anak kecil bertanya kepada Pendeta, “Pendeta, sedemikian berharganya kah kita sehingga Tuhan Yesus mau berkorban demi kita?” Pendeta itu heran namun akhirnya tersenyum dengan pertanyaan polos dari anak tersebut. Anak itu benar, seberharga apakah kita ini, manusia, sehingga Tuhan Yesus mau datang ke bumi, menderita dan wafat di salib demi kita semua ? Pendeta itu lalu mengeluarkan selembar uang sebesar Rp 50.000,00 lalu memperlihatkannya di depan anak-anak tersebut. Pendeta itu bertanya, “Siapakah di antara kalian yang menginginkan uang ini?” Spontan semua anak mengangkat tangannya sambil berteriak, “Saya! Saya!” Tentu saja, siapa yang tidak mau diberikan uang 50 ribu rupiah gratis? Berapa banyak permen dan snack yang bisa dibeli dengan uang sebesar itu? Pendeta itu lalu meremas uang itu keras-keras, lalu kembali memperlihatkan uang itu pada anak-anak. “Siapakah di antara kalian yang masih menginginkan uang ini?” tanya pendeta itu kembali. “Saya! Saya!” kata anak-anak itu, biar pun penampilannya jelek, uang kan tetap uang. Dirapikan sedikit nanti bagus lagi kok. Uang itu tidak diberikan kepada siapa pun, sebaliknya, uang itu dilemparkan ke tanah, diinjak-injak hingga bercampur dengan debu dan tanah. Uang itu sekarang benar-benar kusam dan kotor. Sekali lagi pendeta itu mengangkat uang itu dan bertanya, “Siapakah di antara kalian yang masih menginginkan uang yang kumel ini?” Pendirian anak-anak itu tidak berubah, biar pun jelek, kotor, toh itu tetaplah uang sebesar 50 ribu rupiah! “Demikianlah nilai kita di mata Tuhan. Sejelek apapun, sebodoh apapun, sekotor apapun, semiskin apapun, betapapun berdosanya kita, Tuhan tidak menganggap kita berbeda. Nilai kita di mata Tuhan begitu besar, bahkan dosa-dosa kita sekalipun tidak menutupi nilai kita di mata Tuhan. Tuhan berusaha agar kita tidak hancur, agar kita tidak lenyap. Karena itu Ia mengutus anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kehancuran.” Karena itu percayalah, sehina apapun kamu di dunia ini, tangan Tuhan tetap terbuka untukmu.”
Manusia berharga dimata Tuhan:
Yesaya 43:4,5: Oleh karena engkau berharga dimataKu dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau…jangan takut sebab Aku ini menyertai engkau..”
Matius 10:30.31:”Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”
Pernah terjadi Tuhan Yesus mengusir roh iblis yang merasuk di dalam diri seseorang, diusir masuk dalam tubuh babi, ada sekitar 2000 ekor babi. Manusia lebih berharga dari pada 2000 ekor babi.







Hukum yang utama dan terutama yaitu Matius 22:37-39, I Kor.13:2:”Sekalipun aku mempunyai karunia utk bernubuat, dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan dan sekalipun aku mempunyai memiliki iman yang sempurna utk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”

Ada dua hal penting bila kita ingin hidup kita ini berarti bagi Tuhan dan sesama:
1.  Mengasihi Tuhan ( berdoa dan menjauhi dosa)
TUHAN AJARKAN SAYA BERDOA
Saya ingin tahu bagaimana berdoa dengan benar?  Tolong beritahu saya apa yang harus dikatakan. Apakah saya harus menundukkan kepala, saya harus berlutut atau saya harus berdiri tegak? Apakah saya harus menutup mata saya, saya harus mengangkat tangan saya, atau haruskah saya melipat tangan? Apakah saya harus berdiri? Atau harus duduk?
Ya Tuhan … manakah yang Kau sukai? Apakah lampu harus dinyalakan? Atau dimatikan? Apakah pakai lilin? Apakah saya harus berbisik atau berteriak? Apakah saya harus mengutip dari firman Tuhan?  Bagaimana dengan masalah waktu? Apakah Kau lebih suka fajar? Apakah saya harus berdoa pendek atau panjang ? Saya masih baru dengan ini, bagaimana aturannya Tuhan? Saya ingin melakukannya dengan benar.
Tuhan menjawab: “Oh, anakKu yang kukasihi. Apakah kau berpikir bahwa Aku sungguh-sungguh peduli mengenai waktunya, mengenai cara berdiri, atau berlutut saat kau berdoa?” “Aku tidak peduli sikapmu atau tempat yang kau pilih. Bukalah jiwamu bagiKu. Aku tidak punya peraturan lain. Beritahu Aku apa yang ada dalam hatimu. Dan beritahu apa yang kau cari. Beri tahu aku kesedihanmu. Dan segala hal yang membuatmu lemah. Bicara padaKu secara pribadi. AnakKu, kamu tidak memerlukan pelajaran. Hanya bicaralah padaKu tiap hari. Katakan padaKu apa pun yang ingin kau katakan. AnakKu tersayang, setiap orang dapat berdoa.”
Kesaksian Sandy Suharjono:
Sudah beberapa kali alami kebangkrutan demi kebangkrutan, sudah 3 kali, Rajin ke paranormal, Berpegang pada 7 berhala, 7 dukun,sdh tdk terhitung berapa kali pergi ke gunung kawi minta kekayaan, Rumah banyak ditanami jimat dan kertas-kertas mantera
Semula ayahnya: berhasil sebagai kontraktor, diberikan proyek ratusan juta rupiah, mobil banyak,kebutuhan sangat mencukupi. Meski begitu hidup kami terasa hampa/ gelap sekali. Setelah itu masalah demi masalah muncul,menggerogoti hingga bangkrut kembali, ludes semua yg diberikan oleh Iblis itu. Bangkit lagi cari dukun lagi, paranormal lagi
Kaya lagi, berikutnya habis lagi. Saya ambil langkah bertobat, saya ajak papa bertobat

2. Mengasihi sesama (tdk egois ttp memikirkan kepentingan orang lain)
I Kor.13:2:”Sekalipun aku mempunyai karunia utk bernubuat, dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan dan sekalipun aku mempunyai memiliki iman yang sempurna utk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”
APAKAH ENGKAU INI YESUS ?
Beberapa tahun yang lalu, sekelompok salesmen menghadiri pertemuan sales di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka akan mempunyai cukup waktu untuk makan malam bersama di rumah pada hari Jumat. Namun, manager sales menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang telah diperkirakan dan pertemuan berakhir lebih lambat daripada yang telah dijadwalkan. Akibatnya, dengan tiket pesawat dan tas mereka ditangan, mereka berlari menerobos pintu airport, tergesa-gesa, mengejar penerbangan mereka pulang. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari para salesman ini tidak sengaja menendang sebuah meja yang digunakan untuk menjual apel. Dan apel-apel itu beterbangan.
Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang, mereka semua akhirnya berhasil masuk ke dalam pesawat dalam detik-dekik terakhir pesawat itu tinggal landas. Semua, kecuali satu. Dia berhenti, menghela napas panjang, bergumul dengan perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk gadis yang menjual apel. Ia berkata kepada rekan-rekannya untuk pergi tanpa dirinya, melambaikan tangan, meminta salah satu temannya untuk menelpon istrinya ketika mereka sampai di tempat tujuan untuk memberitahukan bahwa ia akan mengambil penerbangan yang berikutnya. Kemudian, ia kembali ke pintu terminal yang berceceran dengan banyak sekali buah apel di lantai.
Salesman ini merasa lega ketika ia tiba disana. Gadis yang berumur 16 tahun ini buta! Gadis tersebut sedang menangis sesegukan, air matanya mengalir turun di pipinya, dan gadis itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran di antara kerumunan orang-orang yang bersliweran di sekitarnya, tanpa seorang pun berhenti, atau pun cukup peduli untuk membantunya. Salesman itu berlutut di lantai di sampingnya, mengumpulkan apel-apel tersebut, menaruhnya kembali ke dalam keranjang dan membantu memajangnya di meja seperti semula. Seketika itu, ia menyadari bahwa banyak dari apel-apel itu rusak, dan ia mengesampingkan apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain. Setelah selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, “Ini, ambillah $20 untuk semua kerusakan ini. Apakah kau tidak apa-apa?” Gadis itu mengangguk, masih berlinang air mata. Pria itu melanjutkan dengan, “Saya harap kita tidak merusak harimu begitu parah.” Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, “Tuan…” Pria ini berhenti, dan menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta. Gadis ini melanjutkan, “Apakah engkau Yesus?”
Ia terpana. Kemudian, dengan langkah yang lambat ia berjalan masuk untuk mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus berbicara di dalam hatinya, “Apakah kau Yesus?” 

Mengingatkan bahwa dibalik segala kekuatannya, kehebatannya, kelebihannya, harus ada kasih. Tanpa dasar kasih, maka seorang laki-laki bisa menjadi sombong bila dia berhasil, maka seorang laki-laki bisa sewenang-wenang bila dia punya kedudukan, maka seorang laki-laki bisa memandang rendah orang lain bila dia sukses dstnya. Kasih akan membawa seorang laki-laki dekat kepada Tuhan, kasih akan membawa seorang laki-laki dekat kepada istri dan anak-anaknya, kasih akan membuat seorang laki-laki dekat dgn teman-temannya, dan kasih akan membuat seorang laki-laki jadi berkat bagi semua orang. 

Devosi

JADIKAN HIDUPKU BERARTI

Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan tentang kehidupan kita di dunia ini : 

  1. Hidup ini adalah anugrah Tuhan. Jika saudara dan saya boleh hidup sampai hari ini, semuanya tidak lepas dari anugrah Tuhan. Kita bisa ada dalam kondisi sehat waalfiat, kita bisa bekerja, kita bisa makan dan minum sesungguhnya semuanya adalah anugrah Tuhan. Untuk itu sudah sepatutnya kita manusia menghargai akan hidup yang Tuhan anugrahkan ini, dengan hidup yang berkenan kepada Tuhan.  
  2. Hidup ini adalah satu kesempatan. Ada orang yang diberikan kesempatan hidup 30 tahun, 50 tahun, 70 tahun dstnya. Setiap orang memiliki kesempatan yang berbeda. Untuk itu semasa masih ada kesempatan kita hidup, mari kita gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Banyak orang di zaman ini karena segala permasalahan hidupnya akhirnya tidak lagi menghargai kesempatan hidup yang Tuhan berikan, terbukti mereka melakukan perbuatan bunuh diri. Sekali lagi hargai kesempatan ini dgn memberikan apa yang terbaik bagi Tuhan. Hidup Tuhan Yesus selama dalam dunia hanyalah 33 tahun, tetapi luar biasa Tuhan sudah menggunakan kesempatan hidupNya untuk menjadi berkat bagi banyak orang bahkan bagi seluruh dunia ini. 

Bagaimana cara kita menggunakan kesempatan hidup ini dgn sebaik mungkin ? Pada umumnya orang yang menggunakan kesempatan hidupnya untuk bekerja keras mencari nafkah, membanting tulang, berkeringat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, itu benar, memang kita hidup harus bekerja agar kita bisa makan, pada umumnya juga orang gunakan kesempatan hidupnya untuk belajar dan terus belajar sampai mencapai gelar sarjana, doctor atau professor, itupun tidak salah, karena semakin banyak ilmu kita akan semakin pandai, dan semakin berpengalaman. Tetapi satu hal yang perlu kita sadari uang kita, harta kita, kekayaan kita yang kita perjuangankan di dunia ini tidaklah kekal, kepandaian kita, pengalaman kita, akan berhenti sampai kita mati. Tidak ada satupun yang kekal. Semua hanya sementara saja. 

Tentu dalam hidup ini, kita tidak ingin hanya mengejar hal-hal yang bersifat sementara, kitapun ingin mengejar sesuatu yang bersifat kekal. Apa yang bersifat kekal ? Itulah keselamatan jiwa kita/roh kita. Roh manusia itu kekal adanya. Tubuh akan kembali kepada tanah, tetapi roh kita akan kembali pada penciptanya. Roh inilah yang akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita selama di dalam dunia.  Untuk itu hal pertama dan utama yang harus kita kejar yaitu mencari tahu siapa yang sanggup menyelamatkan roh kita, siapa yang sanggup menyelamatkan hidup kita dimasa akan datang.

I.  Gunakan waktu utk menemukan Juruselamat hidup saudara 

Jikalau saudara belum tahu siapa Juruselamat hidup saudara, maka pada kesempatan ini saya akan memberitahukan kepada saudara melalui Alkitab ini, siapakah Juruselamat hidup ini. Dia adalah Yesus Kristus. Ada banyak perkataan Tuhan Yesus dalam Alkitab yg menegaskan bahwa dirinya adalah Juruselamat dunia. Saya mengutip ada 3 perkataan Tuhan Yesus : 

Firman Tuhan berkata demikian:

  1. Tuhan Yesus berkata:”Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu.., ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yoh.11:5:24)
  2. Tuhan Yesus berkata:”Akulah pintu, barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat..Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh. 10:9)
  3. Tuhan Yesus berkata:”Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya.” (Yoh. 11:25,26)

II. Gunakan waktu untuk beribadah dan menyembah Tuhan Yesus 

Jika kita sudah menemukan siapa Juruselamat hidup kita, selanjutnya gunakan kesempatan hidup ini untuk beribadah kepadaNya, menyembah Dia, memuliakan Dia, mengagungkan Dia. Ketika kita beribadah memuji dan menyembah Tuhan maka Tuhan itu memberkati hidup kita. Ketika kita beribadah maka hidup kita semakin dekat dengan Tuhan, kita mengalami sukacita, damaisejahtera, kekuatan dalam menghadapi segala persoalan di tengah dunia ini. Untuk itu mari kita datang beribadah setiap hari minggu di gereja. Siapkanlah waktu 1-2 jam untuk beribadah kepada Tuhan, maka waktu itu tidak menjadi sia-sia. 

Ayat firman Tuhan:

Ibrani 10:25:”Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” 

III. Gunakanlah waktu hidup saudara untuk melayani Tuhan

Selanjutnya gunakan kesempatan hidup saudara untuk melayani Tuhan. Bagaimana cara kita melayani Tuhan ? Ketika kita menghibur orang yang sedang susah atau berdukacita, maka kita melayani Tuhan, ketika kita mendoakan orang yang sedang sakit, maka kita juga melayani Tuhan, ketika kita menolong orang yg berkekurangan, maka kita juga melayani Tuhan. Ketika kita bisa memperhatikan dan mengasihi orang-orang disekeliling kita, maka itu adalah pelayanan. Hidup yang berarti adalah hdp melayani Tuhan dan sesama kita. Tuhan Yesus berkata:”Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati oleh Bapa, dan dimana pelayananKu berada, disitupun Aku ada.” (Yoh. 12:26) Siapa melayani Tuhan hidupnya senantiasa akan disertai oleh Tuhan. Untuk itu mari kita hdp bukan hanya utk diri sendiri tetapi untuk Tuhan dan sesama kita. 

Nah jika saudara menggunakan kesempatan hidup saudara ini untuk melakukan ketiga hal ini, maka hidup saudara sungguh-sungguh berarti bagi Tuhan dan sesama 

  1. Waktu utk percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat pribadi saudara
  2. Waktu untuk beribadah, dan mendekatkan diri kepada Tuhan 
  3. Waktu untuk melayani Tuhan 

Saudara boleh bekerja keras mencari nafkah, saudara boleh sekolah setinggi mungkin, tetapi jangan lupakan waktu utk ketiga hal ini. Dengan demikian saudara akan selamat baik didunia ini maupun diakhirat kelak. 

Devosi

BUAH ROH PENGUASAAN DIRI

Dalam dunia kepemimpinan bgm caranya menguasai orang lain untuk tunduk pada kepemimpinan kita. Mungkin seorang pemimpin bisa saja berhasil mempengaruhi atau mengusai orang lain, tetapi pertanyaannya apakah seorang pemimpin mampu menguasai dirinya sendiri. Fakta membuktikan, banyak orang mudah menguasai orang lain, tetapi sulit menguasai diri sendiri, banyak orang mudah mengatur orang lain, tetapi sulit mengatur dirinya sendiri. Padahal  seharusnya sebelum kita bisa menguasai orang lain, kita harus bisa menguasai diri kita sendiri. 

Untuk itu buah penguasaan diri adalah satu buah roh yang paling sulit diwujudkan dalam hidup kita ini. Dalam Alkitab kita ada satu pribadi yang sangat sukses dalam hal penguasaan diri, itulah Tuhan kita Yesus Kristus. Penguasaan diriNya teruji disaat Dia menghadapi masa-masa sengsara. Mulai dari taman Getsemani sampai diatas kayu salib, Tuhan Yesus dapat menguasai lidahnya dari perkataan-perkataan yang mengutuk, dapat menguasai hatinya, menguasai pikirannya untuk menjalankan misinya  yaitu menyelamatkan manusia berdosa. Firman Tuhan dalam Yesaya 53 : 7:”Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diriNya ditindas dan tidak membuka mulutNya, seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian, seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutNya.” Umumnya kita  manusia akan mengeluarkan kata-kata kotor atau makian bila kita menderita atau tubuh kita disakiti, tetapi Yesus sama sekali tidak mengutuk atau membalas orang-orang yang menyakiti Dia, malah Dia berkata:Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidask tahu apa yang mereka perbuat.” 

Apakah yang perlu kita kuasai ?

  1. Menguasai hati dan pikiran kita. Bagian yang paling central dari hidup kita yaitu hati dan pikiran. Jika kita bisa kuasai hati dan pikiran kita, maka kita bisa kuasai seluruh aktifitas tubuh kita. Hati dan pikiran itu mirip kemudi kapal yang kecil tetapi bisa menggerakkan kapal yang besar. Pengamsal berkata:”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Matius 15:19:”Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” diri kita. Baru-baru ini saya  nonton di TV seorang Ibu yang dibakar oleh suaminya, untuk masih bisa tertolong oleh tetangganya. Kisahnya sepele, waktu tiba saatnya untuk saur, si istri bangunkan suaminya, ajak saur, tetapi suaminya mengantuk krn biasa tidur malam, sang istri minta ditemani saur, sang suami marah, pergi ke dapur lempar piring yg sdh berisi saur, sang istri marah, akhirnya sang suami pergi ke dapur ambil minyak tanah, dan siram istrinya lalu bakar. Ketika tetangga datang, sang suami berkata istrinya bunuh diri, padahal tidak demikian. Masalah bukan mengantuk, nggak mau diganggu. 

Ada seorang ayah, waktu itu ia sedang asyik nonton TV, kemudian muncul anaknya yang balita (umur 3 tahun). Anak itu hilir mudik di depan TV. Sang ayah tidak bisa kuasai diri, apa yang terjadi anak itu dibenturkan ketembok hingga terjadi pendarahan dan meninggal. Ada juga seorang pemuda yang cemburu terhadap mantan pacarnya yang sedang berpacaran dengan pria lain. Karena jengkel merasa sakit hati, maka ketika sang mantan pacar itu keluar dari gedung bioskop bersama pacar barunya, maka pemuda ini melepaskan sebuah bom yang meledak dan menewaskan semua orang di sekelilingnya termasuk dirinya sendiri.  Masih ada banyak fakta dalam hidup sehari-hari yang menunjukkan betapa manusia sering rapuh dalam menguasai dirinya sendiri. 

Aplikasi: 

Demikian juga saudara dalam kehidupan kita berjemaat, hendaknya kita dapat menguasai hati kita dan pikiran kita, agar tidak dikuasai oleh emosi, misalnya pada waktu kita sedang rapat pengurus atau rapat majelis, bisa saja terjadi perbedaan pendapat tetapi kita harus saling merendahkan hati. Dalam hidup berumahtangga, tidak jarang terjadi perbedaan pendapat antara suami dan istri, orang tua dengan anak, menantu dan mertua, tetapi hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin. 

  1. Menguasai perkataan kita. Selain hati dan pikiran, maka lidahpun sering digambarkan seperti kemudi kapal, dia bisa menggerakan kapal yang besar. Dengan lidah manusia bisa memuji Tuhan tetapi dengan lidah juga manusia bisa berbuat dosa. Ada banyak dosa yang dilakukan oleh lidah, tetapi sore ini saya ambil contoh satu saja yaitu Lidah dusta. Ada 4 orang anak sekolah sepakat untuk membolos pelajaran pagi, krn ada pelajarannya sulit dan mrk sendiri memang malas belajar. Padahal pelajaran pagi itu sedang diadakan ulangan. Mrk sepakat untuk berbohong. Sesampai dikelas guru bertanya:”Kenapa kalian terlambat dan tidak mengikuti ulangan tadi pagi ? Mrk jawab: ban mobil yang kami tumpangi bocor pak. Oke kalau itu kejadiannya: sekarang ambil pensil dan kertas, tulis pertanyaan pertama : ban sebelah manakah yang bocor. Mrk terjebak dgn pertanyaan itu, sebab tidak kesepakatan ttg itu. Akhirnya ketahuan kalau mereka bohong. Betapa mudah dan betapa gampangnya lidah kita ini berkata-kata dusta, tidak sebenarnya. Banyak orang berdusta, karena ingin menyelamatkan dirinya sendiri, ingin mencari untung bagi dirinya sendiri. 

Aplikasi: 

Dalam dunia bisnis, masalah dusta atau bohong itu sudah biasa, kalau tidak bohong tidak akan cepat kaya. Ada orang berkata: Jangan terlalu jujur kalau lagi berbisnis. Hubungan suami-istri juga seringkali rusak, karena muncul ketidakjujuran, tidak terbuka satu sama lain. Suami berkata: Aku pergi tugas keluar kota, tetapi kenyataannya tidur dihotel dgn wanita lain. Si anak berkata: aku mau pergi belajar sama teman-teman tetapi malah kloyongan ke tempat-tempat hiburan. Kalau sudah begini keadaannya maka rumah tangga akan hancur. Mari kita kuasai lidah kita, agar berkata hal-hal yang benar.  Firman Tuhan berkata:”Siapa bisa kuasai lidahnya, dia adalah orang yang sempurna.” 

  1. Menguasai perbuatan kita. Bila hati dan pikiran kita serta perkataan bisa dikuasai dengan baik, maka perbuatan kitapun akan menjadi baik. Tetapi kalau hati dan pikiran serta lidah kita tidak bisa dikuasai, maka perbuatan kita pasti buruk. Paulus dengan jujur berkata:”Aku manusia celaka. Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini ? Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa  yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci itulah yang aku perbuat.” (Roma 7:24,15) Kejadian 6:5,6:”Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hatiNya.” Dari kedua ayat ini jelas bahwa perbuatan manusia cenderung jahat, bgm kita bisa menguasai perbuatan kita ? Ada seorang gadis : Yuni Megawati, dia seorang aktivis gereja, suatu hari berurusan dengan polisi karena ketahuan mengkonsumsi pil koplo dan ganja. Gadis ini cantik, umur 20 tahun. Perkenalan Yuni dengan pil koplo itu dimulai ketika dia bertemu dengan Ashar di Diskotik Callypso Surabaya. Dari bujuk rayu Ashar maka Yuni sedikit demi sedikit berani mengkonsumsi pil itu. Selain itu dia juga terjerumus dalam pelacuran shg dikenal sbg cewek gopekan. Hati-hati saudara pergaulan yang buruk bisa merusakkan kebiasaan yang baik. Ada dua orang sahabat yang sama-sama punya hobby pelihara burung beo. Yang satu dibeli dari orang Kristen, yang lain diberi dari orang dunia. Burung beo milik orang Kristen itu mengatakan hal-hal yang baik:”Puji Tuhan..Puji Tuhan. Tetapi burung beo yang satu lagi berkata:” Sialan lu, sialan lu. Kemudian temannya yang beli dari orang dunia itu tawarkan agar burungnya disatukan dgn burung kristen itu, dgn harapan bisa keluar kata puji tuhan, tetapi apa yang terjadi setelah 1 minggu: keluar kata: sialan luh, sialan luh. 

Caranya hidup menguasai diri:

Galatia 5:16,17: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keingina daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keingina Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging

Galatia 5:19-21: Perbuatan daging telah nyata yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya

Galatia 5:24:”Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”

Contoh hidup dalam Roh:

Hidup dalam doa, dalam membaca firman dan menaatinya, beribadah serta bersaksi akan kasih Kristus. 

Devosi

KEBENARAN KUNCI KEBERHASILAN

HIDUP BENAR MENURUT KITAB MAZMUR 

Tekad hidup dalam kebenaran :

Bawalah aku berjalan dlm kebenaranMu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkanku (Maz. 25:4,5)

Ciri /sifat orang benar:

  1. Tetapi orang benar ialah pengasih dan pemurah (Maz. 37:21)
  2. Mulut orang benar mengucapkan hikmat dan lidahnya mengatakan hukum, Taurat Allah ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah (Maz. 37:30,31)

Sikap Tuhan terhadap orang benar:

  1. Mata Tuhan tertuju pada orang benar, dan telingaNya kepada teriakan mereka minta tolong (Maz. 34:16)
  2. Apabila orang-orang benar itu berseru maka Tuhan mendengar dan melepaskannya mrk dari segala kesesakannya (Maz. 34:18)
  3. Tuhan memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku (Maz. 18:21,25)
  4. Siapakah yang boleh naik keatas gunung Tuhan, yg boleh berdiri di tempat kudusNya ? Yaitu orang yang bersih tangannya dan murni hatinya dan tdk menyerahkan dirinya kpd penipuan dan tidk bersumpah palsu (Maz. 24:3,4)
  5. Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya, apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopangnya (Maz. 37:24)

Berkat bagi orang benar:

  1. Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya, apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopangnya (Maz. 37:24)
  2. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan atau anak cucunya meminta-minta roti, tiap-tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman dan anak cucunya menjadi berkat (Maz. 37:25, 26)
  3. Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras Libanon… pada masa tuapun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan padaNya (Maz. 92:13,15,16)
  4. Orang-orang benar diselamatkan oleh Tuhan; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan. Tuhan menolong mereka dan meluputkan mereka dari tangan orang fasik dan menyelamatkan merka sebab mrk berlindung padaNya (Maz. 37:39,40) 
  5. Tetapiorang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.(Maz. 68:4)
  6. Orang benar itu akan diingat selama-lamanya (Maz. 112:6b)

Laki-laki yang benar di hadapan Tuhan :

Mau bekerja keras bagi keluarganya. Sup 1, 55-56

Memiliki disiplin rohani dalam hidupnya 

Dosa yang disembunyikan membawa maut hal. 109 sup 2

Jangan membiarkan dirimu diperbudak oleh dosa hal. 222 sup 2

Dosa halangi berkat Tuhan hal. 124-125 hikmah

Tinggalkan kebohongan, penipuan, egois, Keegoisan manusia menyengsarakan orang lain hal. 127-128 sup 2 Saling memangsa/ saling menggigit hal. 31-32 hikmah

Emosi, Kemarahan yang merugikan sup 1 hal. 197

Bisa menghargai pengorbanan Tuhan dalam hidupnya 

Keputusan bisa berubah karena uang berbicara hal. 22-23 hikmah

Hidup berpusat kepada Kristus, hal. 36-37 sup 2

Tahun baru hidupnya baru : bahas ttg hidup baru dan hidup lama 

Hidup dalam iman Iman harus dibuktikan dgn perbuatan hal. 20-21 sup 2

Iman harus nyata dalam perbuatan hal. 113-114 hikmah

Perkataan kita baik positif atau negatif akan mempengaruhi seluruh hidup kita, syaraf-syarat kita dan tindakan kita, demikian bila kita pegang firman Tuhan, maka firman itu akan berkuasa dalam hidup kita hal. 123-124 sup 2

Perkataan yang tepat membawa keberuntungan sup 1 hal. 83-84

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya membawa berkat hal. 63-65 hikmah

Benar dalam keluarga Sediakan waktu bagi anak-anak kita, jangan hanya menyibukkan dgn urusan pribadi kita hal. 97 embun Seorang anak remaja sangat benci kepada ayahnya karena ayahnya pemabuk berat di kotanya,  anak remaja itu malu ketika teman-temannya mengolok-olok papanya, namun setelah anak remaja itu menerima Tuhan Yesus dalam hatinya, akhirnya dia bisa mengampuni ayahnya hal. 172-173 embun Keluarga yang kuat yaitu keluarga yang mampu berpegang pada janji pernikahan mereka untuk sehidup semati, sekalipun ada badai menerpa pernikahan mereka, mereka akan tetap kuat dalam Tuhan hal. 198-199 embun

Penghargaan terhadap istri akan membangkitkan rasa percaya diri sang istri , jgn hanya hargai istri dengan materi tetapi hargai dia sebagai anak Tuhan hal. 265 embun Orang tua tidak beri teladan, anak tersesat dan mempermalukan orang tuanya sendiri hal. 82-83

Tunda untuk bertobat adalah pekerjaan setan hal. 89,90

Lakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan buka semata-mata untuk diri sendiri hal. 122-123 hikmah

Benar dalam pekerjaan 

Cintailah pekerjaanmu sup 1 hal. 201-202

Berhasil mulai dari bawah hal. 29-30 sup 2

Beda bekerja dengan terpaksa dan bekerja dengan senang hati hal. 222-223 sup 2

Keuletan kunci keberhasilan hal. 4-6 sup 2

Miliki komitmen yang tinggi terhadap Yesus hal. 91-92 hikmah

Tidak kompromi sup 1 hal. 88-89

3 tipe manusia sup 1 hal. 117

Tiga macam orang sup 1 hal. 117

4 temperamen dasar sup 1 hal. 118-119

Apa yang dapat menolong laki-laki itu berjalan dalam kebenaran:

Doa ,contoh: Daniel, Sadrakh, Mesak dan Abednego . Doa yang benar: Tuhan ubahlah diriku baru ubahlah orang lain melalui aku hal. 72-73 sup 2. Doa seorang ayah sup 1 hal. 202-203

Berdoa untuk mengubah dunia dan orang lain, tetapi sayang tidak berdoa untuk mengubah dirinya sendiri hal. 58 buku 111,

Sekalipun mengalami kebangkrutan, dia tetap rajin bersekutu dengan Tuhan, bangun pagi jam 05.45 untuk kontak dgn Tuhan hal. 82-83 embun

Pemutaran film kesaksian ttg usaha yg tidak beres