Keluarga Kristen

ETIKA PENDIDIKAN DAN ETIKA POLITIK

Nama Penulis: Nicod Kaborang

BAB I

PENDAHULUAN

    Etika dan Pendidikan merupakan sesuatu hal yang tidak boleh dipisahkan mengenai proses pengambilan keputusan dalam suatu Pendidikan. Dan memiliki tanggung jawab secara moral untuk kepentingan yang menerima Pendidikan itu. Sehingga memiliki dampak yang signifikan dalam proses pengambilan keputusan secara bijak. Karena tidak untuk kepentingan diri sendiri melainkan kepentingan bersama. Dan juga harus memiliki tatanan moral yang diterima bersama didalam kanca Pendidikan dan masyarakat. Konsep manusia sebagai makluk politik menunjukkan bahwa pemikiran politik yang menyangkut proses dan hasil dari kegiatan politik suatu system politik suatu pemerintah berdasarkan esensi manusia. Term etika dapat dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi dasar seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Etika memberikan dasar moral politik. 

     Etika politik adalah satu kesatuan yang dapat membantu dan menolong untuk sebuah kebijakkan yang sesuai norma-norma dan aturan yang berlaku. Politik membutuhkan etika untuk bisa membatasi dan bisa memberikan sebuah keputusan yang benar sesuai dengan kebijakkan yang berlaku dalam masyarakat. Saat memilih dan memilah akan bisa berdampak kepada orang yang mengambil keputusan tersebut. Karena tolok ukur yang dipakai oleh masyarakat bukan pada keputusan pribadi melainkan yang sudah ada dalam masyarakat tersebut. 

BAB II

PEMBAHASAN

  • Sejarah dan Pengertian Etika

St. John of Damaskus (Abad ke-7 Masehi) menempatkan etika didalam kajian filsafat praktis (practical philosophy) Etika muncul di kalangan murid Pytagoras. Kita tidak tahu banyak tentang Pytagoras. Ia lahir pada tahun 570 SM di Samos di Asia Kecil Barat dan kemudian pindah ke daerah Yunani di Italia selatan. Ia meninggal tahun 496 SM. Kata “Etika” secara etimologis berasal dari bahasa Latin “Ethos”, sedangkan moral diserap dari bahasa Yunani “Mores”. Dalam bahasa Inggris Etika disebut Ethics. Etika secara etimologis adalah cabang Filsafat yang menyelidiki tentang pertanyaan dasar bagaimana seharusnya kita hidup dan berperilaku. Dapat dikatakan pula bahwa etika adalah studi kefilsafatan tentang moralitas. Dalam bahasa inggris disebut ethical studies. konsep dasar yang diselidiki dalam studi etika adalah perihal baik (good) dan buruk (bad), benar (right) dan salah (wrong). 

Etika merupakan studi sistematis mengenai persoalan yang paling utama dari tindakan manusia (human conduct). Secara etimologi, ada dua kata yang di tarik dari bahasa Yunani untuk memahami etika, yakni (Character/karakter) dan (Custom/kebiasaan). Etika adalah bisa dimaknai sebagai cabang filsafat yang mempelajari alam kebaikan dan kejahatan, baik dan buruk, tugas dan kewajiban. 

  • Tokoh-tokoh etika
  1. Plato     : Cinta kepada yang baik
  2. Aristoteles     : Menuju kebahagian
  3. Epikurus     : Etika sebagai seni hidup 
  4. Stoa     : Ketenangan orang bijaksana
  5. Augustinus : Cintailah dan lakukanlah apa yang kau kehendaki
  6. Thomas Aquinas     : Kebahagian hukum kodrat
  7. Baruch Spinoza     : Tuhan atau Alam
  8. Joseph Butler     : Cinta diri tenang
  9. David Hume     : Perasaan Moral 
  10. Immanuel Kant     : Hukum moral dibatinku
  11. Arthur Schopenhauer : Belas kasih dan penyangkalan diri
  12. John Stuart Mill     : Prinsip Kegunaan
  13. Friedrich Nietzsche : Moralitas Tuan Lawan Moralitas Budak.
  • Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah dalam bahasa inggris education berasal dari bahasa Latin “educare,” di mana “e” adalah keluar, dan “ducare” adalah memimpin. Maka arti dari education atau Pendidikan adalah “memimpin keluar” Pemahaman dasar etika mempunya peran menentukan dalam pengembangan etika Pendidikan. Berdasarkan etika dasar, etika Pendidikan dapat menimba perlengkapan konseptual dan pengayaan kategori-kategorinya. Etika Pendidikan sebagai cabang dari etika dari etika social lebih focus mengkaji kewajiban dan norma-norma dalam proses Pendidikan, yakni terutama seorang dalam suatu masyarakat negara (memiliki system Pendidikan tertentu) berinteraksi secara edukatif dengan individu (terlihat dalam proses pendidikan) dan kelompok lain (seperti orang tua dan masyarakat). 

Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata-laku seseorang atau kelompok orang dalam upaya mendewa-dewakan manusia, melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Maksudnya ialah melalui, 

pertama,  Pendidikan, orang bisa mengalami perubahan sikap dan tatalaku, memproses menjadi dewasa dan matang dalam berperilaku. 

Kedua, Pendidikan merupakan suatu proses pendewasaan, sehingga orang menjadi lebih matang dalam bersikap dan bertingkah laku. 

ketiga, melalui pengajaran dan pelatihan, proses pendewasaan seseorang dapat dilakukan. 

  • Tujuan Pendidikan 

Tujuan Pendidikan bertujuan menciptakan generasi yang emansipatoris, terbebas dari belenggu dari belenggu keterbelakangan serta berbagai problem-problem sosial dalam masyarakat yang dapat menyebabkan terhambatnya kesejahteraan bersama. Karena tujuan Pendidikan untuk menciptakan generasi yang cerdas, namun juga memiliki etika moral yang membantunya dalam bersosial dalam masyarakat. Menurut pendapat Froebel ada 2 tujuan Pendidikan: Tujuan pertama, tujuan Pendidikan adalah pencapaian kehidupan yang setia, tidak bersalah dan karena itu suci. Tujuan yang menjadi luhur bagi manusia adalah menjadi seorang yang bijaksana. Dan tujuan yang kedua, Pendidikan hendaknya mengantar serta membimbing orang untuk mengetahui dirinya sejelas mungkin, untuk mengalami perdamaian dengan alam dan kesatuan dengan Allah, dalam pengertian bahwa Pendidikan hendaknya menolong orang untuk memperoleh pengetahuan tentang dirinya dan umat manusia, tentang alam dan Allah, serta mengamalkan kehidupan yang tidak bersalah dan suci. 

Menurut Raka Joni menyatakan, peranan kunci Pendidikan dalam interaksi Pendidikan adalah pengendalian yang dasarnya dengan tiga cara, yaitu : 

a. menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk memutuskan dan berbuat. 

b. menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan berbuat dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. 

c. menyediakan system dukungan yang menawarkan serta kemudahan belajar. 

Dalam pengertian ini Raka Joni harus memiliki kunci Pendidikan yang mengarah kepada Pendidikan yang bersifat interaksi kepada para pendidik dan pendidik yang lainnya. 

Upaya Pendidikan yang berfokus pada pengembangan pancadaya dan dimensi kemanusiaan, dengan dasar hakikat manusia, akan secara langsung mengisi dimensi-dimensi kemanusiaan yang hasil akhirnya terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan pengembangan pancadaya itu seoptimal mungkin manusia seutuhnya akan dapat tercapai. Pengembangan yang dimaksudkan adalah melalui pendidikan.  

Setiap kegiatan Pendidikan, yang berlangsung dalam hubungan Pendidikan, selanjutnya disebut situasi Pendidikan, didalamnya terkandung komponen peserta pendidik, tujuan Pendidikan, dan proses pembelajaran. Kualitas Pendidikan yang terjadi di dalam situasi Pendidikan itu ditentukan oleh kualitas komponen-komponen itu masing-masing dan kualitas interaksi antar komponen tersebut. Tujuan Pendidikan pada dasarnya tidak lain adalah arah yang hendak dicapai dengan terwujudnya tujuan hidup manusia., dimensi kemanusiaan dan pancadaya. Tujuan Pendidikan mengarah kepada pembentukan manusia yang berperikehidupan. 

Dan peranan Pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia, terlebih dalam zaman modern sekarang ini yang dikenal dengan abad cyhemetica, Pendidikan diakui sebagai satu kekuatan (education as power) yang menentukan prestasi dan produktivitas di bidang yang lain. Karena, menurut Theodore Brameld bahwa education as power means competent and strong enough to enable us, the majority of people, to decide what kind of a world we want and how to archive that kind world, (Pendidikan sebagai kekuatan berarti mempunyai kewenangan yang cukup kuat bagi kita, bagi rakyat banyak untuk menentukan suatu dunia semacam itu. tidak ada satu fungsi dan jabatan di dalam masyarakat tanpa melalui proses pendidikan).    

Undang-undang system Pendidikan Nasional atau disingkat UU SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 di dalam menyatakan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. 

Tujuan Pendidikan lebih berkaitan dengan tugas-tugas untuk meneliti potensi-potensi yang ada dalam diri manusia dan membuat proyek yang membantu manusia supaya dapat merealisasikan potensi dirinya secara penuh. Dengan demikian, segala upaya yang membantu manusia untuk menyempurnakan dirinya berdasarkan kekuatan yang ada dalam dirinya sendiri secara penuh menjadi valid untuk ditera sebagai tujuan pamungkas Pendidikan.

  • Pengertian  Politik

Perkataan politik berasal dari bahasa Yunani, yaitu polis. Secara harfia, arti kata polis adalah kota, dan dari sinilah dikembangkan berbagai pengertian. Rumusan yang bersifat harfiah dan kemungkinan untuk meluas diberikan Tom. B. Jones, yakni:

Polis[po’lis]…Greek word for city, also extended to means the state. It is the source of the English words,”politics” “politician” and allied terms. In Greece, the polis, or city state, a political entity composed of an urban area and its surrounding countryside, was the normal, and also ideal, auntonomous political divison. Artinya Polis…kata Yunaninya  untuk menunjukkan kota, juga diperluas berarti negara. Ini adalah sumber dari kata-kata bahasa inggris, “politik” politisi dan istilah sekutu. Di Yunani polis, atau negara kota, entitas politik yang terdiri dari daerah perkotaan dan pedesaan disekitarnya, adalah divisi politik otonom yang normal, dan juga ideal. 

Berdasarkan uraian diatas, pengertian terhadap etika politik dapat dijelaskan, yakni suatu penelitian kritis terhadap moralitas anggota masyarakat dan moralitas yang terkandung pada setiap proses pengambilan keputusan, pelaksanaan dan bertanggungjawabnya pada suatu masyarakat atau negara. Singkatnya, etika politik akan senantiasa memasuki wilayah pertanyaan moral didalam dimensi politis kehidupan manusia.  

Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, kejadian, jalan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki. Politik secara umum menyangkut proses penentuan tujuan negara dan cara melaksanakannya, di mana dalam pelaksanaannya membutuhkan kebijakkan-kebijakkan umum (public policies) untuk mengatur, membagi, atau mengalokasikan sumber-sumber yang ada. untuk melaksanakan kebijakkan-kebijakkan itu, perlu adanya kekuasaan (power) dan wewenang (autority) untuk membina kerja sama maupun menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses ini.

  • Fungsi  Politik 

Dalam masyarakat terbatas pada penyedian alat-alat teoretis untuk mempertanyakan serta menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab. Jadi, hal ini tidak berdasarkan emosi, prasangka, dan apriori, melainkan secara rasional, objektif, dan argumentative. Etika politik tidak hanya harus mengemukakan legitimasi demokratis, melainkan juga batas-batas hak demokrasi. Secara etis harus dikatakan bahwa tidak ada kehendak pihak manapun di dunia, entah minoritas, entah mayoritas, yang memiliki suatu hak mutlak agar kehendaknya terlaksana. Etika Politik memiliki fungsi sebagai subsidier: membantu agar pembahasannya masalah-masalah ideologis dapat dijalankan secara objektif, artinya berdasarkan argument-argumen yang dapat dipahami dan ditanggapi oleh semua yang mengerti masalah. 

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat kearah kehidupan bersama yang harmonis. Fungsi etika politik terbatas pada penyediaan pemikiran-pemikiran teoritis untuk mempertanyakan dan menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab, rasional, objektif dan argumentatif.

Sejak awal hingga perkembangan yang terakhir, ada sekurang-kurangnya lima pandangan politik. Pertama, politik ialah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Kedua, politik ialah segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan pemerintah. Ketiga, politik sebagai segala kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Keempat, politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum. Kelima, politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan/atau mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting. 

Ada dua tradisi besar yang sampai saat ini tidak terjembatani: Di satu pihak adalah tradisi yang memadang politik sebagai praktek dominasi. Sebagaimana dikembangkan oleh Plato , Machiavelli, Bodin, dan Schmitt; dan di lain pihak adalah tradisi yang memandang politik sebagai praktek kebebasan, sebagaimana diperkembangkan oleh Aristoteles, Locke, Rousseau, Kant, Montesquire, Tocqueville, dan Hannah Arendt. Dari perspektif etika politik, politik sebagai praktek dominasi adalah biadab, etika politik merupakan upaya terus menerus untuk membendung praktek dominasi itu. etika politik adalah suatu upaya menjinakkan kekuasaan. Dalam perspektifnya suatu politik yang membiarkan diri dikekang oleh palang-palang moral justru akan kehilangan ruang realisasi dirinya. Politik adalah kelihaian, dan kelihaian tidak hanya berada di atas moralitas, melainkan juga dapat menciptakan moralitas dan ruang kebebasan. Etika politik dan realpolitik, pendekatan normative dan deskriptif, dapat disambungkan jika kita memahami kebebasan sebagai seni fragmentasi.

Politik sebagai arena, artinya politik merupakan seni memerintah dalam urusan public. Seni memerintah dimaksudkan adalah kemampuan dari seorang pemimpin atau politisi untuk mengelola kekuasaan yang di milikinya. Politik juga sebagai proses, artinya politik merupakan proses kompromi dan consensus dijalankan dan dihasilkan guna memenuhi kepentingan berbagai kelompok masyarakat yang saling berbeda bahkan bertentangan satu sama lain. Panduan kompromi dan konsensusnya tidak lain tidak bukan adalah kesejahteraan bersama sebagai konsekuensi hidup berbangsa dan bernegara yang sama.  

Etika Politik tidak hanya berkaitan dengan masalah perilaku etis dan tidak etis para politikus. Haryanto menempatkan etika politik juga dengan praktik institusi social, hukum, komunitas, struktur-struktur social, politik, ekonomi. Haryatmoko menjelaskan bahwa etika politik ini memiliki 3 dimensi. Pertama, adalah tujuan politik, kedua, menyangkut masalah pilihan sarana. Dan ketiga, berhadapan dengan aksi politik. Tujuan politik terumuskan dalam upaya mencapai kesejahteraan masyarakat dan hidup damai yang didasarkan pada kebebasan dan keadilan.

  • Manfaat etika politik

Manfaat etika politik justru tidak bersifat praktis. Etika politik tidak bertugas untuk mengkhotbahi para politis atau untuk langsung mempertanyakan legitimasi moral pelbagai keputusan, melainkan sebaliknya. Etika politik menuntut agar segala klaim atas hak untuk menata masyarakat dipertanggungjawabkan secara moral dasar. Klaim-klaim legitimisai dari segala macam kekuatan, entah bersifat kekuasaan langsung, entah bersembunyi di belakang pembenaran-pembenaran normative, dipaksa untuk membenarkan diri. Dan dampak etika politik adalah sebagai kenyataan dalam kehidupan masyarakat yang tidak membiarkan segala macam klaim wewenang menjadi mapan begitu saja.  

Pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik daripada yang dihadapinya, atau yang disebut Peter Merkl: “politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan social yang baik dan berkeadilan (politics, at its best is a noble quest for a good order and justice)” betapa samar-samar pun tetap hadir sebagai latar belakang serta tujuan politik. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat kea rah kehidupan bersama yang harmonis. 

Pokok-pokok etika politik dan pemerintahan berdasarkan ketetapan MPRRI No.VI/MPR/2001 tentang kehidupan berbangsa di jelaskan sebagai berikut: 

  1. Etika politik dan pemerintahan dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintah yang bersih, efisien, dan efektif serta menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan, rasa bertanggung jawab akan aspirasi rakyat, menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, kesediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa;
  2. Etika pemerintahan mengamanatkan agar penyelenggara negara memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada public, siap mundur apabila dirinya telah melanggar kaidah dan system nilai atau pun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat, bangsa dan negara.

Di zaman Yunani itu etika dan politik saling berjalan erat. Kebijaksanaan politik mengajarkan bagaimana manusia harus mengarahkan ke negara. Maka etika politik akan berperan untuk mencegah kompetisi politik yang kotor, transaksi politik yang tidak sehat, serta perilaku politik yang korup. Etika politik adalah perkembangan filsafat di zaman pasca tradisional. Dalam tulisan para filsuf politik klasik: Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Marsilius, dari Padua, Ibnu Khaldun, kita menemukan pelabagai unsur etika politik, tetapi tidak secara sistematik. Maka sejak abad ke-17 filsafat mengembangkan pokok-pokok etika politik seperti: 

  1. Perpisahan antara kekuasaan Gereja dan kekuasaan negara (John Locke)
  2. Kebebasan berpikir dan beragama (Locke)
  3. Pembagian kekuasaan (Locke dan Mostiquie)
  4. Kedaulatan rakyat (Rousseau)
  5. Negara hukum demokrasi/republican (Kant)
  6. Hak asasi manusia (Locke dsb)
  7. Keadilan social. 

Ketika melihat sebuah progress etika politik saat ini di Indonesia  tidak adanya progress yang signifikan malahan menurun. 

Budaya politik Indonesia dewasa ini telah kehilangan resonansi perjuangan kesejahteraan bersama yang berdiri di atas prinsip kepentingan umum, solidaritas, dan subsidiaritas. Ada kecenderungan politik berubah menjadi medan perjuangan kepentingan kelompok dan golongan. Moralitas dan etika politik tidak lagi berperan sebagai fungsi control dan fungsi kritis atas setiap aktivitas politik para politisi karena yang diperjuangkan adalah apa yang penting bagi kehidupan kelompok dan golongan mereka dan bukan apa yang penting dan mendesak dibutuhkan oleh seluruh warga masyarakat. 

    Menurut Marxisme, menilai politik adalah perjuangan antar kelompok social khususnya kelas social. 

Menurut Max Weber ada empat alasan seseorang mau melakukan berpartisipasi politik:

  1. Pertimbangan rasional nilai

Keterlibatan dalam politik didasarkan atas pertimbangan rasional nilai suatu kelompok. Melalui aktivitas politik, nilai yang ingin diperjuangkan atau kepentingannya dapat tercapai. 

  1. Emosional afektif

Keterlibatan dalam politik didasarkan rasa sukacita terhadap suatu ide, organisasi, tokoh partai, yang bersifat nonrasional. 

  1. Tradisional

Keterlibatan dalam politik didasarkan atas pertimbangan norma tingkah laku individua tau tradisi tertentu dari suatu kelompok social. 

  1. Rasional Instrumen

Keterlibatan dalam politik didasarkan atas kalkulasi untung rugi secara ekonomi. Bersumber dari pemikiran utilitarianisme yang mengasumsikan individu merupakan makluk rasional, senantiasa menghitung dan membuat pilihan yang dapat memperbesar keuntungan dan mengurangi kerugian.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan 

Etika Pendidikan merupakan sebuah konsep yang baik untuk memiliki sebuah pola yang benar sesuai dengan etika. Sehingga Pendidikan itu bisa membawa kepada kesejahteraan oleh yang terdidik sehingga mengetahui batasan-batasan secara moral, mengenai Pendidikan. Etika Pendidikan memiliki prinsip yang baik, sehingga bisa memiliki sesuatu perspektif untuk bisa memilih dan memilah sesuai dengan kriteria dan sesuai dengan etika yang berlaku di masyarakat. Standar moral merupakan tolok ukur etika Pendidikan. Dimensi etis merupan dasar kajian dalam pengambilan keputusan. Etika Pendidikan yang berfokus pada etika terapan dan etika normative.  

Etika politik merupakan sebuah cara untuk memberikan edukasi  untuk bisa mengenal, mengetahui norma-norma dan hukum-hukum yang ada di negara dan etika politik termasuk dalam kelompok etika social yang membahas norma-norma moral yang seharusnya menimbulkan sikap dan tindakan antar manusia, karena hampir semua kewajiban manusia bergandengan dengan kenyataan bahwa ia adalah makluk social. Etika politik tidak menawarkan suatu system normatif sebagai dasar negara. Etika bersifat reflektif yakni memberikan sumbangan pemikiran tentang bagaimana masalah-masalah kehidupan dapat dihadapi. Tetapi tidak menawarkan tentang bagaimana memecahkannya. Dengan demikian etika politik mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan sebagai warga negara terhadap negara.  

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Muhammad, Filsafat Pendidikan, Kencana, Jakarta, 2015.

Arifin Muhammad, Pengantar Ilmu Pendidikan, Guepedia Publiser, 2019.

Budi Hardiman, Menggagas Manusia Sebagai Penafsir, Kanisius, Yogyakarta, 2005.

Budiardjo Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008.

Fitria Dewi Susi, Sosiologi Politik, Gre Publising, Yogyakarta, 2017.

Idi Abdullah, Dinamika Sosialogis Indonesia: Agama dan pendidikan dalam perubahan social, PT. LKiS Pelangi Aksara, Yogyakarta, 2015.

Kristiadi J dkk, Who Wants to be the next President?, Kanisius, Yogyakarta, 2009.

Koesoema Doni, Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2007.

Kopong Tuan Y MSF, OMK Ikut gerakan Politik? Siapa Takut?!, Kanisius, Yogyakarta, 2009.

Pandiangan Andreas, Pengantar Ilmu Politik suatu Pengantar, Universitas Katolik Soegijapranat, Semarang, 2017.

Prayitno, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Grasindo, Padang, 2009.

Ruminiati, Sosio Antropologi Pendidikan suatu kajian Multikultural, Penerbit Gunung Samudera, Malang, 2016. 

R. Boehlke Robert, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan Pak Di Indonesia, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009.

Rukiyati dkk, Etika Pendidikan, Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2018.

Nur Prabowo S  M dan Albar Adetary Hasibuan, Pengantar Studi Etika KOntemporer: Teoritis dan terapan, Universitas Brawijaya Press (UB Press),Malang, 2017.

Magnis Suseno, Frans, 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad Ke-19, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1997.

Magnis-Suseno Frans, Etika Politik: Prinsip Moral Dasar kenegaraan Modern, PT Gramedia, Jakarta, 1987.

Sirait Saut, Politik Kristen di Indonesia: suatu tinjauan etis, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000.

Syafril dan Drs. Zelhendri Zen, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Kencana, Depok, 2017.

Surbakti Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Gracindo, Padang,  

Sahab Ali, Buku Ajar Analisis Kuantitatif Ilmu Politik Dengan SPSS, Airlangga University Press, Surabaya,  

S. Suriasumantri Jujun, Ilmu dalam Perspektif sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat ILmu, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2001.

Tokan Pureklolon Thomas, Komunikasi Politik, Mempertahankan Integritas Akademisi, politikus, dan Negara, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2016.

Tim Pusat Studi Pancasila UGM dan Tim Universitas Pattimura Ambon, Prosiding Kongres Pancasila VI, Pusat Studi Pancasila UGM, Yogyakarta, 2014.

Yang, Ferry, Pendidikan Kristen, Penerbit Momentum, Surabaya, 2018. 

Z. Livine T, Seri Petualangan Filsafat Plato Kebajikan adalah Pengetahuan, Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2003. 

Sumber dari internet

Kabarmakalah.blogspot.com  

Christian Education

Pendidikan Kristen Dalam Keluarga

  1. Pendahuluan

Konsep Pendidikan bukanlah sebuah konsep yang diawali oleh para pakar pendidikan yang memiliki kapasitas dalam dunia Pendidikan. Tetapi ini sudah dimulai sejak Adam dan Hawa dan sudah memiliki konsep Pendidikan secara benar. Dan dalam keluarga memiliki peran penting untuk memiliki konsep yang benar mengenai Pendidikan Kristen. Karena konsep ini bukanlah konsep manusia melainkan dimulainya oleh Allah yang adalah educator. Pendidikan merupakan sebuah hal yang penting dalam kehidupan keluarga Kristen. Jika orang Kristen memiliki konsep Pendidikan yang benar, maka tentu akan memiliki dampak yang signifikan dalam perkembangan pengetahuan dalam keluarga sehingga terciptanya suatu pemahaman yang baru dan benar akan kebenaran yang sudah diberikan oleh Allah. Manusia diberikan logika untuk memikirkan dan merefleksikan Pendidikan Kristen dengan baik dan benar. Dan perlu diketahui bahwa, konsep Pendidikan tidak dimulainya oleh para tokoh seperti Descartes, Plato, Aristoteles, John Dewey dan lain-lain. Namun, ini telah ada konsepnya  dari Allah sendiri. Mari kita membahas awal mulanya Pendidikan ini.

  1. Pembahasan 
  1. Awal Mula Adanya Pendidikan

Pada zaman Perjanjian Lama sudah membicarakan mengenai Pendidikan itu. Dalam kehidupan orang Yahudi Pendidikan merupakan hal yang utama dan sangat penting. Anak-anak mereka sudah diajarkan mengenai hukum taurat. Sehingga mereka bisa menghafal dan bisa memiliki pemahaman yang benar. Orang tua yang adalah menjadi pendidik. Tentu orang tua harus memiliki pandangan bahwa Allahlah yang menjadi pendidik/guru utama. Sehingga mengarahkan dan mengajarkan anak-anak sesuai kebenaran dan pola pandangan Allah. Prinsip Alkitab mengenai cara mengajar dengan benar, Ulangan 6:7 harus engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engakau berbaring dan apabila engkau bangun. Inilah prinsip Alkitab mengajarkannya berulang-ulang. Sebagai umat pilihan Allah, kita harus memegang prinsip ini untuk mengajarkan kepada siapa saja, terlebih kepada anak-anak kita.

 Pendidikan merupakan sebuah progres yang baik jika diberikan dengan baik dan benar sesuai kebenaran yang mutlak. Pendidikan itu sendiri sangat berkembang sehingga mempengaruhi dunia. Tentu sebuah hal yang luar biasa. Sehingga adanya suatu perkembangan yang luar biasa. Tanpa Pendidikan tentu tidak mengerti dan mengetahui dan tanpa Allah terlebih dahulu sebagai guru agung kita tidak memahaminya secara benar apa itu Pendidikan. Bicara Pendidikan, tentu ini seperti sesuatu yang tidak penting bagi mereka yang tidak ingin tahu dan mencari tahu. Tetapi bagi mereka yang rindu mencari tahu dan ingin tahu tentu ini sesuatu yang sangat bermanfaat. Pendidikan itu sudah dimulai di taman Eden, terus timbul pertanyaan siapa gurunya? Tentu gurunya adalah Allah sendiri. Proses Pendidikan sudah sejak di taman Eden bagaimana Allah sebagai gurunya, Adam dan Hawa sebagai murid pertama. 

Dan proses Pendidikan di taman Eden ini langsung dengan alam yang sudah diciptakan oleh Allah sendiri dan konsep mengenai Pendidikan alam/sekolah alam itu sudah dimulai ketika Adam dan Hawa di taman Eden bersama dengan Allah. Tentu ini merupakan suatu hal yang begitu indah dan penting dan memiliki sifat kekekalan. Memang istilah Pendidikan tidak secara eksplisit dibicarakan dalam Alkitab. Namun, kalau kita telusuri dengan seksama dalam proses penciptaan itu sudah terjadi adanya pendidikan. Lalu, apa itu Pendidikan? Kata Pendidikan dalam bahasa inggris adalah “education” yang berasal dari bahasa latin “educare” dimana “e” adalah keluar, dan “ducare” adalah memimpin. Maka arti dari “education atau Educare” adalah memimpin keluar. Untuk memahami lebih dalam lagi mengenai istilah Pendidikan ini maka perlu dilihat satu analogi dari seorang filsuf barat yaitu Plato. Plato ini memberikan sebuah analogi yang begitu baik dan analogi itu tentang gua. Dan analogi ini sangat terkenal sekali untuk memahami Pendidikan itu sendiri. 

Dalam analogi gua dari Plato, orang-orang sederhana itu seperti orang tinggal didalam gua. Gua itu adalah gua yang sangat gelap. Dan di sana hanya ada satu sumber cahaya, yaitu satu api. Dan api nya pun tidak terlalu terang setiap orang yang ada di sana melihat ke tembok dari gua tersebut. Api yang menjadi satu-satunya sumber cahaya itu mereflesksikan bayangan dari orang-orang yang tinggal di gua itu. jadi semua orang-orang ini lihat adalah bayangan: bayangan mereka sendiri, bayangan mereka bergerak ke sana kemari, bayangan batu dan hal-hal lain. Tetapi semua itu hanyalah bayangan. Bagi mereka yang tidak mengetahui sesuatu yang lebih, maka yang namanya bayangan itu menjadi realitas. Jadi, bayangan itu adalah realitas mereka. Mereka berpikir demikian selama bertahun-tahun, sehingga realitas yang mereka miliki dan percayai sebagai realitas yang sesungguhnya adalah bayangan tersebut. dan mereka hanya berinteraksi dengan bayangan tersebut. tidak pernah dengan hal yang asli. Sampai suatu saat, ada satu orang dari gua itu, akhirnya keluar dari gua. Ketika dia keluar dari gua, di luar gua dia melihat dirinya sendiri, melihat rumput, melihat sapi, kuda, kerbau, pohon, bunga, matahari, bulan, langit, bintang-bintang, binatang, batu, sungai, hutan, gunung, serangga dan lain-lain. 

Dan dia bukan hanya melihat tetapi dia menyentuh sessuatu yang dilihatnya, juga mencium dan dia mendengar suara. Maka dia langsung menyadari bahwa hidupnya didalam gua itu adalah hidup yang berinteraksi dengan hal-hal yang bersifat tidak riil. Di luar gua, dia menyadari bahwa apa yang betul-betul riil itu tidak sama dengan yang dia alami di dalam gua. Lalu dia ingat teman-temannya di dalam gua itu boleh mengalami apa yang dia alami di luar gua. Maka dia kembali ke dalam gua untuk menyampaikan apa yang dialami di luar gua, yaitu suatu pengalaman berinteraksi dengan hal yang riil. Sehingga dia berusaha untuk mengajar, mendidik, teman-temannya dalam gua tersebut supaya mereka terbuka pikirannya dan akhirnya boleh bersentuhan dengan hal yang riil. Orang ini, yang berhasil keluar dari gua adalah orang yang “tercerahkan” yaitu orang yang pikirannya sudah dibukakan. 

Dan dia ingin membuka pikiran orang lain. Maka ketika dia kembali ke dalam gua untuk memulai berbicara dengan rekan-rekannya dan berusaha membukakan pikiran dari teman-temannya yang hanya berinteraksi dengan bayangan, maka itulah yang disebut sebagai perjalanan Pendidikan. Dia berusaha untuk memimpin teman-temannya keluar dari gua yang gelap menuju hidup di luar gua yang terang, yaitu yang berhubungan dengan hidup yang riil. Maka inilah sebuah proses perjalanan Pendidikan. 

Bagi Plato, Pendidikan selalu berusaha membawa orang-orang yang sederhana supaya mereka keluar dari kegelapan pikiran menuju terang pengetahuan dan kebijaksanaan. Tujuan akhirnya adalah supaya orang-orang yang sederhana ini boleh menjadi Raja Filsuf (Philopher king), sehingga mereka nantinya boleh memimpin dunia secara bijaksana. Inilah yang menjadi tujuan Pendidikan dari Plato. 

Dari pemahaman Plato ini tentu bukan menjadi standar untuk melihat Pendidikan itu, namun ada yang lebih mulia dibandingkan pandangan Pendidikan menurut Plato. Sehingga memunculkan sebuah ide yang berasal dari Allah. mengenai Pendidikan tentu ini di inisiasi oleh Allah sendiri karena Allah melihat manusia membutuhkan Pendidikan. Pendidikan sudah dimulai di taman Eden. 

Kejadian 2:15-17,  15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. 16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

 Dalam beberapa ayat 16 dan 17 mengindikasikan bahwa Pendidikan sudah mulai. Dan Allah telah mengajarkan kepada manusia di taman Eden yaitu Adam. Dengan diberikan perintah untuk tidak melanggar aturan Allah yang sudah ditetapkan-Nya. Namun manusia tidak menaati Firman itu. maka, akhirnya dia berontak terhadap Allah.  Pendidikan merupakan inisiatif Allah terhadap manusia untuk dapat lebih tepat dan benar untuk dapat mengetahui dan melakukan itu. orang tua adalah pendidik atau guru yang dipakai Allah untuk mendidik orang lain dan keluarga sendiri. Dalam konsep Pendidikan yang  Allah maksudkan bukan Pendidikan formal seperti disekolah, namun lebih tepatnya yaitu Pendidikan didalam keluarga sebagai Lembaga utama. 

Maka peran penting orang tua dalam mendidik anak ini sangat penting sekali. Sebab yang lebih dekat dengan anak adalah orang tua, yang lebih mengetahui anak adalah orang tua, dan lebih mengetahui karakter anak adalah orang tua. Jika orang tua menyianyiakan akan pekerjaan mulia ini. Maka, disayangkan akan berdampak pada generasinya sehingga tidak lagi terdidik dengan benar. Apa yang menjadi standar Pendidikan dalam keluarga? 

  1. Standar Pendidikan Kristen dalam keluarga

Berbicara mengenai dasar untuk Pendidikan tentu adalah kebenaran. Sebab kebenaran merupakan kebenaran yang telah teruji dan benar. Boleh saja, banyak buku untuk menjadi panduan dalam Pendidikan dalam keluarga. Tentu itu bukan menjadi persoalan. Namun lebih kepada hal-hal sederhana dan memiliki dasar kebenaran yang kredibel. Tetapi ketika berpedoman kepada Firman maka tidak akan mungkin itu salah sebab ini berasal dari Allah. Kalau dibandingkan dengan buku yang lain tidak memiliki dasar yang kuat maka memberi pengaruh kepada orang yang membacanya. Salah memilih referensi untuk menjadi panduan dalam Pendidikan keluarga juga sangat berbahaya. Sebab itu belum tentu dari penulis yang bukan Kristen. Contoh nya seorang tokoh Pendidikan yang diagungkan oleh dunia barat hingga di Indonesia yaitu John dewey, pengaruh pemikiran tokoh ini sangat berperan dalam dunia Pendidikan saat ini. John Dewey bukanlah seorang Kristen dan dia adalah seorang Ateis humanist yang tidak percaya adanya Allah. Ini sangat disayangkan didunia Pendidikan saat ini, boleh dikatakan pemikirannya memang bagus. Namun dia tidak memiliki standar yang jelas. Dan itu tidak berasal dari kebenaran firman tetapi berdasarkan pada kepercayaan humanist manifesto. Jika kita melandaskan pemikiran ini maka sama halnya membuang Tuhan. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru banyak sekali berbicara mengenai Pendidikan yang benar dalam keluarga. 

Istilah keluarga yang digunakan dalam Perjanjian Baru untuk keluarga adalah kata Yunani ”patria” yang berarti ”keluarga dari sudut pandang relasi historis, seperti garis keturunan”. Dalam penggunaannya, kata “patria” ini lebih menekankan asal usul keluarga. Kata “patria” disebutkan 3 kali Perjanjian Baru. Kata ini digunakan dalam Luk.2:4, dimana disebutkan bahwa Yusuf berasal dari keluarga dan keturunann ”patria” Daud, yaitu garis keturunannya secara jasmani.  

 Mengapa keluarga memiliki peran penting? Karena keluarga merupakan representasi Allah terhadap ciptaan-Nya sebagai wakil Allah yang memberikan tanggung jawab untuk melaksanakan amanat-Nya dalam keluarga. Dan keluarga merupakan hal yang diinginkan Allah, Dia menciptakan keluarga dan Dia juga memberkati menjadi keluarga dan terus memberikan pertolongan dalam keluarga untuk tetap menjadi berkat dan selalu menjaga komitmen. Sehingga tidak mencederai komitmen itu dalam keluarga. Dan jika memosisikan kita sebagai ciptaan, maka perlu memfokuskan diri kepada Allah sebagai pencipta, sebagai pemberi berkat. Dan menjadikan Firman Allah sebagai dasar, fondasi yang memuat hukum-hukum dan ketetapan serta batasan yang Allah kehendaki. Adanya keluarga merupakan kehendak Allah, Allah tidak mau ciptaan-Nya mencederai pernikahan yang sangat sakral ini. Manusia juga perlu memposisikan diri sebagai manusia yang secara total jatuh kedalam dosa (Roma 3:11-12; 23) dan tidak memiliki kemampuan apapun, untuk melakukan sesuai kehendak dirinya sendiri. Sebab kehendak diri sendiri telah tercemar oleh dosa, sehingga manusia tidak lagi mengandalkan kehendak diri sendiri melainkan kehendak Allah. Keluarga Kristen adalah keluarga sudah percaya dan benar-benar taat kepada Allah. Sebab keluarga Kristen bukanlah slogan semata. Tetapi lebih kepada hal yang begitu penting. Dasar dalam pembinaan keluarga Kristen yaitu Firman-Nya. Karena Firman-Nya adalah cermin kehidupan manusia. Sebagaiman cermin memiliki fungsi untuk melihat diri sendiri dan melihat siapa kita. 

Sebagaimana dalam 2 Timotius 3:16 segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Maka jadikanlah Firman sebagai standar dan dasar dalam Pendidikan Kristen dalam keluarga. Untuk memberi pemahaman kepada manusia dari sudut pandang  Allah mengenai esensi, eksistensi, dan tujuan keberadaan Pendidikan itu sendiri.

  1. Mengelola Pendidikan Kristen dalam Keluarga

Untuk mengelola sebuah perusahaan atau lembaga tentu membutuhkan sebuah komitmen yang kuat dan membutuhkan ketelitian bukan ketelodoran. Pengelolaan membutuhkan sebuah proses yang tidak mudah. Dan ini membutuhkan sebuah kecintaan. Mengapa? Karena tanpa cinta akan Tuhan tidak mungkin mengelola keluarga dengan baik. Perlu adanya kecintaan kepada Tuhan dan kecintaan kepada Tuhan akan terlihat bagaimana mengelola keluarga dengan bijak. Dan perlu adanya suatu pola yang baik agar dalam proses pertumbuhan dalam keluarga dan proses Pendidikan kearah kebenaran itu lebih nikmat dan lebih menyenangkan. Bayangkan anda mendidik anak anda ke hal yang buruk. Tentu ini akan berdampak kepada masa depannya dan ini tidak mencapai tujuan Allah. Maka, perlu sebuah pola Alkitabiah dalam memberikan wawasan atau Pendidikan dalam keluarga. Keluarga yang dimaksudkan yaitu antara pasangan dan anak. Jika berdasarkan pada kebenaran yang absolut, tentu ini sebuah langkah yang benar untuk kearah yang lebih baik. 

Cekcok atau problem dalam keluarga tentu pasti ada. karena ini merupakan pendewasaan iman. Dan kesesuaian dengan pengajaran dan hal praktis juga sangat penting. Maka harus memulainya dalam hal jatuh cinta yang terus menerus supaya bisa membangun cinta. Pengelolaan dalam mengelola untuk memberikan Pendidikan dalam keluarga ini harus sesuai dengan Alkitab. Supaya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan keluargapun sehat. Untuk dalam pengurusan dalam keluarga tentu sebagai kepala (suami) dan penolong (istri) keluarga harus mempunyai sifat kompromi dengan kebenaran.  Perbedaan pendapat bukanlah  pemicu sehingga terjadinya percekcokan dalam keluarga. Tetapi tidak melandasinya dengan persekutuan dengan Tuhan (renungan bersama). Mengapa sering adanya  keributan dalam keluarga? Karena kedua belah pihak tidak saling menerima perbedaan pendapat dan beradu argument. Karena merasa dikalahkan, karena merasa di gurui, maka akhirnya dengan cara kekerasan. Inilah pola Pendidikan keluarga Kristen yang kurang bagus. Dan memberikan tempat dihatimu yaitu iblis sebagai penguasa untuk mengendali seluruh hidup kita. Lalu, bagaimana caranya untuk mengelola keluarga dengan baik,? Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan supaya keluarga menjadi sehat. 

  1. Kasih

Kasih merupakan hal yang selalu dibicarakan oleh Alkitab mengenai tindakan Allah kepada manusia. Dan Allahlah yang menginisiasi adanya kasih, karena Dia adalah kasih, mengapa Dia kasih? Karena Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan;…….(1 Korintus 13:4-8).  Dan inilah perintah itu, yaitu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. (2 Yohanes 1:6b). Milikilah kasih itu supaya bisa mengelola keluarga dengan kasih. Karena adalah kasih yang tidak pernah mendendam. Dan juga kasih adalah kegiatan, kelakuan, dan tindakan, bukan hanya sekedar perasaan batin atau motivasi. Kasih juga adalah undang-undang dasar kerajaan Allah. 

  1. Sabar

Kesabaran merupakan salah satu sifat Allah yang mutlak tanpa di pengaruhi oleh ciptaan-Nya. Tindakkan Allah merupakan keinginan-Nya untuk melakukan sesuai kehendak-Nya untuk mendatang kebaikan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Tetapi Dia juga tidak akan membiarkan ciptaan-Nya melanggar perintah, ketetapan-Nya, maka Dia juga akan mengadili setiap orang yang telah menyeleweng dari perintah-Nya. Ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, kesabaran adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Ujian sejati dari kesabaran terjadi ketika hak-hak dilanggar. Meskipun sebagian besar orang menganggap kesabaran sebagai tindakan menunggu yang pasif atau menerima dengan lemah lembut, sebagian besar dalam pengertian Yunaninya mengenai kesabaran lebih tepat bersifat aktif dan kuat. Dalam hubungan dalam keluarga tentu ini hal yang penting untuk dijalankan. Dalam segala sesuatu membutuhkan kesabaran. Terkadang orang tidak sabar, dalam hal keluarga maunya cepat-cepat bereaksi tanpa ada pertimbangan yang matang, pada akhir menyesalinya. Kesabaran harus dimiliki dalam pengelolaan keluarga kearah yang lebih tepat. Kesabaran juga merupakan hal yang dibutuh dalam segala hal. Bersabarlah karena ada keinginan menanamkan kasih mesra dalam keluarga meskipun sulit dijalankan. Tetapi kalau dijalankan dengan penuh kesabaran maka hasilnya menyenangkan sekali. Pikirkalah. 

  1. Pengendalian diri

Pengendalian diri merupakan salah satu aspek penting dalam mengelola diri sendiri untuk tidak melakukan aksi untuk mencederai seseorang dengan tindakan kekerasaan maupun emosi yang berujung pada tindakan yang tidak terpuji. Tindakkan ini merupakan hal yang dibicarakan oleh Alkitab. Dan pengendalian diri juga merupakan salah satu buah roh yang wajib dimiliki oleh orang Kristen. Mengendalikan diri atau menguasai diri berarti Manahan diri untuk tidak melakukan suatu keinginan. Banyak sekali keinginan duniawi yang akan membawa kepada kesesatan. Secara konseptual bermakna mampu memiliki kuasa atau otoritas untuk mengarahkan, memerintahkan atau melarang diri sendiri terutama terhadap nafsu, keinginan besar, kegemaran, amarah, hasrat, emosi, kecanduan, egoism dan lain-lain. Dalam 1 Korintus 7:9 Tetapi kalau tidak dapat menguasai diri,….dalam 2 Petrus 1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan. Dan masih banyak lagi mengenai pengendalian diri atau menguasai diri. Pengendalian diri dan kesabaran hampir sama dalam melakukannya. Tetapi memiliki perbedaan yang mendasar. Kesabaran lebih kepada arah penantian dalam proses yang Panjang. Dan pengendalian diri lebih mengacu kepada hal menguasai diri untuk tidak secara brutal dilakukan, tetapi penuh pertimbangan yang matang. Didiklah keluarga anda kearah pengenalan akan Allah dan takut akan Allah.

“Keluarga diciptakan oleh Allah, Allah memberkati menjadi keluarga, adanya keluarga merupakan kehendak Allah, dan keluarga membutuhkan Allah. Tanpa Allah keluarga hancur”. (Nicodemus Kaborang)