Devosi

KEBERHASILAN RAJA YOSAFAT

II Tawarikh 17-21

Siapakah Yosafat itu ? 

Yosafat berumur 35 tahun pada waktu ia menjadi raja dan 25 tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia hidup mengikuti jejak ayahnya Asa, ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata Tuhan (20:31-32)

Alur cerita kisah Raja Yosafat: 

Yosafat hidup sesuai iman orang tua dan leluhurnya:

Tuhan menyertai Yosafat karena dia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud bapa leluhurnya dan tidak mencari baal-baal, melainkan mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah ayahNya dan tidak berbuat seperti Israel. (17:3-4) Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala (17:6) 

Berkat ketaatan Yosafat: 

Oleh sebab itu Tuhan mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya. Seluruh Yehuda memberikan persembahan kepada Yosafat sehingga ia menjadi kaya dan sangat terhormat (17:5)

Yosafat semakin serius dengan firman Tuhan: 

Pada tahun ketiga pemerintahannya ia mengutus beberapa pembesarnya, …. Untuk mengajar di kota-kota Yehuda. Bersama-sama mereka turut juga beberapa orang Lewi, yakni Semaya, Netanya, Zebaja, Asael, Semiramot, Yohantan, Adonia, Tobia dan Tob Adonia disetai imam-uimam Elisama dan Yoram. Mereka memberikan pelajaran di Yehuda dengan membawa kitab Taurat Tuhan. Mereka mengelilingi semua kota di Yehuda sambil mengajar rakyat (17:7-9)

Berkat dari keseriusan dan ketaatan Yosafat akan firman Tuhan: 

Diberi Wibawa Ilahi dan rezeki melimpah. Ketakutan yang dari Tuhan menimpa semua kerajaan di negeri-negeri sekeliling Yehuda, sehingga mereka tidak berani berperang melawan Yosafat (7:10) Dari antara orang-orang Filistin ada yang membawa kepada Yosafat persembahan, dan perak sebagai upeti. Juga orang-orang Arab membawa kepadanya kambing domba, domba jantan 7700 ekor,dan kambing jantan 7700 ekor. Yosafat makin lama makin kuat. Di Yehuda ia membangun benteng-benteng dan kota-kota perbekalan. Banyak pembekalannya di kota-kota Yehuda (17:10-13)

Militer dan keamanan terjamin. Orang-orang perangnya ada di Yerusalem, semuanya pahlawan yang gagah perkasa (17:13-19)

Ketidaktaatan Yosafat dan akibatnya:

Yosafat bersekutu dengan raja Israel yang tidak mau dengar firman Tuhan yang sesungguhnya. 

Yosafat bersekutu dengan raja Ahab utk menyerang Ramot Gilead. Yosafat minta petunjuk pada nabi Tuhan, Ahab memanggil 400 nabi untuk bernubuat, tetapi sayang mereka semua adalah nabi palsu. Ada satu nabi benar yaitu nabi Mikha, tetapi Ahab membencinya dan tidak mau mendengar nubuatannya. Semula Yosafat tegur raja Ahab karena tidak mau dengar nasehat nabi Mikha, tetapi keputusan terakhir ternyata Raja Yosafat ikut berperang melawan Ramot Gilead. Disinilah nampak bahwa raja Yosafat tidak mengikuti perintah Tuhan. 

Dalam peperangan raja Israel menyamar, sedang raja Yosafat pakai pakaian kebesarannya. Musuh sudah dikhususkan utk menyerang raja Israel, Yosafat dikepung, Yosafat berteriak kepada Tuhan dan Tuhan menolongnya, Allah membujuk musuhnya pergi dari Yosafat (18:28-31) 

Seseorang menarik panah dan menarik sembarangan saja dan mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. Pertempuran bertambah seru sampai raja Israel itu mati, ketika matahari terbenam. (18:33-34) 

Yehu (pelihat / nabi Tuhan) berkata kepada Yosafat:”Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci Tuhan ? Karena hal itu Tuhan murka terhadap engkau. Namun masih ada hal-hal yang baik padamu, karena engkau menghapuskan tiang-tiang berhala dari negeri ini dan mencari Allah dengan tekun.” (19:2-3)

Pertobatan Yosafat: 

Yosafat diam di Yerusalem. Ia mengadakan kunjungan ke daerah-daerah dari Bersyeba sampai ke pegunungan Efraim, sambil menyuruh rakyat berbalik kepada Tuhan, Allah nenek moyang mereka (19:4) 

Yosafat juga mengangkat hakim-hakim di seluruh kota di Yehuda, dan berpesan kepada mereka :”Pertimbangkanlah apa yang kamu buat, karena bukanlah untuk manusia kamu memutuskan hukum, melainkan untuk Tuhan, yang ada beserta kamu, bila kamu memutuskan hukum. Sebab itu, kiranya kamu diliputi oleh rasa takut kepada Tuhan. Bertindaklah dengan seksama, karena berlaku curang, memihak atau menerima suap tidak ada pada Tuhan Allah kita.” (19:5-7)

Di Yerusalem, Yosafat juga mengangkat beberapa orang dari antara orang Lewo dan para imam dan paar kepala puak Israel untuk memberi keputusan dalam hal hukum Tuhan dan dalam hal perselisihan. Ia memerintahkan:” Kamu harus bertindak dengan takut akan Tuhan, dengan setia dan dengan tulus hati..” Bertindaklah dengan tegas, kiranya Tuhan menyertai orang yang tulus ikhlas (19:8-9,11c)

Akibat pertobatan Yosafat : Tuhan tolong Yosafat hadapi musuh

Setelah pengangkatan hakim-hakim itu, bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat. Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom (20:1-2)

Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada Tuhan. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari Tuhan. (20:3-4)

Doa Yosafat di tengah-tengah rakyatnya:”Ya Tuhan Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga ? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa ?Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tanganMu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau. (20:6)

Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka ? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang kami harus lakukan, tetapi mata kami tertuju kepadaMu.” (20:12) 

Yahaziel, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh Tuhan di tengah-tengah jemaah. Dan berseru :”beginilah firman Tuhan kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu dan lihatlah bagaimana Tuhan memberi kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, Tuhan akan menyertai kamu.” (20:14,15,17)

Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan Tuhan dan menyembah kepadaNya. (20:18)

Kemudian orang Lewi dari bani Kehat dan bani Korah bangkit berdiri untuk menyanyikan puji-pujian bagi Tuhan, Allah Israel, dengan suara yang sangat nyaring. (20:19) 

Ketika mereka hendak berangkat berperang maka Yosafat berkata:”Dengar hai Yehuda dan penduduk Yerusalem ! Percayalah kepada Tuhan, Allahmu dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabiNya dan kamu akan berhasil !” (20:20b) 

Setelah itu Yosafat mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk Tuhan dan memuji Tuhan dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata:”Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi Tuhan, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya ! (20:21) 

Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. (20:22) 

Lalu bani Amon dan berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan membinasakan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir,mereka saling bunuh membunuh (20:23)

Ketika orang Yehuda tiba di tempat peninjauan di padang gurun, mereka menengok ke tempat laskar itu. Tampaklah semua telah menjadi bangkai berhantaran di tanah, tidak ada yang terluput (20:24) 

3 hari lamanya mereka menjarah barang-barang milik musuhnya (20:25) 

Pada hari ke-4 mereka berkumpul di lembah pujian. Disana mereka memuji Tuhan, lalu pulanglah mereka ke Yerusalem dengan sukacita, mereka masuk ke Yerusalem dengan gambus dan kecapi dan nafiri lalu menuju ke rumah Tuhan (20:26-28)

Ketakutan yang dari Allah menghinggapi semua kerajaan negeri-negeri lain, ketika mereka mendengar bahwa Tuhan yang berperang melawan musuh-musuh Israel (20:29)

Dan kerajaan Yosafat aman, karena Allah mengaruniakan keamanan kepadanya di segala penjuru (20:30)

Yosafat jatuh lagi dan akibatnya

Yosafat bersekutu dengan Ahazia, raja Israel yang fasik perbuatannya. Ia bersekutu dalam membuat kapal-kapal yang dapat berlayar ke Tarsis. Eliezer bin Dodawa bernubuat terhadap Yosafat:”Karena engkau bersekutu dengan Ahazia, maka Tuhan akan merobohkan pekerjaanmu.” Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tidak dapat berlayar ke Tarsis (20:35-37)

Ringkasan alur cerita:

Yosafat hidup sesuai iman orang tua dan leluhurnya:

Yosafat diberkati 

Yosafat serius dengan firman Tuhan dengan mengajarkan secara luas

Diberkati lagi secara melimpah 

Yosafat tidak taat pada perintah Tuhan 

Yosafat gagal dalam peperangan 

Yosafat bertobat

Yosafat menang atas laskar yang begitu besar

Yosafat jatuh lagi : bersekutu dgn raja yang fasik 

Usaha kapalnya jatuh 

Kehidupan Raja Yosafat sering menjadi kehidupan kita dalam mengikut Tuhan, grafiknya naik turun: 

Sebentar menjelang Natal, semangat datang kegereja, selesai Natal sepi lagi, sebentar mau Paskah semangat lagi, selesai Paskah sepi lagi. Paskah tahun ini, pagi yang datang 100 lebih, sore 200 orang, selesai Paskah yang datang pagi 60 orang, sore 30 orang langsung melorot. Saya pikir-pikir, ini namanya demam Paskah. 

Sebentar selesai KKR semangat lagi, setelah lama tidak ada KKR loyo lagi. 

Sebentar ditolong Tuhan, doa dijawab rajin datang kepada Tuhan, saat doa tidak dijawab-jawab dan masalah terus silih berganti, mundur lagi. 

Hidup kita lebih banyak ditentukan oleh situasi, bukan oleh tekad bulat untuk menaati firman Tuhan. 

Orang Kristen yang benar adalah:

Saat hidupnya lancar-lancar saja, tetap rajin datang pada Tuhan, saat hidupnya mulai sulit penuh tantangan, semakin kuat dengan Tuhan 

Saat hidupnya menyenangkan tetap mencari Tuhan, saat hidup mulai tidak menyenangkan semakin giat mencari Tuhan

Saat tidak ada pencobaan, dekat dengan Tuhan, saat hidup di tengah-tengah pencobaan semakin dekat dengan Tuhan. 

Ingat Tuhan bertindak sesuai alur kita, jadi bila kita tidak beres, anda rugi sendiri. Kalau anda terus beres maka Tuhan akan terus memberkati hidup kita. Ini prinsip firman Tuhan. Tuhan akan ladeni saudara/layani saudara sesuai sikap saudara terhadap Dia. 

Dari kisah Raja Yosafat ini dapat kita tarik beberapa prinsip hidup yang diberkati Tuhan :

  1. Hidup mencari Tuhan, mencari firmanNya, serius mengajarkannya, menaatinya  
  2. Takut akan Tuhan menjadi nomer satu dalam hidup
  3. Hidup selalu memuji Tuhan dalam suka maupun duka

Pujian Penutup:

Saya mau iring Yesus 2x

Sampai slama-lamanya

Meskipun saya susah

Menderita dalam dunia 

Saya mau iring Yesus 

Sampai slama-lamanya

Devosi

RAHASIA KEBERHASILAN RAJA HIZKIA

2 Tawarikh 29-32; II Raja 18-20 (baca 2 Raja 18:1-8)

Pendahuluan : 

Umur 25 tahun jadi raja, 29 tahun lamanya dia memerintah di Yerusalem. (29:1)

Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya (29: 2) Ia berpaut kepada Tuhan, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah Tuhan yang telah diperintahkanNya kepada Musa. Maka Tuhan menyertai dia, kemanapun ia pergi berperang. Ia beruntung. 

Sebaliknya ayahnya yaitu Raja Ahas  tidak melakukan apa yang benar di mata Tuhan, seperti Daud leluhurnya, tetapi ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel. Yaitu mempersembahkan  anaknya sebagai korban dalam api (anak jadi tumbal), ia mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon (II Raja 16:1-4) 

Refleksi bagi kita:

Memang ada pepatah mengatakan demikian: buah tidak akan jatuh, jauh dari pohonnya. Artinya: apa yang diperbuat oleh anak, pasti tidak jauh beda dgn yang diperbuat oleh ayahnya. Kalau Bapaknya dukun,ya nggak heranlah anaknya juga bias jadi dukun, kalau Bapaknya suka mabuk-mabukkan, anak juga bias jadi pemabuk, kalau bapaknya suka main perempuan, ya nanti anaknya pasti suka main perempuan, kalau bapaknya suka ngomong kasar, ya nantinya juga suka ngomong kasar. Alasan ini bisa masuk akal. Karena pengaruh keluarga itu memang kuat. Tetapi hal ini tidak terjadi pada diri raja Hizkia. Sekalipun ayahnya hidup tidak takut Tuhan, Hizkia tetap berusaha hidup takut akan Tuhan. Ikut Tuhan itu adalah keputusan pribadi. Bertobat itu adalah keputusan pribadi. Taat pada Tuhan itu adalah keputusan pribadi. Keputusan yang benar, akan membawa berkat besar dalam hidup kita. Tetapi keputusan yang salah, akan membawa hukuman atas hidup kita. 

Langkah pertama: Menyucikan Yehuda dari penyembahan berhala 

Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan (II Raja 18:4)

Langkah kedua : Membangun kembali ibadah yang murni kepada Tuhan 

Pada tahun pertama pemerintahannya, dalam bulan yang pertama, ia membuka pintu-pintu rumah Tuhan dan memperbaikinya (29:3) 

Dosa nenek moyang: abaikan ibadah : 

Hizkia minta agar para imam dan orang Lewi menguduskan rumah Tuhan,sebab nenek moyang mereka telah berubah setia kpd Tuhan. Mereka telah menutup pintu-pintu balai rumah Tuhan dan memadamkan segala pelita. Mereka tidak membakar korban ukupan dan tidak mempersembahkan korban  bagi Allah, sehingga murka Tuhan menimpa Yehuda dan Yerusalem. Mereka tewas oleh pedang, anak dan istrinya menjadi tawanan musuh (29:5-9) 

Refleksi:

Tuhan tidak ingin kita mengabaikan ibadah kepadaNya dengan alasan apapun juga. Istilah murka menunjukkan bahwa Tuhan tidak akan memberkati hidup orang yang meninggalkan ibadah. Sekalipun orang itu berdoa, saya yakin Tuhan tidak akan mendengarkan doa orang itu. Ada seorang ibu yang sudah lama tidak ke gereja, saya kunjungi dan ajak dia lagi ke gereja, dia jawab : saya berdoa di rumah khan sama saja. Lalu saya jawab, betul Tuhan ada dimana-mana. Di rumah juga ada, di gereja juga ada, dan lain-lain, tetapi datang ke gereja itu perintah Tuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bila berdoa, tetapi ibu tidak taat pada perintah Tuhan, maka doa itu tidak akan dijawab oleh Tuhan. Tuhan berkata demikian: “Sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yes. 59:1-2)  

Langkah ketiga: Membangun ibadah yang kudus dan penuh kerinduan 

Hizkia melakukan penyucian terhadap rumah Tuhan: 

Hizkia bermaksud mengikat perjanjian dengan Tuhan, supaya murka yang menyala-nyala itu undur dari mereka. (29:10) 

Orang Lewi mereka mengumpulkan saudaranya, menguduskan dirinya kemudian datang menuruti perintah raja, lalu mentahirkan rumah Tuhan (29:12-15)

Rumah Tuhan selesai di kuduskan selama 8 hari (29:17) 

Pengudusan sama halnya dengan menjaga kebersihan rumah Tuhan. Semua perkakas, yang ada di dalam rumah Tuhan dibersihkan (29:18-19)

Hizkia melakukan penyucian terhadap dosanya, keluarganya, dan rakyatnya 

Setelah pengudusan selesai, maka pagi-pagi raja Hizkia mengumpulkan pemimpin-pemimpin kota dan pergi ke rumah Tuhan. Raja mempersembahkan korban bakaran untuk korban penghapus dosa untuk keluarga raja, untuk tempat kudus, dan untuk Yehuda. (29: 20-24)

Hizkia memerintahkan untuk melakukan pujian dan penyembahan kepada Tuhan: 

Hizkia menyuruh orang-orang Lewi memainkan ceracap, gambus dan kecapi,  sementara korban bakaran dibakar, mereka mulai menyanyi diiringi alat musik. Seluruh jemaat sujud menyembah, semua berlangsung sampai korban bakaran habis terbakar. Sehabis korban bakaran dipersembahkan , maka raja dan semua orang yang hadir bersama-sama berlutut dan sujud menyembah. Jadi mereka menyanyikan pujian dengan sukaria, lalu berlutut dan sujud menyembah.(29:25-30) 

Hizkia merayakan Paskah

Hizkia merayakan Paskah, Hizkia mengirim pesan kepada seluruh Israel dan Yehuda, bahkan menulis surat kepada Efraim dan Manasye supaya mereka datang merayakan Paskah bagi Tuhan, di rumah Tuhan di Yerusalem. (30:1)

Isi surat Hizkia kepada seluruh Israel demikian:

Hai orang Israel, kembalilah kepada Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, maka Ia akan kembali kepada kamu. Janganlah berlaku seperti nenek moyangmu dan saudaramu yang berubah setia terhadap Tuhan, sehingga Tuhan membuat mereka menjadi kedahsatan seperti yang kamu lihat sendiri. Sekarang janganlah tegar tengkuk seperti nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada Tuhan dan datanglah ke tempat kudus, beribadahlah kepadaNya supaya murkaNya yang menyala-nyala undur dari padamu. (30:6-9)

Maka berkumpullah di Yerusalem banyak orang, suatu jemaah yang sangat besar, untuk merayakan hari raya Roti tidak beragi. (30:13)

7 hari lamanya orang Israel berada di Yerusalem merayakan perayaan Paskah itu dengan kesukaan besar, sedang orang Lewi dan para imam setiap hari menyanyikan puji-pujian bagi Tuhan dengan sekuat tenaga. (30:21)

Seluruh jemaat sepakat untuk berhari raya 7 hari lagi. Mereka berhari raya 7 hari lagi dengan sukaria. (30:23)

Besarlah kesukaan di Yerusalem, karena sejak Salomo bin Daud, raja Israel, tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu di Yerusalem. (30:26) 

Para imam dan orang Lewi bangun berdiri dan memberkati rakyat. Suara mereka di dengar Tuhan dan doa mereka sampai ke tempat kediamanNya yang kudus di sorga (30:27)

Setelah perayaan itu, maka seluruh orang Israel, meremukkan segala tugu berhala, menghancurkan segala tiang berhala dan merobohkan segala bukit pengorbanan di seluruh Yehuda dan Benyamin, juga di Efraim dan Manasye sampai musnah semuanya (31:1) 

Langkah keempat : membangun kerelaan berkorban bagi pekerjaan Tuhan. 

Hizkia menetapkan rombongan imam dan orang Lewi, Hizkia kembali menetapkan tugas-tugas mereka yaitu mempersembahkan korban bakaran, korban keselamatan, mengucap syukur, menyanyikan pujian dan melayani di pintu-pintu gerbang 

Hizkia memberikan sumbangan dari harta miliknya untuk korban bakaran pada waktu pagi, petang, pada hari Sabat, bulan baru, hari-hari raya yang semuanya tertulis di Taurat 

Hizkia memerintahkan rakyat untuk memberi sumbangan yang jadi bagian imam dan orang Lewi, supaya mereka dapat curahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat Tuhan (31:4), Rakyat membawa persembahan sampai berlimpah-limpah, sampai para imam dan orang Lewi makan sampai kenyang dan masih sisa. Semua Keluarga imam dan orang Lewi tercukupi (31:5-10)

Langkah kelima: Mengandalkan Tuhan dalam hadapi tantangan hidup

Tantangan Hizkia:

Sanherib raja Asyur menyerbu Yehuda (32:1) 

Utusan Sanherib, pengaruhi rakyat agar tidak turuti Hizkia atau Allahnya Hizkia, dengan alasan bahwa tidak ada  allah bangsa-bangsa bisa bebaskan mereka dari tangan raja Sanherib. 

Langkah Hizkia hadapi Sanherib:

Menutup mata air

Membangun tembok yang runtuh 

Mendirikan menara-menara

Membuat banyak lembing dan perisai dalam jumlah besar 

Angkat panglima-panglima perang 

Kuatkan hati para panglimanya dengan perkataan bahwa yang menyertai kita jauh lebih besar. Rakyat mendapat kepercayaan mereka kembali (32:7-8) 

Akibat andalkan Tuhan: 

Aku Tuhan akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud hambaKu. Maka pada malam itu keluarlah Malaikat Tuhan, lalu dibunuhNyalah 185 ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi benar tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka (II Raja 19:34-35) 

Raja Hizkia dan nabi Yesaya bin Amos berdoa dan berseru kepada sorga. Lalu Tuhan mengirim malaikat yang melenyapkan semua pahlawan yang gagah perkasa, pemuka dan panglima yang ada di perkemahan raja Asyur, sehingga ia kemalu-maluan kembali ke negerinya. Kemudian ia ditewaskan dengan pedang oleh anak-anak kandungnya sendiri (32:20,21)

Berkat yang menyertai ketaatan dan kesetiaan Hizkia:  Doa di dengar oleh Tuhan 

Hizkia jatuh sakit, sehingga ia hampir mati. 

Tuhan berkata lewat nabi Yesaya bin Amos:”Beginilah firman Tuhan: sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” Lalu Hizkia berdoa:”Tuhan ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan tulus hati dan bahwa Aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.” Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. Kemudian Tuhan balik berkata lewat nabi Yesaya:”Telah kudengar doaMu dan telah Kulihat air matamu, sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau, Aku akan memperpanjang umurmu 15 tahun lagi.” (II Raja 20:1-6)

Berkat yang menyertai ketaatan dan kesetiaan Hizkia:  Doa di dengar oleh Tuhan :Hizkia mendapat kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar. Ia membuat perbendaharaan-perbendaharaan untuk emas, perak, batu permata yang mahal-mahal, rempah-rempah, perisai-perisai dan segala macam barang yang indah-indah, juga tempat perbekalan untuk hasil gandum, untuk anggur dan minyak, dan kandang-kandang untuk berbagai jenis hewan besar dan kandang-kandang untuk kawanan kambing domba. Ia mendirikan kota-kota, …karna Allah mengaruniakan harta milik yang amat besar. Hizkia berhasil dalam segala usahanya (32:27-31) 

KESIMPULAN : 

Keberhasilan hidup kita ditentukan oleh :

  1. Pertobatan / sikap tidak kompromi terhadap dosa
  2. Kemurnian ibadah kita
  3. Kerinduan pada Tuhan dalam ibadah 
  4. Pengorbanan bagi pekerjaan Tuhan 
  5. Andalkan Tuhan dalam segala persoalan 
Devosi

PENGAMPUNAN YANG LUAR BIASA

(Lukas 23:33-43)

Ada satu perkataan Tuhan Yesus, yang sangat luar biasa waktu dia disalibkan. Perkataan apa itu ? Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Pada umumnya, seseorang yang disalibkan akan mengutuki orang-orang yang menyalibkan dia, karena penyaliban yang dirasakan amat sangat menyakitkan. Kita saja saat disakiti orang, kita segera ingin membalasnya, apalagi bila kita merasa sangat kesakitan, kita pasti spontan akan melakukan pembalasan. Semula ketika teman mengejek kita, kita masih bisa tahan, teman menfitnah kita, kita masih bisa tahan, tetapi saat teman sudah memukul kita, kita sudah tidak tahan lagi. Apalagi Yesus disalibkan. 

Di dalam sejarah manusia, tidak pernah ada perkataan yang lebih agung, lebih manis dan lebih baik dari perkataan Kristus di atas kayu salib yaitu : Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” 

Yesus adalah pribadi yang konsekwen dengan ajaranNya: Yesus sering mengajar muridNya dengan perkataan demikian :

Matius 5:39:”Tetapi Aku berkata kepadamu:”Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” 

Matius 5:44:”Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu.” 

Mengapa perkataan Yesus ini sangat luar biasa ? 

1. Perkataan ini diucapkan Yesus di saat yang paling lelah secara fisik 

Saat Yesus berdoa di taman Getsemani, Petrus, Yakobus dan Yohanes tertidur karena kelelahan. Itu artinya Yesus juga lelah, dia perlu tidur. Sepanjang malam Yesus tidak memejamkan mataNya. Sepanjang malam Yesus dibawa kesana kemari. Dari Getsemani ke tempat Mahkamah agama Yahudi, lalu ke Pilatus, ke tempat Herodes. Yesus mengalami 6 kai pengadilan. Diadili, diadili dan terus diadili. Hakim semesta alam diadili oleh hakim yang berdosa. 

2. Perkataan ini diucapkan Yesus di saat yang paling sengsara 

Paku sudah menembus kulit dan daging, tangan serta kakiNya. Kedua tangan dipaku, kedua kaki dipaku, darah menetes keluar dari tubuhNya. Makin berkurangnya darah berarti tekanan darah semakin rendah. Dengan berkurangnya darah, maka oksigen yang beredar di tubuhnya semakin berkurang, getaran urat nadi semakin cepat dan pernapasan terpacu menjadi lebih cepat dan dalam. Inilah saat yang paling sengsara 

3. Perkataan ini diucapkan Yesus di saat yang paling kejam 

Saat yang paling kejam, saat yang paling tidak adil, Moral menjadi gelap, agama menjadi gelap, politik menjadi gelap. 

Perkataan Yesus ini, perkataan yang luar biasa karena perkataan ini mengandung kasih yang sangat besar dan dalam. Yesus mengasihi semua orang yang telah menganiaya Dia, Yesus tidak ingin mereka binasa. Yesus tidak ingin mereka masuk dalam api neraka. Untuk itulah Yesus mau mati bagi mereka semua. 

Stefanus meneladani Yesus Kristus (Kis. 7:59-60) Saat Stefanus dirajam batu, maka dia berdoa : Ya Tuhan terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring:”Tuhan jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka !” 

Bagaimanakah dengan kita ? Pernahkah kalian mengampuni orang yang menyakiti hatimu ? 

  1. Bagaimana seandainya, suatu hari kalian punya doi, doimu itu sudah berjanji akan setia kepadamu, sehidup mati, tetapi tiba-tiba suatu hari kamu mendapati doimu tidak setia lagi, dia sudah ketemu sama pria yang lebih ganteng dari kamu atau ketemu wanita yang lebih cantik dari kamu. Apakah kamu bisa mengampuni doimu itu ? 
  2. Bagaimana seandainya, suatu hari kalian punya sahabat, sahabatmu berjanji bahwa dia akan pegang segala rahasiamu, tetapi tiba-tiba suatu hari dia bocorkan rahasiamu yang paling kamu jaga. Apakah kamu bisa mengampuni sahabat kamu itu ? 
  3. Adakah di antara kalian yang pernah kecewa dengan sikap orang tua kalian ? Dari hasil angket yang pernah lz buat, rata-rata dari kalian pernah kecewa dengan orang tua, kalian merasa perlakukan tidak adil, perlakuan yang berlebih-lebihan dll. Maukah kalian mengampuni orang tuamu yang pernah menyakiti hatimu ? 

Hasil angket dlm hub dgn orang tua: Mereka yang pernah kecewa sama orang tua berkata demikian:

  1. Orangku kurang pengertian terhadap seleraku anak remaja, jadi aku pergi saja ke rumah teman
  2. Orang tuaku tidak bisa memberi apa yang aku minta, aku tidak diberi uang, jadi aku tidur-tidur saja dan ngebut 
  3. Orang tuaku Diktator, tidak bijaksana, tidak adil, semena-mena, 
  4. Pendapat orang tuaku sering beda dengan aku 
  5. Papa suka marah, mementingkan diri sendiri, mama jarang bisa diajak bercanda 
  6. Pertengkaran orang tuaku, tidak tepat janji, janjinya sering diundur-undur 
  7. Orang tua marah-marah terus
  8. Orang tua pilih kasih 
  9. Orang tua egois, kalau bisa sangat kasar 
  10. Orang tua memihak kepada orang yang menyakiti hati saya 

Apakah yang akan terjadi bila kita tidak mau meneladani Yesus dalam hal pengampunan ?

Roma 6:14-15 berkata:”Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu  juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” 

Devosi

KEMENANGAN HIDUP DALAM PENGAMPUNAN

Lukas 6:22-40

Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;” (Lukas 6:27 TB)

Kata kasih yang dipakai disini bukan kasih eros (kasih antar lawan jenis), atau kasih philia (kasih terhadap sahabat kita) tetapi istilah kasih disini yang dipakai adalah kasih agape, kasih agape adalah kasih yang tidak peduli apapun yang orang lakukan kepada kita, meskipun orang jahat kepada kita maka kita akan tetap mengasihi dia. 

Kasih agape adalah kasih yang bukan digerakkan oleh hati kita tetapi oleh kehendak kita, kemauan kita, pengorbanan kita, perjuangan kita. 

Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi musuh ? Hati kita berkata itu tidak mungkin, aku terluka, aku tidak bisa mengasihi, tetapi kehendak kita yang sudah dikuduskan oleh Kristus, akan berkata: tidak, bagaimanapun juga sakitnya hati ini, saya tetap harus bisa mengasihi musuh saya itu. Itulah kasih Agape. 

Kasih Agape adalah anugrah Tuhan buat kita orang percaya. Setiap saudara akan dimampukan Tuhan untuk mengasihi orang yang menyakiti hati kita, Roh Kudus akan menguasai hati dan pikiran kita untuk selalu serupa dengan Yesus 

Pengajaran Tuhan Yesus ini beda saudara dengan apa yang diajarkan oleh guru-guru besar yang ada di dunia ini:

  1. Seorang guru besar yang bernama Hillel berkata demikian: apa yang kamu benci, jangan lakukan itu kepada orang lain.  Misalnya : yang kamu benci itu gossip, ya jangan kamu berbuat gossip, yang kamu benci itu fitnah, ya jangan kamu menfitnah. 
  2. Seorang Yahudi yang hebat dari Aleksandria, berkata demikian :”Apa yang tidak ingin engkau derita, janganlah lakukan itu kepada orang lain.” Bila kamu tidak mau disakiti, ya jangan sakiti orang lain. Bila kamu tidak mau dikecewakan orang lain, ya jangan kecewakan orang lain. 
  3. Seorang Orator Yunani bernama Isokrates, dia berkata demikian :”Hal-hal yang membuat engkau marah, ketika orang lain melakukannya terhadap engkau, janganlah lakukan itu terhadap orang lain.” Misalnya: engkau marah bila dihina orang lain, ya jangan kamu menghina orang lain spy mereka tidak marah 
  4. Confusius berkata:”Apa yang tidak kamu kehendaki orang lain lakukan kepadamu, janganlah lakukan hal itu kepada orang lain.”

Inti ajaran guru-guru besar ini adalah: 

Kalau kamu nggak mau dijewet, ya jangan jewet orang

Kalau kamu tidak mau diganggu orang, ya jangan kamu ganggu orang. 

Saudara kelihatanya prinsip benar, tetapi sesungguhnya tidak sempurna. Saya sering mendengar orang berkata demikian :”Pak kalau orang baik sama saya, saya bisa lebih baik lagi sama dia, tetapi pak kalau orang jahat saya, saya juga bisa lebih jahat dari dia.” Saudara prinsip ini prinsip Taurat, mata ganti mata, gigi ganti gigi, jikalau mata kita dicelakakan maka seharusnya mata orang yang mencelakakan itu kita celakakan juga. 

Ajaran Tuhan Yesus tidak seperti itu, mari kita perhatikan ayat 28 dari Lukas 6, dikatakan :

“ mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:28 TB). Ajaran ini sungguh-sungguh dipraktekkan oleh Tuhan Yesus sendiri, ketika Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem, memang semula Dia diagung-agungkan, tetapi kemudian Dia dicaci maki, dihujat, diolok-olok, dihina, dikutuki, dan lain-lain. Yesus hanya berkata di atas kayu salib: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. 

“ Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain (Lukas 6:29a). Ini juga dialami oleh Tuhan Yesus, ketika Imam Besar bertanya kepada Yesus tentang ajaranNya, maka Tuhan Yesus berkata :silahkan engkau tanyakan saja pada orang-orang yang mendengarkan pengajaranKu, sebab dimanapun Aku berada Aku tidak sembunyi-sembunyi menyampaikan ajaranKu. Waktu Yesus menjawab begitu, tiba-tiba pengawal dari imam besar, menampar muka Yesus sambil berkata:”Begitu ya jawabmu kepada Imam Besar. Selesai ditampar Yesus berkata:”Jikalau perkataanKu salah, tunjukkan salahnya, tetapi jikalau perkataanKu benar, mengapa engkau menampar Aku.”  

dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.” (Lukas 6:29b). Ini juga dialami Tuhan Yesus, bukan hanya jubahnya yang diambil, dan diundi oleh para prajurit, tetapi hampir seluruh kain yang membalut tubuh Yesus diambil, hanya sisa kain yang berfungsi sebagai cawat. Yesus sungguh-sungguh ditelanjangi dan dipermalukan. 

“ Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Lukas 6:35 TB)

Ayat ini sudah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Selama Tuhan Yesus hidup, Dia dekat dengan orang berdosa. Dia benci dosa tetapi Dia mengasihi orang berdosa. Yesus dekat dengan pemungut cukai, Yesus dekat dengan para pelacur, Yesus sering makan di rumah orang berdosa. Bahkan Yesus pernah berkata: Aku datang bukan untuk orang benar tetapi untuk orang berdosa. Saudara dan saya adalah orang berdosa, Yesus datang untuk menebus kita semua. 

Jujur saudara, di dalam hidup kita manusia, kita lebih suka melihat kesalahan orang lain, sekecil apapun kesalahan itu, akan diperkarakan, yang kecil akan dibesarkan. Yang besar tambah dibesarkan lagi. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata kepada orang Farisi:” Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” (Lukas 6:41 TB). Kecenderungan kita manusia suka melihat orang lain jatuh, dan tidak suka melihat orang lain berhasil. Bila orang lain berhasil kita iri, tetapi bila orang lain jatuh kita bergembira. 

Tuhan Yesus tidak demikian, sekalipun Dia melihat betapa besarnya dosa kita, Dia justru semakin sedih dan Dia ingin menyelamatkan kita. 

Diakhir pelajaran ini Tuhan Yesus berkata demikian :

“ Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.” (Lukas 6:40 TB)

Artinya, kalau kita mengaku bahwa kita ini murid Yesus, maka kita harus hidup seperti Yesus,menyerupai Yesus, walaupun tidak sempurna tetapi paling tidak kita menyerupai guru Agung kita. 

Kemenangan sebuah pengampunan :

1. Mengalami kedamaian yang luar biasa 

Waktu lalu ketika kami bersekutu dalam komisi pria, ada seorang Bapak yang bersaksi, betapa dia merasakan kelegaan yang amat sangat, ketika dia bisa mengampuni musuhnya, yang sudah hampir 20-30 tahun bermusuhan. Musuhnya bukan orang jauh, tetapi tetangganya sendiri. Saat melihat tetangganya lewat,hatinya selalu panas, dan benci sekali, tetapi suatu hari, Tuhan menggerakkan hatinya, entah bagaimana tiba-tiba dia ingin pergi ke rumah musuhnya itu untuk mengambil jalan damai. Pembicaraan untuk damai mungkin tidak sampai berjam-jam, tetapi pembicaraan itu telah menyudahi permusuhan yang berpuluh-puluh tahun. Ketika perdamaian terjadi, damai dari Tuhan luar biasa dialami. 

2. Mengalami sukacita yang luar biasa

Bapak yang tadi saya ceritakan, biasanya malu-malu bersaksi, semua kaum pria sudah bersaksi, tetapi Bapak ini belum juga mau bersaksi,tetapi ketika dia berhasil mengampuni, sukacitanya luar biasa, tidak saya todong bersaksi, tiba-tiba dia bersaksi panjang lebar tentang perdamaian yang dia buat dengan musuhnya. Inilah sukacita yang meluap dari sebuah pengampunan. Sukacita ini melebihi sukacita yang ada didunia ini. Orang dunia bersukacita, bila tidak ada yang ganggu dia, tetapi orang yang bisa mengampuni akan tetap bersukacita biarpun ada saja orang yang ganggu dia.

3. Mengalami pengampunan dari Tuhan  

“ Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.  Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”” (Matius 6:14-15 TB)

Inilah kemenangan terbesar bila kita sungguh hidup dalam pengampunan, yaitu Tuhan akan mengampuni kita. Tetapi sebaliknya bila kita tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka bukan kemenangan tetapi bencana besar akan kita alami, yaitu Tuhan tidak mengampuni kita. Jadi kesimpulannya: orang Kristen dikunci mati oleh Tuhan, mau tidak mau kamu harus mengampuni. 

Devosi

BERKATILAH DAN JANGAN MENGUTUK


Ayub 42:7-17

Tentu kita masih ingat dengan tokoh Ayub, seorang anak Tuhan yang baik, hidup saleh, takut akan Tuhan serta bergaul intim dengan Tuhan. Namun suatu hari Tuhan menguji iman Ayub lewat berbagai bentuk penderitaan. Ayub kehilangan segala harta miliknya bahkan anak-anak yang paling dia sayangi. Ayub menderita penyakit kusta yang luar biasa. Bahkan bukan hanya penderitaan fisik yang Ayub alami, dia juga mengalami penderitaan batin, sebab sahabat-sahabatnya menuduh Ayub berbuat kesalahan besar terhadap Tuhan. 


Dalam Ayub 22:5-14: Seorang sahabatnya bernama Elifas berkata demikian:”Bukankah kejahatanmu besar dan kesalahanmu tidak berkesudahan ? Karena dengan sewenang-wenang engkau gadai dari saudara-saudaramu, dan merampas pakaian orang-orang melarat, orang yang kehausan tidak kauberi makan, tetapi orang yang kuat, dialah yang memiliki tanah, …janda-janda kau suruh pergi dengan tangan hampa, dan lengan yatim piatu kauremukkan, itulah sebabnya engkau dikelilingi perangkap dan dikejutkan dengan kedahsyatan dengan tiba-tiba. Terangmu menjadi gelap, apakah engkau mau tetap mengikuti jalan lama yang dilalui orang-orang jahat…”
Begitu beraninya Elifas menilai Ayub seperti itu, padahal kalau kita baca dalam Ayub 1:8, penilaian Tuhan sangat baik terhadap Ayub:”Lalu bertanyalah Tuhan kepada Iblis:”Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub ? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.” Jika Tuhan menilai maka pasti penilaian Tuhan itu paling benar, sebab Dia mahatahu tentang keberadaan Ayub sesungguhnya.
Disini Tuhan tidak main-main, barangsiapa mengatakan hal yang tidak benar tentang anak-anak Tuhan, maka Tuhan sendiri yang turun tangan: Dikatakan dalam Ayub 42:7:”maka firman Tuhan kepada Elifas:”MurkaKu menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hambaKu Ayub. Oleh sebab itu ambillah 7 ekor lembu jantan dan 7  ekor domba jantan dan pergilah kepada hambaKu Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu dan baiklah hambaKu Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar, tentang Aku seperti hambaKu Ayub. Maka pergilah Elifas, Suah dan Zofar lalu melakukan seperti apa yang difirmankan Tuhan kepada mereka. Dan Tuhan menerima permintaan Ayub.
Ayub 42:10:”Lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.”
Jadi barangsiapa mendoakan dan memberkati akan musuh-musuhnya, maka dia akan diberkati Tuhan berkali lipat ganda. Tetapi sebaliknya barangsiapa yang mengutuki sesamanya maka dia akan kehilangan berkat Tuhan.
Untuk itulah firman Tuhan berkata demikian:
Lukas 6:27,28:”…Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuat baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”
I Petrus 3:9-12:”dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil yaitu untuk memperoleh berkat.
Paulus seorang hamba Tuhan bersaksi demikian:
I Korintus 4:12:”kami melakukan pekerjaan yang berat, kalau kami dimaki, kami memberkati, kalau kami dianiya kami sabar, kalau kami difitnah kami tetap menjawab dengan ramah, kami telah menjadi sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai saat ini.”
Apakah yang akan terjadi bila kita telah memberkati orang, tetapi orang itu malah mengutuki kita ?
Maka kutuk itu tidak akan berlaku malah akan berubah menjadi berkat. Ada sebuah kisah menarik dalam Bilangan 22:2-20, ada seorang bernama Bileam bin Beor, dia dikenal sebagai seorang yang kata-katanya “mandi”, kalau dia ngomong pasti terjadi, kalau dia memberkati orang maka orang itu sungguh-sungguh akan menerima berkat, tetapi bila dia mengutuk orang maka orang itu sungguh-sungguh akan terkutuk. Nah pada waktu raja Moab yang bernama Balak meminta Bileam untuk mengutuki bangsa Israel, sebab Balak takut bila Israel ini menyerang kerajaannya. Balak memberikan upah kepada Bileam utk melakukan tugasnya itu. Disaat Bileam hendak menyampaikan kutuk untuk bangsa Israel, tiba-tiba ia mendengar Tuhan berfirman demikian:”Janganlah engkau mengutuk bangsa Israel, sebab mereka  telah diberkati.” Setelah dengar firman itu Bileam menolak permintaan raja Moab, raja Moab berkata: aku akan memberi kamu upah sangat banyak dan apapun yang kau minta dari padaku, aku akan mengabulkannya. Tetapi Bileam berkata: Sekalipun kamu memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat yang kecil atau besar, yang melanggar titah Tuhan, Allahku.” 

Janji Tuhan kepada Abraham Bapa tidak pernah berubah:
Kejadian 12:2:”Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat.”

Kejadian 12:3 terjadi: Janji Tuhan pada Abraham: “Aku akan memberkati orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum dimuka bumi akan mendapat berkat.”
Ingat kita juga adalah keturunan Abraham, maka kitapun diberkati oleh Tuhan, mari kita menjadi saluran berkat bagi orang lain
Kesimpulan:
Tuhan memanggil kita bukan untuk mengutuki orang tetapi memberkati dia, tidak perduli sejauh mana orang itu telah menyakiti hati kita.
Siapa yang bertekad mendoakan dan memberkati maka mereka akan beroleh berkat Tuhan berlipat kali ganda
Orang yang kita doakan dan berkati, mereka akan diampuni Tuhan
Pembalasan itu hak Tuhan, bila orang terus menyakiti/mengutuki saudara maka dia berurusan dengan Tuhan sendiri. 

Kejadian 12:3 terjadi: Janji Tuhan pada Abraham: “Aku akan memberkati orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum dimuka bumi akan mendapat berkat.”

Kejadian 12:3 terjadi: Janji Tuhan pada Abraham: “Aku akan memberkati orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum dimuka bumi akan mendapat berkat.”

Mari kita baca bersama FT dalam : 

Roma 12:14:”Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk !”

Devosi

MENGAMPUNI ORANG YANG BERSALAH PADA KAMI

(MATIUS 6:9-15)

Teks yang kita baca ini tentu tidak asing buat kita, inilah doa Bapa kami, doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita pengikutnya. Kalau kita mempelajari doa Bapa kami, maka kita akan menemukan tiga jenis permohonan doa: permohonan pertama : Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, ini berbicara tentang kebutuhan jasmani, jadi kalau Bapak Ibu mau minta rezeki sama Tuhan itu tidak salah, itu memang diajarkan oleh Tuhan Yesus.  Permohonan kedua: dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami ini berbicara tentang kebutuhan rohani, biarpun rezeki kita banyak tetapi kalau musuh kita juga banyak, saya pikir tidak ada gunanya.  Permohonan ketiga: dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat, ini berbicara tentang mohon perlindungan dari Tuhan. Kita bisnis cuan banyak, tetapi suatu hari datang maling, garong, rampok wah habis uang kita, bahkan mungkin nyawa kita bisa melayang. Jadi kalau kita minta perlindungan sama Tuhan, itu adalah doa yang benar. Zaman sekarang, orang suka pakai backing, wah jangan macem-macem lho sama dia, dia itu backingnya kuat, orang-orang berpangkat ada dibelakangnya dia, kamu nggak mungkin lah menang lawan dia. Itulah orang dunia, cari perlindungan dari manusia. Tetapi doa Yesus mengajar kita untuk mohon perlindungan kepada Tuhan bukan mengandalkan manusia. 

Jadi kalau saudara berdoa untuk rezeki, untuk mohon perlindungan Tuhan, itu doa yang benar dan tidak salah. Tetapi ada satu doa yang unik sekali yang diajarkan Yesus dalam ayat 12: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Waktu saya membaca doa ini, saya berpikir apa doa ini nggak kebalik: mestinya bunyi demikian: ajarlah kami Tuhan mengampuni orang lain, seperti engkau telah mengampuni kami. Kelihatannya doa dalam ayat 12 ini terbalik. Tetapi sesungguhnya tidak, doa ini memang tidak terbalik, doa ini mempunyai maksud mendorong kita untuk mengampuni orang lain. Dengan kata lain Tuhan Yesus mau berkata: walaupun pengampunan itu sulit, kamu tetap  harus melakukannya, kalau kamu ingin diberkati Tuhan. 

Apa yang Yesus ajarkan dalam doa ini, telah Dia jalani sendiri. Sungguh tidak mudah bagi Yesus mengampuni kesalahan kita. Untuk menciptakan dunia dan isinya, Tuhan Yesus cukup berkata: jadilah langit lalu langit itu jadi, jadi bumi lalu bumi itu jadi, jadilah laut lalu laut itu jadi, jadilah binatang di darat laut dan udara, lalu muncullah berbagai binatang di darat, laut dan udara, tetapi untuk sebuah pengampunan, Yesus tidak bisa berkata : Jadilah pengampunan,lalu pengampunan itu jadi. 

Untuk sebuah pengampunan ada harga yang Yesus harus bayar, 

  1. Yesus harus mengorbankan harga dirinya diinjak-injak oleh orang yang  akan diampuniNya. Saat Yesus diejek, diolok, dihujat, difitnah oleh orang Farisi, dikhianati oleh Yudas dan disangkali oleh Petrus, Yesus mengambil sikap diam dan mendoakan mereka. Tidak satu patah katapun keluar dari mulut Yesus kata-kata pembalasan. Hal ini sungguh tidak mudah. Mari kita renungkan saudara, posisi Yesus saat Dia dianiaya, Dia bukan hanya manusia 100% tetapi Dia juga Tuhan 100%. Dialah Tuhan yang menciptakan manusia. Bagaimana mungkin terjadi manusia ciptaannya bisa diberi izin menginjak-injak Penciptanya. Bagaimana mungkin Yesus sebagai Raja di atas segala raja, diinjak-injak oleh rakyatNya. Saya yakin seandainya  saudara punya karyawan atau kongrun atau pukren pembantu rumah tangga suatu hari berani memaki-maki saudara sebagai tuannya, bosnya di depan umum, pasti saudara tidak akan berbicara banyak, langsung keluar kamu, out, PHK, nggak usah disangoni. Mari kita menyelami posisi Yesus waktu dia diinjak-injak harga dirinya. Para penganiayaNya tidak sadar bahwa yang mereka aniaya adalah Tuhan yang bisa menjebloskan dalam neraka utk selama-lamanya. Tetapi Yesus rela menanggung semua itu. 
  2. Kedua: bukan hanya harga dirinya diinjak-injak atau perasaanNya yang dilukai, tetapi tubuh Yesus diperlakukan secara tidak manusiawi. Ada orang berkata demikian: saya masih bisa tahan kalau perasaan saya disakiti, tetapi kalau dia mulai berani pegang kepala saya berarti dia sudah tidak menghargai saya. Tahukah saudara apa yang Yesus alami, bukan saja kepalanya dipegang, tetapi kepalanya diberi mahkota duri sebagai bentuk penghinaan, sebelumnya berulangkali orang memukul dia, menampar Dia, menendang Dia. Dan puncaknya Yesus disalibkan di atas kayu salib. Dalam hukum Romawi, hukuman yang keji dan terkutuk adalah hukuman salib, orang kalau sudah disalib itu orang yang terkutuk. Yesus rela menanggung semua itu, walaupun sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin Dia yang suci bisa dikatakan terkutuk, bagaimana mungkin Dia yang memiliki tubuh suci, kudus  tak bercela, akhirnya harus dijadikan berdosa karena menanggung dosa kita. 

Kira-kira menurut Bapak/Ibu sekalian, hal apakah yang membuat Yesus bisa bertahan dalam penyiksaan sampai pada penyaliban diriNya tanpa melakukan pembalasan apapun baik dengan kata-kata maupun perbuatan ? 

Kalau saudara jawab karena Dia adalah Tuhan, Dia bisa melakukan hal itu, justru saya mau katakan: karena Dia Tuhan sebenarnya tidak mudah bagi Dia melakukan hal itu. 

Apa menurut saudara rahasianya ? ………..rahasia inilah nanti yang akan kita menolong kita memulai sebuah pengampunan. 

Rahasianya tercetus disaat Dia tergantung di atas kayu salib. 

DOA: Yesus berdoa demikian: Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ketika Yesus ditampar, diinjak Yesus berdoa seperti itu, dan puncaknya sebelum Dia menghembuskan nafas terakhir maka Dia ungkapkan isi doanya seperti itu. 

Itulah sebabnya ketika Yesus mengajar murid-muridNya, Yesus berkata demikian:” Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu.” Saat Paulus dan Silas ada dalam penjara, mereka tetap berdoa dan memuji Tuhan sehingga mereka kuat, mereka tidak membenci orang yang memenjarakan mereka, krn mereka mendoakan, terbukti kepala penjara bisa bertobat. 

Melangkah untuk sebuah pengampunan itu sulit, tetapi ketika saudara memulai dgn sebuah doa bagi musuh saudara, maka kasih dan pengampunan itu akan mengalir dalam hati saudara, dan tidak mustahil saudara dimampukan utk mengampuni. Tetapi bila saudara pasif, tidak berdoa, hanya menyimpan sakit hati, maka jurang pemisah akan semakin lebar. 

Untuk itu mari kita tanggalkan segala kepahitan hati, sakit hati, kebencian, permusuhan di antara kita dengan suami kita, dengan istri kita. Bila suami kita menyakiti hati kita sebagai istri, doakan dia, dan terus doakan dia, lepaskanlah pengampunan untuk suami kita, demikian sebaliknya, kalau istri mengecewakan saudara sebagai suami, doakan dia dan nasehati dgn penuh kasih, demikian juga dalam hubungan kita dengan orang tua, mertua, menantu dan semua anggota keluarga doakanlah mereka. 

Ada seorang Bapak datang kepada saya, dia berkata saya terus diserang oleh kuasa-kuasa gelap, baru-baru ini muncul makhluk halus badannya besar berusaha mencekik leher saya, kemudian saya sebut nama Yesus, langsung hilang, tak berapa lama muncul lagi anjing besar hitam, lalu berusaha menerkam saya, saya pegang anjing itu dan saya pukul dgn nama Yesus, hilang, tak berapa lama muncul anjing hitam itu bersama dua anjing lainnya, mau rame-rame terkam saya, saya duduki yang satu dan saya pukul pakai nama Yesus hilang. 

Ketika Bapak ini cerita sama saudara-saudaranya, maka saudaranya nggak terima, kalau sana main dukun, kita juga bisa main dukun, nanti tak carikan dukun yang hebat, memisan wis sikat-sikatan. Nah untungnya Bapak ini datang kepada saya dan minta pendapat, saya bilang jangan, sebaiknya anda doakan saja dia, jangan takut kuasa gelap itu tidak bisa mengalahkan Bapak, karena Bapak sudah menjadi milik Tuhan Yesus. 

Keuntungan bila kita mengampuni orang yang bersalah pada kita:

  1. Damai sejahtera dari Tuhan akan memelihara hati dan pikiran kita. 
  2. Sukacita dari Tuhan akan meliputi hati kita. 
  3. Rezeki akan mengikuti hidup kita. 
  4. Keselamatan kekal akan kita peroleh: Matius 6:14: Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang disorga akan mengampuni kamu juga, tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Devosi

Apakah Engkau Mengasihiku?

(1YOH. 5:1-5)

Sangat mudah untuk berbicara tentang kasih, bahkan dimana mana kita bisa mendengar orang mengatakan bahwa aku mengasihimu, dan saya yakin semua kita pernah mengatakan kepada orang-orang di sekitar kita bahwa kita mengasihi mereka. Kasih, di dalam kehidupan bukanlah hal yang asing lagi. Setiap kita diciptakan dalam rupa dan gambar Allah yang tentunya kita juga memiliki salah satu karakter Allah yakni kasih. 

Kasih tidak hanya sekedar ucapan atau sebuket bunga, ataupun sebungkusan coklat. Kasih tidak hanya sekedar menunggui orang yang sakit semalaman sampai tidak istrahat, atau kasih bukan hanya sekedar kata-kata yang puitis. Pada bagian ini kita akan belajar tentang bagaimana kasih yang dikehendaki Allah bagi orang percaya. Ada beberapa hal yang dapat kita lihat dari teks ini.

  1. Kasih artinya ketaatan yang penuh sukacita (1-3).

Manusia diciptakan untuk memuliakan dan mengasihi Allah.  Tetapi kenyataan yang kita lihat adalah manusia tidak taat kepada Allah, manusia hidup sesuai keinginannya sendiri. Mazmur 148:8 “api, hujan es. Salju dan angin badai melakukan firmanNya”. Sementara pada bagian kitab yang lain dikatakan disitu bahwa Yunus yg diprintahkan TUHAN ke Niniwe tetapi dia tidak taat sementara ikan, angin dan gelombang taat kepada Allah. Dalam kisah raja-raja, pohon jarak dan seekor ulat kecil melakukan apa yang diperintahkan TUHAN tetapi Elia mau mengikuti keinginannya sendiri. 

Yohanes memulai pasal ini dengan menegaskan bahwa setiap orang yang memiliki pengakuan yang benar tentang Yesus, dilahirkan dari Allah. Kata “gege,nnhtai(” berkasus perfect tense,  dan kata “o` pisteu,wn” berkasus present tense. Kombinasi kedua kasus ini sangat jelas menunjukkan bahwa percaya adalah konsekwensi atau akibat dari kelahiran baru dan bukan penyebab lahir baru, dan percaya itu sudah terjadi di masa lampau dan akibatnya masih tetap berlanjut.  Dilahirkan dari Allah yang membawa kita percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah juga memampukan kita memiliki hubungan kasih dengan Bapa dan semua anak-anakNya. Mengatakan bahwa ada seseorang yang tidak saya kasihi berarti sama saja dengan mengatakan kepada Allah bahwa TUHAN, saya tidak cukup mengasihi Engkau sehingga mampu mengasihi orang itu. 

Ayat 2 dan 3.   Firman Tuhan pagi ini mengajak kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan ketaatan yang penuh sukacita. Kita telah dilahirkan dari Allah; kita mengasihi Allah; berarti juga mengasihi anak-anak Allah. Kasih ini dibuktikan dengan melakukan perintah-perintahNya. Kasih kepada Allah bukan hanya sekedar ucapan bahwa Tuhan aku mengasihi Engkau, tetapi itu butuh ketaatan, di ayat 2 dikatakan bahwa tanda mengasihi adalah melakukan perintah-perintahNya.  Apabila kita mengasihi seseorang maka kita akan melakukan hal-hal yang menyenangkan dia dengan penuh sukacita tanpa merasa dipaksa atau terpaksa. Orang Kristen yang memiliki kasih yang dewasa adalah yang senang dan penuh sukacita melakukan kehendak Bapa. Senang merenungkan firman Tuhan dan hidup di dalam kebenaran firmanNya.

Dalam pasal 4:7,8; dikatakan bahwa……., karakter anak-anak Allah adalah dikasihi oleh mereka yang juga adalah keluarga Allah dan juga mengasihi karena Allah adalah Kasih. Ketika kita mengasihi Allah, kita mengasihi anak-anak Allah dan melakukan perintah-perintah Allah, artinya :

  1. Setiap orang yang mengasihi Bapa mengasihi Anak.
  2. Setiap orang Kristen adalah anak Allah
  3. Oleh karena itu ketika kita mengasihi Allah kita mengasihi persekutuan orang Kristen

Kasih yang tidak disertai ketaatan kepada perintah Allah itu bukanlah kasih. Kasih yang sebenarnya adalah kasih yang diekspresikan dengan tindakan dan di dalam kebenaran (3:18), hal ini berarti kasih kepada Allah adalah kasih yang terekspresi dalam ketaatan akan perintah-perintahNya. Dalam ayat 3 dikatakan bahwa perintah-perintahNya tidak berat hal ini disebabkan karena orang percaya atau anak-anak Allah yang sudah lahir baru dan hidup di dalam kebenaran Allah dan dalam kasih Allah sehingga Allah sendiri yang memampukan mereka untuk melakukan perintah-perintahNya. Kristus sendiri berkata dalam Matius 11:30 bahwa…….., hal ini bukan berarti perintah yang diberikan itu ringan atau mudah untuk ditaati tetapi oleh karena akibat dari kehidupan orang percaya yang sudah dibaharui, dan kelahiran baru dalam iman inilah yang membuat Roh Kudus memampukan kita untuk taat.  Allah tidak pernah memberikan perintahNya kepada anak-anakNya tanpa memberikan kemampuan kepada mereka untuk melakukan setiap perintah yang diberikan, dan ketika Ia memberikan suatu perintah kepada kita berarti Dia sedang memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan kasih kita kepada Allah. Jadi ketika kita bisa taat itu semua bukan karena kita mampu tetapi semua itu karena anugerah.

  1. Anugerah yang memampukan

Kalau kita lihat pasal ini, Yohanes memulai dan mengakhiri ayat-ayat ini dengan kata ‘percaya’ dan ‘iman’. Di antara percaya bahwa Yesus adalah Kristus dan Yesus adalah Anak Allah, terdapat 2 hal yang penting yaitu kasih dan ketaatan. Implikasinya : adalah hal yang mustahil memiliki kasih tanpa ketaatan atau ketaatan tanpa kasih, itu berarti juga adalah hal yang tidak mungkin memiliki baik kasih maupun ketaatan tanpa percaya bahwa Yesus adalah Kristus dan Anak Allah. 

Pada ayat 4 dan 5 ini, Yohanes memberikan satu bagian penting ttg iman Kristen. Terdapat 3x kata ’mengalahkan dunia’, hal ini menunjukkan bahwa prinsip iman ini sangat penting, :

  1. Kemenangan/iman yang mengalahkan dunia itu berasal dari Allah. Iman yang menyelamatkan, iman yang membenarkan kita dan membuat kita benar dihadapan Allah adalah karunia  Allah kepada kita. Hal ini berarti jika kita tidak mengalami lahir baru dan memiliki hidup baru bersama Allah dan bukti hidup baru itu tidak ada di antara orang Kristen, maka tidak akan ada kemenangan yang bisa kita peroleh. Kemenangan atau iman yang sejati yang sanggup mengalahkan dunia ini hanya ada di dalam Allah (2:15-17). Maka di luar Allah kita tidak berdaya apa-apa, kita pasti dikalahkan oleh dunia ini. Iman yang mendewasa adalah iman yang mendalam dan bertumbuh. Iman bukan sekedar pengetahuan tetapi pengetahuan yang ditindaklanjuti. Bukan sekedar kepercayaan tetapi kepercayaan yang dihidupi dan dipraktekkan.
  2. Iman di dalam Yesus sebagai Kristus dan Anak Allah. Yesus adalah pusat kehidupan orang Kristen. Ketika kehilangan Yesus atau pusat kehidupan itu maka manusia mati walaupun saat ini dia hidup. Oleh karena itu merupakan tanggung jawab saudara dan saya sebagai orang-orang yang sudah mengalami sukacita dan kemenangan sejati itu untuk membawa orang-orang yang belum mengenal Kristus untuk datang kepadaNya. Mengenal kebenaran atau mengenal Yesus dengan sungguh-sungguh memberi orang percaya kekuatan untuk menghadapi ajaran sesat dan juga kekuatan-kekuatan dunia ini. 
  3. Kesetiaan. Kata ‘mengalahkan’ di sini tidak hanya ditulis dalam bentuk aorist tetapi juga dalam bentuk present. Artinya iman yang mengalahkan dunia itu tidak hanya terjadi di masa lalu ketika mereka mengalami hidup baru, tetapi terjadi terus menerus dalam kehidupan orang percaya. Kesetiaan yang dimiliki oleh orang percaya adalah bukan karena kemampuan mereka tetapi itu adalah semata-mata karena anugerah Allah yang telah membawa mereka kepada hidup yang kekal, yang terus menuntun mereka beriman di dalam Kristus, yang terus mendorong, memampukan untuk mengasihi sesama orang percaya.

.Dari perenungan kita hari ini, ada hal penting yang dapat kita ambil yakni kita semua yang ada di tempat ini, semua kita sudah mengalami lahir baru, hal itu berarti Allah diam di dalam kita. Ketika Allah diam di dalam kita maka kita dimampukan untuk mengasihi Allah dan sesama orang percaya bukan hanya dalam kata tetapi teraplikasi dalam kehidupan kita tiap-tiap saat sepanjang hidup kita di dunia. Sebagai anak-anak yang lahir dari Allah kita tidak perlu takut menghadapi tantangan apapun yang ada di dunia ini karena Allah pasti memampukan kita untuk mengalahkan setiap tantangan itu. 

Devosi

Kehidupan Yang Berpusat Kepada Kristus

Yohanes 15:1-6, Roma 14:8

Sebab utama kejatuhan, kegagalan, ketidakberhasilan anak-anak Tuhan,yaitu bila dia hidup di luar Kristus. Firman Tuhan berkata:” “ Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5 TB) Memang bisa saja  orang dunia menjadi kaya, sukses, berhasil, sekalipun mereka tidak percaya Yesus, mereka bisa memiliki segalanya, tetapi ingat itu semu adanya, Tuhan Yesus pernah berkata: Apalah artinya engkau berlimpah-limpah harta tetapi jiwamu binasa. Keberhasilan terbesar dalam hidup kita yaitu bila kita beroleh keselamatan kekal selama-lama. 

Untuk itu betapa penting kita hidup berpusat kepada Kristus. Hidup anak-anak Tuhan dikatakan berpusat kepada Kristus, bila hidup dan matinya benar-benar telah dipersembahkan kepada Kristus. Firman Tuhan dalam Roma 14:8 yang berbunyi demikian :”Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Ayat ini merupakan tekad dari rasul Paulus yang disampaikan kepada jemaat yang ada di Roma. Semenjak Paulus berjumpa dengan Tuhan Yesus, maka Paulus mengambil tekad, bila aku hidup, aku mau hidup hanya untuk Kristus, dan bila aku mati, aku juga mati bagi Kristus. Tekad Paulus ini sungguh dia buktikan, dalam II Korintus 11:23-27 dikatakan demikian: “Aku lebih banyak berjerih lelah, lebih sering di dalam penjara, didera di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, ..tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah-tengah laut, dalam perjalanan aku sering diancam bahaya, bahaya dari dari pihak orang Yahudi, orang bukan Yahudi..” 

Bila kita sebagai anak Tuhan, juga memiliki tekad seperti Paulus, maka saya percaya, Kekristenan akan kokoh, kita akan bertumbuh dewasa di dalam Kristus. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan, semuanya hanya bagi kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus. Sungguh disayangkan pada zaman ini, banyak anak Tuhan hidupnya bukan untuk Tuhan, tetapi untuk dirinya sendiri. Segala kekayaan, segala keberhasilan, segala kesuksesan, seringkali hanya untuk memuliakan dirinya sendiri bukan untuk memuliakan Tuhan. Banyak anak Tuhan,hidupnya tidak berpusat pada Kristus, tetapi kepada dirinya sendiri. 

Mengapa kita harus hidup berpusat kepada Kristus ?

  1. Sebab Kristus telah mati bagi dosa dan kesalahan kita. Dia telah memberikan anugrah keselamatan kepada kita. Tanpa Kristus Yesus tidak mungkin kita bisa diselamatkan. Tuhan tahu bahwa kita manusia tidak mungkin selamat hanya mengandalkan perbuatan baik kita saja, sebab perbuatan baik kita tidak pernah sempurna. Alkitab dengan jelas menegaskan bahwa semua orang tidak terkecuali adalah orang berdosa. Dan dosa itu melahirkan maut. Artinya setiap manusia pasti akan menerima hukuman Tuhan karena dosanya. Tetapi karena anugrah Tuhan, lewat kematianNya di kayu salib, maka dosa dan kesalahan kita telah dihapuskan. Itulah sebabnya, kita harus hidup hanya bagi Kristus 
  1. Sebab kita ini adalah milik Kristus. 

Hidup kita milik Kristus. Kekayaan kita milik Kristus. Harta kitapun milik Kristus, kesehatan kita milik Kristus, seluruh hidup kita adalah milik Kristus. Firman Tuhan dengan jelas berkata demikian:” dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri ? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar,karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” (I Kor. 6:19c,20). Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu, itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (I Petrus 1:18,19) Jadi hidup kita ini adalah milik Kristus, itulah sebabnya kita harus hidup hanya bagi Yesus.

  1. Sebab masa depan kita hanya ada di dalam Kristus.

 Yeremia 29:11:”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Bukti bahwa Tuhan Yesus pemegang masa depan kita, dapat kita lihat sewaktu Dia menjelma menjadi manusia dalam dunia ini. Apakah yang Yesus lakukan selama di dunia ? Yang sakit disembuhkan, yang lapar dikenyangkan, yang  susah dihiburkan, yang kerasukan dilepaskan, bahkan yang mati dibangkitkan. Tidak seorangpun nabi di dunia ini yang sanggup membangkitkan orang yang sudah mati, tetapi Yesus sudah 3 kali membangkitkan orang mati. Itulah sebabnya Yesus berkata:”Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepadaKu, dia akan hidup walaupun dia sudah mati. Dan tidak akan mati untuk selama-lamanya.” (Yoh. 11:25) Yesus adalah pemegang masa depan kita,maka seharusnya kita hidup bagi Dia. 

Bagaimanakah cara kita hidup berpusat kepada Kristus ?

  1. Kita harus hidup di dalam kasih. Kasih kepada Kristus dan sesama.

 Ajaran utama dari Tuhan Yesus adalah ajaran kasih. Dia berkata:Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Di dalam kasih harus ada pengampunan, di dalam kasih harus ada pengorbanan, di dalam kasih harus ada ketaatan. Tanpa ketiga hal ini kasih, tidak akan bisa dirasakan. Bila kita berkata bahwa kita mengasihi, tetapi kita tidak bisa mengampuni maka kita belum mengasihi. Bila kita berkata bahwa kita mengasihi tetapi kita tidak mau berkorban bagi Tuhan dan sesama maka kitapun belum bisa dikatakan mengasihi. Bila kita berkata kita mengasihi Tuhan tetapi kita tidak menaati Dia maka kita belum mengasihi Dia. 

  1. Kita harus hidup melayani Yesus.

 Tuhan Yesus sendiri berkata demikian:”Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawaNya bagi banyak orang.” (Markus 10:45) Kalau Tuhan kita saja, mau datang ke dunia ini untuk melayani kita, maka sepatutnya kitapun harus juga tergerak, terbeban utk melayani Dia. Setia kita sudah diberi Tuhan talenta, karunia, untuk dipakai melayani Tuhan. Dalam tahun ini gereja kita memiliki program minimal 50% dari seluruh jemaat telah terlibat dalam pelayanan. Baik itu pelayanan di dalam gereja maupun diluar gereja.  . 

  1. Kita harus berani bersaksi akan cinta kasih Kristus yang begitu besar. 

Seringkali ketika kita menerima sesuatu dari orang lain, maka kita akan ucapkan terima kasih, bahkan kita akan ceritakan kebaikan orang itu kepada orang lain. Tetangga saya itu lho orangnya baik, teman saya itu orangnya baik, sales saya itu lho orangnya baik dstnya. Sudahkah kita juga katakan Tuhan saya itu lho baik, Dia telah mati bagi saya dan saudara, bila kita percaya maka kita akan diselamatkan. 

Devosi

Kehidupan Yang Berharga

Bagaimana kita bisa membangun persaudaraan Kristen ? 

Kita harus hidup saling menghargai satu sama lainnya. Setiap orang di gereja kita harus dihargai. Kalau orang dunia, biasanya yang dihargai adalah mereka yang kaya, mereka yang pintar, mereka yang bertitel, mereka yang berpangkat, mereka yang berpengalaman dlsnya. Itu orang dunia,tetapi dimata Tuhan setiap orang entah dia itu miskin atau kaya, pintar atau bodoh, berpendidikan atau tidak berpendidikan, semuanya dihargai oleh Tuhan. Bahkan firman Tuhan di dalam I Korintus 12:23 berkata demikian : “ Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.” (1 Korintus 12:23 TB). Murid-murid Tuhan Yesus, adalah para nelayan, orang sederhana, tidak berpendidikan tinggi, tetapi justru dipilih jadi murid-murid Yesus. Dimata Tuhan setiap orang sungguh berharga. Bahkan puncaknya Tuhan Yesus rela mati bagi kita manusia berdosa ini, sungguh satu penghargaan yang amat besar atas hidup kita. 

Bila Tuhan begitu besar menghargai kita,maka mari kita juga hidup saling menghargai satu sama lainnya. 

Bagaimana cara kita menghargai orang lain ?

Berikanlah pujian seimbang dengan kritikan yang berikan 

Seseorang akan merasa dirinya dihargai bila dia tidak hanya dikritik tetapi juga dipuji atas kelebihannya. Ada seorang ibu, ketika anaknya pulang dari sekolah, dia tanya berapa nilai ulanganmu ? Sang anak menjawab dengan perasaan takut, dapat 80. Mengapa sang anak merasa takut, padahal nilainya 80 karena sang ibu akan melihat dimana letak kesalahannya, dan sang ibu akan memarahi si anak atas kesalahan itu. Nilai 80 tidak dipuji tetapi salah 20nya yang dipermasalahkan terus. Kamu khan sudah ibu ajari, kok lupa, kok nggak teliti sih dll. Itulah kecenderungan kita manusia, kesalahan sedikit lebih kita pandang dibandingkan dengan keberhasilan yang jauh lebih besar. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata:” “ Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3 TB) Bila itu terjadi maka penghargaan terhadap anak itu tidak ada. 

Hal yang sama bisa terjadi didalam kehidupan kita bergereja. Kelemahan atau kesalahan dari saudara kita seiman dalam pelayanan, lebih kita pandang dibandingkan kelebihannya. Kelemahan Hamba Tuhan lebih kita pandang, kelemahan majelis lebih kita pandang, kelemahan panitia pembangunan lebih kita pandang, kelemahan panitia peresmian lebih kita pandang, kelemahan jemaat lebih kita pandang, dibandingkan dengan kelebihannya. Kritik mengkritik itu sudah biasa di dalam gereja, tetapi yang tidak biasa adalah puji memuji. Apresiasi /penghargaan seringkali lupa diberikan. 

Mari kita menghargai segala jerih payah Majelis dalam pelayanan, mari kita hargai jerih payah panitia pembangunan, panitia peresmian, panitia hari besar, aktivis gereja, jemaat dalam pelayanan, memang kekurangan ada tetapi kelebihan mereka harus kita pandang juga. Disinilah kita belajar menghargai orang apa adanya. 

Seseorang merasa dirinya dihargai bila pendapatnya di dengar dan diperhatikan. 

Abraham sangat menghargai Lot keponakannya, Abraham lebih mendahulukan Lot untuk berpendapat sebelum dia sendiri berpendapat, padahal Lot itu keponakannya, mestinya paman dulu yang harus didengar, tetapi malah keponakan. Silahkan Lot kamu berpendapat dulu, pilih mana tanah yang kamu suka. Akhirnya Lot pilih lembah Yordan yang subur,sementara Abraham mendapatkan tanah yang kering. Tetapi akhirnya justru Tuhan memberkati Abraham dibandingkan Lot. Tuhan memberkati orang yang bisa mendahulukan orang lain. 

Dalam organisasi, seringkali kita condong mengutamakan pendapat kita sendiri, sementara pendapat orang lain kita abaikan. Firman Tuhan berkata :” “ Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19 TB)

Seseorang merasa dirinya dihargai bila dia dipercaya. 

Kepercayaan orang lain akan membangkitkan kepercayaan kepada diri sendiri, sebaliknya bila orang lain tidak percaya sama kita, maka kita pasti tidak punya percaya diri lagi. Memang saya nggak mampu, memang saya nggak bisa, makanya tidak dipakai dstnya. 

Ketika Tuhan Yesus mau menumpang di rumah Zakheus, wah Zakheus merasa sangat tersanjung, dia merasa sangat dihargai. Orang lain tidak mau ke rumahnya, tetapi Tuhan Yesus mau menumpang di rumahnya. Bagi Zakheus ini satu kepercayaan yang amat besar, sampai sebagai wujud sukacitanya, maka Zakheus mau membagikan hartanya kepada orang miskin. Orang yang dipercaya bisa melakukan perkara besar terhadap orang lain. 

Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, kamu sekarang bukan penjala ikan tetapi kamu kujadikan penjala manusia, satu kepercayaan yang amat besar yaitu menjadi kawan sekerja Tuhan. 

Bukan berarti kita gila hormat tetapi pujian itu penting, apresiasi itu penting, misalnya : suami-suami ketika istri masak ke asinan, langsung dikritik nggak enak ke asinan, tetapi kalau enak nggak ada pujian sama sekali, dianggap wajar, istri harus bisa masak. 

Demikian juga ketika suami bisa menafkahi dengan baik,istri tidak memuji memandang itu hal biasa, karena tugasmu memang harus cari nafkah, tetapi kalau uang belanja terlambat mulai ngomel. 

Firman Tuhan berkata: jangan engkau hanya melihat selumbar dimata saudaramu …tetapi balok dimatamu tidak engkau singkirkan. Artinya kita lebih cepat melihat kesalahan, tetapi tidak fer mengakui kelebihan. Inilah yang seringkali menghancurkan persekutuan. 

Devosi

Di Kuduskan Demi Pengabaran Injil

Roma 1:1

Perlu adanya kesadaran akan Panggilan Tuhan

Panggilan kita terutama bukanlah menjadi para pria dan wanita yang suci, melainkan untuk menjadi para pemberita Injil Allah. Satu hal yang sangat penting adalah Injil Allah harus dikenal sebagai satu-satunya realitas atau kenyataan yang kekal. Dan, realitas ini bukanlah kebaikan manusia, atau kesucian, atau surga, atau neraka, melainkan penebusan.

Hal ini dirasakan perlu menjadi kebutuhan utama dari pekerja Kristen masa kini. Sebagai pekerja, kita harus terbiasa dengan pernyataan atau penyingkapan bahwa penebusan adalah satu-satunya realitas. Kesucian pribadi/perorangan adalah akibat penebusan, bukan penyebab (untuk mendapatkan) penebusan. Jika kita menaruh iman kita pada kebaikan manusia, kita akan tenggelam bila pencobaan datang.

Paulus tidak menyatakan bahwa dia mengkhususkan dirinya sendiri, tetapi “ketika Allah berkenan, Dia memilih aku …,” demikian kata Paulus (Galatia 1:15, NKJV). Paulus tidak secara berlebihan menaruh perhatian atas diri/karakternya sendiri.

Selama mata kita terpusat pada kesucian pribadi kita sendiri, kita tidak akan pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Para pekerja Kristen gagal karena mereka menaruh hasrat atau keinginan pada kesucian mereka sendiri di atas hasrat mereka untuk mengenal Allah. Mungkin ada yang berkata, “Jangan meminta saya untuk dihadapkan dengan realitas penebusan yang kokoh di tengah kecemaran hidup manusia sebagaimana adanya, apa yang saya inginkan adalah apa yang dapat dilakukan Allah bagi saya agar saya menjadi semakin menarik dalam pandangan saya sendiri.”

Berbicara demikian merupakan tanda bahwa realitas Injil Allah belum menyentuh diri saya. Dalam hal seperti itu, tidak ada kerelaan meninggalkan segalanya dan memberikan diri secara sepenuhnya kepada Allah. Allah tidak dapat membebaskan saya selagi minat saya hanya tertuju pada diri atau karakter saya sendiri. Paulus tidak melihat ke dirinya sendiri. Dia sepenuhnya berhenti dan menyerahkan diri, dan dipisahkan oleh Allah untuk satu maksud, yaitu memberitakan Injil Allah (Roma 9:3).