BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Surat
Istilah Ibrani dalam bahasa aslinya berasal dari kata ‘hebroo’ atau ‘hebralo’. Menurut Peter Wongso, “Kata ini dipakai untuk pertama kalinya ketika Abraham disebut sebagai orang Ibrani (Kej.14:13)…, demikian pula bangsa Israel yang di besarkan di Mesir disebut juga sebagai orang Ibrani (Kej.1:5; 2:6; 11, 13, 3:18).” Akan tetapi, dalam pembahasan ini ialah mengenai surat Ibrani. Berbagai hal mengenai penulis dan penerima surat Ibrani ditafsirkan dilihat dari surat tersebut, meskipun sampai saat ini masih belum ada penulis yang asli atau pasti yang sudah diketahui. Bentuk dan isi surat tersebut menunjukkan bahwa penulisnya adalah seorang ahli yang mempunyai pengetahuan tentang adat istiadat Yahudi dan bahasa Yunani serta gaya bahasa kesusastraan.
Dari isi surat tersebut tampak jelas bahwa penerima surat itu sedang mengalami penganiayaan sebagai akibat dari iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka tertarik kepada iman bangsa Yahudi dan tergoda untuk meninggalkan iman Kristen mereka sendiri untuk menghindari penyiksaan. Menurut tradisi yang paling tua mengenai surat ini, pada abad ke empat Masehi, diperkirakan penerima surat ini mempunyai hubungan dengan Gereja di Yerusalem. Keterangan mengenai upacara-upacara ritual di Rumah Tuhan dan kegiatan-kegiatan para imamnyadi Yerusalem menunjukkan bahwa, mungkin surat ini ditulis sebelum Bait Allah di Yerusalem dihancurkan pada waktu bangsa Yahudi memberontak terhadap kerajaan Romawi pada tahun 70 M.
Menurut beberapa tafsiran dan buku bahwa, surat Ibrani ini sudah digunakan oleh para pemimpin Gereja Kristen mula-mula. Seperti Klement dan Hermas dari Roma, sebelum akhir abad pertama Masehi. Kitab Suci Injil menyatakan bahwa:
Acuan pertama yang muncul bagi surat ini ditulis oleh seorang pemimpin Gereja lainnya, yaitu Klement Alexandria, pada tahun 180 M. Naskah tertua surat ini juga menunjukkan suatu tanggal pada akhir abad kedua Masehi. Ada naskah-naskah dan acuan-acuan lainnya dari surat ini, serta naskah terjemahannya dalam dua dialek Koptik di Mesir, yang ditulis pda abad ketiga Masehi.
Perdebatan mengenai siapa penulis dari surat Ibrani ini sampai saat ini belum terselesaikan dan belum pula diketahui siapa penulisnya. Penulis tidak memberikan penjelasan sedikit pun di dalam suratnya tentang siapa dirinya, namun kelihatannya ia adalah seorang yang cukup dikenal oleh pembacanya.
Mengenai tahun penulisan surat ini ada beberapa pendapat, beberapa sarjana menetapkan surat Ibrani ditulis sekitar tahun 80-90 M, pada zaman kekaisaran Domitianus (85 M) yaitu penganiayaan kali kedua.” Artinya pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya di atas, karena surat Ibrani ditulis setelah penghancuran Yerusalem tahun 70 M. Dengan demikian, penulisan surat Ibrani dituliskan kira-kira tahun 60-70 M pada zaman kekaisaran Nero. Hal ini pun ditegaskan oleh Dave Hagelberg, dan juga Joh.Ed. Huther dalam buku Gottlieb Lunemann.
- Alamat dan Tujuan Penulisan Surat
Surat ini ditulis kepada orang Kristen Ibrani yang berada di diaspora. Beberapa pendapat mengatakan bahwa surat ini ditunjukkan kepada orang Ibrani dengan memberi bukti intrinsik menunjuk pada sebuah jemaat orang percaya Ibrani sebagai pembaca kitab ini. Bukti tersebut antara lain:
- Kitab ini mengakui argumentasi menurut sudut pandang orang Yahudi.
- Kitab ini menggunakan ktipan-kutipan Perjanjian Lama.
- Kitab ini banyak menyebut keimaman orang Lewi.
- Istilah-istilah yang muncul adalah istilah yang dipakai oleh orang Yahudi secara eksklusif.
- Berisi tentang penjelasan panjang lebar sejarah orang Ibrani.
- Ada suatu pembahasan rinci tentang tabernakel.
Orang Kristen Ibrani mengalami penganiayaan baik secara fisik oleh kekaisaran Romawi maupun secara rohani oleh pengaruh Yudaisme. Teks ini merupakan beberapa nasihat-nasihat tambahan kepada orang Kristen Ibrani yang sedang mengalami goncangan iman dari ajaran Yudaisme (band.psl12). Dalam teks ini pembaca juga sedang mengalami penganiayaan berat sehingga penulis memberikan nasihat supaya mereka tetap hidup dalam persaudaraan (13:1). Orang-orang Kristen Ibrani pun menjadi ragu akan kebenaran yang mutlak dalam kekristenan dan mereka sudah meninggalkan persekutuan di dalam kekristenan (10:25). Kemudian mereka juga saling menentang atau melawan dalam kekristenan, yaitu antara orang Kristen Yahudi dan orang Kristen non-Yahudi. Inilah yang melatar-belakangi penulis perlu untuk menasihati orang Kristen. Ibrani.
BAB II
Surat Ibrani 13:17
- Penduhuluan
Dalam pasal 13 ini secara khusus berbicara mengenai bagian penutup di akhir surat ini. Pasal ini berisikan perintah-perintah umum atau nasehat-nasehat yang berkaitan dengan kehidupan beragama dan pemerintahan, dilanjutkan dengan permohonan doa dan berkat serta salam penutup. Akan tetapi, pada bagian ini penulis secara khusus mengangkat sebuah studi eksposisi terhadap satu bagian ayat dari pasal 13 ini.
Ibrani 13:17 merupakan sebuah ajakan dan perintah dari penulis Ibrani untuk taat kepada pemimpin-pemimpinnya, ayat 17 tidak dapat dipisahkan dari ayat-ayat sebelumnya di dalam pasal yang sama. Ayat 1-6 berbicara tentang hal-hal umum dan ayat 7-17 sebuah perintah yang berhubungan dengan ketundukkan dan ketaatan terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dan juga terhadap pemimpin. Sedangkan, ayat 18-19 berupa permohonan doa dari penulis kepada para pembacanya yakni orang-orang percaya Yahudi.
Pasal 13:17 menggambarkan sebuah pesan yang merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, tentang kehidupan Kristen sehari-hari. Penulis surat Ibrani memberi nasehat kepada para pembacanya untuk menaati para pemimpin sebagai seorang yang bertanggung jawab atas diri setiap orang yang dipimpin. J.Wesley.Brill berpendapat bahwa: “Dewasa ini banyak pengajaran yang sesat, karena itu kita harus menurut teladan dan pengajaran pemimpin kita.” Jadi, sebagai seorang percaya yang dipimpin oleh Allah melalui para pemimpin-pemimpin haruslah menaati dan menghargai para pemimpinnya, karena pemimpin adalah teladan sekaligus bertanggung jawab dihadapan Tuhan.
- OUT LINE – IBRANI 13:17
Tema: Setia dan Taat
- Pesan penutup (13)
- Nasihat dalam kehidupan Kristen sehari-hari (13:17)
- Ketaatan dan ketundukan kepada pemimpin (13:17a)
- Tanggung jawab seorang pemimpin (13:17a)
- Pelaksanaan tanggung jawab dengan sukacita (13:17b)
- Terjemahan Alkitab Yunani – Indonesia
Ayat 17
Πειθεσθε τοις ηγουμενοις υμων και υπεικετε
Τaatlah kepada orang2 yang memimpin kamu dan tunduklah (kepada mereka)
αυτοι γαρ αγρυπνουσιν υπερ των ψυχων υμων ως
Mereka sebab memberi perhatian atas jiwa2 mu sebagai
λογον αποδωσοντες, ινα μετα
Pertanggungjawaban (orang2 yang) akan memberikan, supaya dengan
χαρας τουτο ποιωσιν και μη στεναζοντες
Kegembiraan ini mereka melakukan dan bukan berkeluh kesah;
αλυσιτελες γαρ υμιν τουτο.
yang tidak membawa keuntungan/yang merugikan sebab bagimu ini
Diagram Teks
Taatilah
Berjaga-jaga
Pemimpinmu
Bertanggung jawab
Tunduklah
Melakukan dengan gembira
- Analisa Konteks
Surat Ibrani pasal 13 berisi tentang pesan terakhir dari penulis berupa nasihat-nasihat mengenai kehidupan Kristen sehari-hari, sikap kebergantungan kepada Allah, pemeliharaan dan penyertaan Allah bagi umat-Nya, dan pujian penyembahan bahwa Allah di pihak kita. Selanjutnya ialah ketaatan terhadap para pemimpin dan permohonan doa. Seringkali pasal 13 tidak terlalu diperhatikan oleh sebagian orang percaya (pembaca) saat ini. Khususnya dalam menganalisa satu konteks yang disajikan.
Pasal 13:17 merupakan satu bagian yang tidak dapat dipisahkan pada ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Kata jiwa ‘psukhe’ dalam Ibrani 13:17 yang berhubungan dengan para pemimpin yaitu “mereka yang berjaga-jaga atas jiwamu”; kata itu tampaknya dipakai juga dalam arti diri seseorang secara utuh. Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang terpisah lagi secara spesifik yakni dimulai dari ayat 7-16 tentang pemimpin (tuan) dan hamba (orang-orang yang dipimpin).
Analisa Konteks Jauh
Ayat 1 berbicara tentang ‘kasih’. Ola Tulluan berpendapat bahwa: kasih itu dapat berupa, “kasih persaudaraan dan juga kasih yang tertuju kepada orang yang hidup di luar persekutuan. Istilah kasih dalam bahasa Yunani φιλαδελφια artinya kasih persaudaraan. Bentuk kata φιλαδελφια artinya bahwa perintah ini ditujukkan untuk setiap orang atau bersifat pribadi. Orang Kristen Ibrani bukan hanya mengalami penganiayaan dan kegoncangan iman tetapi, mereka juga saling menentang satu dengan yang lain. Orang Kristen Yahudi sebenarnya tidak mau bersekutu dengan orang Kristen non-Yahudi (10:25). Karena itu maka penulis Ibrani menasihatkan supaya mereka hidup dalam kasih persaudaraan.
Ayat 2 merupakan nasehat dan penjelasan tindakan-tindakan kasih yang dipelihara di dalam sikap dan perbuatan melalui penerimaan dan penghargaan terhadap orang lain, khususnya saudara-saudara seiman dan juga orang asing. Penulis memakai contoh Abraham dan Lot untuk membuktikan kepada pembaca. Ayat 3 ‘ingatlah akan orang-orang hukuman’, penulis mau supaya pembaca dapat mengingat orang yang sedang dalam penjara atau teraniaya. Mereka dapat mengingatnya di dalam doa mereka. Sebagaimana para pembaca yang masih hidup dalam dunia yang masih megenakan tubuh jasmani. Penulis juga hendak menasehati para pembaca agar menaruh kasihan terhadap orang-orang yang dipenjarakan.
Pada ayat 4 berbicara mengenai respon baik terhadap perkawinan dan kekudusan pernikahan itu sendiri. Jelas sekali penulis menolak praktek “hidup bersama tanpa nikah” atau praktek poligami. Baginya hal ini sama dengan pesundal atau pezinah yang akan menerima penghakiman dari Allah. Ayat 5 penulis menasihatkan bahwa keserakahan terhadap uang adalah hal bertentangan dan patut dihindari. Tetapi sebaliknya harus mencukupkan diri dengan apa yang ada padanya. Sikap yang benar bukan ketamakan, melainkan kepuasan, belajar untuk menganggap cukup daripada senantiasa menghendaki lebih banyak lagi. Alasan penulis adalah “Janji Allah” yang akan digenapi. Karena, “Tuhan telah berjanji kepada tiap orang untuk memberikan pertolongan-Nya yang bersifat pribadi.” Ayat 6 mengandung pernyataan penting, anak kalimat terakhir merupakan pertanyaan yang tepat sekali. Dalam Yosua 23:14 dan Mazmur 118:6 memberi kesaksian tentang kesetiaan Allah.
Ayat 7-9 menggambarkan perjumpaan dengan keindahan Kristiani di dalam Gereja. Penulis mendorong pembaca untuk meneladani dan mencontoh iman para pendahulu yang mengajarkan kebenaran kepada mereka. Penulis menyatakan keteladanan yang istimewah yaitu Yesus Kristus yang tidak berubah. Keterikatan kepada Kristus, yang tidak berubah, akan menghasilkan kejelasan soal doktrin. Dengan demikian tidak ada yang akan disesatkan, atau menyimpang karena pengaruh ajaran atau peraturan aneh yang disebarkan atas nama Allah. Ayat 10-16 menyatakan peraturan-peraturan Perjanjian Lama tidak berlaku lagi, yakni mempersembahkan kurban, sebab kurban yang sudah dipersembahkan sudah tersedia di dalam Kristus. Orang-orang percaya harus memiliki perilaku yang layak bagi orang-orang tebusan.
Analisa Konteks Dekat
Dalam konteks ini penulis memberi beberapa permintaan pribadi, sebuah sisipan dan salam, serta sebuah berkat singkat penulis mengakhiri suratnya. Ayat 18-19 berupa permohonan pribadi, agar senantiasa di ingat akan kesaksian, kehidupan, dan pelayanan pribadi penulis. Selanjutnya, kerinduan penulis agar dia dapat segera berada diantara mereka. Ayat 20-21 doa pribadi penulis untuk tetap mendoakan mereka, kemudian penulis megemukakan sejumlah permohonan dan harapan. Ayat 22-25 ketika penulis meminta pembacanya untuk menerima nasehatnya, ia juga mengungkapkan harapannya bahwa dia dan Timotius bisa segera mengunjungi mereka dan menambahkan salam dari sudara-saudara di Italia yang tidak jelas. Selanjutnya kata-kata penutup surat ini merupakan sebuah ucapan berkat dalam bentuk doa singkat.
- Analisa Exegetis Ibrani 13:17
Ayat 17 ini merupakan sikap tunduk secara praktis dikaitkan dengan sikap orang percaya terhadap para pemimpin mereka. Di dalam konteks ini penulis menasehati, disana ada suatu permohonan yang mendesak untuk bersikap patuh kepada pemimpin Kristen dengan segenap jiwa dan segenap hati.
- Taatlah
Kata “taatlah” dalam bahasa Yunani “Πειθεσθε” peithesthe (Verb2 plural present passive imperative), yang diartikan membujuk; meyakinkan; berusaha menyenangkan; menenangkan; menyogok; menjadi yakin; menaati. Menurut Kamus Yunani – Indonesia, kata peithesthe dapat diartikan sebagai ‘kepandaian membujuk’ Dengan demikian, istilah ini mengandung makna usaha untuk membujuk, meyakinkan atau menyenangkan sesuatu hal. Dalam hal ini dapat berarti orang kedua jamak, dimana sikap taatlah merupakan perintah yang dikerjakan oleh orang-orang untuk mematuhi setiap peraturan atau perintah yang ada.
- Memimpin
Kata “memimpin” dalam bahasa Yunani “ηγουμενοις” hegeomai (Verb plural masculine present middle passive dative), yang berarti memimpin; menjadi penguasa; mempertimbangkan; menganggap. Kata ini dapat juga diartikan memerintah; menganggap; memimpin; juru bicara utama. Secara harfiah kata ini dapt diartikan menjadi pimpinan, atau menguasai, mengepalai, mengatur, dan mengkoordinir, memiliki wewenang, mengarahkan sesuatu. Dengan demikian, istilah ini memberi pemahaman penting bahwa pemimpin kita ialah seorang yang memimpin atau memerintah atas kita.
- Tunduklah
Kata “tunduklah” dalam bahasa Yunani “υπεικετε” hupeiko (verb2 plural present active imperative), yang berarti tunduk (kepada). Kata ini mengandung pengertian tunduk, takluk kepada. Istilah ini dapat pula diartikan mengakui kekuasaan, tunduk, menyerah, atau takluk kepada. Dengan demikian bahwa sikap tunduk bukan hanya perintah melainkan merupakan tindakan yang sadar akan kekuasaan seseorang pemimpin.
- Pertanggungjawaban
Kata “pertanggungjawaban” dalam bahasa Yunani “λογον” logon dari kata ‘λογος’ (Noun masculine singular accusative) yang berarti kata, laporan, pertanggungjawaban, sebab. Kata ini dapat pula diartikan sebagai pertanggung jawaban kepada sebuah pribadi; memberikan tanggung jawab. Dengan demikian seorang pemimpin akan melakukan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh karena ia pada akhirnya akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan. Demikian pula ia bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
- Melakukan
kata “melakukan” dalam bahasa Yunani “ποιωσιν” poieo (verb3 plural passive aorist subjunctive) yang diartikan sebagai melakukan, membuat, mencipta, menyebabkan, menghasilkan, bertindak, berlaku, berbuat. Dengan demikian, para pemimpin memimpin dengan melakukan sesuatu yang berdampak atau menghasilkan sesuatu bagi orang yang dipimpinnya, dalam hal ini adanya tindakan atau kegiatan untuk bertindak atau tidak diam saja.
- Gembira
Kata “gembira” dalam bahasa Yunani “χαρας” khara (Noun, feminine, singula. genitive) yang diartikan sebagai keadaan bersukacita, penyebab sukacita, kebahagiaan, perjamuan. Kata ini juga mengandung pengertian kegirangan, kesukaan, kebahagiaan, penyebab atau sumber kebahagiaan. Dengan demikian, tindakan ini ialah cara seorang pemimpin melakukan sesuatu bagi orang-orang yang dipimpinnya yang taat dan patuh, melakukannya dengan gembira, senang hati, tidak dengan sungut-sungut, ikhlas, sukacita, dan tidak mencari keuntungan.
- Berjaga-jaga
Kata “berjaga-jaga” dalam bahasa Yunani “αγρυπνουσιν” agrupneo (Verb3 plural, passive, aorist, indicative), yang diartikan dengan berjaga-jaga, memberi perhatian. Istilah ini dapat pula diartikan dengan keadaan tidak tidur, berjaga-jaga. Dengan demikian tindakan berjaga-jaga ialah seorang pemimpin melakukan tanggungjawabnya dengan sepenuh hati, memberi perhatian kepada orang-orang yang sedang dipimpinnya. Seorang pemimpin akan selalu setiap saat, setiap waktu memberi perhatian khusus terhadap anak buahnya atau orang-orang yang taat dan patuh yakni mereka yang mau dipimpin.
BAB III
PENUTUP
- Aplikasi
Dari eksposisi pasal 13:17 di atas memberi sebuah makna penting yang mengandung pengertian tentang ketaatan dan ketundukan terhadap pemimpin. Berkenaan dari pembahasan exegetis dan analisa konteks, adapun beberapa hal yang menjadi aplikasi bagi setiap orang percaya atau kehidupan Kristen, ialah sebagai berikut:
- Sebagai orang percaya yang dipimpin oleh Allah dan menjadi anak-anak Allah haruslah memiliki sikap ketertundukkan kepada pemimpin berupa ketaatan kepada otoritas mereka. Karena sikap ketertundukkan tersebut memgambarkan bahwa kita menghargai pendahulu-pendahulu kita, yakni pemimpin-pemimpin kita.
- Ketaatan dan ketundukkan tidak membuat seorang percaya merasa rendah dan tidak ada artinya (tidak penting), sebaliknya dengan ketaatan dan ketundukkan menunjukkan kesetiaan dan kepercayaan kepada pemimpin
- Sebagai orang percaya haruslah senantiasa menghargai dan memperhatikan sungguh-sungguh perintah para pemimpinnya, karena hal ini menunjukkan bahwa sebagai orang yang dipimpin membutuhkan dan menyadari bahwa ia memiliki seorang yang lebih berkuasa atas dirinya.
- Kesadaran akan ketaatan dan ketundukkan orang percaya melatih karakter dan itergritasnya sehingga, setiap orang percaya tidak menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat, tidak menuruti keinginannya sendiri.
- Dalam hal ini seorang pemimpin memiliki dua sifat kepemimpinan. Sebagai seorang pemimpin pertama selalu waspada dan penuh perhatian, kedua memiliki sikap dan rasa bertanggungjawab dihadapan Allah pada khususnya.
- Orang yang mau taat dan patuh akan dipimpin dan di jaga oleh pemimpinnya dengan penuh perhatian atau sungguh-sungguh, tidak bersungut-sungut, ataupun mencari keuntungannya.
- Kesimpulan
Kehidupan Kristen dilukiskan dalam hubungan yang baik di antara sesamanya atau orang percaya lainnya, dengan orang asing, dan dengan pemimpin-pemimpinnya. Bahkan lebih utama lagi ialah hubungannya dengan Tuhan. Dari pasal 13:17 ini memberi pemahaman penting bagi setiap orang percaya khususnya para pembaca surat ini di alamatkan untuk tetap taat dan tunduk kepada seorang pemimpin atau ketua. Ketaatan menunjukkan adanya kesetiaan, ketertundukkan juga menunjukkan sikap patuh dan mau dibentuk oleh pemimpinnya. Sikap taat dan tunduk adalah dua sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya untuk tetap hidup di dalam otoritas Allah.
Seorang yang taat akan mendapat upah sesuai dengan tindakannya. Ia juga akan selalu dihargai oleh pemimpinnya dengan berjaga-jaga atas jiwanya, diperhatikan dengan gembira dan ikhlas. Tindakkan ketaatan dan ketertundukkan juga menunjukkan bahwa orang percaya memiliki intergritas yang maksimal dan baik. Sebagaimana yang dilukiskan oleh penulis pada ayat-ayat sebelumnya, bahwa teladan para pemimpin sangat baik bahkan Kristus sebagai kepala dan sekaligus pemimpin yang tidak pernah berubah dan tetap selamanya. Ayat ini seringkali dianggap mudah dan dapat diartikan dengan cepat. Akan tetapi, bukan terletak pada cepat atau mudahnya ayat ini untuk di eksegese. Melainkan, tindakan selanjutnya dari sikap setiap orang percaya untuk menanggapi nasehat, dorongan, sekaligus perintah di ayat 17 ini.
KEPUSTAKAAN
Brill, J.Wesley.
1995 Tafsiran Surat Ibrani. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
Bruce, F.F.
1979 The International Bible Comentary. Zondervan Publishing House: Grand Rapids, Michigan.
1978 The New Internasional Commentary On The New Testament. Michigan: Eerdmans Publishing.
Delitzsch, Franz.
1952 Commentary On The Hebrews. 2 vol. Grand Rapids: Wm. B. Eerdman’s Publishing Company, reprinted.
Drane, John.
2006 Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Drewes, B.F.
2006 Kata Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jakarta: BPK G.Mulia
Eddy, Fances.
2004 Surat kepada Orang Ibrani. Jakarta: Yasinta.
Enns, Paul.
2004 The Moody Handbook of Theology. Malang: Literatur SAAT.
Guthrie, Donald.
2006 Teologi Perjanjian Baru 1. Jakarta: BPK G. Mulia.
Teologi Perjanjian Baru 2. Jakarta: BPK G. Mulia.
Tafsiran Alkitab Masa Kini. Jakarta: BPK G. Mulia.
Hagelberg, Dave.
2005 Tafsiran Ibrani Dari Bahasa Yunani. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
Hughes, Philip E.
1977 A Commentary on the Epistle to the Hebrews. Grand Rapids, Mich: Wm. B. Eerdmans Publishing Company.
Kitab Suci Injil,
2004 Pengantar Surat Ibrani. Jakarta: LAI
Lembaga Alkitab Indonesia
2005 Alkitab dengan Kidung Jemaat. Jakarta: LAI.
Lunemann, Gottlieb.
t.t. Critical and Exegetical Hand-Book to The Epistles to The Hebrews. Winona Lake, USA: Alpha Publications.
Newman, Barclay M.
2005 Kamus Yunani – Indonesia. Jakarta: BPK G. Mulia.
Ola, Tulluan.
1999 Introduksi Perjanjian Baru Batu: Departement Literatur YPPII.
Owen, John.
1977 Hebrews: Commentary on the Epistle of Warning. Grand Rapids, Michigan: Kregel Publishing Co.
Pfeiffer, Charles F. & Harrison, Everett F.
2001 Tafsiran Alkitab Wycliffe. Vol.3 Perjanjian Baru. Malang: G. Mas.
Ryrie, Charles C.
1959 Biblical Theology of the New Testament. Chicago: Moody.
Sutanto, Hasan.
2004 Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK). Jilid I. Jakarta: LAI.
Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK). Jilid II. Jakarta: LAI.
Tenney, Merrill C.
2003 Survei Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas.
Wongso, Peter.
1997 Eksposisi Doktrin Alkitab Surat Ibrani. Malang: SAAT.
Wesley, John.
1981 Explonatory Notes Upon The New Testament. Grand Rapids: Baker Book House.
_____________
2008 Ensiklopedia Masa Kini Jilid 1 (A-L). Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.