Devosi

Akulah Kebenaran dan Hidup

Yohanes 14:1-6

Bunyi ayat 1-3:“Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat dimana Aku berada, kamupun berada.”


Istilah percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Seringkali kalimat ini memberi pengertian bahwa ada dua oknum yang patut kita percayai yaitu Allah dan Yesus. Padahal semua agama mengakui bahwa kita harus percaya kepada Allah yang esa. Arti sebenarnya: Percayalah kepadaKu sebab Aku dan Bapa itu adalah satu. Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Akulah penjelmaan dari Allah itu sendiri. Dalam ilmu IPA kita belajar tentang air, dimana air bisa berubah menjadi es, uap. Ketika kita melihat es sepertinya es itu beda dgn air, kalau air itu cair, kalau es itu padat tetapi ingat materinya sama yaitu air.

Gambaran ini memang tidak sempurna utk menjelaskan tentang Allah.
Percaya pada Yesus bukan hanya dalam arti menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat kita, tetapi percaya juga berarti kita berani mempercayakan seluruh hidup kita pada Yesus, susah ataupun senang kita tetap andalkan Yesus. Percaya juga berarti kita siap menderita demi nama Yesus. Siap memikul salib Kristus.


Istilah Rumah Bapaku menunjuk pada sorga. Istilah banyak tempat tinggal artinya sorga adalah tempat yang luas, tidak akan pernah penuh dgn manusia, lain dgn bumi, makin lama bumi akan padat dengan manusia, dan bila manusia terus berkembang maka bumi ini akan penuh. Tidak ada pintu tertutup di sorga bagi manusia yang berkenan di hati Tuhan. Sekalipun seluruh manusia di dunia ini, masuk dalam sorga, sorga tidak akan pernah penuh.


Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Kalimat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah pelopor jalan menuju sorga. Istilah pelopor adalah orang yang berjalan lebih dahulu, supaya orang berikutnya yang mengikuti dia merasa aman. Yesus adalah pelopor jalan menuju sorga. Siapa mengikuti Dia pasti akan sampai ke sorga.
Aku akan datang kembali. Kalimat ini adalah menunjukkan puncak kemenangan bagi orang percaya. Sebab kedatangan Yesus kedua kalinya adalah untuk menjemput setiap orang yang percaya kepadaNya.


    Dimana Aku ada, disana juga kamu akan berada. Kalimat ini memang ada dalam konteks Tuhan membicarakan sorga, artinya bila Aku ada di sorga, kamu juga akan bersama-sama Aku di sorga. Selain ini ayat ini juga bisa berarti bahwa sorga itu bukan hanya nanti kalau kita sudah pindah mati baru ketemu sorga, selama dalam dunia bila kita adalah pengikut Yesus yang setia, maka suasana sorga itu juga kita akan alami di bumi ini, sebab dimana kita berada Yesus juga ada bersama kita. Kita bisa alami suasaan sorga di dalam keluarga kita, di pekerjaan kita, di gereja kita, bila kehadiran kita mencerminkan kehadiran Yesus. Roma 8:32:”Ia yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkannya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia ?”


    Ayat 4-6:” Dan kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepadaNya:”Tuhan kami tidak tahu kemana Engkau pergi ?, jadi bagaimana kami tahu jalan menuju ke situ ?. Kata Yesus kepadanya:”Akulah jalan, dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
    Tuhan Yesus pernah berkata kepada muridNya demikian:”Hanya sedikit waktu saja Aku ada dengan kamu, dan kemudian Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku.”(Yoh. 7:33). Para murid belum bisa mengerti kemana Yesus akan pergi ? Tomas dgn jujur bertanya tentang jalan yang Yesus akan tempuh.


    Istilah “jalan Tuhan” bagi orang Yahudi adalah istilah yang paling sering mereka dengar dari kitab Musa. Ul. 5:32, 33:”Janganlah engkau menyimpang ke kanan atau kekiri. Segenap jalan yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan Allahmu, haruslah kamu jalani.” Ul.31:29:”Sebab aku tahu sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Nah sekarang Yesus berkata dengan tegas: Akulah jalan itu. Bila kita bertanya pada seseorang tentang alamat yang akan kita tuju, jalannya lewat mana, lalu orang itu berkata: jalan lurus dulu, disana ada perempatan, belok kanan, belok kiri lurus lagi, ada gang pertama, gang kedua nah itu alamatnya. Tetapi bila orang itu berbaik hati pada kita, dia sendiri mau antar kita ke alamat itu pasti kita tidak akan tersesat. Itulah yang Yesus lakukan. Yesus tidak hanya berkata harus begini harus begitu, tetapi Dia berkata: ikutlah Aku, Aku tahu jalannya, sebab jalannya adalah Aku sendiri.


    Istilah “Akulah kebenaran”. Pemazmur berkata:”Tunjukkanlah kepadaku jalanMu ya Tuhan, supaya Aku hidup menurut kebenaranMu (Mazmur 86:11) Banyak orang yang telah menunjukkan kebenaran, tetapi tidak ada satupun orang yang berani berkata bahwa dirinya adalah kebenaran itu sendiri. Banyak manusia bisa mengajarkan tentang kebenaran, banyak guru, banyak pengajar, banyak hamba Tuhan tetapi belum tentu mereka sendiri telah menjalankan kebenaran itu. Seorang pendeta bisa saja menekankan tentang kesucian hidup, tetapi belum tentu dirinya sendiri hidup suci, sdh banyak yang jatuh dalam dosa perzinahan. Seorang guru bisa mengajarkan tentang kerajinan, jadi murid harus rajin, tetapi belum tentu guru itu rajin persiapan dalam mengajar. Seorang ayah bisa saja suruh anaknya rajin belajar tetapi belum tentu dia sendiri rajin bekerja. Tetapi Yesus, dari apa yang Dia ajarkan tidak satupun yang Dia tidak perbuat. Semua inti pengajaranNya telah Dia buktikan lewat hidupnya semenjak bayi sampai dewasa sampai mati di atas kayu salib. Alkitab mencatat: Yesus adalah pribadi yang tidak bernoda dan tidak bercela.


    Yesus berkata:”Akulah hidup” Amsal 6:23 berkata:”Perintah itu pelita dan ajaran itu cahaya dan teguran yang mendidik itu adalah jalan  kehidupan.” Amsal 10:17:”Siapa mengindahkan pendidikan, menuju jalan kehidupan.” Pada akhirnya yang dicari oleh manusia adalah jalan menuju hidup. Segala cara akan ditempuh agar bisa hidup bukan hanya untuk hari ini tetapi juga untuk masa yang akan datang. Yesus berkata:Akulah kehidupan itu.
    Kesimpulan Yesus:”Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Hanya di dalam Yesus kita akan melihat siapa sesungguhnya Tuhan itu. Dan hanya Dia saja yang dapat membawa kita kepada Allah yang hidup tanpa takut dan malu. 

Devosi

KARAKTER KRISTUS YANG IDEAL

Matius 5:1-12

Dalam Lukas 6:13: kisah khotbah di bukit ini diletakkan setelah Tuhan Yesus memilih kedua belas muridNya, itu berarti khotbah di bukit merupakan satu pembekalan yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Seorang sarjana terkenal mengatakan bahwa khotbah dibukit ini adalah pidato peneguhan bagi kedua belas murid Yesus. Para ahli lain mengatakan bahwa khotbah dibukit merupakan iktisar/ringkasan  ajaran Yesus. Khotbah ini tidak dikhotbahkan hanya dalam satu kali saja, tetapi berkali-kali, sebab khotbah ini terlalu panjang dan padat. 

Kata berbahagialah disini berasal dari kata makarios yang artinya kebahagiaan ilahi, kebahagiaan yang begitu mendalam dan tidak tersentuh oleh kesedihan, kehilangan, kesakitan, kedukaan dan kuasa-kuasa lain. Kebahagiaan yang lengkap dan tidak tergantung pada situasi. Yesus berkata dalam Yohanes 16:22:”Tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu dari padamu.”

Ucapan bahagia ini bukan merupakan satu janji yang muluk-muluk tentang masa depan, bukan juga perkataan kosong mengenai masa depan yang indah, melainkan merupakan teriakan kemenangan, karena adanya sukacita tetap yang tidak pernah bisa diambil atau dibinasakan oleh apapun juga.

  1. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.

karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 

Mengapa Tuhan Yesus katakan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah”.

Tentu Tuhan Yesus mengatakan hal ini bukan ungkapan yang tidak memiliki maksud. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan hal yang benar.

Istilah miskin disini berasal dari kata ptokhos berarti kemiskinan yang mutlak dan yang mengharukan. Kata ini menunjukkan kemiskinan yang amat sangat. Sehingga kalimat yang lebih tajam berbunyi demikian: “Berbahagialah orang yang amat sangat miskin dan yang penuh kehinaan. Dalam bahasa Ibrani kata miskin dipakai untuk melukiskan orang yang rendah hati, yang tidak mempunyai pertolongan dan yang mengandalkan seluruh hidup dan imannya hanya kepada Allah. Miskin yang dimaksudkan disini adalah menyadari akan ketidak berdayaan, ketikmampuan di hadapan Allah, dan sikap mengakui kebergantungan akan Tuhan. Sehingga dalam hidupnya berkata tanpa Tuhan maka tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Tuhan semua menjadi sia-sia. 

 Apakah yang kita dapatkan atau kita miliki jika kita miskin di hadapan Allah?

Yaitu “kerajaan sorga”

Siapakah yang mendapatkan kerajaan sorga yaitu ‘mereka, kita yang sudah percaya sepenuh hati kepada Tuhan Yesus. 

ilustrasi

2.  Berbahagialah orang yang  berdukacita. 

     karena mereka akan dihibur. 

Dukacita yang dimaksud adalah dukacita yang sangat kuat, dukacita krn kematian orang yang paling kita kasihi. Dalam PL dilukiskan dengan dukacita Yakub ketika mendengar bahwa Yusuf anaknya meninggal diterkam oleh binatang buas. Dukacita semacam ini membuat air mata tidak bisa dibendung lagi. Jadi kalimatnya: Berbahagialah orang yang berdukacita seperti orang yang berdukacita karena kematian. Dukacita atau kesedihan bisa membawa orang untuk melihat kebaikan Tuhan dan sesamanya. Banyak orang justru dalam saat-saat kesedihan, menemukan sesamanya dan Allahnya, seperti yang tidak pernah dia temukan sebelumnya.  

Berbahagialah orang yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan penderitaan, kesedihan dan keperluan orang lain.

Berbahagialah orang yang dengan sungguh-sungguh menyesali dosa-dosa dan ketidakberhargaan dirinya sendiri. Ingat kekristenan dimulai dengan kesadaran akan dosa. Sesungguhnya hati yang hancur serta penuh penyesalan tidak akan dihinakan oleh Allah (Mazmur 51:17).

Oh berbahagialah orang yang hatinya hancur karena penderitaan dosanya sendiri, karena kesedihana seperti itu, ia akan menemukan kesukacitaan Allah.” 

3. Berbahagialah orang yang lemah lembut. 

Kata lemah lembut biasanya kita pahami sebagai kata yang menunjuk kepada sikap rendah,hina, papa, dan bahkan orang yang jiwanya tidak memiliki semangat. Kata ini berasal dari kata praus. Istilah ini berada di antara dua sifat yang ekstrim, misalnya: sifat pemarah dan sama sekali tidak marah. Sikap lemah lembut ada di antara keduanya. Jadi artinya yaitu: Berbahagialah orang yang selalu marah tepat pada waktunya, dan tidak pernah marah pada waktu yang salah.  Bagaimana marah yang benar dan yang tidak benar ? Yang benar yaitu bila kita marah bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan Tuhan  dan sesama. Misalnya Tuhan Yesus marah karena bait Allah digunakan untuk berjualan. 

Berbahagialah orang yang memiliki kerendahan hati untuk menyadari kelemahan diri sendiri. Tidak ada seorangpun dapat mengendalikan orang lain sebelum ia sendiri belajar mengendalikan dirinya sendiri

4. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran

Kelaparan dan kehausan disini adalah kelaparan dan kehausan yang amat sangat menyengsarakan, berlarut-larut

Berbahagialah orang yang merindukan kebenaran total seperti orang yang amat sangat kelaparan dan seperti orang yang hampir mati karena haus akan air, karena orang-orang yang demikian itu akan dipuaskan. 

5. Berbahagialah orang yang murah hatinya

Berbahagialah orang yang bisa masuk dalam diri orang lain, sehingga ia dapat melihat dengan matanya, berpikir dengan pikirannya dan merasakan dengan perasaan orang lain, karena ia melakukan hal itu akan juga diperlakukan seperti itu oleh orang lain, dan akan mengetahui bahwa hal itulah yang dilakukan Allah di dalam Yesus Kristus.

6. Berbahagiala orang yang suci hatinya

Berbahagialah orang yang motivasi hidupnya benar, murni dan bersih, karena orang yang demikian kelak akan dapat melihat Allah.” 

7. Berbahagialah orang yang membawa damai

Berbahagialah orang yang menciptakan  hubungan-hubungan yang benar antara manusia dengan sesamanya, karena mereka mengerjakan pekerjaan Allah.” 

8. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran

Injil adalah kebenaran sejati. Sudah banyak orang yang menderita karena Injil itu. Tidak sedikit para martir atau orang-orang yang mati sahid karena melakukan amanat agung Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata: Berbahagialah kamu jika kamu harus menderita karena namaKu. 

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat 

Kesimpulan:

Ada 8 ucapan kata bahagia dalam ajaran Yesus :

  1. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.
  2. Berbahagialah orang yang  berdukacita. 
  3. Berbahagialah orang yang lemah lembut
  4. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran
  5. Berbahagialah orang yang murah hatinya
  6. Berbahagiala orang yang suci hatinya
  7. Berbahagialah orang yang membawa damai
  8. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran
Christian Education

Pendidikan Kristen Dalam Keluarga

  1. Pendahuluan

Konsep Pendidikan bukanlah sebuah konsep yang diawali oleh para pakar pendidikan yang memiliki kapasitas dalam dunia Pendidikan. Tetapi ini sudah dimulai sejak Adam dan Hawa dan sudah memiliki konsep Pendidikan secara benar. Dan dalam keluarga memiliki peran penting untuk memiliki konsep yang benar mengenai Pendidikan Kristen. Karena konsep ini bukanlah konsep manusia melainkan dimulainya oleh Allah yang adalah educator. Pendidikan merupakan sebuah hal yang penting dalam kehidupan keluarga Kristen. Jika orang Kristen memiliki konsep Pendidikan yang benar, maka tentu akan memiliki dampak yang signifikan dalam perkembangan pengetahuan dalam keluarga sehingga terciptanya suatu pemahaman yang baru dan benar akan kebenaran yang sudah diberikan oleh Allah. Manusia diberikan logika untuk memikirkan dan merefleksikan Pendidikan Kristen dengan baik dan benar. Dan perlu diketahui bahwa, konsep Pendidikan tidak dimulainya oleh para tokoh seperti Descartes, Plato, Aristoteles, John Dewey dan lain-lain. Namun, ini telah ada konsepnya  dari Allah sendiri. Mari kita membahas awal mulanya Pendidikan ini.

  1. Pembahasan 
  1. Awal Mula Adanya Pendidikan

Pada zaman Perjanjian Lama sudah membicarakan mengenai Pendidikan itu. Dalam kehidupan orang Yahudi Pendidikan merupakan hal yang utama dan sangat penting. Anak-anak mereka sudah diajarkan mengenai hukum taurat. Sehingga mereka bisa menghafal dan bisa memiliki pemahaman yang benar. Orang tua yang adalah menjadi pendidik. Tentu orang tua harus memiliki pandangan bahwa Allahlah yang menjadi pendidik/guru utama. Sehingga mengarahkan dan mengajarkan anak-anak sesuai kebenaran dan pola pandangan Allah. Prinsip Alkitab mengenai cara mengajar dengan benar, Ulangan 6:7 harus engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engakau berbaring dan apabila engkau bangun. Inilah prinsip Alkitab mengajarkannya berulang-ulang. Sebagai umat pilihan Allah, kita harus memegang prinsip ini untuk mengajarkan kepada siapa saja, terlebih kepada anak-anak kita.

 Pendidikan merupakan sebuah progres yang baik jika diberikan dengan baik dan benar sesuai kebenaran yang mutlak. Pendidikan itu sendiri sangat berkembang sehingga mempengaruhi dunia. Tentu sebuah hal yang luar biasa. Sehingga adanya suatu perkembangan yang luar biasa. Tanpa Pendidikan tentu tidak mengerti dan mengetahui dan tanpa Allah terlebih dahulu sebagai guru agung kita tidak memahaminya secara benar apa itu Pendidikan. Bicara Pendidikan, tentu ini seperti sesuatu yang tidak penting bagi mereka yang tidak ingin tahu dan mencari tahu. Tetapi bagi mereka yang rindu mencari tahu dan ingin tahu tentu ini sesuatu yang sangat bermanfaat. Pendidikan itu sudah dimulai di taman Eden, terus timbul pertanyaan siapa gurunya? Tentu gurunya adalah Allah sendiri. Proses Pendidikan sudah sejak di taman Eden bagaimana Allah sebagai gurunya, Adam dan Hawa sebagai murid pertama. 

Dan proses Pendidikan di taman Eden ini langsung dengan alam yang sudah diciptakan oleh Allah sendiri dan konsep mengenai Pendidikan alam/sekolah alam itu sudah dimulai ketika Adam dan Hawa di taman Eden bersama dengan Allah. Tentu ini merupakan suatu hal yang begitu indah dan penting dan memiliki sifat kekekalan. Memang istilah Pendidikan tidak secara eksplisit dibicarakan dalam Alkitab. Namun, kalau kita telusuri dengan seksama dalam proses penciptaan itu sudah terjadi adanya pendidikan. Lalu, apa itu Pendidikan? Kata Pendidikan dalam bahasa inggris adalah “education” yang berasal dari bahasa latin “educare” dimana “e” adalah keluar, dan “ducare” adalah memimpin. Maka arti dari “education atau Educare” adalah memimpin keluar. Untuk memahami lebih dalam lagi mengenai istilah Pendidikan ini maka perlu dilihat satu analogi dari seorang filsuf barat yaitu Plato. Plato ini memberikan sebuah analogi yang begitu baik dan analogi itu tentang gua. Dan analogi ini sangat terkenal sekali untuk memahami Pendidikan itu sendiri. 

Dalam analogi gua dari Plato, orang-orang sederhana itu seperti orang tinggal didalam gua. Gua itu adalah gua yang sangat gelap. Dan di sana hanya ada satu sumber cahaya, yaitu satu api. Dan api nya pun tidak terlalu terang setiap orang yang ada di sana melihat ke tembok dari gua tersebut. Api yang menjadi satu-satunya sumber cahaya itu mereflesksikan bayangan dari orang-orang yang tinggal di gua itu. jadi semua orang-orang ini lihat adalah bayangan: bayangan mereka sendiri, bayangan mereka bergerak ke sana kemari, bayangan batu dan hal-hal lain. Tetapi semua itu hanyalah bayangan. Bagi mereka yang tidak mengetahui sesuatu yang lebih, maka yang namanya bayangan itu menjadi realitas. Jadi, bayangan itu adalah realitas mereka. Mereka berpikir demikian selama bertahun-tahun, sehingga realitas yang mereka miliki dan percayai sebagai realitas yang sesungguhnya adalah bayangan tersebut. dan mereka hanya berinteraksi dengan bayangan tersebut. tidak pernah dengan hal yang asli. Sampai suatu saat, ada satu orang dari gua itu, akhirnya keluar dari gua. Ketika dia keluar dari gua, di luar gua dia melihat dirinya sendiri, melihat rumput, melihat sapi, kuda, kerbau, pohon, bunga, matahari, bulan, langit, bintang-bintang, binatang, batu, sungai, hutan, gunung, serangga dan lain-lain. 

Dan dia bukan hanya melihat tetapi dia menyentuh sessuatu yang dilihatnya, juga mencium dan dia mendengar suara. Maka dia langsung menyadari bahwa hidupnya didalam gua itu adalah hidup yang berinteraksi dengan hal-hal yang bersifat tidak riil. Di luar gua, dia menyadari bahwa apa yang betul-betul riil itu tidak sama dengan yang dia alami di dalam gua. Lalu dia ingat teman-temannya di dalam gua itu boleh mengalami apa yang dia alami di luar gua. Maka dia kembali ke dalam gua untuk menyampaikan apa yang dialami di luar gua, yaitu suatu pengalaman berinteraksi dengan hal yang riil. Sehingga dia berusaha untuk mengajar, mendidik, teman-temannya dalam gua tersebut supaya mereka terbuka pikirannya dan akhirnya boleh bersentuhan dengan hal yang riil. Orang ini, yang berhasil keluar dari gua adalah orang yang “tercerahkan” yaitu orang yang pikirannya sudah dibukakan. 

Dan dia ingin membuka pikiran orang lain. Maka ketika dia kembali ke dalam gua untuk memulai berbicara dengan rekan-rekannya dan berusaha membukakan pikiran dari teman-temannya yang hanya berinteraksi dengan bayangan, maka itulah yang disebut sebagai perjalanan Pendidikan. Dia berusaha untuk memimpin teman-temannya keluar dari gua yang gelap menuju hidup di luar gua yang terang, yaitu yang berhubungan dengan hidup yang riil. Maka inilah sebuah proses perjalanan Pendidikan. 

Bagi Plato, Pendidikan selalu berusaha membawa orang-orang yang sederhana supaya mereka keluar dari kegelapan pikiran menuju terang pengetahuan dan kebijaksanaan. Tujuan akhirnya adalah supaya orang-orang yang sederhana ini boleh menjadi Raja Filsuf (Philopher king), sehingga mereka nantinya boleh memimpin dunia secara bijaksana. Inilah yang menjadi tujuan Pendidikan dari Plato. 

Dari pemahaman Plato ini tentu bukan menjadi standar untuk melihat Pendidikan itu, namun ada yang lebih mulia dibandingkan pandangan Pendidikan menurut Plato. Sehingga memunculkan sebuah ide yang berasal dari Allah. mengenai Pendidikan tentu ini di inisiasi oleh Allah sendiri karena Allah melihat manusia membutuhkan Pendidikan. Pendidikan sudah dimulai di taman Eden. 

Kejadian 2:15-17,  15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. 16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

 Dalam beberapa ayat 16 dan 17 mengindikasikan bahwa Pendidikan sudah mulai. Dan Allah telah mengajarkan kepada manusia di taman Eden yaitu Adam. Dengan diberikan perintah untuk tidak melanggar aturan Allah yang sudah ditetapkan-Nya. Namun manusia tidak menaati Firman itu. maka, akhirnya dia berontak terhadap Allah.  Pendidikan merupakan inisiatif Allah terhadap manusia untuk dapat lebih tepat dan benar untuk dapat mengetahui dan melakukan itu. orang tua adalah pendidik atau guru yang dipakai Allah untuk mendidik orang lain dan keluarga sendiri. Dalam konsep Pendidikan yang  Allah maksudkan bukan Pendidikan formal seperti disekolah, namun lebih tepatnya yaitu Pendidikan didalam keluarga sebagai Lembaga utama. 

Maka peran penting orang tua dalam mendidik anak ini sangat penting sekali. Sebab yang lebih dekat dengan anak adalah orang tua, yang lebih mengetahui anak adalah orang tua, dan lebih mengetahui karakter anak adalah orang tua. Jika orang tua menyianyiakan akan pekerjaan mulia ini. Maka, disayangkan akan berdampak pada generasinya sehingga tidak lagi terdidik dengan benar. Apa yang menjadi standar Pendidikan dalam keluarga? 

  1. Standar Pendidikan Kristen dalam keluarga

Berbicara mengenai dasar untuk Pendidikan tentu adalah kebenaran. Sebab kebenaran merupakan kebenaran yang telah teruji dan benar. Boleh saja, banyak buku untuk menjadi panduan dalam Pendidikan dalam keluarga. Tentu itu bukan menjadi persoalan. Namun lebih kepada hal-hal sederhana dan memiliki dasar kebenaran yang kredibel. Tetapi ketika berpedoman kepada Firman maka tidak akan mungkin itu salah sebab ini berasal dari Allah. Kalau dibandingkan dengan buku yang lain tidak memiliki dasar yang kuat maka memberi pengaruh kepada orang yang membacanya. Salah memilih referensi untuk menjadi panduan dalam Pendidikan keluarga juga sangat berbahaya. Sebab itu belum tentu dari penulis yang bukan Kristen. Contoh nya seorang tokoh Pendidikan yang diagungkan oleh dunia barat hingga di Indonesia yaitu John dewey, pengaruh pemikiran tokoh ini sangat berperan dalam dunia Pendidikan saat ini. John Dewey bukanlah seorang Kristen dan dia adalah seorang Ateis humanist yang tidak percaya adanya Allah. Ini sangat disayangkan didunia Pendidikan saat ini, boleh dikatakan pemikirannya memang bagus. Namun dia tidak memiliki standar yang jelas. Dan itu tidak berasal dari kebenaran firman tetapi berdasarkan pada kepercayaan humanist manifesto. Jika kita melandaskan pemikiran ini maka sama halnya membuang Tuhan. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru banyak sekali berbicara mengenai Pendidikan yang benar dalam keluarga. 

Istilah keluarga yang digunakan dalam Perjanjian Baru untuk keluarga adalah kata Yunani ”patria” yang berarti ”keluarga dari sudut pandang relasi historis, seperti garis keturunan”. Dalam penggunaannya, kata “patria” ini lebih menekankan asal usul keluarga. Kata “patria” disebutkan 3 kali Perjanjian Baru. Kata ini digunakan dalam Luk.2:4, dimana disebutkan bahwa Yusuf berasal dari keluarga dan keturunann ”patria” Daud, yaitu garis keturunannya secara jasmani.  

 Mengapa keluarga memiliki peran penting? Karena keluarga merupakan representasi Allah terhadap ciptaan-Nya sebagai wakil Allah yang memberikan tanggung jawab untuk melaksanakan amanat-Nya dalam keluarga. Dan keluarga merupakan hal yang diinginkan Allah, Dia menciptakan keluarga dan Dia juga memberkati menjadi keluarga dan terus memberikan pertolongan dalam keluarga untuk tetap menjadi berkat dan selalu menjaga komitmen. Sehingga tidak mencederai komitmen itu dalam keluarga. Dan jika memosisikan kita sebagai ciptaan, maka perlu memfokuskan diri kepada Allah sebagai pencipta, sebagai pemberi berkat. Dan menjadikan Firman Allah sebagai dasar, fondasi yang memuat hukum-hukum dan ketetapan serta batasan yang Allah kehendaki. Adanya keluarga merupakan kehendak Allah, Allah tidak mau ciptaan-Nya mencederai pernikahan yang sangat sakral ini. Manusia juga perlu memposisikan diri sebagai manusia yang secara total jatuh kedalam dosa (Roma 3:11-12; 23) dan tidak memiliki kemampuan apapun, untuk melakukan sesuai kehendak dirinya sendiri. Sebab kehendak diri sendiri telah tercemar oleh dosa, sehingga manusia tidak lagi mengandalkan kehendak diri sendiri melainkan kehendak Allah. Keluarga Kristen adalah keluarga sudah percaya dan benar-benar taat kepada Allah. Sebab keluarga Kristen bukanlah slogan semata. Tetapi lebih kepada hal yang begitu penting. Dasar dalam pembinaan keluarga Kristen yaitu Firman-Nya. Karena Firman-Nya adalah cermin kehidupan manusia. Sebagaiman cermin memiliki fungsi untuk melihat diri sendiri dan melihat siapa kita. 

Sebagaimana dalam 2 Timotius 3:16 segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Maka jadikanlah Firman sebagai standar dan dasar dalam Pendidikan Kristen dalam keluarga. Untuk memberi pemahaman kepada manusia dari sudut pandang  Allah mengenai esensi, eksistensi, dan tujuan keberadaan Pendidikan itu sendiri.

  1. Mengelola Pendidikan Kristen dalam Keluarga

Untuk mengelola sebuah perusahaan atau lembaga tentu membutuhkan sebuah komitmen yang kuat dan membutuhkan ketelitian bukan ketelodoran. Pengelolaan membutuhkan sebuah proses yang tidak mudah. Dan ini membutuhkan sebuah kecintaan. Mengapa? Karena tanpa cinta akan Tuhan tidak mungkin mengelola keluarga dengan baik. Perlu adanya kecintaan kepada Tuhan dan kecintaan kepada Tuhan akan terlihat bagaimana mengelola keluarga dengan bijak. Dan perlu adanya suatu pola yang baik agar dalam proses pertumbuhan dalam keluarga dan proses Pendidikan kearah kebenaran itu lebih nikmat dan lebih menyenangkan. Bayangkan anda mendidik anak anda ke hal yang buruk. Tentu ini akan berdampak kepada masa depannya dan ini tidak mencapai tujuan Allah. Maka, perlu sebuah pola Alkitabiah dalam memberikan wawasan atau Pendidikan dalam keluarga. Keluarga yang dimaksudkan yaitu antara pasangan dan anak. Jika berdasarkan pada kebenaran yang absolut, tentu ini sebuah langkah yang benar untuk kearah yang lebih baik. 

Cekcok atau problem dalam keluarga tentu pasti ada. karena ini merupakan pendewasaan iman. Dan kesesuaian dengan pengajaran dan hal praktis juga sangat penting. Maka harus memulainya dalam hal jatuh cinta yang terus menerus supaya bisa membangun cinta. Pengelolaan dalam mengelola untuk memberikan Pendidikan dalam keluarga ini harus sesuai dengan Alkitab. Supaya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan keluargapun sehat. Untuk dalam pengurusan dalam keluarga tentu sebagai kepala (suami) dan penolong (istri) keluarga harus mempunyai sifat kompromi dengan kebenaran.  Perbedaan pendapat bukanlah  pemicu sehingga terjadinya percekcokan dalam keluarga. Tetapi tidak melandasinya dengan persekutuan dengan Tuhan (renungan bersama). Mengapa sering adanya  keributan dalam keluarga? Karena kedua belah pihak tidak saling menerima perbedaan pendapat dan beradu argument. Karena merasa dikalahkan, karena merasa di gurui, maka akhirnya dengan cara kekerasan. Inilah pola Pendidikan keluarga Kristen yang kurang bagus. Dan memberikan tempat dihatimu yaitu iblis sebagai penguasa untuk mengendali seluruh hidup kita. Lalu, bagaimana caranya untuk mengelola keluarga dengan baik,? Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan supaya keluarga menjadi sehat. 

  1. Kasih

Kasih merupakan hal yang selalu dibicarakan oleh Alkitab mengenai tindakan Allah kepada manusia. Dan Allahlah yang menginisiasi adanya kasih, karena Dia adalah kasih, mengapa Dia kasih? Karena Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan;…….(1 Korintus 13:4-8).  Dan inilah perintah itu, yaitu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. (2 Yohanes 1:6b). Milikilah kasih itu supaya bisa mengelola keluarga dengan kasih. Karena adalah kasih yang tidak pernah mendendam. Dan juga kasih adalah kegiatan, kelakuan, dan tindakan, bukan hanya sekedar perasaan batin atau motivasi. Kasih juga adalah undang-undang dasar kerajaan Allah. 

  1. Sabar

Kesabaran merupakan salah satu sifat Allah yang mutlak tanpa di pengaruhi oleh ciptaan-Nya. Tindakkan Allah merupakan keinginan-Nya untuk melakukan sesuai kehendak-Nya untuk mendatang kebaikan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Tetapi Dia juga tidak akan membiarkan ciptaan-Nya melanggar perintah, ketetapan-Nya, maka Dia juga akan mengadili setiap orang yang telah menyeleweng dari perintah-Nya. Ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, kesabaran adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Ujian sejati dari kesabaran terjadi ketika hak-hak dilanggar. Meskipun sebagian besar orang menganggap kesabaran sebagai tindakan menunggu yang pasif atau menerima dengan lemah lembut, sebagian besar dalam pengertian Yunaninya mengenai kesabaran lebih tepat bersifat aktif dan kuat. Dalam hubungan dalam keluarga tentu ini hal yang penting untuk dijalankan. Dalam segala sesuatu membutuhkan kesabaran. Terkadang orang tidak sabar, dalam hal keluarga maunya cepat-cepat bereaksi tanpa ada pertimbangan yang matang, pada akhir menyesalinya. Kesabaran harus dimiliki dalam pengelolaan keluarga kearah yang lebih tepat. Kesabaran juga merupakan hal yang dibutuh dalam segala hal. Bersabarlah karena ada keinginan menanamkan kasih mesra dalam keluarga meskipun sulit dijalankan. Tetapi kalau dijalankan dengan penuh kesabaran maka hasilnya menyenangkan sekali. Pikirkalah. 

  1. Pengendalian diri

Pengendalian diri merupakan salah satu aspek penting dalam mengelola diri sendiri untuk tidak melakukan aksi untuk mencederai seseorang dengan tindakan kekerasaan maupun emosi yang berujung pada tindakan yang tidak terpuji. Tindakkan ini merupakan hal yang dibicarakan oleh Alkitab. Dan pengendalian diri juga merupakan salah satu buah roh yang wajib dimiliki oleh orang Kristen. Mengendalikan diri atau menguasai diri berarti Manahan diri untuk tidak melakukan suatu keinginan. Banyak sekali keinginan duniawi yang akan membawa kepada kesesatan. Secara konseptual bermakna mampu memiliki kuasa atau otoritas untuk mengarahkan, memerintahkan atau melarang diri sendiri terutama terhadap nafsu, keinginan besar, kegemaran, amarah, hasrat, emosi, kecanduan, egoism dan lain-lain. Dalam 1 Korintus 7:9 Tetapi kalau tidak dapat menguasai diri,….dalam 2 Petrus 1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan. Dan masih banyak lagi mengenai pengendalian diri atau menguasai diri. Pengendalian diri dan kesabaran hampir sama dalam melakukannya. Tetapi memiliki perbedaan yang mendasar. Kesabaran lebih kepada arah penantian dalam proses yang Panjang. Dan pengendalian diri lebih mengacu kepada hal menguasai diri untuk tidak secara brutal dilakukan, tetapi penuh pertimbangan yang matang. Didiklah keluarga anda kearah pengenalan akan Allah dan takut akan Allah.

“Keluarga diciptakan oleh Allah, Allah memberkati menjadi keluarga, adanya keluarga merupakan kehendak Allah, dan keluarga membutuhkan Allah. Tanpa Allah keluarga hancur”. (Nicodemus Kaborang)

Tafsiran

Makna Perkataan Yesus di Kayu Salib “AKU HAUS”

YOHANES 19:28-30

Pendahuluan:

Ada 2 orang bercakap-cakap. Yang pertama berkata: ‘Aku ingin tahu dimana aku akan mati’. Temannya menjawab: ‘Kamu gila; untuk apa tahu dimana akan mati?’. Yang pertama menjawab: ‘Kalau aku tahu aku akan mati dimana, aku tidak akan pergi ke tempat itu’.

Ini menunjukkan bahwa orang itu ingin terhindar dari kematian. Dan memang adalah sesuatu yang umum kalau orang ingin terhindar dari kematian.

Tetapi Yesus berbeda.

  • Berbeda dengan orang dalam cerita di atas, Ia tahu Ia akan mati dimana. Ia tahu bahwa Ia akan mati di Yerusalem. Tetapi ketika saatnya untuk mati sudah tiba, Ia bukannya menjauhi Yerusalem, tetapi Ia justru pergi ke sana (Mat 16:21-24). 
  • Di taman Getsemani, pada waktu mau ditangkap, Ia dibela oleh Petrus yang mengeluarkan pedangnya dan membacok hamba imam besar. Sebetulnya bisa saja pada waktu itu Yesus memberi komando kepada 10 murid yang lain untuk membantu Petrus, dan sementara terjadi perkelahian masal, Yesus lari. Tetapi Ia tidak mau melakukan itu, bahkan Ia memerintahkan Petrus untuk menyarungkan pedangnya (Mat 26:51-52). 

Ia juga berkata kepada Petrus bahwa sebetulnya Ia bisa minta kepada Bapa untuk mengirim lebih dari 12 pasukan malaikat untuk membantuNya (Mat 26:53). Andaikata Ia melakukan hal ini, sudah pasti semua orang yang mau menangkapNya itu dibasmi dalam sekejap mata. Tetapi Ia tidak mau mela-kukan hal ini.

Sebetulnya, kalaupun Ia tidak mau minta bantuan Bapa untuk mengirimkan pasukan malaikat, Ia sendiri, yang juga adalah Allah sendiri, bisa saja menggunakan kemahakuasaanNya untuk membasmi semua orang yang mau menangkapNya itu. Kalau Ia melakukan hal ini, pasti Ia terhindar dari kematian. Tetapi Ia tidak mau melakukan hal itu, karena Ia memang tidak mau menghindari kematian.

Tetapi ada sesuatu yang lebih aneh, yaitu bahwa Yesus bukan saja tidak mau menghindari kematian, tetapi bahkan tidak mau penderitaanNya dikurangi! Dari mana kita bisa melihat hal ini?

I) Yesus menolak minuman.

Dalam Mat 27:34 dikatakan bahwa Yesus diberi minum ‘anggur bercampur empedu’, dan dalam Mark 15:23 dikatakan bahwa Yesus diberi ‘anggur bercampur mur’. Ini bukan kontradiksi, karena minuman itu adalah anggur bercampur ramuan tertentu, yang mengandung baik empedu maupun mur.

Tetapi pada saat Yesus mengecap minuman itu, dikatakan bahwa Ia tidak mau meminumNya. Mengapa? Padahal sebentar lagi Ia minta minum (Yoh 19:28 – ‘Aku haus’), dan mau meminum minuman yang diberikan kepadaNya (Mark 15:36 Yoh 19:29-30). Beberapa penafsir mengatakan bahwa Ia tidak mau meminum anggur bercampur empedu / mur itu, karena itu adalah minuman yang mengandung ramuan yang bisa membius / mengurangi rasa sakit, dan diberikan kepada orang yang disalib sebagai suatu tindakan belas kasihan kepada mereka.

KetidakmauanNya menerima pengurangan rasa sakit / penderitaan merupa-kan sesuatu yang lebih aneh lagi dari pada sekedar tidak menghindari kematian. Orang kristen yang sejati, seharusnya mempunyai keyakinan kese-lamatan, dan karena itu mestinya tidak takut mati. Tetapi siapa yang tidak takut pada penderitaan / rasa sakit yang hebat? Siapa yang pada waktu mengalami rasa sakit yang hebat tidak menginginkan rasa sakitnya diku-rangi? Kalau saudara pergi ke dokter gigi untuk dicabut giginya, atau kalau saudara akan dioperasi, tentu saudara senang menerima pembiusan supaya tidak mengalami rasa sakit.

Lalu mengapa Yesus tidak mau rasa sakit / penderitaanNya dikurangi? Karena Ia sadar bahwa saat itu Ia sedang memikul hukuman dosa manusia, termasuk hukuman dosa saudara dan saya. Dan Ia ingin memikul seluruh hukuman dosa manusia!

Andaikata saja pada saat itu Yesus mau meminum minuman bius itu, dan rasa sakitNya berkurang, katakanlah 10 %, maka itu berarti Ia hanya memi-kul 90 % hukuman dosa saudara dan saya. Tahukah saudara apa akibatnya? Saudara boleh saja betul-betul percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi hanya 90 % dari dosa-dosa saudara yang ditebus / dibayar oleh Yesus. Sedangkan 10 % sisanya, saudara harus menanggung-nya sendiri. Kalau hal ini terjadi, maka renungkanlah 2 hal di bawah ini:

1) 10 % dari dosa kita itu luar biasa banyaknya.

Kalau saudara menganggap diri saudara itu baik, atau kalau saudara beranggapan bahwa jumlah dosa saudara cuma ratusan atau ribuan, maka itu disebabkan saudara tidak mengerti Firman Tuhan, yang meru-pakan standard Allah untuk menentukan dosa. Kalau saja saudara mengerti Firman Tuhan, dan saudara membandingkannya dengan hidup saudara, maka saya yakin saudara akan menemui berjuta-juta dosa.

Kalau kita menyoroti hukum Tuhan yang berbunyi ‘Jangan berdusta’ saja, maka berapa dosa yang saudara temukan dalam hidup saudara? Mulai saat saudara masih kecil sampai sekarang, berapa kali saudara berdusta kepada orang tua, kakek / nenek, guru di sekolah, teman, kakak / adik, teman kerja / rekan bisnis, langganan, pejabat pemerintahan, pegawai, bahkan kepada pengemis (dengan berkata ‘tidak punya uang’ padahal saudara punya)? Hanya dari satu hukum itu saja, sudah sukar meng-hitung jumlah dosa saudara! Bagaimana kalau ditambahkan dengan hukum-hukum yang lain, seperti jangan berzinah, jangan mencuri, jangan iri hati, hormatilah orang tuamu, hukum hari sabat, hukum antara suami istri, dsb? Bagaimana kalau ditambahkan lagi hukum-hukum yang diang-gap tidak masuk akal, seperti:

  • Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, pikiran, akal budi (Mat 22:37). 
  • Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:39). 
  • Kasihilah musuhmu, doakan orang yang menganiaya kamu (Mat 5:44). 
  • Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan (Ro 12:17,21). 
  • Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16). 
  • Mengucap syukurlah dalam segala hal (1Tes 5:18). 

Karena itu 10 % dari dosa kita pastilah luar biasa banyaknya. Kalau dosa kita jumlahnya 1 juta, maka 10 % dari dosa kita berarti 100.000 dosa!

2) Satu dosa sudah cukup untuk memasukkan diri saudara ke dalam neraka sampai selama-lamanya!

Ada agama lain yang mengatakan bahwa nanti pada akhir jaman perbuatan baik dan dosa setiap orang akan ditimbang; kalau lebih berat dosanya maka orangnya dimasukkan neraka, dan kalau lebih berat perbuatan baiknya maka orangnya akan dimasukkan surga. Ditinjau dari sudut agama lain itu, maka mungkin masih ada kemungkinan saudara akan masuk surga kalau saudara memikul sendiri 10 % dosa saudara. Tetapi Kitab Suci / Firman Tuhan tidak mengajar demikian! Ro 6:23 mengatakan bahwa “upah dosa ialah maut”! Jadi, tidak dikatakan kalau dosanya banyak / besar / lebih banyak dari perbuatan baiknya, barulah upahnya maut! Hanya dikatakan bahwa upah dosa ialah maut, dan itu berarti bahwa satu dosa saja sudah cukup untuk membawa saudara kedalam neraka sampai selama-lamanya!

Mengapa demikian? Karena Kitab Suci / Firman Tuhan mengajar bahwa perbuatan baik tidak bisa menutup dosa (Gal 2:16,21). Memang, kalau saudara ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan akan menghadapi persidangan, bisakah saudara lalu berbuat baik dengan harapan perbuatan baik saudara itu menyebabkan saudara tidak didenda dalam pengadilan? Jelas tidak mungkin! Jadi, hukum duniapun mengata-kan bahwa perbuatan baik tidak bisa menutup dosa. Dan demikian juga ajaran dari Kitab Suci / Firman Tuhan! Karena itulah maka satu dosa saja sudah cukup untuk membuat saudara masuk neraka sampai selama-lamanya!

Sekarang, bagaimana kalau kita gabungkan 2 hal di atas ini? 10 % dari dosa saudara bukan main banyaknya, sedikitnya ada 100.000 dosa. Padahal satu dosa saja sudah cukup membuang saudara ke dalam neraka sampai selama-lamanya. Bagaimana kalau saudara harus menanggung 100.000 dosa atau bahkan lebih dari itu?

Karena itu, andaikata Yesus mau meminum minuman yang mengandung ramuan bius itu, pasti seluruh umat manusia, mulai dari Adam sampai kiamat, termasuk saudara dan saya, akan masuk neraka sampai selama-lamanya!

Tetapi puji Tuhan, Yesus menolak minuman yang mengandung ramuan bius itu! Ia tidak mau memikul hanya sebagian atau 90 % hukuman dosa kita; Ia mau memikul seluruhnya atau 100 % hukuman dosa kita!!

Ada 2 hal lain yang menunjukkan bahwa seluruh hukuman dosa kita memang sudah dibereskan oleh Yesus di kayu salib, yaitu:

a) Kata-kata ‘Sudah selesai’ (Yoh 19:30) menunjukkan bahwa penderitaan aktifNya untuk memikul seluruh dosa kita, sudah selesai!

b) Yesus bisa bangkit dari kematian.

Karena upah dosa ialah maut, kalau saja ada satu dosa yang belum beres, maka Ia tidak akan bisa bangkit. Bahwa Ia bisa bangkit pada hari yang ke tiga, menunjukkan bahwa memang seluruh dosa kita sudah dibereskan!

Karena itu, kalau saudara mau percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat saudara, semua dosa saudara tanpa kecuali, akan dihapuskan / diampuni. Ini mencakup:

  • dosa asal. 
  • dosa yang lalu. 
  • dosa sekarang. 
  • dosa yang akan datang. 

Karena itulah orang yang percaya kepada Yesus mempunyai jaminan keselamatan!

Catatan: Tetapi awas! Ini tidak boleh menyebabkan kita lalu meremehkan dosa / sengaja berbuat dosa!

II) Yesus minta minum.

Setelah Yesus menolak minuman bius itu, Ia lalu disalibkan. Dan pada waktu ada di kayu salib, Ia berkata: ‘Aku haus’ (Yoh 19:28).

Yesus memang sangat kehausan, karena:

  • Ia sudah ditawan sejak kemarin malam, dan sebagai tawanan Ia pasti tidak diperlakukan dengan baik. Jadi mungkin sekali Ia tidak diberi makanan ataupun minuman. Ini tentu menyebabkan Ia menjadi haus. 
  • Ia digiring kesana kemari (kepada Mahkamah Agama, kepada Pontius Pilatus, kepada Herodes, kembali kepada Pontius Pilatus, dsb). Perja-lanan ini tentu menambah kehausan Yesus. 
  • Ia dicambuki dan dipukuli dan dimahkotai dengan duri. Semua ini menim-bulkan luka-luka yang mengeluarkan darah / cairan tubuh sangat banyak, dan ini juga pasti menimbulkan kehausan yang luar biasa. 
  • Ia harus memikul kayu salib yang cukup berat sejauh kurang lebih 1 km. Ini pasti menyebabkan Ia mengeluarkan banyak keringat, dan ini menam-bah kehausanNya. 
  • Ia disalibkan mulai pukul 9 pagi (Mark 15:25). Memang mulai pukul 12 siang terjadi kegelapan (Mark 15:33), tetapi mulai pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang Ia boleh dikatakan dijemur di panas matahari yang terik. 

Semua hal di atas ini sudah pasti memberikan kehausan kepada Yesus, dan ini bukanlah kehausan biasa, tetapi suatu kehausan yang bukan main hebatnya. Dan semua ini sesuai dengan nubuat Maz 22:16 yang berbunyi: “lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Catatan: bacalah seluruh Maz 22 itu, khususnya ay 2,8-9,17b,19 dan saudara akan melihat dengan jelas bahwa itu adalah Mazmur tentang salib).

Bahwa Maz 22:16 itu menggunakan istilah ‘lidah yang melekat pada langit-langit mulut’, jelas menunjukkan kehausan yang luar biasa, dimana seluruh mulut betul-betul kering sehingga lidah melekat pada langit-langit.

Mengapa Yesus harus mengalami kehausan? Tidak cukupkah penderitaan cambuk dan salib yang Ia alami? Untuk ini saudara perlu ingat bahwa kalau orang masuk neraka (lautan api) maka sudah pasti ia akan kehausan luar biasa (bandingkan dengan kata-kata / seruan orang kaya di dalam neraka kepada Abraham dalam Luk 16:24 yang berbunyi: “Bapa Abraham, ka-sihanilah aku. Suruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, karena aku sangat kesakitan dalam nyala api ini”).

Karena Yesus saat ini sedang memikul seluruh hukuman dosa manusia, maka jelas bahwa Ia harus memikul juga kehausan yang luar biasa yang seharusnya kita alami di neraka.

Persoalan / pertanyaan yang lain ialah: mengapa Ia lalu meminta minum dengan berkata ‘Aku haus’? Apakah hal ini tidak mengurangi penderitaanNya sehingga Ia tidak memikul 100 % hukuman dosa kita?

Ada 3 hal yang perlu diberikan sebagai jawaban:

1) Yesus meminta minum dengan tujuan supaya Firman Tuhan digenapi.

Perhatikan Yoh 19:28 yang berbunyi: “berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci – ‘Aku haus!’.

Kitab Suci yang mana? Jawabnya adalah Maz 69:22b yang berbunyi: “Pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”. Ingat bahwa ini juga merupakan suatu nubuat yang berhubungan dengan Mesias / Yesus.

Jadi, Yesus meminta minum dengan tujuan supaya nubuat Firman Tuhan tentang diriNya bisa digenapi. Kalau Firman Tuhan itu digenapi maka:

  • Allah dipermuliakan. Sebaliknya kalau Firman Tuhan tidak terjadi, maka tentu saja Allah dipermalukan. 
  • Orang bisa percaya bahwa Ia memang adalah Mesias. Sebaliknya kalau nubuat tentang Mesias itu ternyata tidak tergenapi dalam diri Yesus, bagaimana mungkin orang akan percaya bahwa Yesus adalah Mesias? 

Jadi, ditengah-tengah penderitaanNya yang luar biasa (sedang terpan-cang di kayu salib), Yesus tetap mengingat, memikirkan, menginginkan, dan mengusahakan 2 hal yaitu:

  • Bagaimana Allah bisa dipermuliakan. 
  • Bagaimana orang-orang bisa percaya kepada Dia dan diselamatkan. 

2) Kristus minta minum supaya Ia bisa meneriakkan kata-kata ‘Sudah selesai’ (ay 30), yang mempunyai arti sangat penting bagi kita, supaya kita tahu tentang kesempurnaan penebusan Kristus bagi dosa kita.

Tanpa minuman itu, mulut, lidah, dan tenggorokan Yesus yang sangat kering karena kehausan yang luar biasa itu, tidak akan bisa meng-ucapkan kata-kata itu.

3) Ia minta minum setelah Ia tahu bahwa semua sudah selesai.

Perhatikan sekali lagi ay 28 yang berbunyi: “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci – : ‘Aku haus’”.

Jadi, setelah penebusan yang Ia lakukan sudah cukup untuk menebus dosa kita, barulah Ia berkata ‘Aku haus’. Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini:

“Now, it ought to be remarked, that Christ does not ask any thing to drink till all things have been accomplished … No words can fully express the bitterness of the sorrows which he endured; and yet he does not desire to be freed from them, till the justice of God has been satisfied, and till he has made a perfect atonement” (= Harus diperhatikan, bahwa Kristus tidak meminta minum apapun sampai semua telah selesai / tercapai … Tidak ada kata-kata yang dapat menyatakan secara penuh kesedihan yang ditahanNya; tetapi Ia tidak ingin dibebaskan darinya, sampai keadilan Allah telah dipuaskan, dan sampai Ia telah membuat penebusan yang sempurna).

Tetapi bagaimana mungkin penebusan dosa sudah selesai, padahal Ia belum mengalami kematian? Calvin berkata bahwa Kristus mengucapkan kata-kata ‘Sudah selesai’ itu dengan memperhitungkan kematianNya yang akan terjadi. Atau ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘sudah selesai’ adalah penderitaan aktifNya dalam memikul hu-kuman dosa.

III) Tanggapan kita.

1) Percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan sebagai Tuhan.

Yesus sudah memikul seluruh hukuman dosa saudara, dan Yesus sudah memikul kehausan yang luar biasa yang seharusnya saudara alami di neraka. Karena itu, kalau saudara mau percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, saudara tidak mungkin bisa dihukum lagi oleh Allah. Ini sesuai dengan Ro 8:1 yang berbunyi: “Demikianlah sekarang tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus”.

Tetapi sebaliknya, kalau saudara tidak mau sungguh-sungguh percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, tidak jadi soal apakah saudara itu orang kristen KTP atau kafir, pergi ke gereja atau tidak, sudah dibaptis atau belum, berusaha mentaati Firman Tuhan atau mengabaikannya, saudara tetap akan menangguing hukuman dosa sau-dara sendiri dengan masuk neraka sampai selama-lamanya, dan meng-alami kehausan yang luar biasa yang memang layak saudara dapatkan!

2) Tirulah teladan Yesus, yang dalam keadaan sangat menderita sekalipun, tetap mengingat, memikirkan, menginginkan, dan mengusahakan 2 hal yaitu:

a) Bagaimana supaya Allah bisa dipermuliakan.

Ini seharusnya menjadi tujuan hidup dari setiap orang kristen.

1Kor 10:31 berbunyi: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.

Penerapan:

  • kalau saudara pergi berbakti di gereja, atau kalau saudara mela-yani Tuhan, atau kalau saudara memberikan persembahan, apa-kah saudara melakukannya hanya sebagai suatu kebiasaan, atau karena saudara ingin memuliakan Allah? 
  • kalau saudara membuang dosa / mentaati Tuhan, apakah saudara melakukannya hanya karena takut dihukum atau karena saudara melakukannya untuk kemuliaan Tuhan? 
  • hal-hal yang kelihatan remeh dan bersifat jasmani seperti makan dan minumpun (juga belajar, bekerja dsb) harus kita lakukan untuk kemuliaan Allah. Kalau saudara makan hanya demi memuaskan nafsu makan saudara, apalagi kalau saudara makan tanpa mem-pedulikan apakah makanan itu merusak kesehatan saudara atau tidak, pada hakekatnya saudara sudah berdosa! Makanlah supaya bisa sehat / pilihlah makanan yang menyehatkan diri saudara, supaya dengan kesehatan itu saudara bisa lebih memuliakan Allah. 

b) Bagaimana orang banyak bisa percaya kepada Yesus dan disela-matkan.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya supaya orang yang belum percaya bisa percaya:

  • Berdoa dengan tekun untuk pertobatan mereka. 
  • Memberitakan Injil kepada mereka. 
  • Berusaha memberikan kesaksian hidup yang baik, supaya jangan justru menjadi batu sandungan bagi mereka. 
  • Mengajak mereka ke gereja yang benar dan Injili! 

3) Memberikan yang terbaik kepada Tuhan.

Jangan meniru tentara Romawi yang memberi anggur asam kepada Yesus (ay 29). Sebaliknya, berikanlah yang terbaik kepada Tuhan. Ini berlaku untuk bermacam-macam hal seperti:

a) Memberikan uang kepada Tuhan.

Banyak orang kristen yang kalau mau memberi persembahan selalu bingung mencari uang kecil. Apakah pengorbanan Kristus pantas saudara balas dengan uang kecil? Memang kalau saudara adalah orang miskin yang hanya mempunyai uang kecil, maka persembah-kanlah uang kecil itu kepada Tuhan, Tuhan pasti menerimanya (bdk. Luk 21:1-4). Tetapi kalau untuk makan, pakaian, membangun rumah, hobby, dsb saudara bisa mengeluarkan uang besar, tetapi hanya mau mengeluarkan uang kecil untuk Tuhan, itu betul-betul keterlaluan.

b) Memberikan waktu, tenaga, pikiran untuk Tuhan.

Ada orang kristen yang pada pagi, siang, sore tidak berdoa / membaca Firman Tuhan, dan baru melakukannya pada malam hari setelah tenaga dan pikirannya sudah mencapai titik terendah. Orang seperti ini memberikan waktu, tenaga, pikiran yang terjelek untuk Tuhan. Bukankah sebaiknya kita melakukan doa / saat teduh pada pagi hari, dimana kita ada dalam keadaan paling segar?

c) Memberikan diri / hidup kita untuk Tuhan.

Banyak orang yang pada waktu masih muda menggunakan dirinya / hidupnya untuk diri sendiri. Baru pada saat sudah tua dan hampir mati, ‘menyerahkan dirinya’ untuk Tuhan.

Ada juga orang kristen yang setelah lulus SMA, lalu berusaha masuk ke Universitas. Tetapi karena tidak diterima di mana-mana, akhirnya ia ‘menyerahkan dirinya’ untuk masuk sekolah Theologia / melayani Tuhan!

d) Memberikan anak kepada Tuhan.

Ada orang tua kristen yang mempunyai beberapa anak. Mereka keberatan kalau anak-anaknya yang pandai menjadi hamba Tuhan, tetapi mereka mau menyerahkan anaknya yang bodoh untuk menjadi hamba Tuhan.

Penutup / kesimpulan:

Untuk saudara yang belum percaya kepada Yesus, janganlah menunda! Perca-yalah sebelum terlambat.

Untuk saudara yang sudah percaya: tirulah teladan Kristus dan berikan yang terbaik kepada Tuhan.

-AMIN-

Keluarga Kristen

Melestarikan Kemesraan dalam hubungan

BAGAIMANA MELESTARIKAN KEMESRAHAN 

DALAM PERNIKAHAN KRISTEN

  1. Pengertian Kemesrahan Dalam Pernikahan Kristen

          Kemesrahan berasal dari akar kata ‘mesrah’ yang artinya lekat (terpadu dsb) benar, merasuk, sangat erat, karib, mendalam. Jadi, kemesrahan merupakan suatu keadaan dimana sepasang suami isteri saling berbagi kasih dengan tindakan yang sangat mesrah yang mendalam. mereka saling bercumbu, saling bercanda tawa.

  1. Pernikahan 

Berikut ini ada beberapa arti dari pernikaha:

  • Pernikahan adalah sebuah persekutuan, dimana dua hati menjadi satu.
  • Pernikahan adalah sebuah kebersamaan dan persahabatan. Hidup bersama, melakukan banyak hal bersama dan tak menginginkan yang lain.
  • Pernikahan artinya pengertian. Ia buta terhadap kesalahan pasangannya. Ia penuh pengertian atas setiap hal. Atas waktu, perasaan dan keinginan pasangannya.
  • Pernikahan artinya perhatian. Ia sangat peduli. Ia bersedia meninggalkan caranya sendiri demi mempedulikan kepentingan pasangannya.
  • Pernikahan artinya kebajika. Ia mengucapkan kata-kata yang baik dan menaruh kata-kata ke dalam tindakan. 
  • Pernikahan artinya dukungan. Ia mendukung usaha-usaha pasangannya, projeknya, pada segala situasi dan kondisi. Ia memberikan dukungan moril, fisik, doa, pokonya dukungan yang seutuhnya. Ia memberi semangat dan mengobarkannya ketika pasangannya patah semangat. Ia membungkuk untuk mengangkat pasangannya. Ia menguatkan hati ketika pasangannya lemah.
  • Pernikahan artinya berkomunikasi secara jujur dan terbuka. Ia bersedia membuka hati berbagi pemikiran terdalam dengan rendah hati. 
  • Pernikahan artinya berbincang, berdoa, berdialog, dan menyetujui bersama. Pernikahan tak membiarkan dinding apapun terbangun diantara mereka dengan melainka mencari solusi kreatif.
  • Pernikahan artinya pengorbanan. Ia memberikan diri bagi orang yang dicintainya. Ada kesedihan untuk mengalah, melepaskan idea tau keinginan pribadi demi kebahagiaan pasangannya.
  • Pernikahan artiynya belas kasihan. Ia lebih suka pasangannya berbahagia daripada berbahagia sendirian.
  • Pernikahan itu hubungan timbale balik – saling member dan menerima. Dalam pernnikahan ada giliran – saling bertanggung jawab bukan tanggung jawab sepihak.
  • Pernikaha artinya penundukkan diri. Ia memberikan kesempatan kepada pihak pasangan. Menikah artinya satu sama lain saling belajar. 
  • Pernikaha artinya saling mendengarkan dan saling mengerti. 
  • Pernikahan artinya mau hadir untuk pasangan di saat-saat baik maupun buruk. Pasangan menikah berdiri bersama dalam segala keadaan, rapuh ataupun kokoh, sepanas apapun ujian dan seberat apapun tantangannya. 
  •  Pernikahan itu harus ada rasa humor. Bisa merasa rileks bersama (enjoy).
  • Pernikahan merupakan perjalanan penjelajahan. Saling menemukan dan belajar tentang keunikan yang dilakukan dan dikatakan pasangannya. 
  • Pernikahan artinya saling menghormati. Dalam pernikahan pasangan belajar saling mempercayai.
  • Pernikahan artinya saling menerima pasangannya apa adanya. Pernikahan membawa orang kepada kesadaran bahwa ia tak bisa lngkap tanpa pasangannya. 
  • Pernikahan dapat menjadi pengalaman yang paling menguatkan dan memuaskan. 
  1. Dasar Pernikahan Kristen
  2. Kasih Kristus Yesus (Efesus 5:22-33).
  • Isteri tunduk kepada suami (dalam segala sesuatu yang baik dan memuliakan Tuhan) seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.
  • Suami mengasihi isteri sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.
  • Suami harus mengasihi isterinya sama seperti dia mengasihi dirinya sendiri. Suami yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
  • Suami mengasihi isteri seperti diri sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

          Menerapkan kasih Kristus dalam setiap aspek kehidupan dalam keluarga dimana semua anggota keluarga saling mengasihi. Kasih ini juga harus diterapkan dalam mendidik anak-anak mereka untuk takut akan Tuhan.Jika anak-anak tidak taat dan bersifat kurang ajar orang tua berhak untuk mendisiplin anak,hajaran dipantat diperbolehkan,asal tidak menghajar selain pantat karena akan menjadikan anak menjadi trauma.Hajaran inipun harus didasarkan oleh kasih, bukan kejengkelan dan kemarahan yang meledak-ledak.Caci maki dan kutukan hendaknya dihindari oleh orang tua sebagai pribadi yang sudah mengenal Tuhan.Kasih dan pengampunan dalam keluarga akan menjadikan keluarga itu solid dan harmonis. (Amsal 13:24)

  1. Firman Tuhan

          Firman Tuhan sebagai pedoman hidup berumah tangga dan menjadikanya nafas kehidupan dengan cara direnungkan, dihayati, serta dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa Firman Tuhan yang menuntun kehidupan rumah tangga Kristen, keluarga tersebut akan hampa dalam menjalani kehidupanya.

     Suami sebagai imam dalam keluarga harus memimpin keluarganya untuk selalu melakukan persekutuan dalam merenungkan Firman Tuhan dan dalam ibadah doa bersama.Firman Tuhan menjadi pedoman hidup dan kendali hidup keluarga.

  1. Iman

          Keluarga kristen percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menebus dengan darah yang mahal,oleh karena itu dasar keluarga Kristen adalah iman.Iman berbicara mengenai kepercayaan yang utuh kepada Tuhan Yesus, dan tidak bimbang ketika persoalan datang menerpa dalam keluarga tersebut namun semakin kuat dalam bergantung kepada Tuhan.

  1. Bagaimana Melestarikan Kemesrahan Dalam Pernikahan Kristen
  2. Saling Menghormati

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (I Ptr. 3:7).

          Jalan utama untuk bergaul dengan orang lain ialah menunjukkan rasa hormat, sopan santun dan saling menghargai. Dalam I Petrus 3:7, rasul Paulus mengarahkan para suami, terutama, agar bijaksana terhadap isteri. Memang, tuntutan utama ialah supaya isteri menaati suami dan suami mengasihi isteri. Kasih suami kepada isteri dan ketaatan isteri terhadap suami merupakan syarat mutlak. Dengan saling menghormati kita masuk dalam pembangunan rumah tangga bahagia.

          Para suami, ingatlah, isteri saudara lemah, lebih lemah dari saudara. Mereka membutuhkan kasih yang penuuh hikmat. Kasih itu tidak hanya dalam perkara besar. Tetapi justru dalam perkara-perkara kecil. Itu lebih diharapkan. Demikian juga para isteri. Angkatlah suami saudara dengan cara sederhana. Tunjukkanlah kasih sayang hormat, dan sopan santun.

  1. Keterbukaan

          Rahasia ayah adalah rahasia ibu dan anak-anak, demikian pula rahasia ibu dan anak anak adalah rahasia ayah, dalam kata lain tidak ada rahasia lagi diantara anggota keluarga atau keterbukaanlah yang harus diupayakan oleh keluarga Kristen. Hali ini dilakukan dengan membangun komunikasi terus menerus antara ayah, ibu dan anak secara terbuka.

          Seringkali masalah yang timbul dari rumahtangga karena tidak adanya keterbukaan dari masing-masing anggota keluarga. Suatu contoh bila ayah punya masalah dipendam sendiri dan suatu waktu masalah itu muncul dengan melibatkan anak dan istri maka akan terjadi pertengkaran dan masalah diantara mereka karena adanya ketidak terbukaan diantara angota keluarga tersebut

  1. Tanggung Jawab Pribadi Terhadap Yang Lain

          Otoritas dalam keluarga ada ditangan ayah sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab untuk melindungi dan memberi nafkah terhadap keluarganya. Ayah yang bertanggung jawab adalah ayah yang selalu melindungi keluarganya yaitu istri dan anak-anaknya dengan doanya tiap hari, bagaimana lututnya begitu keras karena tiap hari berlutut untuk mendoakan keluarganya, serta keringatnya yang mengucur deras karena bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.

          Istri selain menjadi pendamping suami untuk urusan rumah tangga seperti memasak, mencuci, bersih-bersih rumah, mengasuh anak, juga bertanggung jawab untuk memberi suport dan semangat kepada suami dalam menunaikan kewajibanya sebagai kepala rumah tangga. Istri keluarga Kristen bukanlah “perongrong” yang menuntut ini dan itu kepada suaminya namun menjadi istri yang bijaksana yang selalu tunduk kepada suaminya dan melakukan peranan sebagai ibu rumahtangga dengan baik walaupun ada juga ibu yang bekerja menjadi wanita karier. (Efesus 5:22), (Amsal 31:10)

  1. Sentuhan

          Disini tidak berbicara tentang sentuhan erotis dalam seks atau tentang kasih sayang di tempat tidur. Melainkan menunjukkan perhatian pada perbuatan sehari-hari dan kontak fisik yang merupakan curahan romantisme, cinta dan komunikasi dalam diri mereka. 

          Jangan salah paham. Walaupun memang adanya sentuhan seksual dalam perkawinan. Tetapi ada yang lebih penting dari curahan seks di tempat tidur. Selama bertahun-tahun Norman mendengar ratusan wanita mengemukakan alasan mengapa mereka tidak bereasksi sentuhan-sentuhan sumai mereka. Bukannya mereka tidak menikmati seks. Seperti yang dikemukakan seorang wanita (yang perasaannya mewakili perasaan-perasaan wanita lain), “Saat suami saya membelai dan memelukku, aku tahu apa yang ada dalam pikirannya. Seandainya saja ia dapat memberikan kasih sayang yang murni, tanpa maksud-maksud yang tersembunyi. Aku menikmati seks, tetapi pasangan (suami)-ku tidak pernah menyadari bahwa sentuhan-sentuhan yang wajar sehari-hari justru lebih membangkitkan seks di tempat tidur.” Alasan yang sangat bagus. 

          Kontak fisik dalam perkawinan sangat penting untuk membangun keintiman dan mempertinggi hasrat untuk bermain cinta. Sentuhan-sentuhan penuh kasih sayang antara suami isteri dapat membawa sensasi kehangatan, rasa aman, dan kepuasan emosional yang dirindukan setiap manusia. Elusan, belaian, dan pelukan membawa pesan kasih sayang dan kemesrahan yang memang kita butuhkan semenjak kita masih kecil, dan kita masih tetap menginginkannya ketika kita telah dewasa.

  1. Memeluk Pasangan

          Pelukan ekspresi satu elemen penting dalam sentuhan; dan pelukan adalah ekspresi vital dari cinta. Salah satu kalimat yang paling disukai Norman ialah “Setiap perkawinan butuh diangkat, dipeluk dan diberi perhatian khusus.” Pelukan adalah pencegahan dan obat yang baik untuk resesi cinta. 

  1. Mengatakan Hal Yang Baik Tentang Pasangan 

          Anda dapat memberkati pasangan anda dengan apa yang anda katakana dan bagaimana anda mengatakannya. Anda seharusnya berbicara dengan manis dan penuh semangat sehingga pasangan anda merasa lebih baik dan lebih terisi. Lebih dari itu, lakukanlah dengan tulus, bukan semata-mata karena keharusan. Pujian yang tulus, kata-kata penggugah semangat dan “hal-hal yang manis” yang terucapkan adalah permbentuk romantisme dan pemerkaya cinta. Respons yang terucap dari bibir anda terhadap kata-kata pasangan anda pun tidak alah penting. Mengatakan “Trima kasih”, menunjukkan sikap menghargai, memberikan apa yang dibutuhkan atau memberikan pendapat tentang pasangan dengan cara yang baik akan memberkati pasangan anda.

  1. Kencan

          Kencan adalah hal yang vital dalam masa pacaran, dan mungkin berikan lebih penting dalam perkawinan sebagai resesi cinta. Norman sering menyarankan pasangan pasangan dalam program konselingnya agar konseli-konselinya mengadakan kencan. Jadi, kencan dengan pasangan tidak hanya dilakukan semasa pacaran, malainkan dapat juga dilakukan dalam kerangkan kehidupan berumah tangga. 

  1. Tiga Patah Kata

          Perkataan “Saya mencintai kamu (I Love You)” adalah pesan yang harus disampaikan pada pasangan anda. Anda dapat membuat variasi tentang bagaimana menyatakannya tanpa mengubah makna. Barikut ini adalah cara-cara yang jenaka untuk menyampaikan perasaan cinta itu. Yah mungkin anda merasa malu pada mulanya, tetapi hasilnya sungguh luar biasa. 

  1. Ejalah “Saya cinta kamu” denga permen di bantal pasangan anda, di meja kerjanya, atau di kursi favoritnya.
  2. Ajaklah pasangan anda bermain laying-layang. Jangan lupa menuliskan “Saya cinta padamu” pada laying-layang anda sebagusnya (laying-layang adalah ide yang hebat! Saya dan isteri saya menerbangkannya tahun lalu)
  3. Katakana “Saya cinta padamu” dengan bahasa isyarat.
  4. Ketika anda memanaskan air dikamar mandi, tulislah “Saya cinta kamu” di kaca, dan mintalah pasangan anda membaca. 
  5. Bacalah Sebuah Puisi Cinta.

          Selama dalam perjalanan kehidupan pernikahan anda sisihkanlah waktu untuk membacakan sebuah puisi cinta paling romantic yang pernah ditulis. “Kidung cinta paling indah yang pernah ditulis”

Ilmu Filsafat

Sejarah Filsafat

IKHTISAR SEJARAH PEMIKIRAN FILSAFAT (1):

AKAL-BUDI DAN IMAN

Yang dibahas disini terutama filsafat Barat, karena misalnya filsafat India dan filsafat Cina lebih bersifat mengajar bagaimana manusia mencapai “keselamatan” (“moksa”), atau bagaimana manusia harus bertindak supaya diperoleh keseimbangan antara dunia dan akhirat.  Tak dapat diungkiri didalamnya juga ada unsur akal, tetapi bukan produk dari refleksi yang sifatnya kritis rasional. 

Ada empat periode besar dalam filsafat Barat:

(A). Zaman Yunani (600 sM – 400 M)

(B).  Zaman Patristik dan Skolastik (300 M – 1500 M)

(C).  Zaman Modern (1500 M – 1800 M)

(D).  Zaman sekarang (setelah 1800 M).

Patut dicatat bahwa tiap zaman memiliki ciri dan nuansa refleksi yang berbeda. Dalam zaman Yunani diletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat. Zaman Patristik dan Skolastik ditandai oleh usaha yang gigih untuk mencari keselarasan antara iman dan akal, karena iman di hati, dan akal ada di otak. Tidak cukuplah sikap credo quia  absurdum = “aku percaya justru karena tidak masuk akal” Tertulianus, 160-223 M. Dalam Zaman Modern  direfleksikan berbagai hal tentang rasio, manusia dan dunia.  Jejak pergumulan itu terdapat dalam aliran-aliran filsafat dewasa ini.

1   Zaman Yunani

Is not the good good because it contains the idea of the good?

Plato

1.1 Filsafat pra-sokrates ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu (“arche” = ).  Tidakkah di balik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu azas? Thales mengusulkan: air, Anaximandros: yang tak terbatas, Empedokles: api-udara-tanah-air.  Herakleitos mengajar bahwa segala sesuatu mengalir (“panta rei” = selalu berubah), sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan: bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu?  Pythagoras (580-500 sM) dikenal oleh sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Democritus (460-370 sM) dikenal oleh konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkannya juga.  Zeno (lahir 490 sM) berhasil mengembangkan metode  reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar.

1.2  Puncak zaman Yunani  dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates (470-399 sM), Plato (428-348 sM) dan Aristoteles (384-322 sM). 

1.2.1  Sokrates  menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat.  Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk “melahirkan” pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu.  Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. — Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya.

Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai “sophis” (“yang bijaksana dan berapengetahuan”), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Seperti diungkapkan oleh Cicero kemudian, Sokrates “menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah”. Karena itu dia didakwa “memperkenalkan dewa-dewi baru, dan merusak kaum muda” dan dibawa ke pengadilan kota Athena.  Dengan mayoritas tipis, juri 500 orang menyatakan ia bersalah. Ia sesungguhnya dapat menyelamatkan nyawanya dengan meninggalkan kota Athena, namun setia pada hati nuraninya ia memilih meminum racun cemara di hadapan banyak orang untuk mengakhiri hidupnya.

1.2.2  Plato menyumbangkan ajaran tentang “idea”.  Menurut Plato, hanya idea-lah realitas sejati. Semua fenomena alam hanya bayang-bayang dari bentuknya (idea) yang kekal. Dalam wawasan Plato, pada awal mula ada idea-kuda, nun disana di dunia idea. Dunia idea mengatasi realitas yang tampak, bersifat matematis, dan keberadaannya terlepas dari dunia inderawi. Dari idea-kuda itu muncul semua kuda yang kasat-mata. Karena itu keberadaan bunga, pohon, burung, … bisa berubah dan berakhir, tetapi idea bunga, pohon, burung,  … kekal adanya. Itulah sebabnya yang Satu dapat menjadi yang Banyak. 

Plato ada pada pendapat, bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif, bawaan, dalam diri) seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya dari dunia idea, — konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini. Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.

Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika. Problem filsafati yang digarap oleh Plato adalah keterlemparan jiwa manusia kedalam penjara dunia inderawi, yaitu tubuh.  Itu persoalan  ada (“being”) dan mengada (menjadi, “becoming”).

1.2.3  Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya.  Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu “berubah” (menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah  melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam benda-benda.

Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya  oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan.

Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif  dan metode empiris-induktif.  Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir.  Logika dibentuk dari kata λογικοζ, dan λογοζ berarti sesuatu yang diutarakan.  Daripadanya logika berarti pertimbangan pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. 

Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.

Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna.  Itu berbeda dari Plato.  Berbeda dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan memilih “hylemorfisme”:  apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu merupakan pengejawantahan material (“hyle”) sana-sini dari bentuk (“morphe”) yang sama.  Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi kemungkinan (“dynamis”, Latin: “potentia”) untuk pengejawantahan (aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda.   Maka ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama.  Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala yang “tetap” dan yang “berubah”.

Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan bahwa wanita adalah “pria yang belum lengkap”.  Dalam reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma pria. Wanita adalah “ladang”, yang menerima dan menumbuhkan benih, sementara pria adalah “yang menanam”.  Dalam bahasa filsafat Aristoteles, pria menyediakan “bentuk”, sedang wanita menyumbangkan “substansi”.

Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama “jiwa” (“psyche”, Latin: anima).  Tetapi jiwa pada manusia memiliki sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat “mengamati” dunia secara inderawi, tetapi juga sanggup “mengerti” dunia dalam dirinya.  Jiwa manusia dilengkapi dengan “nous” (Latin: “ratio” atau “intellectus”) yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima “logoz”.  Itu membuat manusia memiliki bahasa.

Pemikiran Aristoteles merupakan hartakarun umat manusia yang berbudaya.  Pengaruhnya terasa sampai kini, — itu berkat kekuatan sintesis dan konsistensi argumentasi filsafatinya, dan cara kerjanya yang berpangkal pada pengamatan dan pengumpulan data.  Singkatnya, ia berhasil dengan gemilang menggabungkan (melakukan sintesis) metode empiris-induktif dan rasional-deduktif tersebut diatas.

Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke India-Himalaya.  Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan di wilayah Timur Tengah juga.  — (Catatan kecil saja dari FSP: Maka jangan terkejut jika pandangan berat-sebelah tentang pria-wanita sangat dominan sampai kini. Legitimasi filsafati agaknya telah diberikan oleh Arsitoteles atas praktek yanh umum di dalam masyarakat Timur Tengah, Eropa abad pertengahan dan dimana saja. Gereja Katolik pun selama berabad-abad mengikuti pendirian yang sama, sekalipun landasan biblisnya sama sekali tidak ada. Yesus, sebagaimana tampak dalam Injil, memiliki pandangan yang sama sekali tidak berat-sebelah tentang gender.)

Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang penalaran, berperan sebagai organon (“alat”) untuk sampai kepada pengetahuan yang lebih mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria yang membawa kepada praxis. Aristoteles  mengawali, atau sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong, kelahiran banyak ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan tentu saja fisika.  Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran dalam Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia dan  Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh Franklin), Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan The Origin of Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan produk refleksi para pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang tersedia dalam zamannya masing-masing.

1.3  Zaman Yunani pasca-aristoteles ditandai oleh tiga aliran pemikiran filsafat, yaitu Stoisisme, Epikurisme dan Neo-platonisme.  Stoisisme (Zeno, 333-262 sM) terkenal karena etikanya: manusia berbahagia jika ia bertindak rasional.  Epikurisme (Epikuros, 341-270 sM) juga terkenal dalam etika: “kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita”.

Neo-platonisme (Plotinos, 205-270 M).  Idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato) disebut oleh Plotinos το εν = “to hen”, yang esa, “the one”.  Yang esa adalah awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal.  Yang esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga.  Yang esa adalah pusat daya, — seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya.  Kendati proses emanasi, yang esa tak berkurang atau terpengaruh sama sekali.

Dari το εν mengalir νουζ = “nous”, budi, akal, bahkan roh (?).  “Nous” merupakan “bayang-bayang” dari “to hen”.  Dari “nous” mengalir ψνχη = “psykhe”, jiwa, yang merupakan perbatasan “nous” dengan μη ου = “me on”, materi, yang merupakan kemungkinan atau potensi bagi keberadaan suatu bentuk, yang pada manusia adalah tubuh.  “Psykhe” merupakan penghubung antara “nous” yang terang, yang berlawanan dengan materi yang gelap, yang rohani berlawanan dengan yang jasmani.  — Menurut neo-platonisme, perlawanan itu merupakan penyimpangan dari kebenaran.  Untuk mencapai kebenaran, manusia harus kembali kepada “to hen”, dan itulah tujuan hidup manusia.  “To hen” kiranya identik dengan konsep “Sang Sangkan Paraning Dumadi” dalam tradisi Jawa.

Kesatuan mistis dengan “to hen” merupakan kebenaran sejati. Manusia harus berkontemplasi untuk mengatasi hal-hal yang inderawi, yang merupakan penghambat besar bagi pembebasannya dari hidup dalam dimensi materi yang bersifat gelap (dan berakhir kepada kematian) menuju kepada hidup dalam dimensi roh yang membawa kepada terang (serta awal dari kekekalan).

Jejak pemikiran neoplatonisme dapat diamati dalam pengalaman mistik, yaitu pengalaman menyatu dengan Tuhan atau “jiwa kosmik”.  Banyak agama menekankan keterpisahan antara Tuhan dan Ciptaan, tetapi para ahli mistik tidak menemui pemisahan seperti itu.  Mereka jutru mengalami rasa “penyatuan dengan Tuhan”. Ketika penyatuan itu terjadi, ahli mistik merasa dia “kehilangan dirinya”, dia lenyap ke dalam diri Tuhan atau hilang dalam diri Tuhan, sebagaimana setitik atau sepercik air kehilangan dirinya ketika telah menyatu dalam samudera raya.

Tetapi pengalaman mistik itu  tidak selalu datang sendiri. Ahli mistik harus mencari jalan “pencucian dan pencerahan” untuk bisa bertemu dengan Tuhan, melalui hidup sederhana dan berbagai teknik meditasi. Kecenderungan mistik tu diketemukan dalam semua agama besar di dunia. Dalam “agama” Jawa dikenallah konsep “manunggaling kawula lan Gusti”, yang jejaknya dalam sastra suluk Jawa digali dan diungkapkan bagi generasi masa kini dalam konteks filsafat dan pandangan keagamaan oleh Zoetmulder. (Zoetmulder SJ almarhum adalah Guru Besar di Fakultas Sastra UGM).

2   Zaman Patristik (Para Bapa Gereja)

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat

untuk mengajar,

untuk menyatakan kesalahan,

untuk memperbaiki kelakuan, dan

untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaaan Allah

diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

2 Tim 3:16-17

Pemikiran filsafati para Bapa Gereja Katolik mengandung unsur neo-platonisme.  Para Bapa Gereja berusaha keras untuk menyoroti pokok-pokok iman kristiani dari sudut pengertian dan akalbudi, memberinya infrastruktur rasional, dan dengan cara itu membuat pembelaan yang nalar atas aneka serangan. Pada dasarnya Allah menjadi pokok bahasan utama. Hakekat manusia Yesus Kristus dan manusia pada umumnya dijelaskan berdasarkan pembahasan tentang Allah. Ditegaskan, terutama oleh Agustinus (354-430 M) bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang (“lumens”) dari Allah.  Meskipun demikian dalam diri manusia sudah tertanam benih kebenaran (yang adalah pantulan Allah sendiri). Benih itu memungkinkannya menguak kebenaran. Sebagai  ciptaan, manusia merupakan jejak Allah yang istimewa = “imago Dei” (citra Allah), dalam arti itu manusia sungguh memantulkan siapa Allah itu dengan cara lebih jelas dari pada segala ciptaan lainnya.

“Tuhan, engkau lebih tinggi daripada yang paling tinggi dalam diriku, dan lebih dalam daripada yang paling dalam dalam batinku”  — itu ungkapan Agustinus tentang pengalaman manusia mengenai transendensi dan imanensi Allah dalam satu rumusan.  Dalam zaman ini pokok-pokok iman Kristiani dinyatakan dalam syahadat iman rasuli (teks “Aku Percaya” yang panjang). Didalamnya dituangkan rumusan ketat pokok-pokok iman, termasuk tentang trinitas — tentu saja dalam katagori pemikiran filsafati pada waktu itu dan dengan bahan dari Alkitab.

Agustinus menerima penafsiran metaforis atau figuratif atas kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa alam semesta dicipta creatio ex nihilo dalam 6 hari, dan pada hari ketujuh Allah beristirahat, sesudah melihat semua itu baik adanya. “Allah tidak ingin mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak relevan bagi keselamatan mereka”.  Penciptaan bukanlah suatu peristiwa dalam waktu, namun waktu diciptakan bersama dengan dunia. Penciptaan adalah tindakan tanpa-dimensi-waktu yang melaluinya waktu menjadi ada, dan tindakan kontinu yang melaluinya Allah memelihara dunia.  Istilah ex nihilo tidak berarti bahwa tiada itu merupakan semacam materi, seperti patung dibuat dari perunggu, namun hanya berarti “tidak terjadi dari sesuatu yang sudah ada”.  Hakikat alam ciptaan ialah menerima seluruh Adanya dari yang lain, yaitu Sang Khalik. Alam ciptaan adalah ketergantungan dunia kepada Tuhan.

Disini tidak disinggung persoalan, apakah penciptaan itu terjadi dalam waktu, atau terjadi pada suatu ketika atau sudah ada sejak zaman kelanggengan.  Para ahli filsafat pada umumnya sependapat bahwa a priori kita tidak dapat memastikan mana yang terjadi. — Menciptakan, sebagai tindakan aktif, dipandang dari sudut Tuhan, merupakan cetusan kehendakNya yang bersifat langgeng, karena segala sesuatu dalam Tuhan adalah langgeng.  Tetapi dipandang dari sudut ciptaan, secara pasif, ketergantungan dari Tuhan, terciptanya itu dapat terjadi dalam arus waktu, atau di luarnya, sejak zaman kelanggengan.  Jadi kelirulah jika dibayangkan bahwa Tuhan suatu ketika menciptakan alam dunia lalu mengundurkan Diri.  Andaikata Tuhan seolah-olah beristirahat, maka buah ciptaan runtuh kembali ke nihilum, ke ketiadaan.  Dunia terus menerus tergantung pada Tuhan (creatio dan sekaligus conservatio).

Ketika ditanya mengenai apa yang dilakukan Allah sebelum menciptakan dunia, Agustinus menjawab tidak ada artinya bertanya mengenai itu, karena tidak ada waktu sebelum penciptaan tersebut.

3  Zaman Skolastik

Egoo eimi ho oon.

Sum qui sum.

I am who I am.

Aku adalah Aku.

    (Keluaran 3:14)

Saya membagi zaman skolastik dalam 2 tahapan (1) zaman skolastik timur, yang diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M, dan (2) zaman skolastik barat, abad 12 s/d 15 M, yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol).

Secara sederhana, dalam zaman Patristik, “filsafat teologi”, dengan tanda dapat dibaca sebagai “identik dengan”, “sama sebangun dengan”, “praktis tidak berbeda dengan”.  Sementara dalam periode skolastik timur, terdapat berbagai interpretasi atas simbul dalam rumusan “filsafat teologi”, dalam periode skolastik barat tidak ada keraguan tentang makna simbul dalam rumusan “filsafat teologi”.

3.1.  Periode skolastik timur

Abad ke-5 s/d abad ke-9 Eropa penuh kericuhan oleh perpindahan suku-suku bangsa dari utara. Pemikiran filsafati praktis tidak ada.  Sebaliknya di Timur Tengah.  Sejak hadirnya agama Islam dan munculnya peradaban baru yang bercorak Islam, ada perhatian besar kepada karya-karya filsuf Yunani. Itu bukan tanpa alasan. Pada awal abad 8 krisis kepemimpinan melanda Timur Tengah; amanat Nabi seperti terancam untuk menjadi pudar dan dalam situasi tak menentu itu dikalangan pada mukmin muncullah deretan panjang ahli pikir yang ingin berbuat sesuatu, berpangkal pada penggunaan akal dan azas-azas rasional, dan menyelamatkan Islam.

(1)  Mashab Mu’tazila (725 – 850 – 1025 M)  meminjam konsep-konsep pemikiran Yunani dan melihat akal sebagai pendukung iman.  Pengakuan akal sebagai sumber pengetahuan (selain sumber wahyu) mendorong penelitian tentang manusia (kodrat, martabat dan tabiatnya). Mengikuti etika Aristoteles, karena akal membuat manusia mampu membedakan baik dan buruk, maka berbuat baik adalah wajib. Pemimpin harus mewajibkan umatnya berbuat baik, masing-masing warga menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Daripadanya dijabarkan hubungan antar-manusia dan antar-bangsa, dan hak azasi (kemauan bebas) manusia.  Pandangan ini cocok dengan Al Qur’an (Surah 3 ayat 110): “amr bil-a’ruf wa’l nahy an’al-munkar”. 

Mashab Mu’tazila ada pada pendapat bahwa Al Qur’an tercipta, artinya “dirumuskan oleh manusia, dengan latar belakang tempat dan zaman yang khusus”.  Maka para Mu’tazila membaca Al Qur’an dengan kacamata rasionalis.

(2)  Mashab falsafah pertama (830 – 1037 M), berhaluan neoplatonis dan aristoteles.  Kata “falsafah” dipakai untuk mengartikan filsafat hellenis dalam kosakata bahasa Arab, ahli fikirnya disebut “faylasuf” (“falasifa – jamak).  Empat tokol besar : al-Kindi (800-870 M), al-Razi (865 – 925 M), al-Farabi (872 – 950 M)  dan Ibn-Sina (980 – 1037 M). Menggumuli masalah klasik “perbedaan antara dhat dan wujud” (“distinctio realis inter essentiam et existentiam”).  Mereka ada pada  pendapat, bahwa akal adalah pendamping iman. Al-Razi menolak ijazu’l Qur’an. Tulis al-Razi:  “Tuhan memberi kepada manusia akal sebagai anugerah terbesar.  Dengan akal kita mengetahui segala apa yang bermanfaat bagi kita dan yang dapat memperbaiki hidup kita.  Berkat akal itu kita mengetahui hal yang tersembunyi dan apa yang akan terjadi. Dengan akal kita mengenal Tuhan, ilmu tertinggi bagi manusia.  Akal itu menghakimi segala-galanya, dan tidak boleh dihakimi oleh sesuatu yang lain.  Kelakuan kita harus ditentukan oleh akal semata-mata”.

(3)  Mashab pemikiran ketiga disebut pula Kalam Ashari, berpusat di Bagdad, dan bercorak atomisme (yang dicetuskan pertama kali oleh Democritus, 370 sM), dan bergumul dengan soal sebab-musabab, kebebasan manusia, dan keesaan Tuhan.  Para tokohnya: al-Ash’ari (873-935 M), al-Baqillani (?-1035), dan al-Ghazali (1065-1111 M).

Pandangan yang bercorak atomistis berpangkal pada pendapat bahwa peristiwa alam dan perbuatan manusia tidak lain daripada kesempatan atau tanda penciptaan langsung dari Tuhan.  Daya alami serta hubungan wajib sebab-akibat dalam penciptaan itu tidak ada. Segala sesuatu terjadi oleh campur tangan al-Khaliq, “tiada yang tersembunyi daripadaNya seberat dharahpun” (Al-Qur’an Surat 34 ayat 3). Tiap kejadian terdiri atas deretan terputus-putus atom-atom, tanpa ada hubungan kausal. “Kami menyangkal bahwa makan dan minum menyebabkan kenyang”. Yang ada hanya monokausalitas mutlak illahi.  Apabila tampak sesuatu akibat dari suatu tindakan, maka itu hanya semu, karena Allah menghendaki hal itu.  Tuhan mahakuasa dan mendalangi setiap kegiatan insani. Manusia tidak memiliki kehendak bebas, yang bebas itu hanya semua saja. Manusia hanya boneka atau wayang dalam pergelaran semalam suntuk. “Bila manusia bertindak baik, itulah ditentukan Allah sesuai rahmatNya; bila dia berbuat jahat itu dikehendaki Allah sesuai keadilanNya”.

Dalam “Al-Tahafut al-filasifah” al-Ghazali membuat sistematisasi atas filsafat dalam 20 dalil dan membuat kajian  dan bantahan yang keras atas tiap-tiap dalil itu. Empat dari 20 dalil diberi nilai kufurat.  Ilmu sebagai pengetahuan sesuatu melalui sebab-sebabnya dimungkiri; seluruh pengetahuan ilmiah adalah sia-sia. Secara singkat “al-aql laysa lahu fi’l-shar’ majal” — untuk akal tiada tempat dalam agama.

(4)  Jauh dari pusat khilafat Abbasiyah di Timur Tengah, di kawasan yang dikenal sebagi Maghrib al-Aqsa (Barat jauh: Afrika barat laut, jazirah Andalusia, yaitu Spanyol sekarang) berkembanglah pusat Islam dalam kesenian, ilmu pengetahuan dan filsafat.  Ibn Bajjah (1100-1138 M), Ibn Tufail (? – 1185), dan Ibn Rushd (“Averroes”) (1126-1198 M) merupakan 3 filsuf utama dalam perioda Filsafat Kedua (1100 – 1195 M) ini.

Ciri para filsuf ini pada umumnya menolak haluan anti-rasional Al Ghazali. Ibn Bajjah menegaskan adalah tugas seorang filsuf untuk meningkatkan martabat hidupnya dengan merenungkan kenyataan rohani sampai akhir hayat.  Akal adalah hal yang paling berharga yang dikaruniakan Tuhan kepada abdiNya yang setia.

Ibn Tufayl terkenal oleh buku roman filsafi yang berjudul Risalat HAYY IBN YAQZAN fi asrar al -himah al-mashiriyyah.

Ibn Rushd dikenal oleh 3 kelompok karyanya: tafsir atas Aristoteles, karangan polemis (tentang karya-karya filsafat di kawasan timur) dan karangan apologetis (yang membela Islam dari ancaman dari dalam).  Tahafut al-tahafut  merupakan serangan frontal atas al-Tahafut al-filasifah al-Ghazali.  Menolak pandangan al-Ghazali, ditegaskannya bahwa ilmu secara esensial adalah pengetahuan sesuatu berdasarkan sebabnya.  Kita menanggapi hubungan sebab-akibat dengan pancaindera, dan memahaminya sebagai nyata dengan akal.  Dengan akibat atau setiap perubahan diciptakan secara langsung oleh iradat ilahi tanpa pengantaraan sebab tercipta (wasa’ith), seluruh dunia dimerosotkan menjadi kaos dan irasional, tanpa tata-tertib, tanpa nizam atau inayah.  Itu bertentangan dengan akal sehat dan menentang wahyu Qur’an, yang melukiskan dunia sebagai karya teratur Allah yang maha bijaksana.

Karya apologetisnya (2 buku yang ditulis pada tahun 1179 M) juga membela hak hidup filsafat dalam Islam, baik sebagai ilmu otonom, maupun sebagai ilmu bantu dalam teologi.  Rushd melihat filsafat sebagai “sahabat al-shari’at w’ahat al-ruzdat”, teman teologi ibarat saudari sesusuan.  Filsafat diwajibkan oleh al-Qur’an, agar manusia dapat memuji karya Tuhan di dunia ini (antara lain Surah 3 ayat 188, Surah 6 ayat 78, Surah 7 ayat 184, Surah 59 ayat 2, dan Surah 88 ayat 17) .  Bila studi hukum (fiqh) tidak disertai studi filsafat, fiqh membuat budi sempit dan memalsukan agama.

Pengaruh Ibn Rushd sang filsuf dari Cordova itu terhadap alam pikiran Islam selanjutnya mungkin tidak seberapa, dia bahkan dikatakan hanya mewariskan “sekeranjang buku seberat sosok mayatnya”.  Tetapi naskahnya populer di Eropa, khususnya di lingkungan kampus Universitas Paris, dan menyebar dari sana.  Dengan karyanya,  Aristoteles yang dijuluki “Sang Filsuf” diperkenalkan mutiara pemikirannya oleh Ibn Rushd yang oleh karena itu mendapat julukan “Sang Komentator”.  Sebagai akibatnya, obor perenungan filsafati Yunani, seperti diarak melalui Timur Tengah ke Barat Jauh oleh para filsuf muslim (yang sering hidup menderita), dan dengan itu diestafetkan kepada para filsuf Eropa (Barat) dan ke seluruh dunia.  Itulah sumbangan berharga para filsuf muslim dalam khazanah perenungan tak kunjung henti manusia dalam menemukan jati diri dan realitas di sekelilingnya.

3.2  Perioda skolastik Barat

Awal abad 13 ditandai dengan 3 hal penting: (1) berdirinya universitas-universitas, (2) munculnya ordo-ordo kebiaraan baru (Fransiskan dan Dominikan), dan (3) diketemukannya filsafat Yunani, melalui komentar Ibn Rushd, yang dipelajari dan dikritik dan diteliti dengan cermat oleh Thomas Aquinas (1225 – 1274 M).  Tema filsafat perioda ini adalah hubungan akal budi dan iman, adanya dan hakekat Tuhan, antropologi, etika dan politik.

Otonomi filsafat yang bertumpu pada akal, yang merupakan salah satu kodrat manusia, dipertahankan.  Menurut Thomas Aquinas, akal memampukan manusia mengenali kebenaran dalam kawasannya yang alamiah.  Sebaliknya teologi memerlukan wahyu adikodrati.  Berkat wahyu adikodrati itu teologi dapat mencapai kebenaran yang bersifat misteri dalam arti ketat (misalnya misteri tentang trinitas, inkarnasi, sakramen).  Karena itu teologi memerlukan iman, karena hanya dapat dijelaskan dan diterima dalam iman.  Dengan iman yang merupakan sikap penerimaan total manusia atas wibawa Allah, manusia mampu mencapai pengetahuan yang mengatasi akal.  Meski misteri ini mengatasi akal, ia tidak bertentangan dengan akal.  Meski akal tidak dapat menemukan (menguak) misteri, akal dapat meratakan jalan menuju misteri (“prae-ambulum fidei”).  

Dengan ini Thomas Aquinas menegaskan adanya dua pengetahuan yang tidak perlu bertentangan, atau dipertentangkan, tetapi berdiri sendiri berdampingan: pengetahuan alamiah (yang berpangkal pada akal budi) dan pengetahuan iman (yang bersumber pada kitab suci dan tradisi keagamaan). Adalah Wihelm Dilthey (1839-1911) yang akhirnya membedakan dengan tegas “Geisteswissenschaften” = “human sciences” dari “Naturwisensshaften” = “natural sciences”, sementara Max Weber membedakan “erklaeren” sebagai ciri-ciri ilmu alam dari “verstehen” yang merupakan ciri khas ilmu-ilmu kemanusiaan.

Filsafat Metafisika

PANDANGAN WHITEAD TENTANG TUHAN DAN KREATIVITAS

Bab V

BAB V

PANDANGAN WHITEAD TENTANG TUHAN DAN KREATIVITAS

  1. Argumen Pendukung

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah darimana subject aim  dapat berbcara tentang Tuhan? Jawaban Dari pertanyaan ini adalah

  • Untuk melengkapi skema metafisika dari interpretasi utuh
  • Peranan Tuhan dibuthkan untuk menjelaskan secara utuh makna dari proses becaming.
  1. KONSEP WHITEHEAD TTNG TUHAN

Konsep Tuhan dalam pandangananya tidak terlepas dari tiga buku yang terkenal yaitu:

  1. Buku Science and the modern world (SMW)

Konteks buku ini adalah Whitehead berada dalam situasi matrerialisme ilmiah. Dalam buku I ini, Tuhan dimengerti sebagai prinsip limitasi. Ia adalah prinsip pembatas terhadap nilai. Bagaimana proses limitasi itu? Dalam satu bagian buku ini ia berbicara tentang TUhan sebagai prinsip limitasi. Titik tolaknya adalah aktivitas dasariah dilihat terlepas dari fakta proses realisasi yang mempunyai tiga jenis anvisagment, yaitu: 

1. Objek abadi. 

2) posibilitas nilai-nilai yang berkatian dengan sintesis objek2 abadi. 

3) materi actual yang terlibat dalam situasi total pecapaian di masa di masa depan. 

Dengan demikian ada dua kunci penting dalamn penegasan ini, antara lain:

  • Aktivitas dasariah ialah realitas metafisik terakhir yang dimegerti sepadan dengan substansi tunggal yang tak berhingga.
  • Nilai adalah apa yang terkandung dalam peristiwa aktualisasi atau selalu dalam hubungan dengan proses menjadi

Kita bertanya dimana posisi Tuhan? Dalam pengertian tiga jenis anvisagement di atas dimana TUhan? Whithead katakana Tuhan dapat dimengerti dalam posibilitas nilai. Dari mana posibilitas nilai itu berasal? TUhan adalah sumber nilai dari satuan actual yang berproses sekaligus sebagai pembatas nilai-nilai.

    SA hanya dapat mengambil satu nilai karena selalu berproses  meneguhkan identitas maka Tuhan tidak lain adalah hasil pembatas nilai. Dengan demikian SA adalah sintesis yang dibatasi, karena itu tidak ada yang tidak terbatas. 

    Kalau begitu bagaimana prinsip limitasi  dapat efektif? Atau dari mana datanganya proses limitasi itu? Ia menjawab Tuhan. Tuhan adalah prinsip limitasiKarena TUhan adalah prinsip Limitasi terakhir mak, a eksistensiNya adalah irasional terakhir (Segala sesuatu adalah rasional dan dasar terdalamnya adalah irasional Tuhan). Sehngga tanpa Tuhan tidak ada pembatasan dan dunia akan kacau. Nilai ada karena ada ketertiban dari Tuhan. Ia menjelaskan:

Tuhan adalah prinsip limitasi terakhir. Eksistensinya merupakan irasional terkahir. Karena todak ada penjelasan yang dapat diberikan tentang litiasi tersebut yang bersumber dari hakikatnya. TUhan bukanlah realitas kongkrit, tetapi dia menjadi dasar bagi setiap aktualitas konkret, hakekatnya tidak dapat dijelaskan karena hakikat itu justru menjadi dsar rasionalitas. (SMW 221).

  1. Buku Religion in the making (RM) Tuhan sebagai satuan actual non temporal

Konteksnya adalah agama sebagai unsure budaya atau usaha menerapkan relaitas yang dilihat sebagai kesatuan jaringan prehensi; tidak ada satu unsure realitas yang berdiri sendiri; majemuk tapi saling melengkapi.

Konteks ini diaplikasikan dalam buku II bahwa agama dihubungkan dengan budaya. Agama adalah realitas cultural. Maka kekhususan agama adalah menyangkut soal batin yang tidak dapat dimasuki oleh orang lain (religiositas).

Dengan begitu terjadi pergesaran yang besar. Juga perspektifnya adalah SA yang dalam proses menjadi mempunyai 3 elemen transformative.

  1. Kreativitas

SA punya elan vital yang hidup dalam dirinya. Ciptaan tidak dapat dilepas dari kreativtas. Kalau begitu bagaimana SA dapat menciptakan dirinya? Yaitu lewat prinsip kreativitas. Maka prinsip kreativtas adala prinsip yang menjelaskan dan membantu kita untuk mengerti, bukan suatu aktualitas karena satu2nya actual adalh SA. Tapi kreativats menjadi nyata dalam SA. Tanya SA kreativitas adalah suatu konsep yang abstrak.

  1. Objek ideal

Sebagai potensial murni yang belum diaktualisas namun potensialitas itu bukan suatu yang tergantung pada aktivitas dasariah tapi tergantung pada SA. Karena setiap SA bercorak kreatif maka dihubungkan dengan porese menjadi sampai pada relevansi tertentu. Sehingga proses menajdi dari setiap satuan peristiwa melibatkan entitas ideal tertentu.

  1. Tuhan

Tuhan sudah dihubungkan dengan atribut ke II (posibiltas nilai-nilai) maka dalam buku II ini, Tuhan dihubungkan dengan 3 elemen (kreativitas, objek ideal dan TUhan). Tuhan sebagai SA, punya dua aspek:

  • Aktual: terlibat dalam waktu karena actual
  • Non temporal: melampaui waktu dan hanya diriNya-lah sebagai SA yang non temporal.

Ia menulis sehubungan dengan TUhan: satuan actual tetapi non temppral berperan sebagai jalan yang melaluinya kreativitas yang tak dibataasi diubah mejadi suatu kebebasan yang terbatas. Satuan actual itulah yang oleh kaum  beragama disebut TUhan (RM 88)

            Tuhan sebagai sumber keteraturan dank arena dunia itu teratur maka adanya TUhan itu perlu. Karena TUhan adalah sumber keteraturan maka Whitehad menyebut itu sebagai “prinsip harmoni/prinsip tata nilai”. Maka peran Tuhan adalah DIa memberikan dan mempertahankan nilai-nilai dalam dunia temporal.  

    Kita bertanya bagaimana hubungan tiga prinsip di atas? Tampa TUhan objek abadi tidak terealisasi. Kreativtas penting tapi membutuhkan objek ideal yang tak terbatas dan perlu adalnya pembatas yaitu Tuhan.

  1. Buku Proses and Reality (PR)

Titik tolaknya adalah Tuhan punya 2 aspek: actual dan non temporal. Dalam buku ini aspek actual dihubungkan sebagai “hakikat akhiri (Consequent nature) dan konsep non temporal dikemabngkan sebagai “hakikat awali” (Primordial nature).

  1. Hakikat awali

Dapat dimengerti bahwa dalam TUhan semua objek ideal ada di dalamNya. Atau Tuhan berprehensi dengan semua objek abadi. Kita bertanya peran apa yang dimainkan oleh hakikat awali dari perspektif SA yang berproses? Dari perspektif SA yang berproses Tuhan menjadi nilai, prinsip limtasi. Proses SA berkembang menuju satisfaction yang artinya yang ideal tertentu mencapai titiknya karena subjectif eim. Dari mana SE berasal? ia muncul dari SA akitvitas awal yang berproses dan pada awal SA hadrilah SA yang punya tahap primordial. Maka bisa dikatakan subjektiv eim datang dari TUhan. Maka Tuhan menjadi Tuhan karaena prehensi dengan objek abadi.

  1. Hakikat akhri

Hakikat akhiri berarti TUhan berprehensi fisik dengan semua satuan actual. Bagaimana dijelaskan? Setiap SA punya kutub ganda: prehensi fisik dan prehensi konseptual. Prehensi fisik adalah sebagai SA maka TUhan punya relasi dengan semua SA di dunia. Maka realitas Tuhan meliputi semua ciptaan.

Ia mengatakan tuhan tidak boleh diperlakukan sebagai satuan suatu kekecualian di hadapan semua prinsip metafisik jika kita tidak menghendaki keruntuhan system prinsip2 itu. Tuhan adalah p erwujudan perdana prinsi2 itu (PR 343)

Kita bertanya mengapa Tuhan berprehensi dengan SA dan manakah konsekwensinya?  Karena sejak awal SA membutuhkan TUhan maka setiap SA perlu berprehensi dengan TUhan. Konsekwesninya  

  • hakikat akhiri Tuhan sebagai SA berprehensi dengan SA lain, maka tidak mungkin kita membayangkan hakikat akhiri TUhan tanpa prehensi dengan SA.
  • Hakikat Tuhan tidak lengkap. Artinya hakukat awali menyatu dengan kesempurnaan hakikat awali maka dalam hakikat awali Tuhan tidak butuh SA, tapi dalam hakikat akhiri TUhan butuh SA.
  • Hakikat akhiri TUhan abadi karena ketercakupan dunia actual dalam TUhan menyatuhkan imortalitas objektif dari dunia dalam TUhan. Semua SA akan hancur karena keterbatasan tapi akan mengalami imortalitas subjektif dalam SA yaitu Tuhan, jadi dunia dan manusia mengalami imortalitas dari TUhan.

II. KONSEP WHITEHEAD TTNG KREATIVITAS

  1. Kreativitas

Buku I SMW:

Berangkat dari konsep bahwa SA sebagai causa sui yang menyebabkan dirinya sendiri dan Istilah kreativitas belum muncul dalam buku SMW,  namun dari pengertiannya jelasn bahwa disana ‘aktivtas dasariah” yang dianggap sebagai :the Ultimate kelak akan diberi nama kreativitas. untuk menciptakan identitas melalui proses konresi sehingga SA bersifat kreatif. Akitivtas dasariah yang kemudian dalam buku RM disebut sebagai kreativtas. 

Buku II RM:

Bersama dnegan Tuhan dan entitas2 ideal, kreativitas disebut sebagai elemen formatif bagi setiap aktulitas. Secara ontologism elemen2 formatif itu diandaikan oleh setiap satuan actual yang sedang dalam proses menjadi. Kita tidak dapat menjelaskan apapun tentang satuan Aktual tanpa merujuk kepada elemen2 tersebut. Kreativtas tidak lain adalah salah satu dari 3 elemen formatif SA. Disinilah kreatifitas dimengerti sebagai prinsip kebaruan: setiap SA selalu berproses menuju SA yaitu menjadi baru.

Buku III PR:

Dalam buku 3 ini ia mengembangkan secara penuh metafisikanya sebagai suatu filsafat organism dengan tesis dasar bahwa : dunia actual adalah suatu proses, dan bahwa prose situ tidak dapat lain dari proses menjadi satua2 aktual. Initsari dari prose situ adalah bnayak data yang berbeda2 bergabung menjadi suatu sintesis baru yang disebut satuak actual particular. 

Ia menyebut kreatifitas adalah prinsip kebaruan, yakni prinsip yang karenanya “yang banyak…’ menjasdi satu satuan peristiwa. Mka peneyebutan ini tidak lain mau menunjuk pada kreativitas sebagai  the ultimate. Sehingga kembali ke konsep awal SMW “aktivtas dasariah”. Maksunya kreativtas sbagai kategori penting sehingga tanpa kreatifitas kita tidak dapat mengerti realitas.

  1. Hubungan kreativtas dengan Tuhan

Kita bertanya apakan dalam pandangan Whutehead kreativitas adalah aktivitas Tuhan saja? Tidak! Kreativitas ada bersama dengan SA. Atau kreativtas identik dengan yang absolute tapi kreativitas bukan TUhan karaena tuhan actual. Kreatifitas bukalah pelaku efesien dari ciptaan. Bagaimana bisa mengerti hal ini? Dari perspektif SA. Kreativitas secara radikal menujuk pada proses menjadi. Artinya SA bisa mencipta dirinya karena bersama dengan kreatifitas.

Realitas bersifat netral dan SA adalah perwujudan-NYa. Dalam artian ini ia menulis kreatiitas merupakan terjemahan lain dari ‘materi’ menurut Aristotels atau bahan netral dalam bahasa moderen. Namun, ia bukanlah sekedar penerima yang pasif, tidak juga firma, yang tidak bereleasi secara ekternal. Tapi kreativtias merupakan gagasan murni tentang aktivitas  yang dikondisikan oleh imortalitas objek dunia actual.

SA bisa menciptakan dirinya karena kreatifitas. Namun ia bukan sekedar penerima aktif tidak juga forma, dan tidak berelasi secara ekternal tapi sebagai gagasan murni tetnang aktivitas yang dikondisikan oleh imortalitas.

  1. Tentang personalitas Tuhan

Sudah dikatan bahwa ia mengembangkan konsepnya tentang Tuhan dalam konteks suatu system mentafisika dimana konsep Aristoteles ditolak mengenai substansi. Baginya di alam secara hakiki ditandai oleh adanya proses menjadi. Tuhan digambarkan satuan actual dengan hakikat ganda, yakni hakikat awali dan akhiri. Ia tidak dapat disamakan dengan rkeativitaspun tidak dapat dipikirkan sebagai aktivitas unik dari Tuhan. Bagi whitehead kreativtas dimengerti sebagai prinsip kebaruan yang merujuk pada karekater megafisika dari satua2 aktual yang terus menerus berproses. Jika kreativtas bukan merupaka aktivtas unik Tuhan, Kalau begitu apakah TUhan Whitehead itu personal? Tergantung dari pengertian person itu. Ada dua aspek untuk mengerti person itu:

  • Ada individualitas
  • Ada kesadaran

Jadi personalitas juga tidak lain sebagai sintesis dari masa lalu. Dengan kata lain personalitas selalu punya sejarah. Apakah konsep person menjadi unsure yang penting dalam konseo Whitehad? TIdak! Karena yang penting adalah unsure relasi/keteraturan harmoni.

Filsafat Metafisika

KONSEP WHITHEAD TENTANG METAFISIKA SPEKULATIF IV

BAB IV

KONSEP WHITHEAD TENTANG METAFISIKA SPEKULATIF

  1. Argumen Pendukung
  2. Hakikat Filsafat metafisika

Ia menggunkan metafisika sebagai filsafat spekulatif karena metafsika salah dimengerti oleh aliran positivism yang sangat menekankan pengalaman indrawi, konsekwensinya bahasa etika tidak berguna. Ia katakana bahwa sebuah konsep tidak di ukur dari konswensi tapi dari relevansi, jadi bukan masalahnya sesuatu logis atau tidak tapi sesuatu konsep dapat diukur secara relevan. Sehingga baginya metafisika tidak lain adalah deskripsi tentang konsep2 universal yang dapat diaplikasi untuk mengerti pengalaman klasik (pengalaman tentang realitas). Sehingga objek studi metafisika adalah pengalaman tentang realitas. 

Maka tujuan studi metafisika adalah untuk menyusun skema sistematis yang akan dipakai sebagai/instrument hermeneutika. Implikasinya metafisika bercorak progresif, dinamis. Kalau begitu apa itu metafisika menurut ia? Upaya untuk merumuskan suatu system dari pemikiran2 umum yang bersifat koheren, logis dan pasti, atas dasar mana setiap unsure pengalaman dapat diterangkan maknanya. Dengan demikian ada dua penegasan dari pengertian di atas: 

A.Filsafat tidak bertujuan memberikan pengalaman mengenai realitas, tapi membantu  memaknai pengalaman tentang  realitas

B.agar dapat menginterpretasi pengalaman particular dibutuhkan system gagasan yang umum atau skema kategorial. 

  • Aristoteles sudah mendefenisikan “kategori” sebagai konsep2 sebagai cara bereksistensi, 
  • Kant mendefensihkan “kategori”dalam arti konsep2 murni pengertian yang menjelaskan cara mengada suatu suatu objek
  • Whitehead”kategori berarti struktur2 rasional yang ditemukan dalam pengalaman mengenai realitas. Dan inilah tugas metafsika 
  1. suatu system dari gagasan umum disebut matang apabila meliputi aspek rasional maupun empiris. Aspek rasional berbarti filsafat spekulatif dicirikan oleh corak “koheren” dan “logis” dan aspek empiris menyatakan bahwa skema kategorial tersebut ‘dapat diterapkan dan ‘adekuat’
  1. Metodologi

Kita bertanya bagaimana cara kerja metafisika? Ia sendiri mengkritik metode deduksi dan deduksi karena seakan-akan ada suatu kebenaran dogmatis; ada kebenaran dasar yang ditarik turun-temurun. Karena filsafat  bukan dogma. Kelemahan induksi juga bahwa dengan mengandalkan data empiris, sehingga kelemahannya ada loncatan dari teori ke konsep, padahal dalam filsafat sangat penting adalah imaginasi. Tapi juga kedua metode ini penting karena pengalaman adalah dasar dari suatu hal dan dari pengalaman berunjuk ke konsep2 umum dan logis dan konsep umum itu dipakai untuk menginterpretasi pengalaman. Juga kelemhan induksi adalah induksi benar-benar secara ketat mengandalkan empirisme dalam arti data2, maka itu mustahil.  

Karena itu juga ia menolak metode kerja filsafat yang meniru gaya matematika seperti pernah dikagumi oleh Descartes dan Spinoza, ia mengatakan: filsafat pernah mencontohi matematika, mengajar premis2 yang secara ketat jelas, terpilah-pilah, dan pasti. Atas dasar premis itu suatu system deduktif dibangun.padahal filsafat sama sekali bukan dogmatic.

Baginya inilah dosa para filsuf yang berusaha berpikir mencapai kebenaran akhir yang akhirnya berpotensi mau menjelaskan eksistensi Tuhan. Klau bagitu apa metode yang digunakannya? Baginya unsure riil terakhir dari realitas adalah satuan actual. terhadap metode baru yang ditawarkan ini Whiterhead menggunakan nama yang berbeda2 yakni “rasionalitas imajinatif” “bangunan imajinatif”, generalisasi imajinatif. Isstilah2 ini berbeda tetapi pada hakekatnya merujuk pada satu hal fundamental yang mengandung dua aspek empirisme dan rasionalisme. Sebagaimana ia katakana: apapun yang dijunpai dalam praksisi harus terletak pula dalam wilyaha deskripsi metafisika. Apabila gagal meliputi prkasisi, maka suatu metafsika dianggap tidak sesuati dan perlu direvisi. Tapi bagimana whitehead mampu membuat persamaan dari realitas ke satuan actual?

  1. Actual Entities dan Nexus

Konteksnya adalah kritik atas Ilmu Pengetahuan yang berkembang sejak abad 17-19 dengan kelemahannya pada konsep dasar tentang realitas. Bahwa konsep dasar saat itu dihubungankan dengan substansi, realitast terdiri dari himpunan substansi primer. Jadi kekeliruannya adalah: Substansi primer dianggap sebagai materi yang paling riil padahal bagi whitehead itu sangat abstrak karena substansi selalu berangkat dari relasi-relasi dan Membuang relasi sabgai unsure primer. 

Dengan demikian titik tolaknya atas apa yang disebut metarialisme ilmiah yang merupakan asumsi filosofis dibalik aktivitas ilmiah. Atau realitas adalah substansi yang bersifat material ada dalam ruang dan waktu tertnetu dan masing-masing substansi berdiri sendiri. jadi yang dikritik bukan I. Pengetahuan tapi asumsi filosofis yang mendasari Ip tersebut. Kalau bagitu kita harus meninggalkan konsep ini dnegan konsep actual entity. 

Ia menulis “satuan2 aktual juga disebut satuan2 peristiwa yang merupakan unsure paling reel terakhir yang membentuk realitas. Tidak ada satuan2 lain yang lebih riil daripada satuan2 aktual. Satuan actual berbeda satu dengan yang lain, namun mereka tetap sama status sebagai fakta terakhir yang paling riil. Apa itu actual entity?

Actual entitiy adalah satuan paling riil. Atau pinjaman dari konsep2 filsuf dengan berbagai cirri khasnya, yaitu:

  • Bersifat otonomis karena unsure  terseleksi dari realitas (Demokritos).
  • Satuan actual tidak bersifat material, padat, mati. Tapi harus sesuatu yang punya energy, inner power (John Locke)
  • Dapat menciptkan dirinya. Dapat mengembangkan dirinya, pertumbuhan perubhannya (Causa Sui yang diambil dari Spinoza) satuan actual adalah causa sui yang berusaha memproses dirinya sendiri.
  • Selalu ada dalam relasi. Relasi adalah faktor konstitutif dari satuan actual. Dan inilah yang membedakan stuan actual dan substansi material (Leibniz).

Konsekwensi satuan actual dalam relasi adalah tidak terasing, selalu berada dalam kebersamaan dengan satuan actual lain. Konsep inilah yang disebut Nexus: the together ness. Setiap satuan actual selalu otonomi tapi selalu berada dalam kebersamaan, tidak terasing. Konsep nexus mengandaikan interelasi dengan diantara satuan actual. Dan satuan actual menjadi satuan actual karena iteraksi tersebut. Dan ia menyebut hal ini sebagai Prehensi: relasi antara satuan-satuan actual. ia menulis: satuan2 aktual saling melibatkan berkat prehensi masing2. Dengan demikian kesatuan atau kebersamaan satuan actual bersifat riil, individual, dan partkular, sama seperti masing2 satuan actual dan prehensi bercorak riil, individual dan particular (PR 20)

Di dalam nexus  dan prehensi setiap satuan actual  mengalami proses menjadi (The process of becoming). Satuan actual selalu identik dengan proses menjadi. Dengan demikian realitas indtik dengan proses menjadi dank arena itu disebut sebagai filsafat proses. Proses menjadi ini bisa dalam arti mempertahankan identitas tapi juga dalam arti mengalami destruksi. Satuan actual mengalami proses menjadi sampai titik tertentu apakah ia sudah berhenti? Tidak tapi ia akan memberikan dirinya(proses memberi diri). Selain itu satuan actual tidak dapat direduksi lagi karena merupakan unsure terkahir tapi dapat dianalisis yaitu dengan prehensi kalau lewat cara prehensi maka satuan actual mengalmi 2 jenis proses:

  1. Proses konresi dan sekaligus ingresi
  2. Proses Makroskopis dan mikroskopis.bagaimana menejlaskan proses2 ini?

Prehensi diambil dari kata apprehension adalah pengertian kognitif suatu subjek mengerti objek. Dalam artian ini hanya subejek yang berakal bisa mengerti suatu objek. Jadi apprehension adalah hubungan tanpa kesadaran yang hanya dapati dibatasi pada subjek kognitif yang sadar. Dengan demikian kelelmahan apprehension adalah subjek dijawab secara terasing. Kalau begitu prehensi dianalisis apa hasilnya?

  • Setiap satuan actual adalah subjeki prehensi
  • Lewat prehensi satuan actual menerima data2 dari satuan actual disekitar. (data awal menerima dari satuan actual.
  • Satuan actual bereaksi terhadap data awal yang diterima (subjective form).

Jadi ada dua faktor yang ada proses menjadi bisa terjadi karena satuan actual punya otonimi dan otonomi  menjadi mungkin karena relasi. Proses satuan actual tidak lain adlah membetuk dirinya. Satua actual menciptakan dirinya tidak lain disebut Konkresi adalah proses dimana data2 diterima guna membentuk dirinya. Atau proses mengolah data awal inilah yang disebtu kongkresi. Dan satuan actual hanya mampu memberi kalau ada satisfaction dalam dirinya kemudian memeberikan kepada satuan actual lain.

Proses SA tidak lain adalah membentuk dirinya, inilah proses konkresi, yaitu: proses dimana data2 yang diterima diproses guna membangun dirinya. Dan semua data yang diolah hasilnya ada data yang ditolak dan ada yang diterima dan ukuran suatu data ditolak atau diterima adalah dari subejekcif eim. Dan inilah yang disebut proses transisi: karena SA menerima data dari SA lain (superject) menuju SA subject. 

Dan proses transisi atau proses menjadi dapat diberdakan lagi menjadi dua tahap proses. 

  1. Proses dimana data-data satuan actual yang telah mencaapai kepenehuan ditranformasikan mejnadi satuan actual yang sedang dalam proses menuju aktualitasnya yang lengkap. Dan proses iniah yang terjadi dalam alam semseta dan inilah yang disbeut proses MAKROSKOPIS yaitu suatu proses yang terjadi secara besar dalam alam semesta. Atau suatu merupakan suatu transisi dari aktualitas tercapai kepada aktualitas yang sedang dalam proses pencapaian.
  2. Sedangan proses kedua ialah proses kongkresi. Pada proses ini sejumlah data dimodifikasi mejadi elemen intrinsic dari suatu satuan actual. inilah yang disebtu MIKROSKOPIS adalah proses dalam jangka kecil Dalam proses konkresi tidak lain membuthkan proses makrospkopis. Atau konversi dari kondisi-kondisi riil menjadi aktuliats tertentu. Proses makroskopis menghasilkan menghasilkan transisi dari ‘yang aktual’ ke ‘yang riil’. Sedangkan mikroskopis menghasilkan pertumbuhan dari ‘yang riil’ menjadi ‘aktual’ proses pertama bersifat efeien dan kedua bersifat teologis.

Kalau begitu apa yang dimaksud dengan proses Ingresi? Iadalah proses pengejawantahan objek2 abadi dalam suatu yang actual. maka ingresi ada dalam proses menjadi yang disebut proses mikroskopis. Proses mikroskopis tidak saja merangkum data-data yang diterima dari SA melalui prehensi fisik, tapi juga objek2 abadi. Apa itu objek abadi? Adalah forma ideal sebagai potensialitas murni yang dapat menjadi fakta konseptual atau potensialitas murni. Dengan kata lain proses ingresi adalah masuknya objek abadi kedalam SA. 

Filsafat Metafisika

PANDANGAN AQUINAS TENTANG TUHAN III

BAB III : 

PANDANGAN AQUINAS TENTANG TUHAN

  1. Pengantar

Dalam bab II dibahas konsep metafisika  Aquinas  terlebih tentang pengada dan substansi dalam hubungan antara Esse dan eksistensi, yang kemudian dibedakan antara substansi ragawi dan susbstansi nirragawi yaitu substansi tanpa tubuh yang terdiri dari struktur esensi dan esksistensi. Namun baik substansi ragawi dan nirragawi esensi tidak sama dengan eksistensi. Esensi adalah prisip limitasi dan eksistensi adalah partisipasi dalam Esse. Kalau begitu kita bertanya apakah substansi/ pengada yang esensinya sama dengan eksistensi yang kemudian oleh Aquinas disebut Tuhan? Kita ketahui bahwa  Esse (actus purus) maka esensinya juga harus tak terbatas. Atau hanya pada Tuhan Esse sama dengan esensi maka eksistensi Tuhan tidak terbatas.

  1. Argumen Pendukung
  2. Tuhan=Essensi=Eksistensi

Bagi Aquinas substansi adalah pengada yang esensinya bereksistensi pada dirinya (mandiri). Kosekwensinya essensi tidak identik dengan eksistensi. Essensi bererti prinsip limitasi yang terbatas, maka semua makluk terbatas dalam partisipasi dalam Esse. Walaupun dalam ciptaan Essensi tidak identik dengan eksistensi tapi pada Tuhan essensi selalu identik dengan eksistensi. Dengan kata lain eksistensi Tuhan itulah Esse. Atau juga eksistensi dari pengada adalah partisipasi dalam Esse. Dan Esse itulah kesmpurnaan dari semua kesempurnaan. 

Karena Esse adalajh kesempurnaan actual, maka esensi juga seharusnya sempurna. Kalau Esse adalah yang tak terbatas maka TUhan juga tak terbatas. Konsekwensinya TUhan adalah EsseNya. Tuhan identik dengan diriNya sendiri, sedangkan pada ciptaan esensi tidak mengandung eksistensi. Karena Tuhan adalah kesempurnaan akhir maka eksistensinya ada. Disinilah perbedaan antara Tuhan dan ciptaannNya.

Kalau begitu kita bertanya apakah prinsip limitasi esensi dapat dianggap sebagai penyebab efesien dari eksistensi? Tidak! Karena essensi tidak menciptkan eksistensi tapi esensi mengkundusikannya.  

Dengan demikian, kita dapat mengerti bahw substansi sebagai ciptaan tidak dijadikan dari dirinya sendiri tapi sesuatu yang bersifat eskternal/ pada dirinya sendiri. (A diciptakan oleh B—-X: peneyebab terakhir yang tidak dapat digerakan yaitu Tuhan). Menciptakan berarti diberikan eksistensi, maka Tuhan menciptakan berarti diberikan eksistensi sehingga Tuhan dianggap sebagai Actus Purus yaitu actualitas tanpa pontesialitas. Jadi Tuhan adalah Esse tantum. 

Untuk  membuktikan bahwa Tuhan Essensi Tuhan itu identik dengan eksistensi, maka Aquinas memberikan tiga arguemnnya, yaitu:

  1. Ia membandingkan TUhan dengan ciptaan. Pada ciptaan essensi tidak sama dengan eksistensi, kosekwensinya essensi tidak menciptakan eksistensi sedangakan pada TUhan yang adalah penyebab efesien dari segala sesuatu maka eksistensi Tuhan identik dangan eksistensiNya, jika tidak Ia tidak menciptakan.
  2. Dalah hubungan dengan prinsip yaitu esensi adalah apa yang memungkinkan esensi menjadi actual. Karena itu dapat dikatakabn bahwa esensi Tuhan harus tidak berbeda dari eksistensiNya, atau eksistensi Tuhan adalah eksistenNya.
  3. Prinsip partisipasi yaitu sesuatu A berpartisipasi dalam B, jika tidak identik dengan B tapi hanya sebatas partisipasi. Maka esksitensi ciptaan berpartisipasi dalam Esse.

Selanjutanya pada Esse  segala sesuatu berpartisipasi dalam Esse yaitu semua ciptaan berpartisipasi dan tidak menciptakan eksistensi mereka sendiri karena diterima dari Tuhan. Jadi eksistensi bukan unsure intrinsitik dari ciptaan tapi diterima dari Esse. Kalau begitu Esse Tuhan dari mana? Esse Tuhan adalah iptium Esse (pada diriNya) tidak disebebkan, tidak menerima dari sesuatu yang lain karena hakekat dari TUhan tidak bereksistensi. Dengan demikian pada TUhan Essensinya sama dengan eksistensiNya.

  1. Bukti Eksistensi Tuhan

Pada Tuhan essensi sama dengan eksistensi menyangkut esensi tak terbatas dan ciptaan tidak dapat menyelami kedalaman essensi TUhan. Namun kita hanya bisa mengerti Tuhan dari eksistensi Tuhan. Tapi dari perspektif ciptaan eksistensi TUhan tidak pasti, tapi bagaimana rasio yang terbatas bisa memahami kedalamanan TUhan?

Menjawab pertanyaan ini kita berangkat dari pendekatan oleh St ANselmus yaiotu:

  1. A priori : mau menunjukan tentang AQM yaitu Tuhan tidak dapat dipikirkan  lagi
  2. A posteriori : kalau pendekatan A priori adalah pendekatan berdasarkan konsep maka pendekatan aposteriori lebih berdasarkan pengalaman . dengan pengalaman seseorang bisa mampu mengerti tentang kedalaaman Tuhan.

Dengan begitu Aquinas menunjukan 5 jalan menuju TUhan dengan 2 prinsip, yaitu:

  1. Ex nihilo nihit fit : dari ketiadaan tidak meungkin terjadi sesuatu. Konsekwensinya sesuatu terjadi karena orang lain.
  2. Prinsip kausalitas: yaitu prinsip sebab akibat. Kalau ada sebab pasti ada akibatnya. Dan bagi Aquinas ada 5 jalan menuju ke Tuhan:
  1. Berdasarkan gerak: dalam dunia ini banyak hal selalu berubah. Apapun yang bergerak atau berubah itu selalu digerekan oleh sesuatu yang lain. Jika ia hanya diam maka secara potensial berada dalam gerak. Gerak terjadi karena ketika suatu yang secara potensial berada dalam gerek, digerakan sehingga secara actual bergerak. A bergerak karena digerakan oleh B, dan B bergerak karena C sampai akhirnya sampai pada penyebab terakhir yang tidak dapat digerakan yaitu Tuhan.
  2. Penyebab efesien: ada berbagai jenis akibat, dan dalam setiap kasus kita dapat menunjukan suatu penyebab efesien bagi setiap efek. Penyebab efesien dari sebuah patung adalah pekerjaan si pemahat. Jika kita menyangkal aktifitas si pemahat maka tidak dak akam memperoleh patung sebagai efesien. Dan orang tua dari si pemahat adalah penyebab efesien dari si pemahat, si penebang kayu adalah penyebab efesien dari si pemahat sendiri. jadi ada satu jaringan rumit dari banyak penyebab yang akhirnya setiap penyebab itu disebabkan oleh satu penyebab efesien yang tidak dapat disebabkan lagi yaituTUhan.
  3. Berdasarkan kontinjensi dan nesesitas: kontinjensi berarti bisa ada dan bisa tidak. Atau tidak selalu harus ada. Pohon itu dilihat hari ini ada, bertumbuh tapi akan lenyap, bararti pohon yang sama dapat tidak ada. Berarti pohon itu bisa ada dan bisa tidak ada. Namun tidak semaua ekssten bersifart kontinjen belaka. Aquinas menyimpulak bahwa pasti adaa sesuatu yang memiliki eksistensi yang bersifat niscaya eksistensinya merupakan suatu keharusan.
  4. Berdasarkan kesempurnaan: kita selalu menemukan bahwa dalam hidup selalu ada ha yang kita sebut kurang baik, kurang benar, kurang mulian dan dan lain disebut lebih baik, lebih benar dan lebih mulia. Namun hal-hal ini selalu menunjuk bahwa sebenarnya ada satu hall yang maksimum yang selalu disebut paling baik, paling benar, dan paling mulia. Atau pasti ada suatu relaitas yang paling sempurna melebihi semua kesempurnaan di dunia yaitu Tuhan.
  5. Berdsarkan ketertiban Alam: kita mengetahui bahwa alam raya bereksistensi sesuai dengan ketertiban alam untuk mencapai tujuan tertentu. Ini berarti alam raya bereksistensi tidak secara kebutulan, melainkan karena ketertiban yang direncakanan. Atau mesti ada suatu eksisten inteligen yang olehnya segala sesuatu yang alamiah diarahkan secara tertib menuju tujuannya. Dengan kata lain juga pasti ada sseorang yang merencanakan ketertiban itu yaitu Tuhan.
  6. Hubungan antara TUhan dan Mahkluk ciptaan

 Aquinas kembali bertanya kalau TUhan adalah pengada pertama dari segala sesuatu yang lain atau semua yang bereksistensi punya esensi yang terbatas, kalau begitu bagaimana menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang esesnsinya terbatas?  Ia menjawabnya dalam beberapa prinsip:

  1. Partisipasi kausalitas dan subjetivitas

Konsep partisipasi ini diambil dari Plato yanbg membedakan dua lapisan realitas: yaitu dunia ide dan dunia indrawi. Baginya manusia menjadi manusia karena  berpartisipasi dalam realitas yang sama. Baginya dunia indrawi adalah bayangan bagi dunia ide. Semua hal individual berpartisipasi dalam ide yang sama. Namu  bagi Plato ini tidak sempurna karena hanya bayangan.

Aquinas melampaui pandangan ini dan mengatakan bahwa semua ciptaan berelasi dengan Tuhan karena berpertisipasi dalam Esse. Artinya hubungan primer antara ciptaan dan TUhan adalah hubungan esksitensial karena eksistensi dari ciptaan adalah partisipasi dalam Esse.

Jadi partisipasi pada eksistensi Tuhan itu artinya Tuhan adalah penyeban efesien, dan TUhan menciptakan berarti memberikan esksitenNya. Jadi hubungan ini adalah hubungan yang subjektif dimana TUhan akrab dengan  apapun dan semua ciptaan ambil bagian dalam eksistensiNya. 

Jadi ciptaan bisa menjadi pinta masuk bertemu dengan TUhan karena dalam ciptaan ada unsure eksistensi TUhan. Kita bisa dekat dengan TUhan lewat ciptaan. Dan partisipasi subjektifitas ini adalah bersifatr eksistensial.

Kalau bagitu bagaiamana ciptaan yang bernama manusia dapat berdiskusi dan berbicara dengan Tuhan? Pertnyaan ini muncul karena sehungan dengna ciptaan yang terbatas dan Tuhan yang Maha sempurna, juga karena bahasa ciptaan yang terbatas sehingga bagaiamana akal manisia yang terbatas itu bisa berbicara dengan TUhan . Aquinas menjawab dalam dua konsep:

  1. Depedensi dan analogi

Dalam prinsip kausalitas dikatakan bahwa penyeban selalu berada dalam efek. Dan ciri khas hubungan ini adalah efek selalu tergantung pada penyebab. Artinya ciptaan selalu tergantung pada pencipta secara eksistensial . kalau begitu apa dasar ketergantungan ciptaan pada penciptaNya?

Dasarnya adalah perbedaan struktur esesnsi dan eksistensi. Yaitu:

  1. Pada ciptaan dan pencipta bahwa ekssitensi ciptaan itu adalah partisipasi dalam eksistensi Tuhan maka ketergantungan ciptaan bersifat eksistensial.
  2. Berbarti bahwa atas salah satu cara TUhan hadir pada ciptaanNya. Dan Aquinas menjelaskan relasi ciptaan itu dalam dua jenis relasi:
  1. Relasi ciptaan ke Tuhan. Inilah relasi dependensi yang tidak lain adalh relasi riil yang sungguh-sungguh dimana ciptaan tergantung pada pencipta.
  2. Relasi dari Tuhan ke ciptaan: ciptaan tergantung pada pencipta namun karena  TUhan memberrikan eksistensi pada ciptaan makah masuk akal Tuhan punya hubungan dengan ciptaan. Dan inilah relasi rationis.

Tapi bagaimana berbicara tentang TUhan? Ada jenis cara mengungkapkan tetnang TUhan:

  1. Bahasa univocal: mislanya kata setia pada TUhan dan pada manusia selalu sama. Sehingga jelas bahwa bahasa univocal tidak bisa digunakan.
  2. Bahasa uquivokal: dasarnya esensi TUhan dan ciptaan berbeda bahasa yang digunakan TUhan berbeda dengan bahasa yang digunakan manusia. Maka pendekatan ini juga tidak dapat dipakai.
  3. Bahasa Analogi: disatu sisi mengakui perbedaan dan dilain pihak mengkaui kesamaan. Kalau begitu dari segi mana kita mengakui ciptaan? Dari segi esensi yaitu Tuhan berbeda dengan manusia. Dan ada kesamaan yaitu dari segi eksistensi yaitu eksistensi ciptaan adalah partisipasi dalam eksistensi Tuhan. Sehingga mengatakan Tuhan setia dan manusia setia bisa dalam arti sama tapi juga berbeda antara kesetian Tuhan dan manisia. Artinya kesetiaan Tuhan setia berarti dapat dijumpai kapanpun  sedangkan kesetian manusa berbeda tidak harus dijumpai kapanpun.
Filsafat Metafisika

HAKEKAT FILSAFAT METAFISIKA II THOMAS AQUINAS

BAB II METAFISIKA THOMAS AQUINAS

  1. Tesis dasar:
  1. Argumen pendukung
  2. Pengantar

Intisari dari metafisika Aquinas berpusat pada satu kata inti yaitu Esse. Dan Esse kemudian dimengerti sebagai Tuhan. Kalau seluruh ciptaan secara individual bereksistensi maka bagi Aquinas eksistensi itu adalah partisipasi dalam Esse, itulah Tuhan yang menciptkan dari ketiadaan. Itulah sebabnya secara eksistensial seluruh ciptaan tergantung pada eksistensi Tuhan. Intinya Esse adalah prinsip metafisik yang paling tinggi dan segala ciptaan tergantung pada Esse tersebut sejauh eksistensi tapi manusia mau menjadi apa tidak tergantung pada Esse. Dengan demikian ada beberapa istilah penting dalam metafisika Aquinas,  yaitu:

  1. Ens : diterjemahkan sebagai apa yang mengada dan mengandung dua unsure penting. Pertama sebagai subjek, kedua sebagai tindakan atau aktivitas mengada. Atau ens adalah sesuatu/apa yang mengada. Dengan demikian apapun yang bereksistensi disebut pengada. Dengan demikian aada dua unsur dari pengada: Pertama pengada berarti segala sesuatu yang bereksistensi dan kedua dapat menjadi objek rasio yang dipikirkan. Konsekwensinya manusia, hewan disebut sebagai pengada. Kalau begitu bagaimana mungkin setiap ens dapat melakukan aktivitas mengada? Karena semua berpartisipasi dalam eksistensi Esse.
  2. Tentang Esse : kata pengada menunjuk pada eksistensi suatu benda sedangkan mengada mau menunjuk bahwa sesuatu yang karenanya dapat disebut pengada. Atau sesuatu dapat disebut pengada karena mengada. Maka isitilah mengada selalu menujuk pada benda tertentu seperti manusia, hewan, sedangkan mengada menjadi syarat bagi sesuatu supaya disebut pengada. Jadi aktivitas yang paling fundamental adalah aktivitas mengada sebagai sumber dan dasar bagi aktivitas yang lain. Karena aktivitas mengada sebagai prasyarat abgi aktivitas lain maka aktivitas mengada adalah aktivitas yang sempurna.

Kalau begitu bagaimana Aquinas mendefenisihkan Esse? Yaitu sebagai Actus purus (aktus murni tanpa potensialitas) pada makhluk ciptaan ada potensialitas tapi dalam eksistensi Tuhan tidak ada potensialitas hanya aktualitas.

  1. Tentang Essentia : punya beberapa arti yaitu: 1) apa yang dimilki sebagai unsure yang sama yang dimiliki satu spesies. 2) adalah apa yang disebut the whatness atau quidity. 3) sebagai forma totius yang menyebabkan sesuatu disebut dengan nama tertentu. Dengan demikian essential adalah prinsip pembatas, atau apa yang karenanya eksistensi dari spesies diperoleh atau prinsip yang menyebabkan partisipasi terbatas.
  2. Hubungan Essentia dan Mengada: Essentia berbeda dari eksistensi karena eksistensi merupakan partisipasi dalam Esse. Esse adalah prinsip aktualitas dan merupakan aktualitas sempurna dari pengada. Kalau begitu bagaimana hubungan Essentia dan eksistensi? Yaitu eksistensi merupakan pertisipasi terbatas dalam Esse dan eksistensi sebagai prinsip pembatas dari partisipasi tersebut. 
  1. Substansi

Bagi Aquinas untuk mengerti tentang substansi kita harus berangkat dari Aristoteles.  bagi Aristoteles ada dua pandangan, antara lain:

  1. Pandangan Aristoteles tentang substansi

Untuk mengerti hal ini kita harus berangkat dari pandangan pengada. Baginya kita hanya dapat mengerti tentang pandangan tersebut atas empat cara:

  1. Sesuatu mengada sebagai atribut. Misalnya mengenai warna, relasi.
  2. Sesuatu mengada pada dirinya atau mengada menurut hakekatnya, itulah yang kelak akan disebut substansi.
  3. Pengada sebagai ide, k onsep dalam pikiran. Dan inilah yang disebut sebagai being as truth. Ide sebagai pengada tidak dapat ditangkap oleh panca indera.
  4. Pengada sebagai potensialitas atau aktualitas.

    Berdasarkan pemahaman ini Aristoteles melanjutkan pandangannya dengan menyebut tentang kategori yang adalah klasifikasi yang riil tentang pengada dan relasi. Dan ia membagi 10 kategori yaitu: substansi, kualitas, kuantitas, relasi, aktivitas, posotivitas, tempat, waktu, posesi dan posisi. Dengan kategori ini kita bisa mendudukan pengada dengan cara mengadanya. Dari 10 kategori ini hanya ada satu kategori y ang primer yaitu substansi karena substansi selalu berperan sebagai subjek yang mengerjakan. Namun susbstansi sebagai kategori primer ia sebut menjelaskannya adalam dua arti, yaitu: substansi primer: substansi yang subjeknya sebagai atribut2 dan substansi sekunder itulah yang dimengerti sebagai esentia spesies. Dan dalam buku metaphysics ia membedakan empat arti substansi yaitu:

  1. Benda-benda alami yang kemudian disebut substansi karena bukan predikat. (inilah substansi primer)
  2. Apa yang dianggap sebagai penyebab eksistensi dalam suatu substanbsi primer.
  3. Substansi dipakai untuyk menyatakan apa saja yabng menjadi bagian fundamental dalam suatu pengada sebagai suatu yang mandiri.
  4. Menyatakan esensia dari benda-benda. (inilah substansi sekunder)

Sesudah menjelaskan tentang susbstansi itu,  baginya hanya ada dua substansi yang menjadi dasar, antara lain: 

  1. Substansi dalam arti subjek: itulah substansi yang substratum artinya sesuatu yang menjadi dasar dan diatasnya ada atribuat, sehingga baginya substansi adalah pengada yang tidak dapat dipredikatkan.
  2. Forma atau esensi bagi pengada individual. Misalnya jiwa adalah esensi bagi manusia.
  1. Substansi menurut Thomas Aquinas

Padangannya tentang substansi ada dua, yaitu:

  1. Komentarnya atas pandangan ARistoteles.

Dalam komentarnya, ia membedakan ada beberapa jenis pengada: 

  1. pengada riil (alamiah) dan pengada konseptual (ide). Kedua pengada ini dapat dibahasakan. 
  2. Dan Aquinas membedakan lagi antara 1) sesuatu yang mengada pada dirinya  menurut hakekatnya dan 2)pengada sebagai aksidental. Pengada pada dirinya adalah sesuatu yang bereksistensi pada dirinya sedangkan pengada aksidental adalah cara mengada secara aksidental
  3. Ia membedakan lagi antara pengada secara potensial dan pengada secara aktualitas (kesempurnaan). Dan dari segi inilah kita dapat berbicara tentang waktu.

Dari ketiga pengada di atas, baginya pengada sejati adalah pengada riil yang punya eksistensi objektif. Atau pengada yang sungguh adalah pengada yang riil, alamiah, dan actual, dan k ombinasi dari pengada riil, alamiah dan actual itulah yang kemudia disebut substansi.

  1. Pandangan otentiknya tentang substansi

Bagi Aristoteles pengada adalah berstatus subjek karena itu tidak dapat dipredikatkan pada sesuatu yang lain. Sedangkan bagi  Aquinas sustansi adalah pengada yang menurut eseinya tidak dapat dipredikatkan atau substansi adalah pengada yang menurut esensinya bereksistensi pada dirinya. Hal yang membedakan antara Aristoteles dan Aquinas adalah:

*tambahan Aquinas pada tentang esensi

*Artistotels tentang cara mengada, eksitensi pada dirinya atau subjek tidak dapat dipredikatkan.

*Aquinas substanti tidak dapat dipredikatkan karena esesnsinya. Mengapa karena sgala sesuatu yang bereksistensi adalah partisipasi dalam Esse. 

  1. Strukutur Esensi dan esksitensi

    Aquinas membedakan lima strukurt substansi yaitu Pertama Malaikat, jiwa manusia, manusia, hewan dan benda mati. Kalau begitu faktor apa y ang memungkinkan kita dapat membedakan unsure-unsur  ini? Yaitu esensi dan eksistensi. Namun Aquinas secara khusus berbicara tentang tentang level atas yaitu malaikat, jiwa manusia dan manusia. Karena itu makna substansi juga dapat dibedakan menjadi dua bagian:  

  1. Substansi susunan: substansi yang memiliki susunan materi dan bentuk.   (substansi ragawi).
  2. Substansi sederhana: tidak memiliki materi tapi hanya memiliki potensialitas dan  aktualitas dan esensi serta aktualitas.(substansi nirragawi). Kalau begitu apa itu substansi ragawi dan substansi nirragawi?
  1. Substansi ragawi

Susunannya adalah materi dan bentuk. Dan kelihatan bahwa Aquinas mengambil pandangan ini dari teorii Aristoteles tentang hilemorfisme, namun sebebarnya ada perbedaan.

Aristoteles:

Membedakan meteri (hile) dan bentuk (morphe). Hile adalah unsure yang dibatasi, penerima bentuk. Sedangkan morphe adalah unusur yang membatasi baik dalam adri bentuk kelihatan maupun esensi yang hanya dapat ditangkap oleh intelek. Ketika saya melihat sesuatu maka saya tahu itu manusia karena punya esensi.Inilah yang kemudian disebut eidos. Dan eidos selalu bersifat universal. Sedangkan moprhe bersifat konseptual. Dan forma adalah esensi yang bersifat universal dan materi adalah prinsip individual.

Aquinas:

Ia setuju dengan Aristoteles bahwa substansi susunan terdiri dari materi dan bentuk. Namun ia tidak setuju bahwa forma adalah esensi substansi. Baginya esensi substansi susunan adalah baik materi maupun forma. Bagaimana menjelaskan hal ini?

Dapat dijelaskan bahwa eksistensi A adalah partisipasi dalan Esse. Dan yang berptisipasi dalam Esse ini adalah tubuh dan jiwanya. Karena eksistensi A adalah tubuh dan jiwa maka keduanya berpartisipasi dalam Esse. Maka esensi adalah prinsip limitasi, dan prisip limitasi itu adalah tubuh dan jiwa. Atau baik tubuh dan jiwa keduanya adalah prinsip limitasi.

  1. Substansi nirragawi

Dalam substansi ini, Aquinas lebih menyebut dua ketegori yaitu malaikat dan jiwa manusia. Karena keduanya punya kesamaan yaitu tidak bertubuh. Baginya jiwa yang terletak dari tubuh adalah substansi nirragawi (tanpa raga). Tapi mengapa jiwa disebut satu substansi? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus membuat perbedaan antara pandangan Plato, Aristotels dan Aquinas.

Plato:

Baginya jiwa adalah substansi indenpenden, kekal dan tidak berubah. Dan jiwa bereksistensi selalu lepas dar tubuh. Sehingga tubuh adalah penjara bagi jiwa, membatasi jiwa.

Aristoteles:

Baginya jiwa adalah forma bagi manusia, esensi manusia, prinsip gerak, prinsip aksi.

Aquinas:

Bagi jiwa maupun tubuh keduanya adala esensi dan aktivitas manusia merupakan hasil kerja sama antara tubuh dan jiwa. Akan tetapi baginya tubuh dan jiwa dapat beraktivitas tapi jiwa secara independen dapat beraktivitas sendiri tanpa kerja sama tubuh. Kalau begitu apakah dalam manusia riil terdapat substansi dalam substansi? Tidak.  Jiwa dan tubuh selalu satu bagian tapi dalam aktivitasnya jiwa dibayangkan di luar tubuh. Baginya jiwa selalu mengkomuniakasikan di dalam tubuh. Maka esksistensi tubuh tidak lain adalah eksistensi jiwa. Jiwa membutuhkan tubuh untuk  berkomunikasi dengan tubuh.

  1. Malaikat

Bagi Aquinas ada kesamaan antara malaikat dan jiwa manusia, yaitu: 

*keduanya tidak terdiri dari materi dan forma tapi keduanya mengandung forma dan esksistensi. 

*Dan juga esensi merupakan potensialitas yang bisa mendapatkan aktualitas pada Esse. 

Sedangkan perbedaannya adalah: Malaikat didudukan pada puncak hirarki ciptaanlebih tinggi dari jiwa manusia dan manusia. Bagaimana menjelaskannya? Ada dua penjelasan:

  • Dari perspektif aktivitas maka malaikat merupakan forma murni. Menurut kodratnya malaikat  memiliki daya aktivitas tanpa kerja sama dengan tubuh. Sehingga ia menyebut malaikat sebagai intelek murni. 
  • Dari perspektif multiplikasi secara kwantitatif, malaikat multiplikasinya berlangsung sesuai dengan kebijaksanaan Ilahi yang menentukan tata substansi immaterial. Pada malaikat multiplikasi terjadi menurut spesies dan bukan menurut individu karena multiplikasi individu membutuhkan tubuh.
  1. Kesimpulan Aquinas

Substansi menurut Aquinas mempunya 3 struktur:

  1. Materi dan bentuk (teori hilemorfisme), teori inilah yang mengkritik Plato yang m emfokuskan pada bentuk.
  2. Substansi mempunyai struktur potensialitas dan aktualitas.
  3. Substansi mempunyai struktur esesnsi dan esksistensi. Eksistensi dari substansi adalah partisipasi di dalan Esse.