Keluarga Kristen

ETIKA PENDIDIKAN DAN ETIKA POLITIK

Nama Penulis: Nicod Kaborang

BAB I

PENDAHULUAN

    Etika dan Pendidikan merupakan sesuatu hal yang tidak boleh dipisahkan mengenai proses pengambilan keputusan dalam suatu Pendidikan. Dan memiliki tanggung jawab secara moral untuk kepentingan yang menerima Pendidikan itu. Sehingga memiliki dampak yang signifikan dalam proses pengambilan keputusan secara bijak. Karena tidak untuk kepentingan diri sendiri melainkan kepentingan bersama. Dan juga harus memiliki tatanan moral yang diterima bersama didalam kanca Pendidikan dan masyarakat. Konsep manusia sebagai makluk politik menunjukkan bahwa pemikiran politik yang menyangkut proses dan hasil dari kegiatan politik suatu system politik suatu pemerintah berdasarkan esensi manusia. Term etika dapat dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi dasar seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Etika memberikan dasar moral politik. 

     Etika politik adalah satu kesatuan yang dapat membantu dan menolong untuk sebuah kebijakkan yang sesuai norma-norma dan aturan yang berlaku. Politik membutuhkan etika untuk bisa membatasi dan bisa memberikan sebuah keputusan yang benar sesuai dengan kebijakkan yang berlaku dalam masyarakat. Saat memilih dan memilah akan bisa berdampak kepada orang yang mengambil keputusan tersebut. Karena tolok ukur yang dipakai oleh masyarakat bukan pada keputusan pribadi melainkan yang sudah ada dalam masyarakat tersebut. 

BAB II

PEMBAHASAN

  • Sejarah dan Pengertian Etika

St. John of Damaskus (Abad ke-7 Masehi) menempatkan etika didalam kajian filsafat praktis (practical philosophy) Etika muncul di kalangan murid Pytagoras. Kita tidak tahu banyak tentang Pytagoras. Ia lahir pada tahun 570 SM di Samos di Asia Kecil Barat dan kemudian pindah ke daerah Yunani di Italia selatan. Ia meninggal tahun 496 SM. Kata “Etika” secara etimologis berasal dari bahasa Latin “Ethos”, sedangkan moral diserap dari bahasa Yunani “Mores”. Dalam bahasa Inggris Etika disebut Ethics. Etika secara etimologis adalah cabang Filsafat yang menyelidiki tentang pertanyaan dasar bagaimana seharusnya kita hidup dan berperilaku. Dapat dikatakan pula bahwa etika adalah studi kefilsafatan tentang moralitas. Dalam bahasa inggris disebut ethical studies. konsep dasar yang diselidiki dalam studi etika adalah perihal baik (good) dan buruk (bad), benar (right) dan salah (wrong). 

Etika merupakan studi sistematis mengenai persoalan yang paling utama dari tindakan manusia (human conduct). Secara etimologi, ada dua kata yang di tarik dari bahasa Yunani untuk memahami etika, yakni (Character/karakter) dan (Custom/kebiasaan). Etika adalah bisa dimaknai sebagai cabang filsafat yang mempelajari alam kebaikan dan kejahatan, baik dan buruk, tugas dan kewajiban. 

  • Tokoh-tokoh etika
  1. Plato     : Cinta kepada yang baik
  2. Aristoteles     : Menuju kebahagian
  3. Epikurus     : Etika sebagai seni hidup 
  4. Stoa     : Ketenangan orang bijaksana
  5. Augustinus : Cintailah dan lakukanlah apa yang kau kehendaki
  6. Thomas Aquinas     : Kebahagian hukum kodrat
  7. Baruch Spinoza     : Tuhan atau Alam
  8. Joseph Butler     : Cinta diri tenang
  9. David Hume     : Perasaan Moral 
  10. Immanuel Kant     : Hukum moral dibatinku
  11. Arthur Schopenhauer : Belas kasih dan penyangkalan diri
  12. John Stuart Mill     : Prinsip Kegunaan
  13. Friedrich Nietzsche : Moralitas Tuan Lawan Moralitas Budak.
  • Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah dalam bahasa inggris education berasal dari bahasa Latin “educare,” di mana “e” adalah keluar, dan “ducare” adalah memimpin. Maka arti dari education atau Pendidikan adalah “memimpin keluar” Pemahaman dasar etika mempunya peran menentukan dalam pengembangan etika Pendidikan. Berdasarkan etika dasar, etika Pendidikan dapat menimba perlengkapan konseptual dan pengayaan kategori-kategorinya. Etika Pendidikan sebagai cabang dari etika dari etika social lebih focus mengkaji kewajiban dan norma-norma dalam proses Pendidikan, yakni terutama seorang dalam suatu masyarakat negara (memiliki system Pendidikan tertentu) berinteraksi secara edukatif dengan individu (terlihat dalam proses pendidikan) dan kelompok lain (seperti orang tua dan masyarakat). 

Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata-laku seseorang atau kelompok orang dalam upaya mendewa-dewakan manusia, melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Maksudnya ialah melalui, 

pertama,  Pendidikan, orang bisa mengalami perubahan sikap dan tatalaku, memproses menjadi dewasa dan matang dalam berperilaku. 

Kedua, Pendidikan merupakan suatu proses pendewasaan, sehingga orang menjadi lebih matang dalam bersikap dan bertingkah laku. 

ketiga, melalui pengajaran dan pelatihan, proses pendewasaan seseorang dapat dilakukan. 

  • Tujuan Pendidikan 

Tujuan Pendidikan bertujuan menciptakan generasi yang emansipatoris, terbebas dari belenggu dari belenggu keterbelakangan serta berbagai problem-problem sosial dalam masyarakat yang dapat menyebabkan terhambatnya kesejahteraan bersama. Karena tujuan Pendidikan untuk menciptakan generasi yang cerdas, namun juga memiliki etika moral yang membantunya dalam bersosial dalam masyarakat. Menurut pendapat Froebel ada 2 tujuan Pendidikan: Tujuan pertama, tujuan Pendidikan adalah pencapaian kehidupan yang setia, tidak bersalah dan karena itu suci. Tujuan yang menjadi luhur bagi manusia adalah menjadi seorang yang bijaksana. Dan tujuan yang kedua, Pendidikan hendaknya mengantar serta membimbing orang untuk mengetahui dirinya sejelas mungkin, untuk mengalami perdamaian dengan alam dan kesatuan dengan Allah, dalam pengertian bahwa Pendidikan hendaknya menolong orang untuk memperoleh pengetahuan tentang dirinya dan umat manusia, tentang alam dan Allah, serta mengamalkan kehidupan yang tidak bersalah dan suci. 

Menurut Raka Joni menyatakan, peranan kunci Pendidikan dalam interaksi Pendidikan adalah pengendalian yang dasarnya dengan tiga cara, yaitu : 

a. menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk memutuskan dan berbuat. 

b. menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan berbuat dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. 

c. menyediakan system dukungan yang menawarkan serta kemudahan belajar. 

Dalam pengertian ini Raka Joni harus memiliki kunci Pendidikan yang mengarah kepada Pendidikan yang bersifat interaksi kepada para pendidik dan pendidik yang lainnya. 

Upaya Pendidikan yang berfokus pada pengembangan pancadaya dan dimensi kemanusiaan, dengan dasar hakikat manusia, akan secara langsung mengisi dimensi-dimensi kemanusiaan yang hasil akhirnya terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan pengembangan pancadaya itu seoptimal mungkin manusia seutuhnya akan dapat tercapai. Pengembangan yang dimaksudkan adalah melalui pendidikan.  

Setiap kegiatan Pendidikan, yang berlangsung dalam hubungan Pendidikan, selanjutnya disebut situasi Pendidikan, didalamnya terkandung komponen peserta pendidik, tujuan Pendidikan, dan proses pembelajaran. Kualitas Pendidikan yang terjadi di dalam situasi Pendidikan itu ditentukan oleh kualitas komponen-komponen itu masing-masing dan kualitas interaksi antar komponen tersebut. Tujuan Pendidikan pada dasarnya tidak lain adalah arah yang hendak dicapai dengan terwujudnya tujuan hidup manusia., dimensi kemanusiaan dan pancadaya. Tujuan Pendidikan mengarah kepada pembentukan manusia yang berperikehidupan. 

Dan peranan Pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia, terlebih dalam zaman modern sekarang ini yang dikenal dengan abad cyhemetica, Pendidikan diakui sebagai satu kekuatan (education as power) yang menentukan prestasi dan produktivitas di bidang yang lain. Karena, menurut Theodore Brameld bahwa education as power means competent and strong enough to enable us, the majority of people, to decide what kind of a world we want and how to archive that kind world, (Pendidikan sebagai kekuatan berarti mempunyai kewenangan yang cukup kuat bagi kita, bagi rakyat banyak untuk menentukan suatu dunia semacam itu. tidak ada satu fungsi dan jabatan di dalam masyarakat tanpa melalui proses pendidikan).    

Undang-undang system Pendidikan Nasional atau disingkat UU SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 di dalam menyatakan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. 

Tujuan Pendidikan lebih berkaitan dengan tugas-tugas untuk meneliti potensi-potensi yang ada dalam diri manusia dan membuat proyek yang membantu manusia supaya dapat merealisasikan potensi dirinya secara penuh. Dengan demikian, segala upaya yang membantu manusia untuk menyempurnakan dirinya berdasarkan kekuatan yang ada dalam dirinya sendiri secara penuh menjadi valid untuk ditera sebagai tujuan pamungkas Pendidikan.

  • Pengertian  Politik

Perkataan politik berasal dari bahasa Yunani, yaitu polis. Secara harfia, arti kata polis adalah kota, dan dari sinilah dikembangkan berbagai pengertian. Rumusan yang bersifat harfiah dan kemungkinan untuk meluas diberikan Tom. B. Jones, yakni:

Polis[po’lis]…Greek word for city, also extended to means the state. It is the source of the English words,”politics” “politician” and allied terms. In Greece, the polis, or city state, a political entity composed of an urban area and its surrounding countryside, was the normal, and also ideal, auntonomous political divison. Artinya Polis…kata Yunaninya  untuk menunjukkan kota, juga diperluas berarti negara. Ini adalah sumber dari kata-kata bahasa inggris, “politik” politisi dan istilah sekutu. Di Yunani polis, atau negara kota, entitas politik yang terdiri dari daerah perkotaan dan pedesaan disekitarnya, adalah divisi politik otonom yang normal, dan juga ideal. 

Berdasarkan uraian diatas, pengertian terhadap etika politik dapat dijelaskan, yakni suatu penelitian kritis terhadap moralitas anggota masyarakat dan moralitas yang terkandung pada setiap proses pengambilan keputusan, pelaksanaan dan bertanggungjawabnya pada suatu masyarakat atau negara. Singkatnya, etika politik akan senantiasa memasuki wilayah pertanyaan moral didalam dimensi politis kehidupan manusia.  

Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, kejadian, jalan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki. Politik secara umum menyangkut proses penentuan tujuan negara dan cara melaksanakannya, di mana dalam pelaksanaannya membutuhkan kebijakkan-kebijakkan umum (public policies) untuk mengatur, membagi, atau mengalokasikan sumber-sumber yang ada. untuk melaksanakan kebijakkan-kebijakkan itu, perlu adanya kekuasaan (power) dan wewenang (autority) untuk membina kerja sama maupun menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses ini.

  • Fungsi  Politik 

Dalam masyarakat terbatas pada penyedian alat-alat teoretis untuk mempertanyakan serta menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab. Jadi, hal ini tidak berdasarkan emosi, prasangka, dan apriori, melainkan secara rasional, objektif, dan argumentative. Etika politik tidak hanya harus mengemukakan legitimasi demokratis, melainkan juga batas-batas hak demokrasi. Secara etis harus dikatakan bahwa tidak ada kehendak pihak manapun di dunia, entah minoritas, entah mayoritas, yang memiliki suatu hak mutlak agar kehendaknya terlaksana. Etika Politik memiliki fungsi sebagai subsidier: membantu agar pembahasannya masalah-masalah ideologis dapat dijalankan secara objektif, artinya berdasarkan argument-argumen yang dapat dipahami dan ditanggapi oleh semua yang mengerti masalah. 

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat kearah kehidupan bersama yang harmonis. Fungsi etika politik terbatas pada penyediaan pemikiran-pemikiran teoritis untuk mempertanyakan dan menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab, rasional, objektif dan argumentatif.

Sejak awal hingga perkembangan yang terakhir, ada sekurang-kurangnya lima pandangan politik. Pertama, politik ialah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Kedua, politik ialah segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan pemerintah. Ketiga, politik sebagai segala kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Keempat, politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum. Kelima, politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan/atau mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting. 

Ada dua tradisi besar yang sampai saat ini tidak terjembatani: Di satu pihak adalah tradisi yang memadang politik sebagai praktek dominasi. Sebagaimana dikembangkan oleh Plato , Machiavelli, Bodin, dan Schmitt; dan di lain pihak adalah tradisi yang memandang politik sebagai praktek kebebasan, sebagaimana diperkembangkan oleh Aristoteles, Locke, Rousseau, Kant, Montesquire, Tocqueville, dan Hannah Arendt. Dari perspektif etika politik, politik sebagai praktek dominasi adalah biadab, etika politik merupakan upaya terus menerus untuk membendung praktek dominasi itu. etika politik adalah suatu upaya menjinakkan kekuasaan. Dalam perspektifnya suatu politik yang membiarkan diri dikekang oleh palang-palang moral justru akan kehilangan ruang realisasi dirinya. Politik adalah kelihaian, dan kelihaian tidak hanya berada di atas moralitas, melainkan juga dapat menciptakan moralitas dan ruang kebebasan. Etika politik dan realpolitik, pendekatan normative dan deskriptif, dapat disambungkan jika kita memahami kebebasan sebagai seni fragmentasi.

Politik sebagai arena, artinya politik merupakan seni memerintah dalam urusan public. Seni memerintah dimaksudkan adalah kemampuan dari seorang pemimpin atau politisi untuk mengelola kekuasaan yang di milikinya. Politik juga sebagai proses, artinya politik merupakan proses kompromi dan consensus dijalankan dan dihasilkan guna memenuhi kepentingan berbagai kelompok masyarakat yang saling berbeda bahkan bertentangan satu sama lain. Panduan kompromi dan konsensusnya tidak lain tidak bukan adalah kesejahteraan bersama sebagai konsekuensi hidup berbangsa dan bernegara yang sama.  

Etika Politik tidak hanya berkaitan dengan masalah perilaku etis dan tidak etis para politikus. Haryanto menempatkan etika politik juga dengan praktik institusi social, hukum, komunitas, struktur-struktur social, politik, ekonomi. Haryatmoko menjelaskan bahwa etika politik ini memiliki 3 dimensi. Pertama, adalah tujuan politik, kedua, menyangkut masalah pilihan sarana. Dan ketiga, berhadapan dengan aksi politik. Tujuan politik terumuskan dalam upaya mencapai kesejahteraan masyarakat dan hidup damai yang didasarkan pada kebebasan dan keadilan.

  • Manfaat etika politik

Manfaat etika politik justru tidak bersifat praktis. Etika politik tidak bertugas untuk mengkhotbahi para politis atau untuk langsung mempertanyakan legitimasi moral pelbagai keputusan, melainkan sebaliknya. Etika politik menuntut agar segala klaim atas hak untuk menata masyarakat dipertanggungjawabkan secara moral dasar. Klaim-klaim legitimisai dari segala macam kekuatan, entah bersifat kekuasaan langsung, entah bersembunyi di belakang pembenaran-pembenaran normative, dipaksa untuk membenarkan diri. Dan dampak etika politik adalah sebagai kenyataan dalam kehidupan masyarakat yang tidak membiarkan segala macam klaim wewenang menjadi mapan begitu saja.  

Pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik daripada yang dihadapinya, atau yang disebut Peter Merkl: “politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan social yang baik dan berkeadilan (politics, at its best is a noble quest for a good order and justice)” betapa samar-samar pun tetap hadir sebagai latar belakang serta tujuan politik. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat kea rah kehidupan bersama yang harmonis. 

Pokok-pokok etika politik dan pemerintahan berdasarkan ketetapan MPRRI No.VI/MPR/2001 tentang kehidupan berbangsa di jelaskan sebagai berikut: 

  1. Etika politik dan pemerintahan dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintah yang bersih, efisien, dan efektif serta menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan, rasa bertanggung jawab akan aspirasi rakyat, menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, kesediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa;
  2. Etika pemerintahan mengamanatkan agar penyelenggara negara memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada public, siap mundur apabila dirinya telah melanggar kaidah dan system nilai atau pun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat, bangsa dan negara.

Di zaman Yunani itu etika dan politik saling berjalan erat. Kebijaksanaan politik mengajarkan bagaimana manusia harus mengarahkan ke negara. Maka etika politik akan berperan untuk mencegah kompetisi politik yang kotor, transaksi politik yang tidak sehat, serta perilaku politik yang korup. Etika politik adalah perkembangan filsafat di zaman pasca tradisional. Dalam tulisan para filsuf politik klasik: Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Marsilius, dari Padua, Ibnu Khaldun, kita menemukan pelabagai unsur etika politik, tetapi tidak secara sistematik. Maka sejak abad ke-17 filsafat mengembangkan pokok-pokok etika politik seperti: 

  1. Perpisahan antara kekuasaan Gereja dan kekuasaan negara (John Locke)
  2. Kebebasan berpikir dan beragama (Locke)
  3. Pembagian kekuasaan (Locke dan Mostiquie)
  4. Kedaulatan rakyat (Rousseau)
  5. Negara hukum demokrasi/republican (Kant)
  6. Hak asasi manusia (Locke dsb)
  7. Keadilan social. 

Ketika melihat sebuah progress etika politik saat ini di Indonesia  tidak adanya progress yang signifikan malahan menurun. 

Budaya politik Indonesia dewasa ini telah kehilangan resonansi perjuangan kesejahteraan bersama yang berdiri di atas prinsip kepentingan umum, solidaritas, dan subsidiaritas. Ada kecenderungan politik berubah menjadi medan perjuangan kepentingan kelompok dan golongan. Moralitas dan etika politik tidak lagi berperan sebagai fungsi control dan fungsi kritis atas setiap aktivitas politik para politisi karena yang diperjuangkan adalah apa yang penting bagi kehidupan kelompok dan golongan mereka dan bukan apa yang penting dan mendesak dibutuhkan oleh seluruh warga masyarakat. 

    Menurut Marxisme, menilai politik adalah perjuangan antar kelompok social khususnya kelas social. 

Menurut Max Weber ada empat alasan seseorang mau melakukan berpartisipasi politik:

  1. Pertimbangan rasional nilai

Keterlibatan dalam politik didasarkan atas pertimbangan rasional nilai suatu kelompok. Melalui aktivitas politik, nilai yang ingin diperjuangkan atau kepentingannya dapat tercapai. 

  1. Emosional afektif

Keterlibatan dalam politik didasarkan rasa sukacita terhadap suatu ide, organisasi, tokoh partai, yang bersifat nonrasional. 

  1. Tradisional

Keterlibatan dalam politik didasarkan atas pertimbangan norma tingkah laku individua tau tradisi tertentu dari suatu kelompok social. 

  1. Rasional Instrumen

Keterlibatan dalam politik didasarkan atas kalkulasi untung rugi secara ekonomi. Bersumber dari pemikiran utilitarianisme yang mengasumsikan individu merupakan makluk rasional, senantiasa menghitung dan membuat pilihan yang dapat memperbesar keuntungan dan mengurangi kerugian.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan 

Etika Pendidikan merupakan sebuah konsep yang baik untuk memiliki sebuah pola yang benar sesuai dengan etika. Sehingga Pendidikan itu bisa membawa kepada kesejahteraan oleh yang terdidik sehingga mengetahui batasan-batasan secara moral, mengenai Pendidikan. Etika Pendidikan memiliki prinsip yang baik, sehingga bisa memiliki sesuatu perspektif untuk bisa memilih dan memilah sesuai dengan kriteria dan sesuai dengan etika yang berlaku di masyarakat. Standar moral merupakan tolok ukur etika Pendidikan. Dimensi etis merupan dasar kajian dalam pengambilan keputusan. Etika Pendidikan yang berfokus pada etika terapan dan etika normative.  

Etika politik merupakan sebuah cara untuk memberikan edukasi  untuk bisa mengenal, mengetahui norma-norma dan hukum-hukum yang ada di negara dan etika politik termasuk dalam kelompok etika social yang membahas norma-norma moral yang seharusnya menimbulkan sikap dan tindakan antar manusia, karena hampir semua kewajiban manusia bergandengan dengan kenyataan bahwa ia adalah makluk social. Etika politik tidak menawarkan suatu system normatif sebagai dasar negara. Etika bersifat reflektif yakni memberikan sumbangan pemikiran tentang bagaimana masalah-masalah kehidupan dapat dihadapi. Tetapi tidak menawarkan tentang bagaimana memecahkannya. Dengan demikian etika politik mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan sebagai warga negara terhadap negara.  

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Muhammad, Filsafat Pendidikan, Kencana, Jakarta, 2015.

Arifin Muhammad, Pengantar Ilmu Pendidikan, Guepedia Publiser, 2019.

Budi Hardiman, Menggagas Manusia Sebagai Penafsir, Kanisius, Yogyakarta, 2005.

Budiardjo Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008.

Fitria Dewi Susi, Sosiologi Politik, Gre Publising, Yogyakarta, 2017.

Idi Abdullah, Dinamika Sosialogis Indonesia: Agama dan pendidikan dalam perubahan social, PT. LKiS Pelangi Aksara, Yogyakarta, 2015.

Kristiadi J dkk, Who Wants to be the next President?, Kanisius, Yogyakarta, 2009.

Koesoema Doni, Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2007.

Kopong Tuan Y MSF, OMK Ikut gerakan Politik? Siapa Takut?!, Kanisius, Yogyakarta, 2009.

Pandiangan Andreas, Pengantar Ilmu Politik suatu Pengantar, Universitas Katolik Soegijapranat, Semarang, 2017.

Prayitno, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Grasindo, Padang, 2009.

Ruminiati, Sosio Antropologi Pendidikan suatu kajian Multikultural, Penerbit Gunung Samudera, Malang, 2016. 

R. Boehlke Robert, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan Pak Di Indonesia, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009.

Rukiyati dkk, Etika Pendidikan, Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2018.

Nur Prabowo S  M dan Albar Adetary Hasibuan, Pengantar Studi Etika KOntemporer: Teoritis dan terapan, Universitas Brawijaya Press (UB Press),Malang, 2017.

Magnis Suseno, Frans, 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad Ke-19, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1997.

Magnis-Suseno Frans, Etika Politik: Prinsip Moral Dasar kenegaraan Modern, PT Gramedia, Jakarta, 1987.

Sirait Saut, Politik Kristen di Indonesia: suatu tinjauan etis, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000.

Syafril dan Drs. Zelhendri Zen, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Kencana, Depok, 2017.

Surbakti Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Gracindo, Padang,  

Sahab Ali, Buku Ajar Analisis Kuantitatif Ilmu Politik Dengan SPSS, Airlangga University Press, Surabaya,  

S. Suriasumantri Jujun, Ilmu dalam Perspektif sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat ILmu, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2001.

Tokan Pureklolon Thomas, Komunikasi Politik, Mempertahankan Integritas Akademisi, politikus, dan Negara, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2016.

Tim Pusat Studi Pancasila UGM dan Tim Universitas Pattimura Ambon, Prosiding Kongres Pancasila VI, Pusat Studi Pancasila UGM, Yogyakarta, 2014.

Yang, Ferry, Pendidikan Kristen, Penerbit Momentum, Surabaya, 2018. 

Z. Livine T, Seri Petualangan Filsafat Plato Kebajikan adalah Pengetahuan, Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2003. 

Sumber dari internet

Kabarmakalah.blogspot.com  

Keluarga Kristen

Ketika kita tidak ada harapan. J.C. Ryle

Harinya mungkin akan tiba ketika setelah lama berjuang melawan penyakit, kita akan merasa bahwa obat tidak dapat berbuat apa-apa lagi, dan tidak ada yang tersisa selain kematian. Teman-teman akan berdiri, tidak dapat membantu kita. Pendengaran, penglihatan, bahkan kekuatan berdoa, akan cepat menggagalkan kita. Dunia dan bayangannya akan mencair di bawah kaki kita. Keabadian, dengan realitasnya, akan menjulang tinggi di depan pikiran kita.

Apa yang akan mendukung kita di saat-saat yang sulit itu? Apa yang akan memungkinkan kita untuk merasa, ‘Saya tidak takut kejahatan’? (Mazmur 23:4.) Tidak ada, tidak ada yang bisa melakukannya selain persekutuan yang erat dengan Kristus. Kristus berdiam di dalam hati kita oleh iman,—Kristus meletakkan tangan kanan-Nya di bawah kepala kita,—Kristus merasa duduk di sisi kita,—Kristus sendiri yang dapat memberi kita kemenangan penuh dalam perjuangan terakhir.

Marilah kita bersatu dengan Kristus lebih dekat, mengasihi Dia lebih sepenuh hati, hidup bagi Dia lebih menyeluruh, meniru Dia lebih tepat, mengakui Dia lebih berani, mengikuti Dia lebih penuh. Agama seperti ini akan selalu membawa pahala tersendiri. Orang duniawi mungkin menertawakannya. Saudara-saudara yang lemah mungkin menganggapnya ekstrem. Tapi itu akan dipakai dengan baik. Bahkan pada saat itu akan membawa kita terang. Dalam sakit itu akan membawa kita kedamaian. Di dunia yang akan datang itu akan memberi kita mahkota kemuliaan yang tidak akan pudar.

Waktunya singkat. Mode dunia ini berlalu. Beberapa penyakit lagi, dan semuanya akan berakhir. Beberapa pemakaman lagi, dan pemakaman kita sendiri akan berlangsung. Beberapa badai dan lemparan lagi, dan kita akan aman di pelabuhan. Kami melakukan perjalanan menuju dunia di mana tidak ada lagi penyakit, — di mana perpisahan, dan rasa sakit, dan menangis, dan berkabung, dilakukan untuk selama-lamanya.

Surga menjadi semakin penuh setiap tahun, dan bumi semakin kosong. Teman di depan menjadi lebih banyak daripada teman di belakang. ‘Hanya sedikit waktu dan Dia yang akan datang akan datang, dan tidak akan berlama-lama.’ (Ibr. 10:37.) Di hadirat-Nya akan ada kegenapan sukacita. Kristus akan menghapus semua air mata dari mata umat-Nya. Musuh terakhir yang harus dihancurkan adalah Kematian. Tapi dia akan dihancurkan. Kematian sendiri suatu hari akan mati. (Wahyu 20:14.)

Sementara itu marilah kita hidup dalam iman kepada Anak Allah. Marilah kita bersandar semua beban kita pada Kristus, dan bersukacita dalam pemikiran bahwa Dia hidup selama-lamanya. Ya: terpujilah Tuhan! Kristus hidup, meskipun kita mungkin mati. Kristus hidup, meskipun teman dan keluarga dibawa ke kubur. Dia hidup yang menghapus kematian, dan membawa kehidupan dan keabadian kepada terang oleh Injil.

Dia hidup yang berkata, ‘Hai maut, aku akan menjadi malapetakamu: hai kuburan, aku akan menjadi kehancuranmu.’ (Hos. 13:14.) Dia hidup yang suatu hari akan mengubah tubuh kita yang keji, dan menjadikannya seperti tubuh-Nya. tubuh yang mulia. Dalam sakit dan sehat, dalam hidup dan mati, marilah kita bersandar dengan percaya diri kepada-Nya. Tentunya kita harus mengatakan setiap hari dengan orang tua, ‘Terpujilah Tuhan karena Yesus Kristus!’

Keluarga Kristen

Surat Ibrani

BAB I 

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Surat

Istilah Ibrani dalam bahasa aslinya berasal dari kata ‘hebroo’ atau ‘hebralo’. Menurut Peter Wongso, “Kata ini dipakai untuk pertama kalinya ketika Abraham disebut sebagai orang Ibrani (Kej.14:13)…, demikian pula bangsa Israel yang di besarkan di Mesir disebut juga sebagai orang Ibrani (Kej.1:5; 2:6; 11, 13, 3:18).” Akan tetapi, dalam pembahasan ini ialah mengenai surat Ibrani. Berbagai hal mengenai penulis dan penerima surat Ibrani ditafsirkan dilihat dari surat tersebut, meskipun sampai saat ini masih belum ada penulis yang asli atau pasti yang sudah diketahui. Bentuk dan isi surat tersebut menunjukkan bahwa penulisnya adalah seorang ahli yang mempunyai pengetahuan tentang adat istiadat Yahudi dan bahasa Yunani serta gaya bahasa kesusastraan. 

Dari isi surat tersebut tampak jelas bahwa penerima surat itu sedang mengalami penganiayaan sebagai akibat dari iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka tertarik kepada iman bangsa Yahudi dan tergoda untuk meninggalkan iman Kristen mereka sendiri untuk menghindari penyiksaan. Menurut tradisi yang paling tua mengenai surat ini, pada abad ke empat Masehi, diperkirakan penerima surat ini mempunyai hubungan dengan Gereja di Yerusalem. Keterangan mengenai upacara-upacara ritual di Rumah Tuhan dan kegiatan-kegiatan para imamnyadi Yerusalem menunjukkan bahwa, mungkin surat ini ditulis sebelum Bait Allah di Yerusalem dihancurkan pada waktu bangsa Yahudi memberontak terhadap kerajaan Romawi pada tahun 70 M.

Menurut beberapa tafsiran dan buku bahwa, surat Ibrani ini sudah digunakan oleh para pemimpin Gereja Kristen mula-mula. Seperti Klement dan Hermas dari Roma, sebelum akhir abad pertama Masehi. Kitab Suci Injil menyatakan bahwa:

Acuan pertama yang muncul bagi surat ini ditulis oleh seorang pemimpin Gereja lainnya, yaitu Klement Alexandria, pada tahun 180 M. Naskah tertua surat ini juga menunjukkan suatu tanggal pada akhir abad kedua Masehi. Ada naskah-naskah dan acuan-acuan lainnya dari surat ini, serta naskah terjemahannya dalam dua dialek Koptik di Mesir, yang ditulis pda abad ketiga Masehi.

Perdebatan mengenai siapa penulis dari surat Ibrani ini sampai saat ini belum terselesaikan dan belum pula diketahui siapa penulisnya. Penulis tidak memberikan penjelasan sedikit pun di dalam suratnya tentang siapa dirinya, namun kelihatannya ia adalah seorang yang cukup dikenal oleh pembacanya.

Mengenai tahun penulisan surat ini ada beberapa pendapat, beberapa sarjana menetapkan surat Ibrani ditulis sekitar tahun 80-90 M, pada zaman kekaisaran Domitianus (85 M) yaitu penganiayaan kali kedua.” Artinya pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya di atas, karena surat Ibrani ditulis setelah penghancuran Yerusalem tahun 70 M. Dengan demikian, penulisan surat Ibrani dituliskan kira-kira tahun 60-70 M pada zaman kekaisaran Nero. Hal ini pun ditegaskan oleh Dave Hagelberg, dan juga Joh.Ed. Huther dalam buku Gottlieb Lunemann.

  1. Alamat  dan Tujuan Penulisan Surat

Surat ini ditulis kepada orang Kristen Ibrani yang berada di diaspora. Beberapa pendapat mengatakan bahwa surat ini ditunjukkan kepada orang Ibrani dengan memberi bukti intrinsik menunjuk pada sebuah jemaat orang percaya Ibrani sebagai pembaca kitab ini. Bukti tersebut antara lain:

  • Kitab ini mengakui argumentasi menurut sudut pandang orang Yahudi. 
  • Kitab ini menggunakan ktipan-kutipan Perjanjian Lama.
  • Kitab ini banyak menyebut keimaman orang Lewi.
  • Istilah-istilah yang muncul adalah istilah yang dipakai oleh orang Yahudi secara eksklusif.
  • Berisi tentang penjelasan panjang lebar sejarah orang Ibrani.
  • Ada suatu pembahasan rinci tentang tabernakel.

Orang Kristen Ibrani mengalami penganiayaan baik secara fisik oleh kekaisaran Romawi maupun secara rohani oleh pengaruh Yudaisme. Teks ini merupakan beberapa nasihat-nasihat tambahan kepada orang Kristen Ibrani yang sedang mengalami goncangan iman dari ajaran Yudaisme (band.psl12). Dalam teks ini pembaca juga sedang mengalami penganiayaan berat sehingga penulis memberikan nasihat supaya mereka tetap hidup dalam persaudaraan (13:1). Orang-orang Kristen Ibrani pun menjadi ragu akan kebenaran yang mutlak dalam kekristenan dan mereka sudah meninggalkan persekutuan di dalam kekristenan (10:25). Kemudian mereka juga saling menentang atau melawan dalam kekristenan, yaitu antara orang Kristen Yahudi dan orang Kristen non-Yahudi. Inilah yang melatar-belakangi penulis perlu untuk menasihati orang Kristen. Ibrani.

BAB II

Surat Ibrani 13:17

  1.  Penduhuluan

Dalam pasal 13 ini secara khusus berbicara mengenai bagian penutup di akhir surat ini. Pasal ini berisikan perintah-perintah umum atau nasehat-nasehat yang berkaitan dengan kehidupan beragama dan pemerintahan, dilanjutkan dengan permohonan doa dan berkat serta salam penutup. Akan tetapi, pada bagian ini penulis secara khusus mengangkat sebuah studi eksposisi terhadap satu bagian ayat dari pasal 13 ini. 

Ibrani 13:17 merupakan sebuah ajakan dan perintah dari penulis Ibrani untuk taat kepada pemimpin-pemimpinnya, ayat 17 tidak dapat dipisahkan dari ayat-ayat sebelumnya di dalam pasal yang sama. Ayat 1-6 berbicara tentang hal-hal umum dan ayat 7-17 sebuah perintah yang berhubungan dengan ketundukkan dan ketaatan terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dan juga terhadap pemimpin. Sedangkan, ayat 18-19 berupa permohonan doa dari penulis kepada para pembacanya yakni orang-orang percaya Yahudi.

Pasal 13:17 menggambarkan sebuah pesan yang merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, tentang kehidupan Kristen sehari-hari. Penulis surat Ibrani memberi nasehat kepada para pembacanya untuk menaati para pemimpin sebagai seorang yang bertanggung jawab atas diri setiap orang yang dipimpin. J.Wesley.Brill berpendapat bahwa: “Dewasa ini banyak pengajaran yang sesat, karena itu kita harus menurut teladan dan pengajaran pemimpin kita.” Jadi, sebagai seorang percaya yang dipimpin oleh Allah melalui para pemimpin-pemimpin haruslah menaati dan menghargai para pemimpinnya, karena pemimpin adalah teladan sekaligus bertanggung jawab dihadapan Tuhan.

  1. OUT LINE – IBRANI 13:17

Tema: Setia dan Taat

  • Pesan penutup (13)
  • Nasihat dalam kehidupan Kristen sehari-hari (13:17)
  1. Ketaatan dan ketundukan kepada pemimpin (13:17a)
  2. Tanggung jawab seorang pemimpin (13:17a)
  3. Pelaksanaan tanggung jawab dengan sukacita (13:17b)
  4. Terjemahan Alkitab Yunani – Indonesia

Ayat 17

Πειθεσθε   τοις                          ηγουμενοις  υμων   και   υπεικετε

Τaatlah     kepada orang2 yang   memimpin      kamu   dan   tunduklah (kepada mereka)

αυτοι    γαρ     αγρυπνουσιν          υπερ των  ψυχων  υμων  ως         

Mereka  sebab   memberi perhatian   atas            jiwa2      mu     sebagai

λογον                          αποδωσοντες,                              ινα        μετα 

Pertanggungjawaban    (orang2 yang) akan memberikan,  supaya  dengan

χαρας           τουτο  ποιωσιν                  και   μη       στεναζοντες 

Kegembiraan  ini       mereka melakukan  dan   bukan   berkeluh kesah;

αλυσιτελες                                                              γαρ    υμιν      τουτο.

yang tidak membawa keuntungan/yang merugikan sebab  bagimu   ini

Diagram Teks

             Taatilah               

                                                                                              Berjaga-jaga

                            Pemimpinmu                

                                                                          Bertanggung jawab

 Tunduklah             

                                                                                                Melakukan dengan gembira

  1. Analisa Konteks

Surat Ibrani pasal 13 berisi tentang pesan terakhir dari penulis berupa nasihat-nasihat mengenai kehidupan Kristen sehari-hari, sikap kebergantungan kepada Allah, pemeliharaan dan penyertaan Allah bagi umat-Nya, dan pujian penyembahan bahwa Allah di pihak kita. Selanjutnya ialah ketaatan terhadap para pemimpin dan permohonan doa. Seringkali pasal 13 tidak terlalu diperhatikan oleh sebagian orang percaya (pembaca) saat ini. Khususnya dalam menganalisa satu konteks yang disajikan. 

Pasal 13:17 merupakan satu bagian yang tidak dapat dipisahkan pada ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Kata jiwa ‘psukhe’ dalam Ibrani 13:17 yang berhubungan dengan para pemimpin yaitu “mereka yang berjaga-jaga atas jiwamu”; kata itu tampaknya dipakai juga dalam arti diri seseorang secara utuh.  Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang terpisah lagi secara spesifik yakni dimulai dari ayat 7-16 tentang pemimpin (tuan) dan hamba (orang-orang yang dipimpin).

Analisa Konteks Jauh

Ayat 1 berbicara tentang ‘kasih’. Ola Tulluan berpendapat bahwa: kasih itu dapat berupa, “kasih persaudaraan dan juga kasih yang tertuju kepada orang yang hidup di luar persekutuan. Istilah kasih dalam bahasa Yunani φιλαδελφια artinya kasih persaudaraan. Bentuk kata φιλαδελφια artinya bahwa perintah ini ditujukkan untuk setiap orang atau bersifat pribadi. Orang Kristen Ibrani bukan hanya mengalami penganiayaan dan kegoncangan iman tetapi, mereka juga saling menentang satu dengan yang lain. Orang Kristen Yahudi sebenarnya tidak mau bersekutu dengan orang Kristen non-Yahudi (10:25). Karena itu maka penulis Ibrani menasihatkan supaya mereka hidup dalam kasih persaudaraan.

Ayat 2 merupakan nasehat dan penjelasan tindakan-tindakan kasih yang dipelihara di dalam sikap dan perbuatan melalui penerimaan dan penghargaan terhadap orang lain, khususnya saudara-saudara seiman dan juga orang asing. Penulis memakai contoh Abraham dan Lot untuk membuktikan kepada pembaca. Ayat 3 ‘ingatlah akan orang-orang hukuman’, penulis mau supaya pembaca dapat mengingat orang yang sedang dalam penjara atau teraniaya. Mereka dapat mengingatnya di dalam doa mereka. Sebagaimana para pembaca yang masih hidup dalam dunia yang masih megenakan tubuh jasmani. Penulis juga hendak menasehati para pembaca agar menaruh kasihan terhadap orang-orang yang dipenjarakan. 

Pada ayat 4 berbicara mengenai respon baik terhadap perkawinan dan kekudusan pernikahan itu sendiri. Jelas sekali penulis menolak praktek “hidup bersama tanpa nikah” atau praktek poligami. Baginya hal ini sama dengan pesundal atau pezinah yang akan menerima penghakiman dari Allah. Ayat 5 penulis menasihatkan bahwa keserakahan terhadap uang adalah hal bertentangan dan patut dihindari. Tetapi sebaliknya harus mencukupkan diri dengan apa yang ada padanya. Sikap yang benar bukan ketamakan, melainkan kepuasan, belajar untuk menganggap cukup daripada senantiasa menghendaki lebih banyak lagi. Alasan penulis adalah “Janji Allah” yang akan digenapi. Karena, “Tuhan telah berjanji kepada tiap orang untuk memberikan pertolongan-Nya yang bersifat pribadi.” Ayat 6 mengandung pernyataan penting, anak kalimat terakhir merupakan pertanyaan yang tepat sekali. Dalam Yosua 23:14 dan Mazmur 118:6 memberi kesaksian tentang kesetiaan Allah. 

Ayat 7-9 menggambarkan perjumpaan dengan keindahan Kristiani di dalam Gereja. Penulis mendorong pembaca untuk meneladani dan mencontoh iman para pendahulu yang mengajarkan kebenaran kepada mereka. Penulis menyatakan keteladanan yang istimewah yaitu Yesus Kristus yang tidak berubah. Keterikatan kepada Kristus, yang tidak berubah, akan menghasilkan kejelasan soal doktrin. Dengan demikian tidak ada yang akan disesatkan, atau menyimpang karena pengaruh ajaran atau peraturan aneh yang disebarkan atas nama Allah. Ayat 10-16 menyatakan peraturan-peraturan Perjanjian Lama tidak berlaku lagi, yakni mempersembahkan kurban, sebab kurban yang sudah dipersembahkan sudah tersedia di dalam Kristus. Orang-orang percaya harus memiliki perilaku yang layak bagi orang-orang tebusan.

Analisa Konteks Dekat

Dalam konteks ini penulis memberi beberapa permintaan pribadi, sebuah sisipan dan salam, serta sebuah berkat singkat penulis mengakhiri suratnya. Ayat 18-19 berupa permohonan pribadi, agar senantiasa di ingat akan kesaksian, kehidupan, dan pelayanan pribadi penulis. Selanjutnya, kerinduan penulis agar dia dapat segera berada diantara mereka. Ayat 20-21 doa pribadi penulis untuk tetap mendoakan mereka, kemudian penulis megemukakan sejumlah permohonan dan harapan. Ayat 22-25 ketika penulis meminta pembacanya untuk menerima nasehatnya, ia juga mengungkapkan harapannya bahwa dia dan Timotius bisa segera mengunjungi mereka dan menambahkan salam dari sudara-saudara di Italia yang tidak jelas. Selanjutnya kata-kata penutup surat ini merupakan sebuah ucapan berkat dalam bentuk doa singkat.

  1. Analisa Exegetis Ibrani 13:17

Ayat 17 ini merupakan sikap tunduk secara praktis dikaitkan dengan sikap orang percaya terhadap para pemimpin mereka. Di dalam konteks ini penulis menasehati, disana ada suatu permohonan yang mendesak untuk bersikap patuh kepada pemimpin Kristen dengan segenap jiwa dan segenap hati. 

  • Taatlah

Kata “taatlah” dalam bahasa Yunani “Πειθεσθε” peithesthe (Verb2 plural present passive imperative), yang diartikan membujuk; meyakinkan; berusaha menyenangkan; menenangkan; menyogok; menjadi yakin; menaati. Menurut Kamus Yunani – Indonesia, kata peithesthe dapat diartikan sebagai ‘kepandaian membujuk’ Dengan demikian, istilah ini mengandung makna usaha untuk membujuk, meyakinkan atau menyenangkan sesuatu hal. Dalam hal ini dapat berarti orang kedua jamak, dimana sikap taatlah merupakan perintah yang dikerjakan oleh orang-orang untuk mematuhi setiap peraturan atau perintah yang ada. 

  • Memimpin

Kata “memimpin” dalam bahasa Yunani “ηγουμενοις” hegeomai (Verb plural masculine present middle passive dative), yang berarti memimpin; menjadi penguasa; mempertimbangkan; menganggap. Kata ini dapat juga diartikan memerintah; menganggap; memimpin; juru bicara utama. Secara harfiah kata ini dapt diartikan menjadi pimpinan, atau menguasai, mengepalai, mengatur, dan mengkoordinir, memiliki wewenang, mengarahkan sesuatu. Dengan demikian, istilah ini memberi pemahaman penting bahwa pemimpin kita ialah seorang yang memimpin atau memerintah atas kita.

  • Tunduklah

Kata “tunduklah” dalam bahasa Yunani “υπεικετε” hupeiko (verb2 plural present active imperative), yang berarti tunduk (kepada). Kata ini mengandung pengertian tunduk, takluk kepada. Istilah ini dapat pula diartikan mengakui kekuasaan, tunduk, menyerah, atau takluk kepada. Dengan demikian bahwa sikap tunduk bukan hanya perintah melainkan merupakan tindakan yang sadar akan kekuasaan seseorang pemimpin.

  • Pertanggungjawaban

Kata “pertanggungjawaban” dalam bahasa Yunani “λογον” logon dari kata ‘λογος’ (Noun masculine singular accusative) yang berarti kata, laporan, pertanggungjawaban, sebab. Kata ini dapat pula diartikan sebagai pertanggung jawaban kepada sebuah pribadi; memberikan tanggung jawab. Dengan demikian seorang pemimpin akan melakukan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh karena ia pada akhirnya akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan. Demikian pula ia bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

  • Melakukan

kata “melakukan” dalam bahasa Yunani “ποιωσιν” poieo (verb3 plural passive aorist subjunctive) yang diartikan sebagai melakukan, membuat, mencipta, menyebabkan, menghasilkan, bertindak, berlaku, berbuat. Dengan demikian, para pemimpin memimpin dengan melakukan sesuatu yang berdampak atau menghasilkan sesuatu bagi orang yang dipimpinnya, dalam hal ini adanya tindakan atau kegiatan untuk bertindak atau tidak diam saja.

  • Gembira

Kata “gembira” dalam bahasa Yunani “χαρας” khara (Noun, feminine, singula. genitive) yang diartikan sebagai keadaan bersukacita, penyebab sukacita, kebahagiaan, perjamuan. Kata ini juga mengandung pengertian kegirangan, kesukaan, kebahagiaan, penyebab atau sumber kebahagiaan. Dengan demikian, tindakan ini ialah cara seorang pemimpin melakukan sesuatu bagi orang-orang yang dipimpinnya yang taat dan patuh, melakukannya dengan gembira, senang hati, tidak dengan sungut-sungut, ikhlas, sukacita, dan tidak mencari keuntungan.

  • Berjaga-jaga

Kata “berjaga-jaga” dalam bahasa Yunani “αγρυπνουσιν” agrupneo (Verb3 plural, passive, aorist, indicative), yang diartikan dengan berjaga-jaga, memberi perhatian. Istilah ini dapat pula diartikan dengan keadaan tidak tidur, berjaga-jaga. Dengan demikian tindakan berjaga-jaga ialah seorang pemimpin melakukan tanggungjawabnya dengan sepenuh hati, memberi perhatian kepada orang-orang yang sedang dipimpinnya. Seorang pemimpin akan selalu setiap saat, setiap waktu memberi perhatian khusus terhadap anak buahnya atau orang-orang yang taat dan patuh yakni mereka yang mau dipimpin.

BAB III

PENUTUP

  1. Aplikasi

Dari eksposisi pasal 13:17 di atas memberi sebuah makna penting yang mengandung pengertian tentang ketaatan dan ketundukan terhadap pemimpin. Berkenaan dari pembahasan exegetis dan analisa konteks, adapun beberapa hal yang menjadi aplikasi bagi setiap orang percaya atau kehidupan Kristen, ialah sebagai berikut:

  • Sebagai orang percaya yang dipimpin oleh Allah dan menjadi anak-anak Allah haruslah memiliki sikap ketertundukkan kepada pemimpin berupa ketaatan kepada otoritas mereka. Karena sikap ketertundukkan tersebut memgambarkan bahwa kita menghargai pendahulu-pendahulu kita, yakni pemimpin-pemimpin kita.
  • Ketaatan dan ketundukkan tidak membuat seorang percaya merasa rendah dan tidak ada artinya (tidak penting), sebaliknya dengan ketaatan dan ketundukkan menunjukkan kesetiaan dan kepercayaan kepada pemimpin
  • Sebagai orang percaya haruslah senantiasa menghargai dan memperhatikan sungguh-sungguh perintah para pemimpinnya, karena hal ini menunjukkan bahwa sebagai orang yang dipimpin membutuhkan dan menyadari bahwa ia memiliki seorang yang lebih berkuasa atas dirinya.
  • Kesadaran akan ketaatan dan ketundukkan orang percaya melatih karakter dan itergritasnya sehingga, setiap orang percaya tidak menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat, tidak menuruti keinginannya sendiri.
  • Dalam hal ini seorang pemimpin memiliki dua sifat kepemimpinan. Sebagai seorang pemimpin pertama selalu waspada dan penuh perhatian, kedua memiliki sikap dan rasa bertanggungjawab dihadapan Allah pada khususnya. 
  • Orang yang mau taat dan patuh akan dipimpin dan di jaga oleh pemimpinnya dengan penuh perhatian atau sungguh-sungguh, tidak bersungut-sungut, ataupun mencari keuntungannya. 
  1. Kesimpulan 

Kehidupan Kristen dilukiskan dalam hubungan yang baik di antara sesamanya atau orang percaya lainnya, dengan orang asing, dan dengan pemimpin-pemimpinnya. Bahkan lebih utama lagi ialah hubungannya dengan Tuhan. Dari pasal 13:17 ini memberi pemahaman penting bagi setiap orang percaya khususnya para pembaca surat ini di alamatkan untuk tetap taat dan tunduk kepada seorang pemimpin atau ketua. Ketaatan menunjukkan adanya kesetiaan, ketertundukkan juga menunjukkan sikap patuh dan mau dibentuk oleh pemimpinnya. Sikap taat dan tunduk adalah dua sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya untuk tetap hidup di dalam otoritas Allah. 

Seorang yang taat akan mendapat upah sesuai dengan tindakannya. Ia juga akan selalu dihargai oleh pemimpinnya dengan berjaga-jaga atas jiwanya, diperhatikan dengan gembira dan ikhlas. Tindakkan ketaatan dan ketertundukkan juga menunjukkan bahwa orang percaya memiliki intergritas yang maksimal dan baik. Sebagaimana yang dilukiskan oleh penulis pada ayat-ayat sebelumnya, bahwa teladan para pemimpin sangat baik bahkan Kristus sebagai kepala dan sekaligus pemimpin yang tidak pernah berubah dan tetap selamanya. Ayat ini seringkali dianggap mudah dan dapat diartikan dengan cepat. Akan tetapi, bukan terletak pada cepat atau mudahnya ayat ini untuk di eksegese. Melainkan, tindakan selanjutnya dari sikap setiap orang percaya untuk menanggapi nasehat, dorongan, sekaligus perintah di ayat 17 ini.

KEPUSTAKAAN

Brill, J.Wesley. 

1995    Tafsiran Surat Ibrani. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

Bruce, F.F. 

    1979    The International Bible Comentary. Zondervan Publishing House: Grand Rapids, Michigan.

    1978    The New Internasional Commentary On The New Testament. Michigan: Eerdmans Publishing.

Delitzsch, Franz.

    1952    Commentary On The Hebrews. 2 vol. Grand Rapids: Wm. B. Eerdman’s Publishing Company, reprinted.

Drane, John. 

2006    Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Drewes, B.F. 

2006    Kata Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jakarta: BPK G.Mulia

Eddy, Fances.  

    2004    Surat kepada Orang Ibrani.  Jakarta: Yasinta.

Enns, Paul.

2004    The Moody Handbook of Theology. Malang: Literatur SAAT.

Guthrie, Donald.

2006        Teologi Perjanjian Baru 1. Jakarta: BPK G. Mulia. 

    Teologi Perjanjian Baru 2. Jakarta: BPK G. Mulia.

    Tafsiran Alkitab Masa Kini. Jakarta: BPK G. Mulia.

Hagelberg, Dave.

    2005    Tafsiran Ibrani Dari Bahasa Yunani. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.  

Hughes, Philip E. 

    1977    A Commentary on the Epistle to the Hebrews. Grand Rapids, Mich: Wm. B. Eerdmans Publishing Company.

Kitab Suci Injil, 

2004    Pengantar Surat Ibrani. Jakarta: LAI

Lembaga Alkitab Indonesia

    2005    Alkitab dengan Kidung Jemaat. Jakarta: LAI.

Lunemann, Gottlieb.

t.t.    Critical and Exegetical Hand-Book to The Epistles to The Hebrews. Winona Lake, USA: Alpha Publications.

Newman, Barclay M. 

    2005    Kamus Yunani – Indonesia. Jakarta: BPK  G. Mulia.

Ola, Tulluan.

    1999     Introduksi Perjanjian Baru  Batu: Departement Literatur  YPPII. 

Owen, John.

    1977    Hebrews: Commentary on the Epistle of Warning. Grand Rapids, Michigan: Kregel Publishing Co.

Pfeiffer, Charles F. & Harrison, Everett F.

    2001    Tafsiran Alkitab Wycliffe. Vol.3 Perjanjian Baru. Malang: G. Mas.

Ryrie, Charles C.

    1959    Biblical Theology of  the New Testament. Chicago: Moody.   

Sutanto, Hasan.

2004    Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK). Jilid I. Jakarta: LAI.

    Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK). Jilid II. Jakarta: LAI.

Tenney, Merrill C.

2003    Survei Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas.

Wongso, Peter.

1997    Eksposisi Doktrin Alkitab Surat Ibrani. Malang: SAAT.

Wesley, John. 

    1981    Explonatory Notes Upon The New Testament. Grand Rapids: Baker Book House.

_____________   

    2008    Ensiklopedia Masa Kini Jilid 1 (A-L). Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina    Kasih.

Keluarga Kristen

BUKTIKAN BAHWA ENGKAU MENGASIHI-KU

(1YOH. 5:1-5)

Sangat mudah untuk berbicara tentang kasih, bahkan dimana mana kita bisa mendengar orang mengatakan bahwa aku mengasihimu, dan saya yakin semua kita pernah mengatakan kepada orang-orang di sekitar kita bahwa kita mengasihi mereka. Kasih, di dalam kehidupan bukanlah hal yang asing lagi. Setiap kita diciptakan dalam rupa dan gambar Allah yang tentunya kita juga memiliki salah satu karakter Allah yakni kasih. 

Kasih tidak hanya sekedar ucapan atau sebuket bunga, ataupun sebungkusan coklat. Kasih tidak hanya sekedar menunggui orang yang sakit semalaman sampai tidak istrahat, atau kasih bukan hanya sekedar kata-kata yang puitis. Pada bagian ini kita akan belajar tentang bagaimana kasih yang dikehendaki Allah bagi orang percaya. Ada beberapa hal yang dapat kita lihat dari teks ini.

  1. Kasih artinya ketaatan yang penuh sukacita (1-3).

Manusia diciptakan untuk memuliakan dan mengasihi Allah.  Tetapi kenyataan yang kita lihat adalah manusia tidak taat kepada Allah, manusia hidup sesuai keinginannya sendiri. Mazmur 148:8 “api, hujan es. Salju dan angin badai melakukan firmanNya”. Sementara pada bagian kitab yang lain dikatakan disitu bahwa Yunus yg diprintahkan TUHAN ke Niniwe tetapi dia tidak taat sementara ikan, angin dan gelombang taat kepada Allah. Dalam kisah raja-raja, pohon jarak dan seekor ulat kecil melakukan apa yang diperintahkan TUHAN tetapi Elia mau mengikuti keinginannya sendiri. 

Yohanes memulai pasal ini dengan menegaskan bahwa setiap orang yang memiliki pengakuan yang benar tentang Yesus, dilahirkan dari Allah. Kata “gege,nnhtai(” berkasus perfect tense,  dan kata “o` pisteu,wn” berkasus present tense. Kombinasi kedua kasus ini sangat jelas menunjukkan bahwa percaya adalah konsekwensi atau akibat dari kelahiran baru dan bukan penyebab lahir baru, dan percaya itu sudah terjadi di masa lampau dan akibatnya masih tetap berlanjut.  Dilahirkan dari Allah yang membawa kita percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah juga memampukan kita memiliki hubungan kasih dengan Bapa dan semua anak-anakNya. Mengatakan bahwa ada seseorang yang tidak saya kasihi berarti sama saja dengan mengatakan kepada Allah bahwa TUHAN, saya tidak cukup mengasihi Engkau sehingga mampu mengasihi orang itu. 

Ayat 2 dan 3.   Firman Tuhan pagi ini mengajak kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan ketaatan yang penuh sukacita. Kita telah dilahirkan dari Allah; kita mengasihi Allah; berarti juga mengasihi anak-anak Allah. Kasih ini dibuktikan dengan melakukan perintah-perintahNya. Kasih kepada Allah bukan hanya sekedar ucapan bahwa Tuhan aku mengasihi Engkau, tetapi itu butuh ketaatan, di ayat 2 dikatakan bahwa tanda mengasihi adalah melakukan perintah-perintahNya.  Apabila kita mengasihi seseorang maka kita akan melakukan hal-hal yang menyenangkan dia dengan penuh sukacita tanpa merasa dipaksa atau terpaksa. Orang Kristen yang memiliki kasih yang dewasa adalah yang senang dan penuh sukacita melakukan kehendak Bapa. Senang merenungkan firman Tuhan dan hidup di dalam kebenaran firmanNya.

Dalam pasal 4:7,8; dikatakan bahwa……., karakter anak-anak Allah adalah dikasihi oleh mereka yang juga adalah keluarga Allah dan juga mengasihi karena Allah adalah Kasih. Ketika kita mengasihi Allah, kita mengasihi anak-anak Allah dan melakukan perintah-perintah Allah, artinya :

  1. Setiap orang yang mengasihi Bapa mengasihi Anak.
  2. Setiap orang Kristen adalah anak Allah
  3. Oleh karena itu ketika kita mengasihi Allah kita mengasihi persekutuan orang Kristen

Kasih yang tidak disertai ketaatan kepada perintah Allah itu bukanlah kasih. Kasih yang sebenarnya adalah kasih yang diekspresikan dengan tindakan dan di dalam kebenaran (3:18), hal ini berarti kasih kepada Allah adalah kasih yang terekspresi dalam ketaatan akan perintah-perintahNya. Dalam ayat 3 dikatakan bahwa perintah-perintahNya tidak berat hal ini disebabkan karena orang percaya atau anak-anak Allah yang sudah lahir baru dan hidup di dalam kebenaran Allah dan dalam kasih Allah sehingga Allah sendiri yang memampukan mereka untuk melakukan perintah-perintahNya. Kristus sendiri berkata dalam Matius 11:30 bahwa…….., hal ini bukan berarti perintah yang diberikan itu ringan atau mudah untuk ditaati tetapi oleh karena akibat dari kehidupan orang percaya yang sudah dibaharui, dan kelahiran baru dalam iman inilah yang membuat Roh Kudus memampukan kita untuk taat.  Allah tidak pernah memberikan perintahNya kepada anak-anakNya tanpa memberikan kemampuan kepada mereka untuk melakukan setiap perintah yang diberikan, dan ketika Ia memberikan suatu perintah kepada kita berarti Dia sedang memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan kasih kita kepada Allah. Jadi ketika kita bisa taat itu semua bukan karena kita mampu tetapi semua itu karena anugerah.

  1. Anugerah yang memampukan

Kalau kita lihat pasal ini, Yohanes memulai dan mengakhiri ayat-ayat ini dengan kata ‘percaya’ dan ‘iman’. Di antara percaya bahwa Yesus adalah Kristus dan Yesus adalah Anak Allah, terdapat 2 hal yang penting yaitu kasih dan ketaatan. Implikasinya : adalah hal yang mustahil memiliki kasih tanpa ketaatan atau ketaatan tanpa kasih, itu berarti juga adalah hal yang tidak mungkin memiliki baik kasih maupun ketaatan tanpa percaya bahwa Yesus adalah Kristus dan Anak Allah. 

Pada ayat 4 dan 5 ini, Yohanes memberikan satu bagian penting ttg iman Kristen. Terdapat 3x kata ’mengalahkan dunia’, hal ini menunjukkan bahwa prinsip iman ini sangat penting, :

  1. Kemenangan/iman yang mengalahkan dunia itu berasal dari Allah. Iman yang menyelamatkan, iman yang membenarkan kita dan membuat kita benar dihadapan Allah adalah karunia  Allah kepada kita. Hal ini berarti jika kita tidak mengalami lahir baru dan memiliki hidup baru bersama Allah dan bukti hidup baru itu tidak ada di antara orang Kristen, maka tidak akan ada kemenangan yang bisa kita peroleh. Kemenangan atau iman yang sejati yang sanggup mengalahkan dunia ini hanya ada di dalam Allah (2:15-17). Maka di luar Allah kita tidak berdaya apa-apa, kita pasti dikalahkan oleh dunia ini. Iman yang mendewasa adalah iman yang mendalam dan bertumbuh. Iman bukan sekedar pengetahuan tetapi pengetahuan yang ditindaklanjuti. Bukan sekedar kepercayaan tetapi kepercayaan yang dihidupi dan dipraktekkan.
  2. Iman di dalam Yesus sebagai Kristus dan Anak Allah. Yesus adalah pusat kehidupan orang Kristen. Ketika kehilangan Yesus atau pusat kehidupan itu maka manusia mati walaupun saat ini dia hidup. Oleh karena itu merupakan tanggung jawab saudara dan saya sebagai orang-orang yang sudah mengalami sukacita dan kemenangan sejati itu untuk membawa orang-orang yang belum mengenal Kristus untuk datang kepadaNya. Mengenal kebenaran atau mengenal Yesus dengan sungguh-sungguh memberi orang percaya kekuatan untuk menghadapi ajaran sesat dan juga kekuatan-kekuatan dunia ini. 
  3. Kesetiaan. Kata ‘mengalahkan’ di sini tidak hanya ditulis dalam bentuk aorist tetapi juga dalam bentuk present. Artinya iman yang mengalahkan dunia itu tidak hanya terjadi di masa lalu ketika mereka mengalami hidup baru, tetapi terjadi terus menerus dalam kehidupan orang percaya. Kesetiaan yang dimiliki oleh orang percaya adalah bukan karena kemampuan mereka tetapi itu adalah semata-mata karena anugerah Allah yang telah membawa mereka kepada hidup yang kekal, yang terus menuntun mereka beriman di dalam Kristus, yang terus mendorong, memampukan untuk mengasihi sesama orang percaya.

Dari perenungan kita hari ini, ada hal penting yang dapat kita ambil yakni kita semua yang ada di tempat ini, semua kita sudah mengalami lahir baru, hal itu berarti Allah diam di dalam kita. Ketika Allah diam di dalam kita maka kita dimampukan untuk mengasihi Allah dan sesama orang percaya bukan hanya dalam kata tetapi teraplikasi dalam kehidupan kita tiap-tiap saat sepanjang hidup kita di dunia. Sebagai anak-anak yang lahir dari Allah kita tidak perlu takut menghadapi tantangan apapun yang ada di dunia ini karena Allah pasti memampukan kita untuk mengalahkan setiap tantangan itu. 

Keluarga Kristen

BERBUAH DI TENGAH KRISIS


Yakobus 1:2,12

Kalau kita memperhatikan pohon, maka sering kita berpikir kalau pohon itu di tanam ditepi aliran air,  maka pohon itu pasti akan berbuah dengan lebat karena berlimpahan air. Sebaliknya bila pohon itu ditanam jauh dari aliran air maka pohon itu kemungkinan akan berbuah sedikit, bahkan tidak menutup kemungkinan akan mati. Itulah pikiran kita pada umumnya tentang pertumbuhan tanaman. 

Tetapi ternyata tidak semua pohon yang ditanam ditepi aliran air atau di tempat yang banyak airnya dapat bertumbuh dengan baik, malah kemungkinan hasil buahnya tidak baik. Contoh tanaman mangga bila cuaca hujan pasti buahnya tidak akan semanis bila cuaca terang. Lebih-lebih lagi tanaman korma, tanaman kaktus itu tidak butuh banyak air. Buahnya akan semakin baik bila ditanam dipadang gurun dari pada kebun yang subur. 

Demikian juga dalam kehidupan iman Kristen, 

jangan kita hanya berpikir, Saya akan bertumbuh dengan baik, bila keluarga saya mendukung, bila orang-orang disekeliling saya mendukung, bila semua fasilitas untuk bertumbuh telah tersedia buat saya. Bila pendeta saya selalu memperhatikan saya, dstnya. Jangan kita hanya berpikir sampai disitu, tetapi mari kita juga bertekad bahwa sekalipun kondisi sekeliling kita tidak mendukung bahkan mungkin mulai terjadi penekanan-penekanan terhadap iman kita, mulai kita harus menghadapi penderitaan karena nama Yesus, hendaknya kita tetap kuat, tegar dan setia dalam iman. Biarlah segala bentuk krisis, penderitaan, kesulitan atau tantangan, dapat semakin mempertebal iman percaya kita kepada Tuhan.
Krisis itu dapat dipakai Tuhan untuk membentuk iman kita. Tuhan sering mengizinkan Israel umat pilihannya mengalami krisis demi krisis. Tuhan mengizinkan bangsa Israel diperbudak oleh bangsa Mesir, supaya Israel berseru-seru pada nama Tuhan. Tuhan mengizinkan bangsa Israel berjalan dipadang gurun, dimana tidak ada makanan dan minuman, itupun dgn tujuan melatih mereka untuk bergantung pada Tuhan. Tuhan membuang bangsa Israel ke tanah Babel, ke negeri yang jahat dan bengis,itupun dengan tujuan agar Israel tetap setia pada Tuhan. Segala krisis yang Tuhan izinkan pasti akan mendewasakan iman percaya kita kepadaNya.
Pada zaman sekarang terkadang ada orang berpikir demikian, iya kenapa Tuhan mengizinkan gereja dibom, gereja dibakar, gereja ditutup. Mengapa itu harus terjadi. Bukankah Tuhan itu mahakuasa, maha dashyat, maha ajaib ? Bukankah Tuhan bisa menggagalkan segala rencana jahat manusia itu ? Benar Tuhan itu maha kuasa, dia bisa mencegah tindak kejahatan manusia, dia bisa menghancurkan mereka yang memusuhi umatNya. Tetapi sekali lagi,semua yang terjadi tidak ada kebetulan, jika Tuhan mengizinkan itu terjadi pasti ada rencana Tuhan dibalik semua itu. Yang utama adalah untuk mendewasakan iman umat Tuhan. 

Jadi thema firman Tuhan pada malam hari ini memang benar. Berbuah di tengah Krisis. Memang mewujudkan thema ini dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah. Yang sering terjadi malah orang Kristen kecewa dengan Tuhan. Saya sudah ikut Tuhan mengapa hidup saya tetap susah seperti ini, saya sudah setia sama Tuhan tetapi saya tetap sakit tidak sembuh-sembuh. Saya sudah melayani Tuhan sekian lama tetapi tetap rezeki saya seret. Nah itulah kata-kata yang seringkali kita dengar dalam hidup sehari-hari. 

Mengapa orang berkata semacam itu, karena buah yang mereka harapkan adalah buah ukuran duniawi/jasmani. Mereka berpikir kalau ikut Tuhan itu pasti kita akan segera sukses, Tuhan pasti akan memberkati usaha kita, tidak mungkin kita terus menerus miskin seperti ini. Mereka berpikir kalau ikut Tuhan, kita pasti memiliki tubuh yang sehat waalfiat, Tuhan pasti berkati tubuh kita, kalau kita sakit pasti segera sembuh didalam nama Tuhan Yesus. Kalau kita ikut Tuhan, pasti kemanapun kita pergi akan dilindungi Tuhan. Kita tidak akan mengalami kecelakaan atau musibah. Nah itulah pada umumnya tujuan utama manusia mengikut Tuhan supaya beroleh buah-buah jasmani. 

Tuhan memang sanggup memberkati kita dengan buah-buah jasmani seperti itu, tetapi kalau kita mencoba mengerti isi firman Tuhan, justru tujuan utama Tuhan dalam hidup orang percaya adalah menumbuhkan buah-buah rohani. Buah-buah rohani lebih penting dari pada buah-buah jasmani. Buah-buah rohani akan menunjukkan bahwa kita adalah orang Kristen yang bertumbuh. Buah-buah rohani lebih bertahan dari pada buah jasmani. Contoh: buah roh : kasih. Bila kita memiliki kasih, maka sekalipun kita kaya atau miskin kita akan tetap mengasihi Tuhan dan sesama kita, buah roh: damai sejahtera, sekalipun kita dilanda badai masalah kita masih bisa memiliki damai Tuhan yang melampaui segala akal pikiran kita. Sebaliknya kalau buah –buah jasmani itu sering sikap kita pada Tuhan, saat kita sukses atau kaya, hati kita bersukacita, saat kita jatuh miskin kita menjadi susah dan sedih. Untuk itu betapa penting kita mengejar buah-buah rohani.  

    Bagaimana caranya 

kita bisa memiliki buah-buah rohani itu ? Kita harus siap ditempa, diuji, dibentuk oleh Tuhan. Emas akan nampak berkilau-kilau, dan nampak keasliannya bila emas itu dibakar dalam api. Tetapi emas palsu pasti akan leleh dan hancur. Kehidupan kita bila tidak mau diuji oleh Tuhan maka kita akan menjadi seperti emas palsu itu. Tetapi bila kita rela mengalami ujian atau pembentukan Tuhan, maka kita akan memancarkan buah-buah rohani itu. Ayub sebenarnya sudah enak menjadi orang kaya, anak cantik-cantik dan ganteng-ganteng, ternak banyak. Tetapi sungguh luar biasa Ayubpun siap kehilangan segala sesuatu yang dia miliki, bahkan dia berani berkata: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil terpujilah nama Tuhan. Dari situlah kita melihat betapa Ayub adalah pribadi yang teruji, sehingga Tuhan mengembalikan segala yang hilang dalam hidupnya, dikembalikan berlipat ganda. Tuhan sangat bangga dan memuji kesetiaan nabi Ayub.
    Pernah terjadi hal serupa seperti yang dialami oleh Ayub: Kesaksian Rev. Robert Schuller tentang bencana angin Tornado yang begitu dahsyat. Angin itu memusnahkan seluruh peternakan milik ayahnya, waktu itu ia sekeluarga melarikan diri dengan mengendarai truk, lalu bersembunyi di sebuah bukit, dan puji Tuhan ternyata angin itu lewat jalur bukit yang lainnya, sehingga mereka selamat. Kalau kita bertanya mengapa sampai peternakan orang beriman yang kena ? Peternakan keluarga hamba Tuhan. Hal ini mengingatkan bencana yang dialami oleh Ayub semuanya habis musnah. Rumah utama habis, ternak semua mati yang ada tinggal puing-puing. Peristiwa ini mengingatkan bahwa semua yang kita milik, memang hanya titipan saja.
    Terkadang ujian iman,juga bisa terjadi dari orang yang paling dekat dengan kita. Mungkin itu suami kita, istri atau anak kita. Sekitar 2 minggu lalu, tengah malam jam 12 malam saya menerima tilpon dari seorang ibu. Waktu kebetulan saya belum tidur masih ada yang saya kerjakan. Ibu ini sedang mengalami goncangan hebat dalam keluarga karena imannya. Dia menikah dengan suami tidak seiman. Semula dia mencoba mengikuti kepercayaan suaminya tetapi dia tidak merasa damai dihati, akhirnya dia memutuskan untuk kembali pada Kristus. Sang suami semula mengizinkan, tetapi suatu hari sang suami memusuhi dia, gara-gara dia membaptiskan kedua anaknya di gereja. Sang suami minta agar anaknya ikut dgn dia, pertentangan terjadi, sampai puncaknya suami sengaja main judi untuk menyakiti hati istrinya. Berkali-kali dia kalah dalam judi itu, sampai pinjam-pinjam uang sama tetangga, sampai jual perabot di rumah tangganya. Sang istri makin lama makin tidak tahan, sehingga jam 12 malam dia tilpon saya , saya mau cerai saja kalau seperti ini. Saya tidak tahan lagi. Saya mengajak dia sabar , kemudian saya ajak doa. Puji Tuhan hatinya sedikit terobati lewat doa. Saya ajak doakan suami, supaya Tuhan jamah hatinya. Inilah tantangan iman yang dihadapi dari orang terdekat.
Untuk itulah firman Tuhan di dalam Yakobus 1:2:” Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1:12Yakobus 1:12:”Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”

Keluarga Kristen

MAKNA SEBUAH PENGAMPUNAN 

Matius 18:21-35

Apakah pengampunan itu cukup kita ucapkan dengan bibir kita, ya saya mengampuni, ya saya memaafkan kamu, atau ada makna yang lebih dalam lagi dari sekedar ucapan/perkataan kita. Pagi hari ini saya membahas 3 makna dari sebuah pengampunan :  

1. Mengampuni berarti tidak lagi mengungkit kesalahan di masa lampau

Tuhan pernah berkata di dalam Yesaya 43:25 demikian : “ Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Kalimat :”Aku tidak mengingat-ingat dosamu,” mempunyai arti bahwa disaat Tuhan mengampuni kita, maka Tuhan bertekad tidak akan mengingat-ingat lagi segala kesalahan kita yang telah Dia hapuskan/ampuni. Alias Tuhan melupakan. Sekalipun Tuhan adalah pribadi yang maha tahu, dia tahu semua dosa-dosa kita, dari kita kecil sampai saat ini, tidak dosa yang tersembunyi dimata Tuhan, namun ketika Dia mengampuni, maka Dia tidak mau mengingat-ingat lagi dosa kita itu. Tuhan tidak mau mengungkit-ungkit lagi kesalahan kita, Tuhan tidak mau mendakwa kita lagi dgn dosa-dosa kita, Tuhan tidak mau mempermasalahkan apa yang Dia sudah ampuni. Firman Tuhan dalam Mazmur 103:12 berkata demikian : “ sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (Mazmur 103:12 TB)

Nah saudara itulah sikap Tuhan ketika Dia mengampuni dosa-dosa kita. Mengampuni bagi Tuhan itu sama dengan melupakan kesalahan, tidak mengingat-ingat lagi, tidak mengungkit-ungkit lagi. Tuhan Yesus memperjelas lagi lewat perumpamaan tentang seorang raja yang semula berencana menjebloskan hambanya ke dalam penjara karena tidak bisa bayar hutang. Namun ketika hamba itu menangis dan minta belas kasihan, maka raja itu menghapuskan hutangnya dan membebaskan dia dari kesalahannya. Raja tidak lagi mengingat-ingat hutang 10 ribu talenta hamba itu kepadanya. 10 talenta = 45 milyar. Tetapi apa yang terjadi baru saja raja itu bebaskan hutangnya, hamba itu bertemu temannya yang hutang 100 dinar= 75 ribu dan menagihnya, saat temannya tidak bisa bayar, maka dia jebloskan dalam penjara.  Raja adalah gambaran dari Tuhan sendiri, sedangkan hamba adalah gambaran kita manusia. Ketika kita berdosa pada Tuhan, maka seluruh dosa kita dihapuskan oleh Tuhan lewat kematianNya di kayu salib, tetapi ketika sesama kita bersalah kepada kita, biarpun kesalahan itu hanya kecil saja, kita manusia mudah mengingat-ingat terus, apalagi kalau kesalahan itu besar. Sampai mati mungkin kita tidak akan pernah melupakannya. 

Seringkali dalam hidup sehari-hari, orang berkata: saya sudah mengampuni dia, tetapi maaf saya masih belum bisa melupakan bagaimana dia pernah menampar wajah saya, saya mengampuni dia, tetapi maaf saya tidak pernah lupa bagaimana dia pernah menfitnah saya, saya mengampuni dia, tetapi maaf saya tidak pernah lupa bagaimana dia telah menginjak-injak harga diri saya. Saya sulit melupakan semua itu. 

Saudara ketika seseorang berkata demikian maka sesungguhnya orang itu belum sungguh-sungguh melepaskan pengampunan bagi sesamanya. Memang memori masa lalu yang pahit itu pasti tetap tersimpan sampai akhir hidup kita, namun satu hal Tuhan mau agar kita tidak terus mengungkit-ungkit masa lalu. Saya pernah berkata kepada seorang Bapak, Pak jangan terus ungkit masa lalu, setiap kali ada masalah baru, Bapak selalu ungkit masa lalu, Kalau begini terus caranya, Bapak terus jalan di tempat, rohani Bapak tidak akan maju-maju. Setiap kali hal itu bapak ungkit,pasti bapak sakit hati. 

Saudara hati-hati Iblis itu pandai sekali, dia selalu mengingatkan kita akan dosa kita dan dosa sesama kita. Setiap kali kita mau datang pada Tuhan, Iblis akan berkata: kamu nggak layak, kamu banyak dosanya, kamu pezinah, kamu pembunuh, kamu tidak pantas menghadap Tuhan. Iblis juga sering mengingatkan kita akan dosa sesama kita,kesalahan suami terus diingat, kesalahan istri terus diingat, akhirnya kita tidak bisa berdamai dgn suami atau istri kita. 

2.  Mengampuni berarti menerima kembali apa adanya 

Dalam perumpamaan anak yang hilang, dikisahkan bagaimana anak bungsu yang tadinya menghambur-hamburkan uang ayahnya, akhirnya dengan penuh penyesalan anak itu pulang ke rumah ayahnya. Dia mengakui semua dosanya, dan dia siap diperlakukan apapun oleh ayahnya. Dia siap kalau ayahnya mau menghukum dia. Tetapi luar biasa sang ayah tidak menolak dia, tidak menghukum dia, sebaliknya memeluk dia dgn penuh kasih, dengan penuh tangisan bahagia, anakku yang hilang sekarang telah kembali, mari kita adakan pesta merayakan kepulangan anakku. 

Saudara sang ayah adalah gambaran dari Tuhan Yesus, ketika Tuhan mengampuni kita, maka Tuhan menerima kita kembali apa adanya. Dia menerima dengan hati penuh sukacita, bukan terpaksa. Itulah hati Tuhan kepada kita.   

Berbeda sekali dengan sikap manusia terhadap sesamanya yang berdosa. Ketika ada seorang narapidana yang keluar dari penjara, dan ingin kembali lagi hidup di tengah-tengah masyarakat, pasti keberadaannya sulit diterima. Orang takut bergaul dengan dia, orang sinis dengan dia, orang mempergunjingkan statusnya, eh hati-hati dia itu baru keluar dari penjara, kasusnya bunuh orang, hati-hati jgn dekat sama dia. Padahal tidak sedikit narapidana sekeluar dari penjara, mrk sungguh-sungguh mau bertobat, mrk tidak mau mengulangi lagi perbuatannya, tetapi sayang seringkali pertobatan mereka tidak dipandang. Mereka terus tertolak, tertolak dan tertolak. 

Sekalipun ada orang berkata, saya sudah mengampuni dia,tetapi dia masih sulit menerima keberadaan orang yg diampuni, maka sesungguhnya orang itu belum mengampuni dgn sungguh-sungguh. Memang tidak mudah menerima kembali orang yang telah mengecewakan kita begitu dalam. Dalam masalah rumah tangga biasanya, biasanya kasus yang paling berat, yang membuat orang sulit menerima pasangannya yaitu kasus perzinahan, kasus perselingkuhan. Ini yang paling berat. Sekalipun sang suami sudah tobat, tidak lagi mau mengulangi perbuatannya, sang istri masih sulit menerima keberadaan suaminya. 

Tetapi sekali lagi,mari kita bersikap seperti Tuhan Yesus, ketika ada orang yang sungguh mau bertobat, mari kita memeluknya, mari kita merangkulnya, mari kita menyambut dengan hangat dan sukacita. Terima dia, seperti Tuhan telah menerima kita lebih dahulu. 

3.  Mengampuni berarti mempercayai kembali 

Tuhan Yesus pernah berkata demikian kepada Petrus: Kamu bukan lagi penjala ikan, tetapi Aku akan menjadi engkau sebagai penjala manusia. Satu kepercayaan besar yang Tuhan Yesus berikan kepada Petrus untuk menjadi partnerNya dalam pelayanan. Petrus tentu sangat bangga dengan status barunya, sebab dia sadar dia nelayan, orang berpendidikan rendah, tetapi Tuhan mau mempercayai dia menjadi partnerNya dalam pelayanan. Namun dalam perjalanan Petrus mengiring Tuhan Yesus, Petrus pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak 3 kali. Menyangkal tidak jauh beda dengan mengkhianati.  Pantaskah seorang pengkhianat dipercaya lagi oleh Tuhan ? Saya percaya bila saudara punya orang kepercayaan, kemudian orang itu mengkhianati saudara, saya yakin saudara pasti tidak akan mempercayai dia lagi. Tetapi Yesus tidak demikian, walaupun Petrus pernah menyangkal Yesus sebanyak 3 kali, Tuhan Yesus tetap memakai dia menjadi muridNya, bahkan rasulNya. Tuhan hargai pertobatan Petrus. Terbukti ketika Petrus berkhotbah 3000 orang bertobat. Roh Kudus bekerja luar biasa dalam hidup Petrus. Mengampuni berarti mempercayai kembali. 

Ketika saudara mengampuni suami, berarti saudara mempercayai bahwa suami saudara bisa kembali menjadi suami yang baik, ketika saudara mengampuni istri,berarti saudara mempercayai bahwa istri saudara bisa kembali menjadi istri yang baik, ketika saudara mengampuni anak-anak, berarti saudara mempercayai bahwa anak-anak saudara bisa kembali menjadi anak-anak yang baik. 

Bahkan saudara yang lebih luar biasa, mereka yang pernah jatuh dalam dosa, bila dia bertobat, lalu tetap diberi kepercayaan, maka mereka bisa menjalankan kepercayaan itu dgn sangat baik. Petrus dulu menyangkal, tetapi selanjutnya mati disalib dgn kepala dibawahpun mau. Bagi dia kepercayaan menjadi rasul itu luar biasa. 

Kesimpulan :

Ada 3 makna dari pengampunan : 

  1. Mengampuni berarti tidak mengingat-ingat lagi /tidak mengungkit-ungkit kesalahan masa lampau 
  2. Mengampuni berarti menerima kembali apa adanya 
  3. Mengampuni berarti mempercaya kembali. 

Pujian Penutup:

Mengampuni,mengampuni lebih sungguh )2x

Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaKu 

Mengampuni 2x lebih sungguh 

Melupakan-melupakan lebih sungguh ) 2x

Tuhan lebih dulu melupakan dosaku 

Melupakan-melupakan lebih sungguh 

Menerima-menerima lebih sungguh )2x

Tuhan lebih dulu menerima diriku 

Menerima-menerima lebih sungguh 

Keluarga Kristen

Melestarikan Kemesraan dalam hubungan

BAGAIMANA MELESTARIKAN KEMESRAHAN 

DALAM PERNIKAHAN KRISTEN

  1. Pengertian Kemesrahan Dalam Pernikahan Kristen

          Kemesrahan berasal dari akar kata ‘mesrah’ yang artinya lekat (terpadu dsb) benar, merasuk, sangat erat, karib, mendalam. Jadi, kemesrahan merupakan suatu keadaan dimana sepasang suami isteri saling berbagi kasih dengan tindakan yang sangat mesrah yang mendalam. mereka saling bercumbu, saling bercanda tawa.

  1. Pernikahan 

Berikut ini ada beberapa arti dari pernikaha:

  • Pernikahan adalah sebuah persekutuan, dimana dua hati menjadi satu.
  • Pernikahan adalah sebuah kebersamaan dan persahabatan. Hidup bersama, melakukan banyak hal bersama dan tak menginginkan yang lain.
  • Pernikahan artinya pengertian. Ia buta terhadap kesalahan pasangannya. Ia penuh pengertian atas setiap hal. Atas waktu, perasaan dan keinginan pasangannya.
  • Pernikahan artinya perhatian. Ia sangat peduli. Ia bersedia meninggalkan caranya sendiri demi mempedulikan kepentingan pasangannya.
  • Pernikahan artinya kebajika. Ia mengucapkan kata-kata yang baik dan menaruh kata-kata ke dalam tindakan. 
  • Pernikahan artinya dukungan. Ia mendukung usaha-usaha pasangannya, projeknya, pada segala situasi dan kondisi. Ia memberikan dukungan moril, fisik, doa, pokonya dukungan yang seutuhnya. Ia memberi semangat dan mengobarkannya ketika pasangannya patah semangat. Ia membungkuk untuk mengangkat pasangannya. Ia menguatkan hati ketika pasangannya lemah.
  • Pernikahan artinya berkomunikasi secara jujur dan terbuka. Ia bersedia membuka hati berbagi pemikiran terdalam dengan rendah hati. 
  • Pernikahan artinya berbincang, berdoa, berdialog, dan menyetujui bersama. Pernikahan tak membiarkan dinding apapun terbangun diantara mereka dengan melainka mencari solusi kreatif.
  • Pernikahan artinya pengorbanan. Ia memberikan diri bagi orang yang dicintainya. Ada kesedihan untuk mengalah, melepaskan idea tau keinginan pribadi demi kebahagiaan pasangannya.
  • Pernikahan artiynya belas kasihan. Ia lebih suka pasangannya berbahagia daripada berbahagia sendirian.
  • Pernikahan itu hubungan timbale balik – saling member dan menerima. Dalam pernnikahan ada giliran – saling bertanggung jawab bukan tanggung jawab sepihak.
  • Pernikaha artinya penundukkan diri. Ia memberikan kesempatan kepada pihak pasangan. Menikah artinya satu sama lain saling belajar. 
  • Pernikaha artinya saling mendengarkan dan saling mengerti. 
  • Pernikahan artinya mau hadir untuk pasangan di saat-saat baik maupun buruk. Pasangan menikah berdiri bersama dalam segala keadaan, rapuh ataupun kokoh, sepanas apapun ujian dan seberat apapun tantangannya. 
  •  Pernikahan itu harus ada rasa humor. Bisa merasa rileks bersama (enjoy).
  • Pernikahan merupakan perjalanan penjelajahan. Saling menemukan dan belajar tentang keunikan yang dilakukan dan dikatakan pasangannya. 
  • Pernikahan artinya saling menghormati. Dalam pernikahan pasangan belajar saling mempercayai.
  • Pernikahan artinya saling menerima pasangannya apa adanya. Pernikahan membawa orang kepada kesadaran bahwa ia tak bisa lngkap tanpa pasangannya. 
  • Pernikahan dapat menjadi pengalaman yang paling menguatkan dan memuaskan. 
  1. Dasar Pernikahan Kristen
  2. Kasih Kristus Yesus (Efesus 5:22-33).
  • Isteri tunduk kepada suami (dalam segala sesuatu yang baik dan memuliakan Tuhan) seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.
  • Suami mengasihi isteri sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.
  • Suami harus mengasihi isterinya sama seperti dia mengasihi dirinya sendiri. Suami yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
  • Suami mengasihi isteri seperti diri sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

          Menerapkan kasih Kristus dalam setiap aspek kehidupan dalam keluarga dimana semua anggota keluarga saling mengasihi. Kasih ini juga harus diterapkan dalam mendidik anak-anak mereka untuk takut akan Tuhan.Jika anak-anak tidak taat dan bersifat kurang ajar orang tua berhak untuk mendisiplin anak,hajaran dipantat diperbolehkan,asal tidak menghajar selain pantat karena akan menjadikan anak menjadi trauma.Hajaran inipun harus didasarkan oleh kasih, bukan kejengkelan dan kemarahan yang meledak-ledak.Caci maki dan kutukan hendaknya dihindari oleh orang tua sebagai pribadi yang sudah mengenal Tuhan.Kasih dan pengampunan dalam keluarga akan menjadikan keluarga itu solid dan harmonis. (Amsal 13:24)

  1. Firman Tuhan

          Firman Tuhan sebagai pedoman hidup berumah tangga dan menjadikanya nafas kehidupan dengan cara direnungkan, dihayati, serta dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa Firman Tuhan yang menuntun kehidupan rumah tangga Kristen, keluarga tersebut akan hampa dalam menjalani kehidupanya.

     Suami sebagai imam dalam keluarga harus memimpin keluarganya untuk selalu melakukan persekutuan dalam merenungkan Firman Tuhan dan dalam ibadah doa bersama.Firman Tuhan menjadi pedoman hidup dan kendali hidup keluarga.

  1. Iman

          Keluarga kristen percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menebus dengan darah yang mahal,oleh karena itu dasar keluarga Kristen adalah iman.Iman berbicara mengenai kepercayaan yang utuh kepada Tuhan Yesus, dan tidak bimbang ketika persoalan datang menerpa dalam keluarga tersebut namun semakin kuat dalam bergantung kepada Tuhan.

  1. Bagaimana Melestarikan Kemesrahan Dalam Pernikahan Kristen
  2. Saling Menghormati

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (I Ptr. 3:7).

          Jalan utama untuk bergaul dengan orang lain ialah menunjukkan rasa hormat, sopan santun dan saling menghargai. Dalam I Petrus 3:7, rasul Paulus mengarahkan para suami, terutama, agar bijaksana terhadap isteri. Memang, tuntutan utama ialah supaya isteri menaati suami dan suami mengasihi isteri. Kasih suami kepada isteri dan ketaatan isteri terhadap suami merupakan syarat mutlak. Dengan saling menghormati kita masuk dalam pembangunan rumah tangga bahagia.

          Para suami, ingatlah, isteri saudara lemah, lebih lemah dari saudara. Mereka membutuhkan kasih yang penuuh hikmat. Kasih itu tidak hanya dalam perkara besar. Tetapi justru dalam perkara-perkara kecil. Itu lebih diharapkan. Demikian juga para isteri. Angkatlah suami saudara dengan cara sederhana. Tunjukkanlah kasih sayang hormat, dan sopan santun.

  1. Keterbukaan

          Rahasia ayah adalah rahasia ibu dan anak-anak, demikian pula rahasia ibu dan anak anak adalah rahasia ayah, dalam kata lain tidak ada rahasia lagi diantara anggota keluarga atau keterbukaanlah yang harus diupayakan oleh keluarga Kristen. Hali ini dilakukan dengan membangun komunikasi terus menerus antara ayah, ibu dan anak secara terbuka.

          Seringkali masalah yang timbul dari rumahtangga karena tidak adanya keterbukaan dari masing-masing anggota keluarga. Suatu contoh bila ayah punya masalah dipendam sendiri dan suatu waktu masalah itu muncul dengan melibatkan anak dan istri maka akan terjadi pertengkaran dan masalah diantara mereka karena adanya ketidak terbukaan diantara angota keluarga tersebut

  1. Tanggung Jawab Pribadi Terhadap Yang Lain

          Otoritas dalam keluarga ada ditangan ayah sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab untuk melindungi dan memberi nafkah terhadap keluarganya. Ayah yang bertanggung jawab adalah ayah yang selalu melindungi keluarganya yaitu istri dan anak-anaknya dengan doanya tiap hari, bagaimana lututnya begitu keras karena tiap hari berlutut untuk mendoakan keluarganya, serta keringatnya yang mengucur deras karena bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.

          Istri selain menjadi pendamping suami untuk urusan rumah tangga seperti memasak, mencuci, bersih-bersih rumah, mengasuh anak, juga bertanggung jawab untuk memberi suport dan semangat kepada suami dalam menunaikan kewajibanya sebagai kepala rumah tangga. Istri keluarga Kristen bukanlah “perongrong” yang menuntut ini dan itu kepada suaminya namun menjadi istri yang bijaksana yang selalu tunduk kepada suaminya dan melakukan peranan sebagai ibu rumahtangga dengan baik walaupun ada juga ibu yang bekerja menjadi wanita karier. (Efesus 5:22), (Amsal 31:10)

  1. Sentuhan

          Disini tidak berbicara tentang sentuhan erotis dalam seks atau tentang kasih sayang di tempat tidur. Melainkan menunjukkan perhatian pada perbuatan sehari-hari dan kontak fisik yang merupakan curahan romantisme, cinta dan komunikasi dalam diri mereka. 

          Jangan salah paham. Walaupun memang adanya sentuhan seksual dalam perkawinan. Tetapi ada yang lebih penting dari curahan seks di tempat tidur. Selama bertahun-tahun Norman mendengar ratusan wanita mengemukakan alasan mengapa mereka tidak bereasksi sentuhan-sentuhan sumai mereka. Bukannya mereka tidak menikmati seks. Seperti yang dikemukakan seorang wanita (yang perasaannya mewakili perasaan-perasaan wanita lain), “Saat suami saya membelai dan memelukku, aku tahu apa yang ada dalam pikirannya. Seandainya saja ia dapat memberikan kasih sayang yang murni, tanpa maksud-maksud yang tersembunyi. Aku menikmati seks, tetapi pasangan (suami)-ku tidak pernah menyadari bahwa sentuhan-sentuhan yang wajar sehari-hari justru lebih membangkitkan seks di tempat tidur.” Alasan yang sangat bagus. 

          Kontak fisik dalam perkawinan sangat penting untuk membangun keintiman dan mempertinggi hasrat untuk bermain cinta. Sentuhan-sentuhan penuh kasih sayang antara suami isteri dapat membawa sensasi kehangatan, rasa aman, dan kepuasan emosional yang dirindukan setiap manusia. Elusan, belaian, dan pelukan membawa pesan kasih sayang dan kemesrahan yang memang kita butuhkan semenjak kita masih kecil, dan kita masih tetap menginginkannya ketika kita telah dewasa.

  1. Memeluk Pasangan

          Pelukan ekspresi satu elemen penting dalam sentuhan; dan pelukan adalah ekspresi vital dari cinta. Salah satu kalimat yang paling disukai Norman ialah “Setiap perkawinan butuh diangkat, dipeluk dan diberi perhatian khusus.” Pelukan adalah pencegahan dan obat yang baik untuk resesi cinta. 

  1. Mengatakan Hal Yang Baik Tentang Pasangan 

          Anda dapat memberkati pasangan anda dengan apa yang anda katakana dan bagaimana anda mengatakannya. Anda seharusnya berbicara dengan manis dan penuh semangat sehingga pasangan anda merasa lebih baik dan lebih terisi. Lebih dari itu, lakukanlah dengan tulus, bukan semata-mata karena keharusan. Pujian yang tulus, kata-kata penggugah semangat dan “hal-hal yang manis” yang terucapkan adalah permbentuk romantisme dan pemerkaya cinta. Respons yang terucap dari bibir anda terhadap kata-kata pasangan anda pun tidak alah penting. Mengatakan “Trima kasih”, menunjukkan sikap menghargai, memberikan apa yang dibutuhkan atau memberikan pendapat tentang pasangan dengan cara yang baik akan memberkati pasangan anda.

  1. Kencan

          Kencan adalah hal yang vital dalam masa pacaran, dan mungkin berikan lebih penting dalam perkawinan sebagai resesi cinta. Norman sering menyarankan pasangan pasangan dalam program konselingnya agar konseli-konselinya mengadakan kencan. Jadi, kencan dengan pasangan tidak hanya dilakukan semasa pacaran, malainkan dapat juga dilakukan dalam kerangkan kehidupan berumah tangga. 

  1. Tiga Patah Kata

          Perkataan “Saya mencintai kamu (I Love You)” adalah pesan yang harus disampaikan pada pasangan anda. Anda dapat membuat variasi tentang bagaimana menyatakannya tanpa mengubah makna. Barikut ini adalah cara-cara yang jenaka untuk menyampaikan perasaan cinta itu. Yah mungkin anda merasa malu pada mulanya, tetapi hasilnya sungguh luar biasa. 

  1. Ejalah “Saya cinta kamu” denga permen di bantal pasangan anda, di meja kerjanya, atau di kursi favoritnya.
  2. Ajaklah pasangan anda bermain laying-layang. Jangan lupa menuliskan “Saya cinta padamu” pada laying-layang anda sebagusnya (laying-layang adalah ide yang hebat! Saya dan isteri saya menerbangkannya tahun lalu)
  3. Katakana “Saya cinta padamu” dengan bahasa isyarat.
  4. Ketika anda memanaskan air dikamar mandi, tulislah “Saya cinta kamu” di kaca, dan mintalah pasangan anda membaca. 
  5. Bacalah Sebuah Puisi Cinta.

          Selama dalam perjalanan kehidupan pernikahan anda sisihkanlah waktu untuk membacakan sebuah puisi cinta paling romantic yang pernah ditulis. “Kidung cinta paling indah yang pernah ditulis”