Lukas 6:22-40
Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;” (Lukas 6:27 TB)
Kata kasih yang dipakai disini bukan kasih eros (kasih antar lawan jenis), atau kasih philia (kasih terhadap sahabat kita) tetapi istilah kasih disini yang dipakai adalah kasih agape, kasih agape adalah kasih yang tidak peduli apapun yang orang lakukan kepada kita, meskipun orang jahat kepada kita maka kita akan tetap mengasihi dia.
Kasih agape adalah kasih yang bukan digerakkan oleh hati kita tetapi oleh kehendak kita, kemauan kita, pengorbanan kita, perjuangan kita.
Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi musuh ? Hati kita berkata itu tidak mungkin, aku terluka, aku tidak bisa mengasihi, tetapi kehendak kita yang sudah dikuduskan oleh Kristus, akan berkata: tidak, bagaimanapun juga sakitnya hati ini, saya tetap harus bisa mengasihi musuh saya itu. Itulah kasih Agape.
Kasih Agape adalah anugrah Tuhan buat kita orang percaya. Setiap saudara akan dimampukan Tuhan untuk mengasihi orang yang menyakiti hati kita, Roh Kudus akan menguasai hati dan pikiran kita untuk selalu serupa dengan Yesus
Pengajaran Tuhan Yesus ini beda saudara dengan apa yang diajarkan oleh guru-guru besar yang ada di dunia ini:
- Seorang guru besar yang bernama Hillel berkata demikian: apa yang kamu benci, jangan lakukan itu kepada orang lain. Misalnya : yang kamu benci itu gossip, ya jangan kamu berbuat gossip, yang kamu benci itu fitnah, ya jangan kamu menfitnah.
- Seorang Yahudi yang hebat dari Aleksandria, berkata demikian :”Apa yang tidak ingin engkau derita, janganlah lakukan itu kepada orang lain.” Bila kamu tidak mau disakiti, ya jangan sakiti orang lain. Bila kamu tidak mau dikecewakan orang lain, ya jangan kecewakan orang lain.
- Seorang Orator Yunani bernama Isokrates, dia berkata demikian :”Hal-hal yang membuat engkau marah, ketika orang lain melakukannya terhadap engkau, janganlah lakukan itu terhadap orang lain.” Misalnya: engkau marah bila dihina orang lain, ya jangan kamu menghina orang lain spy mereka tidak marah
- Confusius berkata:”Apa yang tidak kamu kehendaki orang lain lakukan kepadamu, janganlah lakukan hal itu kepada orang lain.”
Inti ajaran guru-guru besar ini adalah:
Kalau kamu nggak mau dijewet, ya jangan jewet orang
Kalau kamu tidak mau diganggu orang, ya jangan kamu ganggu orang.
Saudara kelihatanya prinsip benar, tetapi sesungguhnya tidak sempurna. Saya sering mendengar orang berkata demikian :”Pak kalau orang baik sama saya, saya bisa lebih baik lagi sama dia, tetapi pak kalau orang jahat saya, saya juga bisa lebih jahat dari dia.” Saudara prinsip ini prinsip Taurat, mata ganti mata, gigi ganti gigi, jikalau mata kita dicelakakan maka seharusnya mata orang yang mencelakakan itu kita celakakan juga.
Ajaran Tuhan Yesus tidak seperti itu, mari kita perhatikan ayat 28 dari Lukas 6, dikatakan :
“ mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:28 TB). Ajaran ini sungguh-sungguh dipraktekkan oleh Tuhan Yesus sendiri, ketika Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem, memang semula Dia diagung-agungkan, tetapi kemudian Dia dicaci maki, dihujat, diolok-olok, dihina, dikutuki, dan lain-lain. Yesus hanya berkata di atas kayu salib: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
“ Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain (Lukas 6:29a). Ini juga dialami oleh Tuhan Yesus, ketika Imam Besar bertanya kepada Yesus tentang ajaranNya, maka Tuhan Yesus berkata :silahkan engkau tanyakan saja pada orang-orang yang mendengarkan pengajaranKu, sebab dimanapun Aku berada Aku tidak sembunyi-sembunyi menyampaikan ajaranKu. Waktu Yesus menjawab begitu, tiba-tiba pengawal dari imam besar, menampar muka Yesus sambil berkata:”Begitu ya jawabmu kepada Imam Besar. Selesai ditampar Yesus berkata:”Jikalau perkataanKu salah, tunjukkan salahnya, tetapi jikalau perkataanKu benar, mengapa engkau menampar Aku.”
dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.” (Lukas 6:29b). Ini juga dialami Tuhan Yesus, bukan hanya jubahnya yang diambil, dan diundi oleh para prajurit, tetapi hampir seluruh kain yang membalut tubuh Yesus diambil, hanya sisa kain yang berfungsi sebagai cawat. Yesus sungguh-sungguh ditelanjangi dan dipermalukan.
“ Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Lukas 6:35 TB)
Ayat ini sudah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Selama Tuhan Yesus hidup, Dia dekat dengan orang berdosa. Dia benci dosa tetapi Dia mengasihi orang berdosa. Yesus dekat dengan pemungut cukai, Yesus dekat dengan para pelacur, Yesus sering makan di rumah orang berdosa. Bahkan Yesus pernah berkata: Aku datang bukan untuk orang benar tetapi untuk orang berdosa. Saudara dan saya adalah orang berdosa, Yesus datang untuk menebus kita semua.
Jujur saudara, di dalam hidup kita manusia, kita lebih suka melihat kesalahan orang lain, sekecil apapun kesalahan itu, akan diperkarakan, yang kecil akan dibesarkan. Yang besar tambah dibesarkan lagi. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata kepada orang Farisi:” Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” (Lukas 6:41 TB). Kecenderungan kita manusia suka melihat orang lain jatuh, dan tidak suka melihat orang lain berhasil. Bila orang lain berhasil kita iri, tetapi bila orang lain jatuh kita bergembira.
Tuhan Yesus tidak demikian, sekalipun Dia melihat betapa besarnya dosa kita, Dia justru semakin sedih dan Dia ingin menyelamatkan kita.
Diakhir pelajaran ini Tuhan Yesus berkata demikian :
“ Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.” (Lukas 6:40 TB)
Artinya, kalau kita mengaku bahwa kita ini murid Yesus, maka kita harus hidup seperti Yesus,menyerupai Yesus, walaupun tidak sempurna tetapi paling tidak kita menyerupai guru Agung kita.
Kemenangan sebuah pengampunan :
1. Mengalami kedamaian yang luar biasa
Waktu lalu ketika kami bersekutu dalam komisi pria, ada seorang Bapak yang bersaksi, betapa dia merasakan kelegaan yang amat sangat, ketika dia bisa mengampuni musuhnya, yang sudah hampir 20-30 tahun bermusuhan. Musuhnya bukan orang jauh, tetapi tetangganya sendiri. Saat melihat tetangganya lewat,hatinya selalu panas, dan benci sekali, tetapi suatu hari, Tuhan menggerakkan hatinya, entah bagaimana tiba-tiba dia ingin pergi ke rumah musuhnya itu untuk mengambil jalan damai. Pembicaraan untuk damai mungkin tidak sampai berjam-jam, tetapi pembicaraan itu telah menyudahi permusuhan yang berpuluh-puluh tahun. Ketika perdamaian terjadi, damai dari Tuhan luar biasa dialami.
2. Mengalami sukacita yang luar biasa
Bapak yang tadi saya ceritakan, biasanya malu-malu bersaksi, semua kaum pria sudah bersaksi, tetapi Bapak ini belum juga mau bersaksi,tetapi ketika dia berhasil mengampuni, sukacitanya luar biasa, tidak saya todong bersaksi, tiba-tiba dia bersaksi panjang lebar tentang perdamaian yang dia buat dengan musuhnya. Inilah sukacita yang meluap dari sebuah pengampunan. Sukacita ini melebihi sukacita yang ada didunia ini. Orang dunia bersukacita, bila tidak ada yang ganggu dia, tetapi orang yang bisa mengampuni akan tetap bersukacita biarpun ada saja orang yang ganggu dia.
3. Mengalami pengampunan dari Tuhan
“ Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”” (Matius 6:14-15 TB)
Inilah kemenangan terbesar bila kita sungguh hidup dalam pengampunan, yaitu Tuhan akan mengampuni kita. Tetapi sebaliknya bila kita tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka bukan kemenangan tetapi bencana besar akan kita alami, yaitu Tuhan tidak mengampuni kita. Jadi kesimpulannya: orang Kristen dikunci mati oleh Tuhan, mau tidak mau kamu harus mengampuni.
