Christian Education

Pendidikan Kristen Dalam Keluarga

  1. Pendahuluan

Konsep Pendidikan bukanlah sebuah konsep yang diawali oleh para pakar pendidikan yang memiliki kapasitas dalam dunia Pendidikan. Tetapi ini sudah dimulai sejak Adam dan Hawa dan sudah memiliki konsep Pendidikan secara benar. Dan dalam keluarga memiliki peran penting untuk memiliki konsep yang benar mengenai Pendidikan Kristen. Karena konsep ini bukanlah konsep manusia melainkan dimulainya oleh Allah yang adalah educator. Pendidikan merupakan sebuah hal yang penting dalam kehidupan keluarga Kristen. Jika orang Kristen memiliki konsep Pendidikan yang benar, maka tentu akan memiliki dampak yang signifikan dalam perkembangan pengetahuan dalam keluarga sehingga terciptanya suatu pemahaman yang baru dan benar akan kebenaran yang sudah diberikan oleh Allah. Manusia diberikan logika untuk memikirkan dan merefleksikan Pendidikan Kristen dengan baik dan benar. Dan perlu diketahui bahwa, konsep Pendidikan tidak dimulainya oleh para tokoh seperti Descartes, Plato, Aristoteles, John Dewey dan lain-lain. Namun, ini telah ada konsepnya  dari Allah sendiri. Mari kita membahas awal mulanya Pendidikan ini.

  1. Pembahasan 
  1. Awal Mula Adanya Pendidikan

Pada zaman Perjanjian Lama sudah membicarakan mengenai Pendidikan itu. Dalam kehidupan orang Yahudi Pendidikan merupakan hal yang utama dan sangat penting. Anak-anak mereka sudah diajarkan mengenai hukum taurat. Sehingga mereka bisa menghafal dan bisa memiliki pemahaman yang benar. Orang tua yang adalah menjadi pendidik. Tentu orang tua harus memiliki pandangan bahwa Allahlah yang menjadi pendidik/guru utama. Sehingga mengarahkan dan mengajarkan anak-anak sesuai kebenaran dan pola pandangan Allah. Prinsip Alkitab mengenai cara mengajar dengan benar, Ulangan 6:7 harus engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engakau berbaring dan apabila engkau bangun. Inilah prinsip Alkitab mengajarkannya berulang-ulang. Sebagai umat pilihan Allah, kita harus memegang prinsip ini untuk mengajarkan kepada siapa saja, terlebih kepada anak-anak kita.

 Pendidikan merupakan sebuah progres yang baik jika diberikan dengan baik dan benar sesuai kebenaran yang mutlak. Pendidikan itu sendiri sangat berkembang sehingga mempengaruhi dunia. Tentu sebuah hal yang luar biasa. Sehingga adanya suatu perkembangan yang luar biasa. Tanpa Pendidikan tentu tidak mengerti dan mengetahui dan tanpa Allah terlebih dahulu sebagai guru agung kita tidak memahaminya secara benar apa itu Pendidikan. Bicara Pendidikan, tentu ini seperti sesuatu yang tidak penting bagi mereka yang tidak ingin tahu dan mencari tahu. Tetapi bagi mereka yang rindu mencari tahu dan ingin tahu tentu ini sesuatu yang sangat bermanfaat. Pendidikan itu sudah dimulai di taman Eden, terus timbul pertanyaan siapa gurunya? Tentu gurunya adalah Allah sendiri. Proses Pendidikan sudah sejak di taman Eden bagaimana Allah sebagai gurunya, Adam dan Hawa sebagai murid pertama. 

Dan proses Pendidikan di taman Eden ini langsung dengan alam yang sudah diciptakan oleh Allah sendiri dan konsep mengenai Pendidikan alam/sekolah alam itu sudah dimulai ketika Adam dan Hawa di taman Eden bersama dengan Allah. Tentu ini merupakan suatu hal yang begitu indah dan penting dan memiliki sifat kekekalan. Memang istilah Pendidikan tidak secara eksplisit dibicarakan dalam Alkitab. Namun, kalau kita telusuri dengan seksama dalam proses penciptaan itu sudah terjadi adanya pendidikan. Lalu, apa itu Pendidikan? Kata Pendidikan dalam bahasa inggris adalah “education” yang berasal dari bahasa latin “educare” dimana “e” adalah keluar, dan “ducare” adalah memimpin. Maka arti dari “education atau Educare” adalah memimpin keluar. Untuk memahami lebih dalam lagi mengenai istilah Pendidikan ini maka perlu dilihat satu analogi dari seorang filsuf barat yaitu Plato. Plato ini memberikan sebuah analogi yang begitu baik dan analogi itu tentang gua. Dan analogi ini sangat terkenal sekali untuk memahami Pendidikan itu sendiri. 

Dalam analogi gua dari Plato, orang-orang sederhana itu seperti orang tinggal didalam gua. Gua itu adalah gua yang sangat gelap. Dan di sana hanya ada satu sumber cahaya, yaitu satu api. Dan api nya pun tidak terlalu terang setiap orang yang ada di sana melihat ke tembok dari gua tersebut. Api yang menjadi satu-satunya sumber cahaya itu mereflesksikan bayangan dari orang-orang yang tinggal di gua itu. jadi semua orang-orang ini lihat adalah bayangan: bayangan mereka sendiri, bayangan mereka bergerak ke sana kemari, bayangan batu dan hal-hal lain. Tetapi semua itu hanyalah bayangan. Bagi mereka yang tidak mengetahui sesuatu yang lebih, maka yang namanya bayangan itu menjadi realitas. Jadi, bayangan itu adalah realitas mereka. Mereka berpikir demikian selama bertahun-tahun, sehingga realitas yang mereka miliki dan percayai sebagai realitas yang sesungguhnya adalah bayangan tersebut. dan mereka hanya berinteraksi dengan bayangan tersebut. tidak pernah dengan hal yang asli. Sampai suatu saat, ada satu orang dari gua itu, akhirnya keluar dari gua. Ketika dia keluar dari gua, di luar gua dia melihat dirinya sendiri, melihat rumput, melihat sapi, kuda, kerbau, pohon, bunga, matahari, bulan, langit, bintang-bintang, binatang, batu, sungai, hutan, gunung, serangga dan lain-lain. 

Dan dia bukan hanya melihat tetapi dia menyentuh sessuatu yang dilihatnya, juga mencium dan dia mendengar suara. Maka dia langsung menyadari bahwa hidupnya didalam gua itu adalah hidup yang berinteraksi dengan hal-hal yang bersifat tidak riil. Di luar gua, dia menyadari bahwa apa yang betul-betul riil itu tidak sama dengan yang dia alami di dalam gua. Lalu dia ingat teman-temannya di dalam gua itu boleh mengalami apa yang dia alami di luar gua. Maka dia kembali ke dalam gua untuk menyampaikan apa yang dialami di luar gua, yaitu suatu pengalaman berinteraksi dengan hal yang riil. Sehingga dia berusaha untuk mengajar, mendidik, teman-temannya dalam gua tersebut supaya mereka terbuka pikirannya dan akhirnya boleh bersentuhan dengan hal yang riil. Orang ini, yang berhasil keluar dari gua adalah orang yang “tercerahkan” yaitu orang yang pikirannya sudah dibukakan. 

Dan dia ingin membuka pikiran orang lain. Maka ketika dia kembali ke dalam gua untuk memulai berbicara dengan rekan-rekannya dan berusaha membukakan pikiran dari teman-temannya yang hanya berinteraksi dengan bayangan, maka itulah yang disebut sebagai perjalanan Pendidikan. Dia berusaha untuk memimpin teman-temannya keluar dari gua yang gelap menuju hidup di luar gua yang terang, yaitu yang berhubungan dengan hidup yang riil. Maka inilah sebuah proses perjalanan Pendidikan. 

Bagi Plato, Pendidikan selalu berusaha membawa orang-orang yang sederhana supaya mereka keluar dari kegelapan pikiran menuju terang pengetahuan dan kebijaksanaan. Tujuan akhirnya adalah supaya orang-orang yang sederhana ini boleh menjadi Raja Filsuf (Philopher king), sehingga mereka nantinya boleh memimpin dunia secara bijaksana. Inilah yang menjadi tujuan Pendidikan dari Plato. 

Dari pemahaman Plato ini tentu bukan menjadi standar untuk melihat Pendidikan itu, namun ada yang lebih mulia dibandingkan pandangan Pendidikan menurut Plato. Sehingga memunculkan sebuah ide yang berasal dari Allah. mengenai Pendidikan tentu ini di inisiasi oleh Allah sendiri karena Allah melihat manusia membutuhkan Pendidikan. Pendidikan sudah dimulai di taman Eden. 

Kejadian 2:15-17,  15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. 16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

 Dalam beberapa ayat 16 dan 17 mengindikasikan bahwa Pendidikan sudah mulai. Dan Allah telah mengajarkan kepada manusia di taman Eden yaitu Adam. Dengan diberikan perintah untuk tidak melanggar aturan Allah yang sudah ditetapkan-Nya. Namun manusia tidak menaati Firman itu. maka, akhirnya dia berontak terhadap Allah.  Pendidikan merupakan inisiatif Allah terhadap manusia untuk dapat lebih tepat dan benar untuk dapat mengetahui dan melakukan itu. orang tua adalah pendidik atau guru yang dipakai Allah untuk mendidik orang lain dan keluarga sendiri. Dalam konsep Pendidikan yang  Allah maksudkan bukan Pendidikan formal seperti disekolah, namun lebih tepatnya yaitu Pendidikan didalam keluarga sebagai Lembaga utama. 

Maka peran penting orang tua dalam mendidik anak ini sangat penting sekali. Sebab yang lebih dekat dengan anak adalah orang tua, yang lebih mengetahui anak adalah orang tua, dan lebih mengetahui karakter anak adalah orang tua. Jika orang tua menyianyiakan akan pekerjaan mulia ini. Maka, disayangkan akan berdampak pada generasinya sehingga tidak lagi terdidik dengan benar. Apa yang menjadi standar Pendidikan dalam keluarga? 

  1. Standar Pendidikan Kristen dalam keluarga

Berbicara mengenai dasar untuk Pendidikan tentu adalah kebenaran. Sebab kebenaran merupakan kebenaran yang telah teruji dan benar. Boleh saja, banyak buku untuk menjadi panduan dalam Pendidikan dalam keluarga. Tentu itu bukan menjadi persoalan. Namun lebih kepada hal-hal sederhana dan memiliki dasar kebenaran yang kredibel. Tetapi ketika berpedoman kepada Firman maka tidak akan mungkin itu salah sebab ini berasal dari Allah. Kalau dibandingkan dengan buku yang lain tidak memiliki dasar yang kuat maka memberi pengaruh kepada orang yang membacanya. Salah memilih referensi untuk menjadi panduan dalam Pendidikan keluarga juga sangat berbahaya. Sebab itu belum tentu dari penulis yang bukan Kristen. Contoh nya seorang tokoh Pendidikan yang diagungkan oleh dunia barat hingga di Indonesia yaitu John dewey, pengaruh pemikiran tokoh ini sangat berperan dalam dunia Pendidikan saat ini. John Dewey bukanlah seorang Kristen dan dia adalah seorang Ateis humanist yang tidak percaya adanya Allah. Ini sangat disayangkan didunia Pendidikan saat ini, boleh dikatakan pemikirannya memang bagus. Namun dia tidak memiliki standar yang jelas. Dan itu tidak berasal dari kebenaran firman tetapi berdasarkan pada kepercayaan humanist manifesto. Jika kita melandaskan pemikiran ini maka sama halnya membuang Tuhan. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru banyak sekali berbicara mengenai Pendidikan yang benar dalam keluarga. 

Istilah keluarga yang digunakan dalam Perjanjian Baru untuk keluarga adalah kata Yunani ”patria” yang berarti ”keluarga dari sudut pandang relasi historis, seperti garis keturunan”. Dalam penggunaannya, kata “patria” ini lebih menekankan asal usul keluarga. Kata “patria” disebutkan 3 kali Perjanjian Baru. Kata ini digunakan dalam Luk.2:4, dimana disebutkan bahwa Yusuf berasal dari keluarga dan keturunann ”patria” Daud, yaitu garis keturunannya secara jasmani.  

 Mengapa keluarga memiliki peran penting? Karena keluarga merupakan representasi Allah terhadap ciptaan-Nya sebagai wakil Allah yang memberikan tanggung jawab untuk melaksanakan amanat-Nya dalam keluarga. Dan keluarga merupakan hal yang diinginkan Allah, Dia menciptakan keluarga dan Dia juga memberkati menjadi keluarga dan terus memberikan pertolongan dalam keluarga untuk tetap menjadi berkat dan selalu menjaga komitmen. Sehingga tidak mencederai komitmen itu dalam keluarga. Dan jika memosisikan kita sebagai ciptaan, maka perlu memfokuskan diri kepada Allah sebagai pencipta, sebagai pemberi berkat. Dan menjadikan Firman Allah sebagai dasar, fondasi yang memuat hukum-hukum dan ketetapan serta batasan yang Allah kehendaki. Adanya keluarga merupakan kehendak Allah, Allah tidak mau ciptaan-Nya mencederai pernikahan yang sangat sakral ini. Manusia juga perlu memposisikan diri sebagai manusia yang secara total jatuh kedalam dosa (Roma 3:11-12; 23) dan tidak memiliki kemampuan apapun, untuk melakukan sesuai kehendak dirinya sendiri. Sebab kehendak diri sendiri telah tercemar oleh dosa, sehingga manusia tidak lagi mengandalkan kehendak diri sendiri melainkan kehendak Allah. Keluarga Kristen adalah keluarga sudah percaya dan benar-benar taat kepada Allah. Sebab keluarga Kristen bukanlah slogan semata. Tetapi lebih kepada hal yang begitu penting. Dasar dalam pembinaan keluarga Kristen yaitu Firman-Nya. Karena Firman-Nya adalah cermin kehidupan manusia. Sebagaiman cermin memiliki fungsi untuk melihat diri sendiri dan melihat siapa kita. 

Sebagaimana dalam 2 Timotius 3:16 segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Maka jadikanlah Firman sebagai standar dan dasar dalam Pendidikan Kristen dalam keluarga. Untuk memberi pemahaman kepada manusia dari sudut pandang  Allah mengenai esensi, eksistensi, dan tujuan keberadaan Pendidikan itu sendiri.

  1. Mengelola Pendidikan Kristen dalam Keluarga

Untuk mengelola sebuah perusahaan atau lembaga tentu membutuhkan sebuah komitmen yang kuat dan membutuhkan ketelitian bukan ketelodoran. Pengelolaan membutuhkan sebuah proses yang tidak mudah. Dan ini membutuhkan sebuah kecintaan. Mengapa? Karena tanpa cinta akan Tuhan tidak mungkin mengelola keluarga dengan baik. Perlu adanya kecintaan kepada Tuhan dan kecintaan kepada Tuhan akan terlihat bagaimana mengelola keluarga dengan bijak. Dan perlu adanya suatu pola yang baik agar dalam proses pertumbuhan dalam keluarga dan proses Pendidikan kearah kebenaran itu lebih nikmat dan lebih menyenangkan. Bayangkan anda mendidik anak anda ke hal yang buruk. Tentu ini akan berdampak kepada masa depannya dan ini tidak mencapai tujuan Allah. Maka, perlu sebuah pola Alkitabiah dalam memberikan wawasan atau Pendidikan dalam keluarga. Keluarga yang dimaksudkan yaitu antara pasangan dan anak. Jika berdasarkan pada kebenaran yang absolut, tentu ini sebuah langkah yang benar untuk kearah yang lebih baik. 

Cekcok atau problem dalam keluarga tentu pasti ada. karena ini merupakan pendewasaan iman. Dan kesesuaian dengan pengajaran dan hal praktis juga sangat penting. Maka harus memulainya dalam hal jatuh cinta yang terus menerus supaya bisa membangun cinta. Pengelolaan dalam mengelola untuk memberikan Pendidikan dalam keluarga ini harus sesuai dengan Alkitab. Supaya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan keluargapun sehat. Untuk dalam pengurusan dalam keluarga tentu sebagai kepala (suami) dan penolong (istri) keluarga harus mempunyai sifat kompromi dengan kebenaran.  Perbedaan pendapat bukanlah  pemicu sehingga terjadinya percekcokan dalam keluarga. Tetapi tidak melandasinya dengan persekutuan dengan Tuhan (renungan bersama). Mengapa sering adanya  keributan dalam keluarga? Karena kedua belah pihak tidak saling menerima perbedaan pendapat dan beradu argument. Karena merasa dikalahkan, karena merasa di gurui, maka akhirnya dengan cara kekerasan. Inilah pola Pendidikan keluarga Kristen yang kurang bagus. Dan memberikan tempat dihatimu yaitu iblis sebagai penguasa untuk mengendali seluruh hidup kita. Lalu, bagaimana caranya untuk mengelola keluarga dengan baik,? Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan supaya keluarga menjadi sehat. 

  1. Kasih

Kasih merupakan hal yang selalu dibicarakan oleh Alkitab mengenai tindakan Allah kepada manusia. Dan Allahlah yang menginisiasi adanya kasih, karena Dia adalah kasih, mengapa Dia kasih? Karena Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan;…….(1 Korintus 13:4-8).  Dan inilah perintah itu, yaitu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. (2 Yohanes 1:6b). Milikilah kasih itu supaya bisa mengelola keluarga dengan kasih. Karena adalah kasih yang tidak pernah mendendam. Dan juga kasih adalah kegiatan, kelakuan, dan tindakan, bukan hanya sekedar perasaan batin atau motivasi. Kasih juga adalah undang-undang dasar kerajaan Allah. 

  1. Sabar

Kesabaran merupakan salah satu sifat Allah yang mutlak tanpa di pengaruhi oleh ciptaan-Nya. Tindakkan Allah merupakan keinginan-Nya untuk melakukan sesuai kehendak-Nya untuk mendatang kebaikan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Tetapi Dia juga tidak akan membiarkan ciptaan-Nya melanggar perintah, ketetapan-Nya, maka Dia juga akan mengadili setiap orang yang telah menyeleweng dari perintah-Nya. Ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, kesabaran adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Ujian sejati dari kesabaran terjadi ketika hak-hak dilanggar. Meskipun sebagian besar orang menganggap kesabaran sebagai tindakan menunggu yang pasif atau menerima dengan lemah lembut, sebagian besar dalam pengertian Yunaninya mengenai kesabaran lebih tepat bersifat aktif dan kuat. Dalam hubungan dalam keluarga tentu ini hal yang penting untuk dijalankan. Dalam segala sesuatu membutuhkan kesabaran. Terkadang orang tidak sabar, dalam hal keluarga maunya cepat-cepat bereaksi tanpa ada pertimbangan yang matang, pada akhir menyesalinya. Kesabaran harus dimiliki dalam pengelolaan keluarga kearah yang lebih tepat. Kesabaran juga merupakan hal yang dibutuh dalam segala hal. Bersabarlah karena ada keinginan menanamkan kasih mesra dalam keluarga meskipun sulit dijalankan. Tetapi kalau dijalankan dengan penuh kesabaran maka hasilnya menyenangkan sekali. Pikirkalah. 

  1. Pengendalian diri

Pengendalian diri merupakan salah satu aspek penting dalam mengelola diri sendiri untuk tidak melakukan aksi untuk mencederai seseorang dengan tindakan kekerasaan maupun emosi yang berujung pada tindakan yang tidak terpuji. Tindakkan ini merupakan hal yang dibicarakan oleh Alkitab. Dan pengendalian diri juga merupakan salah satu buah roh yang wajib dimiliki oleh orang Kristen. Mengendalikan diri atau menguasai diri berarti Manahan diri untuk tidak melakukan suatu keinginan. Banyak sekali keinginan duniawi yang akan membawa kepada kesesatan. Secara konseptual bermakna mampu memiliki kuasa atau otoritas untuk mengarahkan, memerintahkan atau melarang diri sendiri terutama terhadap nafsu, keinginan besar, kegemaran, amarah, hasrat, emosi, kecanduan, egoism dan lain-lain. Dalam 1 Korintus 7:9 Tetapi kalau tidak dapat menguasai diri,….dalam 2 Petrus 1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan. Dan masih banyak lagi mengenai pengendalian diri atau menguasai diri. Pengendalian diri dan kesabaran hampir sama dalam melakukannya. Tetapi memiliki perbedaan yang mendasar. Kesabaran lebih kepada arah penantian dalam proses yang Panjang. Dan pengendalian diri lebih mengacu kepada hal menguasai diri untuk tidak secara brutal dilakukan, tetapi penuh pertimbangan yang matang. Didiklah keluarga anda kearah pengenalan akan Allah dan takut akan Allah.

“Keluarga diciptakan oleh Allah, Allah memberkati menjadi keluarga, adanya keluarga merupakan kehendak Allah, dan keluarga membutuhkan Allah. Tanpa Allah keluarga hancur”. (Nicodemus Kaborang)